His Name

Gia memandang dirinya di depan cermin besar setinggi dua meter di kamarnya, memastikan penampilannya sudah sempurna. Kemeja Flanel biru menjadi pilihannya hari ini. Bagian lengannya sengaja dilipat sedikit sebatas lengan. Dia memadukannya dengan celana jins hitam yang robek di kedua lutut.

Rambut Gia yang dicat warna coklat dikucir bagian atasnya, lalu dicepol asal-asalan, sementara sisa rambut bagian bawah dibiarkan terurai begitu saja. Gia enggan menggunakan mekap berlebih. Seperti biasa, dia hanya memoles bedak bayi di wajah dan pelembab bibir.

Gia tersenyum di depan cermin, merasa menjadi wanita tercantik sejagad raya. Setelah penampilannya sempurna, Gia mengambil ransel hitam kecilnya dari meja belajar. Ransel ini menjadi tas kesayangannya, alasan sederhana untuk menutupi kalau sebenarnya Gia malas memindah isi tas ke tas lain. Sekarang, dia siap pergi ke kampus.

Di ruang makan, Ayah duduk menunggu Bunda selesai masak sambil membaca koran. Rutinitas ini memang terlalu ketinggalan. Di era semua hal berubah menjadi digital, Ayah tetap menjalani kebiasaannya membaca koran.

"Pagi, Bos," sapa Gia, lalu duduk di samping kiri ayah.

"Pagi, Tuan Putri. Udah siap ngampus, nih." Ayah melipat koran dan menaruhnya di meja.

"Siap banget, dong. Gia udah jadi mahasiswi, nih." Gia menepuk-nepuk dadanya dengan bangga. Matanya berkilat menandakan bahagia dan sedikit tambahan kesombongan.

"Anak Ayah udah gede aja, sih. Bentar lagi kamu nikah, dong?" Ayah seperti baru tersadar dari mimpi. Anak gadis kesayangannya itu sudah semakin dewasa.

"Ayah harus siap kalau bentar lagi ada laki-laki yang dateng buat ngelamar Gia, lho." Bunda ikut berkomentar sambil menaruh sarapan sejuta umat, nasi goreng. Bunda memberikan campuran lengkap berupa potongan sosis, wortel, sawi, dan telur mata sapi. Ini salah satu dari puluhan makanan favorit Gia. Gia memang hampir menyukai semua makanan yang ada di dunia, terutama masakan Bunda.

"Ayah belum siap pisah sama Gia, nih. Kita tolak aja lamarannya gimana, Bun?" keluh Ayah. Bibirnya mengerucut. Matanya menyipit, sendu. Membayangkan berpisah jauh dari Gia adalah hal terakhir yang diharapkannya.

"Ih, nanti kalau Gia jadi perawan tua gimana, dong? Kalau yang ngelamar ganteng dan mapan, jangan ditolak, dong, Yah. Bibit unggul, tuh. Dia bisa memperbaiki keturunan, lho." Gia memberikan saran asal.

Ayah menggeleng. "Tapi, Ayah belum siap kalau jauh dari kamu, Gi." Ayah masih menolak.

Gia mulai meminum susu cokelat buatan Bunda. "Ya, udah." Dia meletakkan gelas kosong ke meja. "Nanti Gia cari suami yang rumahnya deket-deket sini aja. Kalau bisa, suami yang rumahnya sekomplek sini, deh, biar nggak perlu jauh-jauh dari Ayah. Biar Ayah bisa ngasih uang saku Gia setiap hari terus." Gia memberikan solusi cerdasnya.

Ayah menyentil hidung anak semata wayangnya pelan. Gia mengaduh, pura-pura kesakitan.

"Di komplek sini nggak ada perjaka lagi kali, Gi. Ada perjaka juga masih pada sekolah, paling gede kelas 5 SD. Tuh, si Rian anaknya Pak Soleh di blok C." Bunda mematahkan impian Gia.

"Eh? Masa beneran nggak ada perjaka, Bun? Komplek kita krisis cowok yang masih bisa menjaga kesuciannya, dong? Wah bahaya, nih. Gia bisa jadi perawan tua beneran deh," keluh Gia sambil melipat wajahnya.

"Kalau mau, mah, sama duda. Di blok A ada, tuh, Pak Aan. Umurnya 58 tahun. Udah setahun ditinggal istrinya meninggal. Anaknya tiga. Yang paling kecil Siska, barusan nikah kemarin." Giliran Bunda memberikan saran.

"Bunda tega!" Gia semakin melipat wajahnya. Mulutnya manyun. "Anak gadis manis kesayangannya dijual ke duda seumuran Ayah masa. Mana anaknya bisa jadi kakak Gia pula," keluh Gia.

Ayah dan Bunda tertawa. Paling asyik memang menggoda Gia. Ini yang membuat Ayah tidak rela melepas Gia menikah.

"Udah. Sarapan dulu. Nanti pada telat lagi." Bunda mengingatkan.

Ayah dan Gia mulai berebut mengambil nasi goreng dari mangkuk besar di tengah meja makan. Sarapan heboh pun dimulai. Bunda hanya menggeleng melihat tingkah suami dan anaknya.

Empat puluh menit kemudian, Gia baru saja sampai di kampus. Pagi ini dia kembali mengendarai mobil kesayangan yang sudah sembuh dari sakit. Gia melangkah menuju gedung B. Ada kuliah pengantar ilmu hukum di jam pertama. Masuk ke gedung B, Gia menaiki tangga menuju lantai dua. Gia langsung menuju ruang B 23, ruang kelasnya.

Suasana kelas sudah mulai ramai. Gia memandang ke sekeliling kelas. Jessica yang duduk di barisan ke tiga melambaikan tangan. Dia menunjuk bangku kosong di sampingnya, meminta Gia duduk di sana.

Gia balas melambai dan menghampiri Jessica. Mereka langsung hanyut mengobrol ke sana-kemari. Sampai akhirnya, seorang pria paruh baya masuk kelas. Badannya tinggi dan kurus. Rambutnya hampir memutih seluruhnya. Semua mahasiswa pun duduk rapi di kursi masing-masing tanpa suara.

"Selamat pagi dan selamat karena kalian resmi menjadi mahasiswa sekarang. Perkenalkan, nama saya Darmawan. Mulai sekarang saya akan mengajak kalian semua mengenal tentang ilmu hukum." Pak Darma memulai perkuliahan. Wajahnya datar, tanpa senyum sama sekali. Tapi, suaranya yang serak terasa hangat dan bersahabat, meluruhkan canggung dalam kelas.

Selama dua jam penuh Gia berada di kelas, mendengarkan semua penjelasan dosennya. Untuk pelajaran pertama tidak buruk. Gia bisa menangkap semua penjelasan Pak Darma dengan mudah.

"Gi, kantin, yuk?" ajak Jessica saat Pak Darma pergi meninggalkan kelas.

"Ayuk!" Gia langsung setuju.

Gia dan Jesica pun pergi menuju kantin yang terletak di antara gedung A dan gedung B. Kantin kampus FH cukup besar. Kantin ini berkonsep food court dengan sepuluh stand yang menawarkan aneka makanan dan minuman. Tentunya dengan harga mahasiswa, alias murah dengan porsi melimpah. Kantin ini salah satu tempat makan favorit anak kos, apalagi kalau sudah akrab dengan pemik stand. Mereka bisa tenang berutang dengan landasan saling percaya.

Suasana kantin ramai sekali di jam istirahat seperti ini. Gia dan Jessica beruntung masih mendapatkan bangku di sudut kantin.

"Mau makan apa, Gi?" tanya Jessica yang bingung dengan pilihannya.

"Gue minum aja, masih kenyang," jawab Gia jujur. Tadi pagi Gia memang sarapan dengan porsi cukup banyak.

"Ya, udah. Gue pesen makan dulu. Mau nitip apaan?" Jesica menawarkan memesankan minum.

"Jus alpukat, susunya yang banyak, esnya dikit aja, ya," sahut Gia.

"Oke, deh. Nitip tas gue, ya." Jesica memberikan tas miliknya, lalu pergi menuju salah satu stand.

Gia memandang kantin, menikmati suasana ramai dan berisiknya. Salah satu impian receh Gia adalah duduk di kantin kampus sebagai seorang mahasiswi. Sekarang impiannya tercapai. Sayangnya, masih ada yang kurang. Dalam impiannya, Gia duduk ditemani oleh seorang senior tampan yang menjadi idola di kampusnya. Sementara saat ini, Gia bahkan belum menemukan lelaki yang cocok jadi idola.

Gia mengakui memang ada beberapa senior yang ganteng. Tapi, Gia menolak menjadikan mereka idola. Alasannya jelas, mereka sudah punya pacar. Bukan bakat Gia untuk merusak hubungan orang.

Gia memandang keluar kantin. Matanya menangkap sosok lelaki yang sedang mendekat ke kantin. Lelaki itu berjalan sambil memainkan ponsel. Pantulan matahari di belakangnya membuat tubuhnya bersinar, layaknya patung di sudut kolam pada malam hari. Saat wajahnya terangkat, matanya menatap tepat ke mata Gia. Lelaki itu tersenyum. Dia melangkahkan kaki semakin cepat ke meja Gia. Gia hanya diam memandang, bingung harus bersikap apa. Ada yang aneh di dadanya. Gemuruh yang menggelitik, tapi cukup menyenangkan.

"Sendirian aja, Gi?" tanya lelaki itu, sang senior galak yang selama PKKBM kemarin terus menghantui Gia. Senior galak itu menarik kursi kosong, lalu duduk di hadapan Gia.

Gia diam. Lidahnya kaku. 'Impian gue terwujud.'

"Terpesona sama gue?" tebak senior galak sambil mengayunkan tangan di depan wajah Gia. Dia sedikit takut dengan sikap Gia yang mematung, tidak seperti biasanya.

Mata Gia mengerjap. "Eh, iya, Bang. Gimana?" sahut Gia saat tersadar dari kagetnya.

"Ada kuliah?" tanya Senior galak sambil tersenyum. Penampipannya cukup santai dengan jaket bomber yang menyelimuti kaus merah marun. Tidak ada lagi jas almamater merah yang bagi Gia menjadi momok.

"Iya. Tadi pagi kuliah ilmu hukum," jawab Gia gugup. Entah kenapa, ada yang salah pada dirinya. Kemampuannya berbicara panjang-lebar tiba-tiba saja lenyap.

"Siapa dosennya? Pak Darma atau Pak Anto?" tanya Senior galak lagi, mencoba membuat suasana menjadi santai. Tapi, mata tajamnya, yang terus menatap Gia, justru membuat gadis di hadapannya salah tingkah.

"Pak Darma," jawab Gia singkat. Gia merasa aneh. Ada yang salah dengan dirinya sejak melihat lelaki itu berjalan masuk ke kantin. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Tubuhnya kaku. Gia merasa di ambang kematian. Lelaki yang sekarang duduk di hadapannya, mungkin jelmaan malaikat kematian.

"Wah, salah satu dosen favorit, tuh. Pak Darma itu ramah, enak kalau ngajar, dan nggak pelit nilai. Lo gampang kalau dapetin nilai A di kelasnya." Senior galak bercerita tentang salah satu dosen favoritnya.

Tanpa sadar Gia masuk ke dalam obrolan ringan yang seru dengan Senior galak yang ganteng itu. Sesekali mereka bahkan tertawa terbahak-bahak. Gia lupa bahwa lelaki itu sempat menjadi sosok paling menakutkan dalam hidupnya.

"HUGO!" teriak lelaki kurus dengan rambut gondrong yang berantakan. "Lo ditungguin dari tadi, malah enak-enakan di sini. Reza udah mulai keluar tanduk setannya tuh," omelnya saat sudah berdiri di samping Senior galak.

"Gue barusan sampai, elah," protes senior galak. Matanya melotot, tidak suka dengan kehadiran lelaki itu.

"Buru ke sekre!" Cowok, yang Gia kenali sebagai salah satu senior yang menjadi panitia PKKBM kemarin itu, tidak punya stok sabar lagi. Entah siapa namanya. Risiko datang terlambat, Gia jadi tidak mengenal siapa saja nama senior yang menjadi panitia PKKBM kemarin, termasuk Senior galak yang duduk di hadapannya. Baru hari ini dia tahu.

'Hugo. Namanya mirip merek celana dalam,' pikir Gia.

"Gi, duluan, ya. Kalau butuh bantuan, bilang aja," pamit Hugo, lalu pergi setelah ditarik paksa temannya.

Gia diam memandang punggung Hugo yang semakin menjauh.

'Hugo,' panggil Gia dalam hati. Senyum merekah di bibir tipisnya.

"Bengong aja! Kesambet baru tahu rasa lo," tegur Jesica sambil memberikan jus pesanan Gia.

Gia lupa Jessica sedang mengorbankan diri untuk antre membeli jus. Kantin di jam istirahat memang mengerikan. Antrean panjang terjadi di semua stand. Jessica terpaksa menghabiskan waktu cukup lama hanya demi dua gelas jus dan semangkuk bakso. Sementara Gia malah menikmati obrolan singkat dengan Hugo. Cinta memang seringkali harus mengorbankan orang lain.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status