Love in Revenge
Love in Revenge
Author: Fitri Laxmita
Kesialan yang Bertubi-tubi

"Jangankan untuk hidup, untuk bernafas pun kalian sangat tidak layak," ucapnya dengan penuh kepuasan saat melihat antek-antek  musuhnya saling membunuh.

 "Aku akan menghabisi kalian dari daun terlebih dahulu, setelah itu baru aku akan menuju akar," ucapnya lagi lalu pergi dari tempat itu setalah melihat mayat bergelimpangan.

***

  Seorang pria berusia dua puluh enam tahun mengendarai mobil sportnya memecah hingar bingar malam Kota California, kota yang terkenal dengan penduduk terbanyak di AS, merupakan kota besar yang terletak di pesisir barat Amerika Serikat.

 Pria itu memarkirkan mobilnya dengan sempurna di garasi bawah tanah mansion milik orang tuanya, dia berjalan memasuki mansion sambil memainkan ponsel, dia tidak menyadari kalau ada seseorang yang sejak tadi menunggu kedatangannya.

 "Dari mana saja kau, Darren Khalfani?" tanya seorang pria paruh baya bernama Jordhan Khalfani.

 "Bukan urusanmu!" jawab Darren tajam.

 "Menjadi urusanku karena kau tinggal di mansionku!" ucap Jordhan tak kalah sengitnya.

 "Opa yang memaksaku untuk tinggal di sini, bukan keinginanku, aku sudah muak berada di sini, tinggal dengan orang picik sepertimu dan ...."

  "DARREN, JAGA UCAPANMU, AKU INI AYAHMU!" suara bentakan Jordhan menggema di ruangan itu, membuat beberapa penghuni lainnya yang sudah terlelap menjadi terjaga kembali.

  "Aku bukan anakmu, semenjak kau memperlakukan ibuku dengan sangat tidak pantas," ucap Darren tajam.

  "Ada apalagi ini?" tanya Merlin, Ia langsung menghampiri Darren dan Jordhan yang sedang bersitegang.

 "Cih ... pura-pura tidak tau, kau lah biang keladi dari semua kekacauan ini," jawab Darren lalu melangkahkan kakinya untuk pergi lagi.

 "Darren, sekali lagi kau melangkahkan kaki dari mansion ini, maka selamanya kau tidak akan pernah bisa kembali lagi, jangan harap kau akan mendapatkan fasilitas lagi dariku," pekik Jordhan.

 "Aku tidak peduli, aku tidak butuh uangmu, lagi pula sejak kapan aku memakai fasilitas yang kau berikan, aku menggunakan mobil hasil kerja kerasku, uang yang aku gunakan juga hasil kerja kerasku, kau ada di mana saat aku dan ibuku hidup terlunta-lunta karena perbuatan wanita ini, fasilitas apa yang aku gunakan? Apakah sekedar makan dan tidur aku juga harus membayar di sini? Baiklah aku akan membayarnya," ucap Darren lalu mengambil dompetnya, saat Darren akan mengeluarkan uang, seseorang menghentikannya.

 "Tunggu Darren, kau tidak perlu membayar apapun, semua fasilitas ini milik Opa, bukan milik dia," ucap Aiden menunjuk kepada Jordhan.

 "Sorry Opa, aku tidak ingin mereka terus mengatakan aku menggunakan fasilitas di mansion ini, aku juga harus pergi dari sini," ucap Darren, "dan ini uang untuk mengganti apa yang sudah aku gunakan selama di sini," ucap Darren lagi seraya melemparkan uang dollar yang sangat banyak kepada Jordhan, membuat Jordhan dan Merlin diam mematung.

 "Kau mau ke mana? Jangan pergi, apa kau tega melihat Opa dan oma bersedih?" tanya Aiden.

  "Aku akan sesekali mengunjungi kalian Opa, tapi tidak untuk tinggal di sini, atau Opa dan oma ingin ikut tinggal di rumahku?" tanya Darren.

  "Tidak, Opa harus melindungi apa yang seharusnya menjadi milikmu, kalau Opa pergi dari sini, orang yang tidak tau malu akan sangat leluasa menjalankan rencananya," jawab Aiden.

  "Baiklah Opa, jika Opa ingin bertemu denganku, Opa hubungi saja aku," ucap Darren lalu benar-benar pergi dari mansion.

 "Kau sudah puas melihat cucuku pergi? Dasar wanita tidak tau malu," ucap Aiden sinis lalu kembali masuk ke kamarnya.

  "Maaf karena kehadiranku, semuanya jadi seperti ini," ucap Merlin.

  "Tidak perlu meminta maaf, memang dia anak yang kurang ajar," ucap Jordhan.

  "Lebih baik kita istirahat, kau juga pasti sudah lelah," ucap Merlin lalu keduanya berlalu menuju kamar.

*** 

  Darren melajukan mobilnya menuju ke apartemen miliknya yang ditinggali oleh Albert temannya.

  BRUK 

 CEKIIIT

 Darren menghentikan mobilnya tiba-tiba karena melihat seseorang dengan sengaja menabrakkan diri ke mobilnya.

 "SIAL!" umpat Darren, lalu turun dari mobilnya.

 "Hei Nona, apa kau sudah gila? Kau sudah bosan hidup, huh?" tanya Darren nyalang.

  "Biarkan aku mati!" racaunya, saat Darren mendekat ternyata wanita itu sedang mabuk, bau alkohol sangat menyengat dari mulutnya, lalu wanita itu tidak sadarkan diri.

 "Bodoh, jika kau ingin mati jangan menyusahkan orang seperti ini," umpat Darren.

  Darren pun menggendong wanita itu masuk ke mobilnya, tidak mungkin Darren meninggalkan wanita ini di tepi jalan, dia bisa jadi mangsa empuk untuk para pria yang selalu melakukan one night stand, apalagi postur tubuh wanita ini sangat menggoda.

  "Sangat menyebalkan, baru saja aku mendapatkan keberuntungan, tapi harus mengalami dua kali kesialan," umpat Darren.

 Tak berapa lama, Darren sampai di basement apartemen, dia segera menggendong wanita itu menuju unitnya.

  "Ah sial, bagaimana caranya aku mengambil cardlock," maki Darren, tapi ternyata pintu tidak dikunci, saat tangan wanita itu tidak sengaja menyenggol pintu, pintu pun langsung sedikit terbuka, Darren menendang pintu agar terbuka lebih lebar lagi.

 "ASTAGA!" pekik Darren.

 "Kesialan apalagi ini!"

 "Darren, kau?" tanya  Albert dengan posisi yang sangat intim bersama dengan seorang wanita, lebih parahnya lagi mereka sedang tidak menggunakan sehelai benang pun.

 "Mari, bermain bersama kami," ucap Albert dengan seringainya karena Darren juga menggendong seorang wanita.

 "Dasar bajingan, aku tidak sudi milikku masuk ke mana saja," ucap Darren lalu masuk ke kamarnya.

  "Dia siapa?" tanya wanita itu.

  "Sahabatku, kita lanjutkan di kamar saja Baby," ucap Albert lalu menggendong wanitanya dengan posisi keintiman yang enggan mereka lepaskan.

  Di dalam kamar Darren membaringkan wanita itu di atas ranjang.

  "Merepotkan sekali!" ucap Darren.

 "Brengsek kau Yuka, lebih baik kau mati saja, kau lebih memilih wanita jalang itu dari pada aku, dia itu sudah longgar, sedangkan aku masih sempit belum terjamah oleh siapapun," racaunya lagi.

  

  "Hanya gara-gara putus cinta dia melakukan hal gila seperti ini," ucap Darren, cukup lama Darren diam menatap wanita yang sedang tertidur.

 "Kau itu sangat cantik, tapi sayang kau bodoh," ucap Darren, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.

  "Si bajingan itu, apakah masih bermain di luar atau tidak," ucap Darren, sebelum keluar kamar, dia mengintip dari balik pintu terlebih dahulu.

  "Sedang apa kau?" tanya Albert, dia sudah menggunakan pakaian yang lengkap dengan rambut yang basah.

  "Gila!" maki Darren.

  "Kau temukan di mana jalang itu?" tanya Albert.

  "Jaga ucapanmu, jika dia dengar bagaimana?" 

 "Kau jangan naif, di sini sulit mencari wanita baik-baik yang masih mempertahankan kesuciannya," jawab Albert.

 "Sulit bukan berarti tidak mungkin," ucap Darren.

  "Ya, terserah kau saja," ucap Albert dan keduanya berlalu menuju dapur.

  "Di mana wanitamu?" tanya Darren.

  "Sudah ku enyahkan," jawab Albert lalu meneguk air dingin yang baru saja ia tuangkan.

  "Sampai kapan kau akan melakukan ONS seperti itu, kau tidak takut akan tertular penyakit?" tanya Darren.

  "Kau berkata seperti itu, karena kau belum merasakan kenikmatannya," jawab Albert.

  "Sinting, aku ini pria beristri, jadi aku sudah merasakannya," ucap Darren.

   "Cih!" Albert memalingkan wajah dan mendecih, Ia lalu kembali menatap Darren lagi, "pria beristri, sampai kapan kau terus terbelenggu dengan masa lalu?"

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status