Love Lies
Love Lies
Author: Ima Mulya
Bab 1

 Azzelya Joely, seorang model terkenal sejagat raya di Kota X. Dia sudah berkecimpung di dunia model semenjak menginjak umur 14 tahun. Azzel, yang kala itu memenangkan kejuaraan pada lomba yang diselenggarakan di sekolahnya, mulai memikat hati para fans dan menuntutnya untuk terus maju. Juga dukungan keluarga yang terus mendukung keahliannya. 

"Pokoknya, Mama mau suatu saat nanti kamu bisa jadi bintang model terkenal. Mama yakin, setelah memenangkan ini, berbagai penghargaan lain juga akan terus mengincarmu," kata mamanya tersenyum. 

"Iya putriku, Papa juga berharap yang sama dan merasa bangga padamu. Teruslah maju, kami semua akan mendukungmu," kata papanya tak kalah senang. 

"Begitu juga dengan, Nenek," ucap sang nenek memberikan cucunya pelukan.

"Terimakasih atas semua ini, aku pasti tidak akan mengecewakan harapan kalian," kata Azzel penuh haru. 

 Lengkap sudah kebahagiaan Azzel kala itu, keluarga yang bahagia, juga dukungan yang paling bernilai telah dimilikinya. Sekarang, Azzel hanya akan membuktikan pada mereka jika bisa jadi kebanggaan satu-satunya. 

 Semua bahagia mendukung Azzel,  kecuali satu orang. Dia adalah adik Azzel - Jennyka. Sejak dulu, Jenny menaruh iri pada Azzel yang memiliki segalanya, kecerdasan, kecantikan, juga keterampilan Azzel dalam beberapa bidang. Azzel juga membawa pulang banyak prestasi kejuaraan semenjak ia belajar di Taman Kanak-Kanak hingga sekarang.

 Bagi Jenny yang hanya punya otak pas-pasan, juga tidak terlalu bisa berprestasi, kemenangan Azzel adalah mimpi terburuknya. 

"Aku akan membuat hidupmu hancur, Azzel, dimulai dari sekarang."

 Begitulah keinginan kuat Jenny, hingga dia tidak memikirkan hal lain selain membuat Azzel hancur.

**

15 tahun kemudian.

"Sayang, coba lihat yang ini, bagus tidak?" tanya Andre memperlihatkan sebuah cincin pada kekasih yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.

"Bagus kok, tapi yang ini lebih bagus kayanya," sahut Azzel memperlihatkan pilihannya. 

Andre nampak berpikir dan menimang-nimang pilihan Azzel. "Eum … sepertinya pilihan kamu lebih bagus deh."

"Ya udah, berarti kita ambil yang ini aja, ya?"

"Iya, boleh," jawab Andre tersenyum senang, apapun pilihan Azzel, Andre juga pasti akan menyukainya.

"Mbak, kita pilih yang ini aja, ya," kata Azzel pada Pramuniaga.

"Baik, Mbak."

 Setelah selesai membeli cincin, Andre dan Azzel berencana pergi ke sebuah Restoran untuk makan siang. 

"Eh, lihat deh, itu bukannya Miss Azzelya Joely?" bisik seseorang yang baru saja melewati keduanya.

"Maksud kamu, Miss Azzel model terkenal itu? Yang mana orangnya?" tanya kawannya antusias.

"Itu … baru aja dia lewat. Dia sama pacarnya."

"Sama, Pak Andre?" jerit wanita itu histeris. "Ya ampun, betapa sialnya aku tidak mendapatkan keberuntungan melihat mereka," gerutu gadis itu kesal.

"Tapi masak iya sih itu, Miss Azzel, dia sama sekali tidak terlihat seperti itu," timpal gadis satunya lagi. 

"Maksud kamu itu bukan, Miss Azzel?"

"Iya jelas bukan. Bukankah Miss Azzel akan menyapa dan tersenyum pada siapa saja yang ia temui. Tapi wanita tadi terlihat lebih buruk."

"Benar juga, aku pasti berhalusinasi tadi, tidak mungkin itu, Miss Azzel."

"Iya, aku juga yakin itu bukan dia."

 Azzel berlalu tanpa peduli dengan apa yang baru saja gadis-gadis itu katakan, hanya saja dia tidak mungkin menyapa mereka dalam tempat yang terbuka seperti ini. 

 Azzel mempercepat langkahnya menuju mobil, juga Andre yang mensejajarkan langkahnya dengan kecepatan Azzel. Sesampainya mereka di mobil, Azzel melempar kaca mata juga topi hitamnya, serta syal yang melingkar di lehernya. Hampir saja samarannya terbongkar.

"Ya ampun, ini sama sekali tidak berarti," keluhnya kesal saat hampir saja usahanya menutupi diri sia-sia. 

"Ada apa, kenapa kamu terlihat begitu kesal? Apa itu karena gadis-gadis tadi?" tanya Andre yang juga sempat mendengar komentar mereka. 

"Lalu apa lagi, Andre. Hampir saja mereka mengenali kita."

"Kalau begitu akan ku beri pelajaran pada mereka." Tangan Andre sudah menyentuh gagang pintu saat Azzel dengan cepat mencegahnya. 

"Jangan. Itu tidak perlu, lagian mereka sudah mengatakan melihat orang yang salah."

 Andre menghela nafas kesal saat Anna lagi-lagi mencegah dirinya. Selanjutnya mereka hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Andre yang selama ini merasa heran dengan Azzel, merasa aneh saat wanita itu sering melakukan penyamaran jika sedang keluar. Seperti yang mereka lakukan saat ini. 

 Andre lebih suka jika Azzel terbuka, apalagi saat mereka sedang berdua. Bagi Andre, Azzel adalah kebanggaannya, sesuatu yang menurutnya sangat berharga. Jadi sudah jelas jika Andre menginginkan orang-orang juga akan menyaksikan kebersamaan mereka. Bahwa mereka menjadi saksi jika hubungan keduanya terjalin indah, bahkan orang-orang akan merasa iri dengan apa yang dimiliki Andre. 

 Lainnya halnya dengan Azzel, dia sendiri merasa itu semua tidak perlu. Tanpa dipamerkan juga semua orang tahu dirinya siapa. Jika pun Azzel lebih sering menampakkan diri dengan Andre, yang ada dia hanya menjadi buah bibir kesirikan seseorang. 

 Azzel tahu, Andre juga banyak diminati dan menjadi incaran para gadis-gadis. Apalagi banyak dari kalangan artis, juga model-model terkenal berlomba untuk mendapat Andre. Jadi sudah sewajarnya Azzel tidak berlebihan dalam menyakiti hati mereka yang gagal. Dia sangat tahu bagaimana sebuah kegagalan itu dihadapi, begitu sulit. 

"Kau kesal?" tanya Azzel saat mendapati Andre diam tanpa kata. 

"Tidak," jawab Andre tanpa menoleh. Dia malah memilih melihat ke luar jendela. 

"Baiklah, aku minta maaf," ucap Azzel tulus.

"Untuk, apa?"

"Karena telah membuatmu kesal."

"Itu bukan apa-apa. Lagian kau juga tidak menyukainya, bukan?"

Segera Azzel menyandarkan kepalanya di pundak Andre, guna menyudahi perdebatan kecil mereka yang tidak akan berujung jika semakin dibiarkan. 

"Lupakan, Andre, aku sudah sangat lapar. Jangan persulit cacing-cacing di perutku dengan ocehanmu."

 Mereka memasuki Restoran, segera menuju meja yang telah disediakan sejak tadi. Azzel begitu antusias dengan makanannya, karena itu, dia tidak menyadari saat Andre sama sekali belum menyentuh makanan di hadapannya. Melainkan Andre lebih asyik Chatting dengan seseorang di Whatsapp.

 Andre : [Aku akan segera datang]

 Cika : [Jangan lama-lama. Aku sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuatmu terkejut]

 Andre : [Jangan membuatku tidak tahan, Sayang. Atau Azzel akan curiga]

 Cika : [Baiklah. See you …]

 Andre meletakkan ponselnya dan mulai meraih sendok, dilihatnya Azzel yang begitu lahap. Dia tersenyum kecut. 

"Kau bisa pulang sendiri?" tanya Andre. 

 Azzel mendongak sejenak sebelum suapan memenuhi mulutnya. "Kau mau kemana?"

"Ada urusan, sedikit mendesak."

"Baiklah!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status