Reject

Gia memasukkan mobil ke garasi rumah. Rumahnya memang tidak besar, tapi dia selalu tenang saat akhirnya tiba di rumah.

Penampilan Gia sudah kacau. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, tapi kusut di beberapa bagian. Tidak ada kerapian sama sekali dalam diri Gia sore ini.  Wajahnya yang lelah sudah kusut dan berminyak. Kemeja merah dengan motif bunga-bunga yang digunakannya sudah acak-acakan di sana-sini. 

Kegiatan kampusnya hari ini terasa lumayan menguras tenaga dan pikiran. Ada tiga mata kuliah hari ini, yang sukses membuat otaknya lumayan panas. Berbeda dengan waktu dia masih duduk di bangku sekolah, Gia hanya perlu duduk dan semua materi pelajaran akan diberikan oleh gurunya. Sekarang, Gia harus memahami segala sesuatunya sendiri. Dosen hanya memberikan sedikit gambaran tentang materi yang diberikan. Sisanya akan ada diskusi antar mahasiswa dan diakhiri dengan tugas-tugas. Jadi, baru mulai kuliah, tetapi tugas Gia sudah menumpuk.

Saat Gia akan masuk ke dalam rumah, mata Gia menatap ke seberang jalan, tepatnya di rumah Restu. Rumah yang bentuknya mirip dengan rumahnya. Rumah dua lantai dengan halaman mungil tanpa pagar pembatas. Bedanya, di rumah Gia halaman mungilnya ada kolam berisi lima ekor ikan emas koi sebesar genggaman tangan orang dewasa, sedangkan rumah Restu tidak ada.

Di teras tetangganya itu, Gia melihat seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun memakai celana pendek coklat dan kaus putih bertuliskan 'I love my Dad'. Kalau Gia tidak salah ingat, namanya Gavin. Gavin sedang bermain robot sendirian.

"GAVIN." Gia memanggil Gavin sambil melambaikan tangan. Tidak lupa Gia memasang senyum lebar terbaiknya.

Gavin menghentikan kegiatannya. Tangannya masih menggenggam robot. Dia mencari asal suara. Saat menemukan Gia melambai di seberang jalan, Gavin terdiam. Matanya tajam menatap Gia. Tidak lama, Gavin bangkit dari duduknya. Dengan gerakan cepat dia masuk ke rumah dan membanting pintu. Dia mengabaikan mainannya yang masih berserakan di teras.

Gia kaget dengan respon yang didapatnya. Ini sama sekali tidak ada dalam bayangan Gia. "Lah? Dipanggil sama bidadari kenapa jadi ketakutan? Gue berasa jadi nenek sihir jadinya kalau gini," keluh Gia, lalu masuk ke rumah. Gia lupa kalau penampilannya sekarang berantakan, mirip nenek sihir.

Gia masih heran dengan sikap Gavin. Sejak pertama melihat, saat Restu dan Gavin memperkenalkan diri semalam, Gia merasa ada yang aneh dengan anak lelaki itu.

Tubuh Gavin kurus dan tinggi. Rambutnya pendek dan selalu rapi. Matanya tajam tidak bersahabat, seakan dia selalu melihat orang dari sudut buruknya. Hidungnya mancung dengan bibir tipis yang bergelombang, mirip bibir Restu. Gavin tidak bisa dibilang jelek. Sebaliknya, dia anak yang ganteng. 

Ah, Gia baru sadar kalau belum bertemu mamanya Gavin. Mama Gavin pasti wanita yang cantik karena Gavin pun ganteng.

Gia yang suka dengan anak kecil terpesona dengan kegantengan Gavin. Sayangnya, Gavin menunjukkan sikap enggan berteman sejak awal. Ini membuat Gia penasaran. 

Anak kecil mana yang tidak luluh dengan Gia? Sikap ramah dan berisiknya Gia membuat anak-anak menjadi senang berada di dekatnya. Gia punya berbagai ide kreatif untuk mengajak anak-anak bermain. Kadang Gia bahkan mau repot-repot membuat mainan sendiri untuk anak-anak yang diajaknya bermain. Belum lagi Gia pandai bercerita. Tidak hanya dongeng terkenal, macam si kancil atau Cinderella saja yang dihapalnya, Gia bahkan sering mengarang ceritanya sendiri. Cinderella memelihara kancil jadi cerita yang paling sering Gia bacakan. Sampai Gavin hadir, belum ada anak kecil yang menolak pesona Gia.

"Eh, udah pulang, Gi," sapa Bunda yang sedang asyik membaca buku di ruang keluarga.

"Halo, Kanjeng Ratu. Sendirian aja? Pak Bos mana?" sapa Gia, lalu merebahkan tubuh di samping Bunda.

"Ayah belum pulang. Ada meeting dulu katanya, jadi telat pulangnya," jawab Bunda menutup buku masakan yang dibacanya, lalu meletakkannya di meja.

"Sibuk mulu, berasa orang penting aja," komentar Gia. "Bunda udah ketemu tetangga baru belum?"

"Belum ketemu, cuma baru lihat doang," jawab Bunda. Dia memandang anak gadis kesayangannya penuh curiga. "Kenapa?"

"Anaknya aneh, deh. Masa Gia, yang mirip bidadari gini, manggil, eh, dia malah takut. Dikira Mak lampir apa, ya?" sungut Gia. Bibirnya manyun sampai menyerupai paruh burung pelatuk.

Bunda tertawa.

"Ih, kok malah ketawa, sih?" Gia makin cemberut.

"Baru sekali ditolak cowok, ya? Nyesek banget pasti rasanya," ejek Bunda masih terus menertawakan Gia.

"Eh, iya juga. Ternyata sakit ya ditolak cowok, tuh. Gia bisa depresi, nih," sahut Gia. Dia memegang dadanya, pura-pura kesakitan.

"Kejar terus. Nanti dia juga luluh sendiri." Bunda memberikan saran.

Gia mengangguk mantap. "Bunda tau sendiri, Gia ini nggak gampang nyerah. Gia pasti bakal dapetin hatinya Gavin." Gia mengiakan saran Bunda dengan penuh percaya diri.

"Kalau udah anaknya, baru deh bapaknya," celetuk Bunda sambil mengedipkan mata kirinya.

"Eh, maksudnya gimana, nih? Masa Gia disuruh deketin suami orang? Bisa jadi pelakor, dong, nanti. Gia bisa dilabrak istri sahnya terus heboh masuk akun I* lambe-lambean. Abis itu Gia dihujat netijen sejagat raya. Bisa jadi suram masa depan Gia, dong. Bunda mau?" Gia panik membayangkan hujatan pedas dari netizen yang sering kelewat batas.

Bunda menggeleng melihat tingkah Gia. "Katanya mau punya pacar lima langkah?" Bunda mengingatkan keinginan Gia beberapa hari lalu.

"Tapi, kan, nggak gini juga kali, Bun. Gia masih punya hati nurani. Nggak mungkinlah Gia nyakitin hati sesama wanita. Gia juga ogah kalau suami Gia digodain cewek lain. Bakal Gia kasih sambel itu matanya. Pedes pedes, deh, tuh. Suruh siapa godain suami Gia?" protes Gia panjang lebar.

"Suami yang mana? Nikah dulu baru punya suami," sindir Bunda.

"Oh, iya. Boro-boro suami, pacar aja nggak punya. Nasib, deh, jadi jomlo bahagia." Gia pura-pura sedih.

"Lho senior galak kemarin gimana? Siapa sih namanya? Kok, Bunda belum pernah denger namanya. Masa panggilannya senior galak terus?" Bunda bertanya tentang Hugo.

Mata Gia berbinar. Dia kembali bersemangat. "Bang Hugo, Bun. Namanya Hugo. H U G O. Hugo," jawab Gia. Dalam sekejap perasaannya sudah berubah. Hanya dengan mengingat Hugo, kekecewaan Gia lenyap.

Bunda tersenyum melihat perubahan sikap Gia. "Nggak jadi jatuh cinta sama dia?" Bunda mulai usil.

"Ih, Bunda mau punya menantu yang mulutnya pedes mirip seblak level 10 emang? Bikin perut sama hati panas, lho. Bunda bisa diare seumur hidup nanti," omel Gia. Dia masih merasa kesal saat mengingat perlakuan menyebalkan Hugo padanya.

"Ya, kalau anak Bunda cinta, Bunda bisa apa? Bunda nggak bisa melarang kamu jatuh cinta ke siapa aja, Gi. Kamu yang bisa milih sendiri, bukan Bunda, bukan Ayah."

"Apaan cinta? Dikira cerita FTV kali, baru sehari ketemu bisa jatuh cinta. Receh banget cerita cinta Gia." Gia manyun.

Bunda tertawa mendengar keluhan Gia. "Mandi dulu sana! Bau asem, nih. Abis itu makan sama Bunda. Bunda udah masak acar bandeng, tuh," perintah Bunda mengalihkan pembicaraan.

"Wah, nggak boleh ditolak, nih. Siap laksanakan!" Seketika Gia kembali semangat, lupa beberapa detik sebelumnya dia sebal dengan Bunda. Murah memang untuk merayu Gia, cukup menawarkan makanan enak. Voila! Gia akan lupa segala sesuatu yang membuat suasana hatinya kacau.

Gia bangkit dari duduknya, mencium pipi kiri Bunda sebentar, lalu pergi menuju kamarnya di lantai dua. Bunda hanya menggeleng sambil tersenyum melihat ulah anak gadisnya itu. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status