WRONG TURN
WRONG TURN
Author: Framadani
PROLOG

Aku tidak bisa mundur begitu aku berada di kamar Albert.

Meskipun aku mau tapi juga ragu-ragu - karena aku memang menginginkannya, itu sudah terlambat. Pintunya tidak berbunyi sedikitpun ketika aku menyelinap masuk. Jika aku mengenal diriku sendiri dengan baik, aku akan tersandung dan jatuh dengan teriakan dan penjaga di sekitar rumah - maksudku mansion - akan masuk ke dalam kamar dan menangkap ku yang hanya menggunakan gaun tidur yang tersertifikat sebagai pelacur seksi yang mencoba untuk mundur dari menggoda anak bos mereka. Mereka mungkin berpikir aku pembunuh bayaran yang akan membunuh Albert dalam tidurnya.

Jangan jadi pengecut, Cass, aku berbicara dengan diriku sendiri. Mengedipkan mataku beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatanku di tengah kegelapan. Kau menginginkannya, kau menginginkan ini.

Mengambil napas yang dalam dan percaya diri. Aku melangkah ke salah satu sisi kasur king size nya. Di dalam kegelapan, aku harus benar-benar mengingat tata letak kamarnya dari tur seluruh mansion tadi pagi. Setelah sembilan jam penerbangan menggunakan jet pribadinya, Albert membawa seluruh geng - Aku, Sam, Sarah, dan Julian - ke kamarnya untuk beristirahat sementara kamar tamu sedang dipersiapkan, kami semua memerah seperti tomat saat kami tertegun melihat ukuran kamarnya. Seperti yang dia bilang dan aku mengutip "Yeah, kamarku memang seukuran gereja tapi hey, kita tetap akan bermain Call Of Duty, kan?" dan kita semua oke dengan itu.

Itulah Albert. Sangat rendah hati. Dan juga sangat seksi hingga terasa sakit saat melihatnya. Dia memiliki rambut hitam seperti tinta, mata biru yang dingin dan fisik seperti atlet, tidak heran jika banyak wanita mengantri untuk mendapatkan perhatiannya. Dia memiliki lautan ikan yang siap untuk dipilih saat pesta dansa nanti. Aku sedikit kecewa dia tidak memilihku tapi aku sudah merelakannya.

Karena malam ini aku akan mendapatkan malam terbaik di hidupku.

Aku benar-benar tidak adil dengan Kyle, bajingan itu, karena meskipun kami putus dengan buruk dia sebenarnya cukup ... baik.

Sangat baik, dia hampir tidak pernah memberiku orgasme.

Kyle Anderson mungkin memang jelmaan adonis tapi aku tidak pernah merasakan apa yang sahabatku, Sarah, sebut dengan "Kapital O". Itu mungkin seperti monster Loch Ness bagiku. Mitos. Itu tidak berarti aku akan basah saat aku datang ke lapangan football dan melihat mantan pacarku. Tapi itu bukan masalahnya.

Mungkin masalahnya bukan dari Kyle, kalimat pahit berkata di kepalaku. Mungkin itu kau.

Dengan pikiran menyebalkan melayang di kepalaku aku jadi tersandung dengan kakiku sendiri dan terbang tepat di atas kasur - mendarat tanpa elegan di objek afeksiku yang meringkuk di lipatan selimut dengan canggung. Jika dia sudah tidur, aku sangat yakin tidak sekarang setelah aku menempatkan tanganku di wajahnya.

"Apa-apaan?" Dia mendengus, mencoba untuk duduk.

Tanpa berpikir, aku mendorongnya kembali tidur, bersyukur dia tidak bisa melihat betapa merahnya wajahku saat ini.

"Sial, aku minta maaf Alby, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Aku mengoceh. Seanggun yang aku bisa aku bergerak untuk mengangkanginya, aku merinding merasakan dadanya yang telanjang di telapak tanganku.

"Apa kau berdarah?" Aku mengusap wajahnya dan merasa lega karena aku tidak menemukan jejak cairan hangat atau benjolan.

Tubuhnya mematung. Aku berharap aku bisa melihat wajahnya saat itu, berharap aku bisa melihat saat dia menolak karena ini aku, salah satu sahabatnya, menyelinap ke dalam kamarnya di tengah malam. Sebelum aku kehilangan keberanianku, aku menurunkan bibirku ke dia - setidaknya aku berpikir itu di sana. Bibirku malah berakhir di rahangnya yang mengeras. Tidak biasanya berduri tapi bagiku itu membuatnya semakin seksi. Perlahan aku menggerakkan bibirku ke bibirnya, berdoa dalam hati dia tidak akan menarik diri, atau bilang padaku untuk pergi. Dimana itu adalah kemungkinan besarnya.

Namun dia kemudian menciumku kembali, satu tangan besar merayap di belakang kepalaku dan menjagaku tetap di tempat.

Gelombang gairah meletus di perutku dan sebelum aku mengetahuinya, lidah Albert menemukan jalan masuk ke dalam mulutku. Sudah seperti yang aku duga, Albert Mikhail West adalah pencium yang handal. Dia terus merasakanku, menjepit bibir bawahku diantara celah hangat di mulutnya.

Aku menarik kembali dengan napas memburu dan detak jantung yang cepat. Albert mengerang tidak puas, tangannya merayap turun di sisi tubuhku ke kedua kakiku yang memeluk sisinya. Aku menarik gaunku ke atas dan melemparnya di belakang bahuku. Sekarang aku benar-benar telanjang.

Aku belum pernah telanjang di depan pria lain selain Kyle tapi aku cukup merasa percaya diri dengan tubuhku. Lagi pula, di sini gelap, bulan diselimuti langit tebal. Albert tidak bisa melihat - hanya merasakan.

"Sentuh aku, Albert." Aku berbisik, mencari tangannya dan menaruhnya di dadaku. Tangganya besar dan hangat, mereka memijat keduanya dengan cepat di bawah telapak tangannya. Aku bisa spontan meledak.

Dengan malas, Albert membuat pola melingkar di sekitar puncak dadaku yang keras sebelum menariknya di antara dua jarinya yang terampil. Aku menjerit sebelum aku bisa menahan diriku sendiri, sensasi dari tangannya yang sedikit kapalan dengan dadaku yang sensitif benar-benar sangat menakjubkan hingga terasa sakit. Aku menurunkan pinggul ku melawannya dan secara tanpa sadar menumbuk yang aku tahu adalah ereksinya di bawah selimut. Panas dan keras, itu menyentuh di tempat yang tepat. Albert freaking West keras untukku.

Salah satu tangannya bergerak turun dari dadaku, menyusuri jejak panas di bawah perutku sebelum menangkup puncak yang berdenyut di antara kakiku. Desahan yang keras keluar dari mulutku begitu saja tanpa Albert berdesis menyuruhku untuk diam. Berpikir kembali, dia tidak bicara banyak, selain saat aku menindihnya.

"Please," Aku memohon, saat dia tidak begitu juga menyentuh bagian yang aku ingin dia sentuh lebih dari apapun.

Mencoba mengatur kembali posisinya, dia menjalankan jarinya di sepanjang celahku, berhenti di atas ujung bengkakku. Dia segera menarik jarinya dan aku merintih protes. Dalam keheningan, aku mendengar suara hisapan yang memberitahu ku kalau dia merasakanku di jarinya.

"Itu tadi ... Sangat seksi." Aku merintih berharap bisa melihat itu lagi. Aku benar-benar penuh dengan kontradiksi.

Lalu dia mendorong jarinya memasukiku.

Menjerit kecil, aku melengkungkan punggungku ke belakang menyerah pada sensasi yang dia ciptakan dan bergerak di atas jarinya. Ibu jarinya berada di atas pusat saraf paling sensitifku, menggosoknya dengan cepat saat dia menambah satu jari lagi di dalamku. Aku lagi-lagi mengeluarkan jeritan kecil, bergerak ketika dia membengkokan jarinya dan menemukan satu mitos lagi yang aku pernah dengan - G-spot ku. Aku tahu aku sudah selesai saat itu karena aku langsung datang di tangannya.

Tubuhku bergetar dan bintang beterbangan di mataku. Klimaksku benar-benar mengejutkan, walaupun aku juga merasa ingin pipis tapi itu tidak ada hubungannya dengan sensasi di tulang punggungku yang diberikan pria yang memainkan ku dengan hebat.

Aku ingin menangis. Itu bukan aku. Tidak ada yang salah denganku. Aku bisa datang.

"Trims." Aku menghembuskan napas lega, meraih wajahnya dan merasakan wajahnya dengan jemariku. Aku bersandar ke depan dan meraih mulutnya tanpa banyak masalah. Lidahnya menjilat garis di antara bibirku sebelum aku membuat celah yang membiarkan dia masuk. Dia mengerang dengan keras saat menendang selimutnya jauh dan dari situ aku tahu dia tidur telanjang.

Tidak ada yang lebih seksi dari itu. Serius.

Ciumannya berubah ketika dia menekan ereksinya padaku. Lidahnya masuk dan menyerah lidahku. Erangannya menjadi lebih keras dan lebih putus asa. Aku menghisap bibir bawahnya, menggigitnya dan bergetar ketika dia mengeluarkan sumpah serapah.

Aku merasa dia bergerak meraih nightstand nya. Tanpa mendorongku jauh, lacinya terbuka dan setelah jeda beberapa detik dia menutupnya kembali. Suara foil membuat jantung ku berdetak lebih kencang.

"Oh, seharusnya aku sudah tahu." Aku berkata dengan lembut. Albert bukan orang yang tidur dengan siapa saja yang dia suka tapi dia memang melakukannya. Aku hanya tidak mengira dia akan mengajak perempuan ke mansion keluarganya.

Dia mendengus.

Aku mengangkat diriku sendiri dari pangkuannya dan berbaring di sampingnya, menunggu dia memasangnya membuatku merasa kurang yakin dengan diriku sendiri di tiap detiknya. Bagaimana kalau Kyle selingkuh dariku karena aku partner yang buruk di ranjang? Aku sudah mempunyai pikiran itu tapi aku tidak membiarkannya meracuniku. Albert baru saja memberiku orgasme. Aku berutang budi padanya untuk memberikan hal yang sama. Sial, aku berutang hidupku padanya.

"Kesini," Aku mendesis, meraih kepalanya dan menariknya ke dalam ciuman yang panas. Dia menyesuaikan ritmeku dengan baik sambil memposisikan dirinya di antara pahaku.

Tanganku mengelus bahunya yang lebar, mencengkeram dengan keras saat mulutnya seakan ingin menghabisi mulutku dengan cara paling nikmat. Sebelum aku tahu, aku menggeliat merasakannya. Dia terkekeh, begitu rendah dan sensual hingga membuatku lebih basah. Aku meraih diantara kita dan menggenggam ereksinya, tawanya seketika berubah menjadi erangan sakit.

Dia besar. Cukup besar hingga aku tidak bisa sepenuhnya menggenggamnya. Sangat besar hingga aku mulai menghitung untuk mencari tahu seberapa jauh dia akan meregangkanku.

Jadi rumor nya benar. Aku berpikir, lebih dari senang. Aku meremasnya hingga dia mengeluarkan erangan lain.

"Cukup." Dia berkata sambil menarik tanganku jauh.

"Aku menginginkanmu." Aku bergumam, menggeliat tidak sabar di bawahnya. Aku mendesak ketika aku merasakannya di pintuku, ujung bulatnya membuat jejak di sepanjang garis celahku. "Sial," Aku mendesis ketika dia menekan di tempat yang tepat. "Please."

Dia perlahan mendorong masuk dan aku mengerang, menginginkan lebih. Aku mengangkat pinggul ku untuk menerimanya, aku mengusap punggungnya dan menancapkan kuku jariku ke pantat berototnya, memaksanya masuk seluruhnya dan menekan dadaku padanya.

Sakitnya tajam namun memuaskan, berdenyut aku mencoba untuk menyesuaikan ukurannya. Kyle tidaklah kecil, tapi aku - seperti yang dia bilang dan aku mengutip - "sangat sempit". Mendengar Albert yang mengambil napas dengan tajam mengkonfirmasi kebenaran itu.

"Kau besar." Aku memejamkan mataku sambil berbisik.

Ketika aku sudah hampir terbiasa dengan ukurannya, dia mendorong lebih dalam dan mataku langsung terbuka lebar. Aku menjerit kesakitan dan seluruh tubuhnya menegang.

"Aku baik-baik saja." Aku berkata dengan cepat, takut dia akan menarik keluar. "Jangan menahan diri." Terdengar seperti sesuatu yang harus aku katakan. Lagi pula aku juga menginginkannya.

Dia mencium diantara leher dan bahuku, Albert menyumpah di atas kulitku sebelum bergerak di dalamku.

"Oh, boy." Aku tersedak, mengangkat pinggul ku sedikit untuk menambah tekanan di dalamku. "Wow."

Bergerak lebih cepat, dorongan dan tarikan Albert membuat ku tidak bisa bernapas. Aku meraih pantatnya lagi, merasakan ototnya menegang dibawah jemariku. Dia menaruh tangannya di belakang lututku dan membungkus pinggangnya dengan kakiku, memanfaatkan posisi ini untuk mendorong ke dalamku lagi. Aku mendesahkan namanya lalu dia berhenti, jantungnya berdetak kencang melawanku.

"Apa?" Aku memeluk bahunya. "Apa yang kau lakukan?"

Albert baru saja memberikan orgasme pertama ku. Jika dia membiarkanku tidak penuh malam ini. Aku akan mati.

"Aku mohon." Napasku berderu, suaraku hanya napas.

Mendengus, dia mendorong kedalamku tanpa ampun, miliknya terus menabrak spot itu. Aku mendesah, mengerang di bawahnya, putus asa ingin merasakannya lagi.

"Come." Suaranya kental.

Aku hampir sampai. Sangat dekat. Begitu dekat.

Aku datang, melepaskan apa saja yang aku punya. Albert masih mempompa dengan keras di dalamku dan untuk satu detik aku berpikir dia akan membelahku menjadi dua.

Namun hal cantik berikutnya datang. Dia melengkungkan punggungnya dan mengeluarkan erangan seperti binatang, dia bergetar, mengendarai orgasmenya dan melepaskan diri dariku. Lalu dia jatuh di atasku tanpa meremukanku. Dengan tangan yang bergetar aku menyisir rambut hitamnya yang bergelombang.

Bergelombang? Aku berpikir seraya menarik tanganku kembali.

Rambut Albert dipotong tipis. Kurang dari seinci dari kulit kepalanya. Sangat pendek untuk bisa menjadi bergelombang.

Oh, aku sial.

"Menjauh dariku atau aku akan berteriak." Aku mendesis, jatuh dari kenikmatan setelah seks dengan cepat, kepalaku berdenyut.

Dia tertawa. "Tapi kau sudah berteriak." Dia membalas dan dia sama sekali tidak terdengar seperti Albert. Untuk awalnya, suaranya ratusan kali lebih rendah dan dia memiliki aksen. Albert, yang sepanjang hidupnya tinggal di Amerika, tidak memiliki aksen. Meringkuk jauh dariku, orang asing itu berguling ke sisi lain kasur.

Mengabaikan kekosongan yang aku rasakan, aku mengambil napas panjang dan duduk, rasa sakit menjalar di sebagian tubuh bawahku.

"Siapa kau?" Kataku, meraih lampu samping, jika memang itu benar-benar di sana.

"Siapa kau?" Dia membalas, mengalahkanku menyalakan lampu duluan.

Dia berbalik dan melihat ku. Ekspresi yang tidak bisa aku kenali menyelimuti wajahnya. Aku tersedak. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku tidak bisa menyembunyikannya.

Dia bukan Albert yang-baru-saja-lulus-sekolah. Tidak, tapi dia pria bermata hijau dingin yang belum bercukur - pria telanjang bermata hijau dingin yang belum bercukur. Dia yang baru saja berada di dalamku. Memberiku orgasme yang dahsyat.

Berotot dengan hidung mancung dan bibir penuh, rambutnya lah yang benar-benar mengambil perhatianku. Tebal dan bergelombang. Rambutnya bergantung di dahinya, basah sebagai hasil dari aktivitasnya dengan ku. Fakta jika aku tidak melihat uban di sana membuatku lega. Menurutku dia berada di umur dua puluhan.

"Aku terus memanggil nama Albert tahu. Kau tahu," Aku berkata, memeluk diriku sendiri. Menatap ke sekeliling yang akhirnya aku sadari kalau ini kamar yang salah. Aku merasa ingin menangis. "Kau tahu siapa yang aku mau."

Dia menaikkan alisnya. "Jadi kau berkata kalau istri Albert yang baru meninggal satu tahun lalu dan dia sudah mengundang pelacur ke kamarnya?"

Istri?

Mengabaikan fakta kalau aku baru saja disebut pelacur bayaran, aku berkata "Apa yang kau bicarakan? Alby baru saja delapan belas tahun!"

Dia hampir mengatakan sesuatu namun dia mengurungkan niatnya.

"Well?" Aku mendorongnya untuk menjawab.

Dia membersihkan tenggorokannya. "Kau salah satu teman, si Albert Junior?"

"Ya! Apa yang kau pi ..." Suaraku meredup begitu saja. Albert Junior, berarti ada Albert Senior ... ayahnya ... "Oh, God."

Pria itu juga terlihat tertegun. "Tolong, jangan bilang kau masih enam belas tahun."

"Aku benar-benar bodoh." Aku bergumam sambil keluar dari kasur yang berantakan dan mencari gaun tidur ku di lantai. "Sangat bodoh." Tidak begitu lama menemukannya dan memakainya. Aku akhirnya menatap pria itu - pria yang salah - yang aku goda. "Aku delapan belas tahun. Bukan berarti itu penting karena ... karena aku bodoh. Aku pasti berbelok di tempat yang salah dan kau mungkin ... Kau mungkin salah satu penjaga dan aku tidur denganmu!"

Dia tertawa lagi, sambil berdiri. Aku dengan cepat mengalihkan mataku dari semi ereksinya yang jauh lebih besar di pencahayaan.

"Jangan lupa, kau yang datang padaku." Dia mengatakan poinnya.

Dengan satu langkah di sudah berada di depanku, membuatku sedikit takut. Mendadak aku merasa kesulitan untuk bernapas di bawah tatapan matanya.

"Dean," Dia menghela napas, menurunkan lututnya hingga bibirnya sejajar denganku. Aku menutup mataku, menahan desahan ketika lidahnya menyusup ke dalam mulutku untuk merasakanku.

"Apa?" Aku bertanya dengan linglung saat mulutnya meninggalkanku.

Bibirnya membentuk seringaian dan dia melepaskanku. "Namaku Dean. Dean Giovanni West," Dia menambahkan, dan aku mengambil langkah mundur karena aku mengenal namanya.

"Aku paman Albert Junior."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status