six; cold water

Alvis menutup pintu ruangannya, lalu menatap Nadiar yang sedang sibuk dengan komputer didepannya. Melihatnya, membuat Alvis mendengus pelan. "Saya ada pertemuan siang ini."

Nadiar mendongak, lalu mengangguk. "Ya, bos. Di kafe dekat kantor ini."

"Iya."

Lalu hening. Keduanya saling menatap. Dan Alvis menunggu. Menunggu reaksi Nadiar selanjutnya. Namun, Nadiar tetap duduk dan menatap Alvis datar, lalu mengedip. Terus melakukan hal tersebut, dan Alvis terus menatap Nadiar.

"Bos?"

"Hm?"

"Bos ngapain masih di sini?" tanya Nadiar dengan alis yang bertautan.

"Kamu sendiri, ngapain masih duduk?"

"Saya kan kerja, bos."

"Kamu gak akan menemani saya?"

"Hah?" Alis Nadiar bertaut dalam. Tangannya terangkat lalu menggaruk tengkuknya pelan. "Harus, ya, bos?"

Alvis mendelik sebal. "Ya kamu pikir saja. Gunanya kamu apa?" tanyanya dingin.

Nadiar terlihat menelan ludahnya, lalu membereskan barangnya, kemudian berdiri dengan cepat. "Ayo, bos!"

Alvis meresponnya dengan berjalan terlebih dahulu, sedangkan Nadiar mengikutinya dari belakang.

***

Alvis berdiri dari duduknya, dan klien didepannya langsung berdiri dan membungkuk cepat pada Alvis.

"Terima kasih, Pak! Terima kasih!"

"Ya."

Disampingnya, Nadiar memutar bola mata dengan sebal karena kedinginan Alvis. Padahal, matahari menyorot terik siang ini. Tapi, Alvis masih saja tidak mengurangi kadar kedinginannya. Klien Alvis yang satu ini adalah seorang pemilik kafe yang meminta investasi dari perusahaannya Alvis. Pemilik kafe itu tentu saja berterima kasih karena Alvis sudah menandatangai kontrak yang dibuat.

Klien di depan Alvis tersenyum lebar, lalu mengangguk sopan. "Terima kasih atas kerjasamanya, Pak," ucap klien itu lagi dengan senyum lebar, dan di balas dehaman pelan dari Alvis. "Mari, saya antar keluar."

Alvis kembali berdeham, lalu mulai melangkahkan kakinya keluar dari meja. Matanya melirik pada Nadiar yang sedang meminum milk shakenya dengan cepat. "Ayo."

Nadiar menoleh sejenak, lalu meneruskan minumnya hingga tandas. Setelah itu, Nadiar berdiri dan merapikan penampilannya. Sebuah cengiran memenuhi pipinya saat berucap, "Maaf, bos. Kalo minumnya gak abis, ntar mubazir. Hehe."

Alvis hanya melirik Nadiar sekilas, lalu kembali melangkahkan kakinya keluar kafe. Di belakangnya, Nadiar menggerutu panjang lebar atas kejudesan Alvis.

Alvis itu, sebenarnya dingin, cerewet, atau judes, sih? Kenapa sifatnya cepat sekali berubah? Nadiar jadi sebal. Alvis sepertinya orang yang moodyan. Dan hal itu, merugikan kenyamanan Nadiar di kantor. Bisa-bisanya Nadiar punya bos seperti Alvis. Cih.

"Kalau begitu, saya permisi dulu." Alvis kembali bersuara.

Karena sibuk menggerutu dalam hati, Nadiar tidak sadar jika mereka sudah berada di depan mobil. Alvis sendiri sekarang bersifat sopan saat kliennya kembali membungkuk sopan.

"Sekali lagi, terima kasih, Pak!"

Alvis lagi-lagi hanya bergumam menjawabnya, membuat Nadiar gedek sendiri.

Si klien laki-laki itu membukakan pintu Alvis, dan kembali membungkuk. "Terima kasih, Pak. Sekali lagi."

"Sama-sama!"

Balasan itu bukan dari Alvis, melainkan dari Nadiar yang tersenyum lebar pada klien Alvis.

Alvis hanya diam, dan menatap datar pada Nadiar yang masih tetap pada cengirannya. Alvis mendengus melihatnya. Ia kemudian kembali menatap pada kliennya yang malah tersenyum pada Nadiar. "Ya," balas Alvis, membuat klien itu kembali menatap Alvis. "Kamu boleh pergi sekarang."

Sekali lagi, klien Alvis membungkuk sopan lalu pergi dari hadapan keduanya. Alvis kemudian menekan remot kunci mobil miliknya. "Ayo masuk."

Nadiar mengangguk semangat, lalu berjalan mengelilingi mobil Alvis dan membuka kursi samping pengemudi. Nadiar duduk di kursi bersamaan dengan Alvis yang juga baru akan duduk di kursi. Setelahnya, mereka lalu pergi dari kafe tersebut menggunakan mobil. Di dalam mobil, Nadiar melamun kembali, melanjutkan lamunannya tentang Alvis.

Penasaran, Nadiar lalu menatap Alvis yang sedang fokus menyetir. "Bos."

"Hm?"

"Bos kok gitu banget, sih, sama orang?"

Alvis melirik sekilas pada Nadiar, lalu kembali menatap ke depan. "Huh?"

"Iyaa, bos itu dingin banget kalo bukan tentang kerjaan."

"Intinya."

Nadiar mendengus. Jika berbicara dengan Alvis yang sifatnya berubah-ubah, Nadiar harus menggunakan otak. Masa Nadiar berucap se-kalimat, Alvis malah berucap se-kata saja? Nadiar jadi harus menerjemahkan dalam otaknya. "Yaa gitu," ucapnya kemudian. "Harusnya, orang bilang makasih itu jawab!"

"Udah."

"Udah dari mananya?!" pekik Nadiar sebal. "Masa cuma hem-hem doang? Kosakata bos dikit banget, ih! Padahal, bos kan CEO. Kalo di ajak debat gimana? Masa pas mereka ngajak debat, bos cuma hem-hem trus ngasih se-kata doang. Gitu? Sumpah! Itu debat ter-gak-lucu yang pernah saya bayangin!"

"Salah?"

"Ya salah, lah!" seru Nadiar kencang. Terlalu terbawa emosi sampai Nadiar meloncat di kursinya. "Bos ini dikit-dikit cerewet. Kebanyakannya dingin. Sekalinya cerewet, malah bikin murka umat."

"Hm."

Mulut Nadiar menganga lebar mendapat respon dari Alvis. Gila, benar saja jika debat, Alvis hanya menjawab, "Hem," saja. Dan hal itu, membuat Nadiar mendengus kencang. "Bos ih! Kalo saya ntar bilang sorry, gimana?"

"Hm."

"Kalo saya bilang thank's, responnya gimana?"

"Hm."

"Kalo please atau help me?"

"Hm."

"Kalo I love you?"

Seketika, mobil Alvis terhenti. Memang, sih, karena kaget. Tapi, karena lagi lampu merah juga. Makanya Alvis mengerem langsung. Alvis lalu menoleh ke sampingnya di mana di sana ada Nadiar yang nyengir lebar pada Alvis. Respon Alvis hanya mengangkat sebelah alis, lalu mendengus sinis. "Gak butuh."

Nadiar menggerutu karenanya. Ia lalu bersidekap, dan menatap ke depan di mana di trotoar sana ada banyak orang yang lewat. Saat mata Nadiar menemukan dua sejoli yang sedang berangkulan, Nadiar menjerit. "Gila!"

Alvis menoleh pada Nadiar dengan malas, masih mengira jika Nadiar hanya tebak-tebak respon. Namun, Nadiar hanya menatap ke depan dengan wajahnya yang shock. Alis Alvis bertautan melihatnya. "Kenapa?"

"Itu! Itu! Itu!" Nadiar berseru sambil menunjuk ke depan dengan panik. "Mereka, gay!"

Alvis menatap horror pada Nadiar yang sekarang malah tertawa kencang sambil memukul dashboard mobil. "Gay?"

"Iya!" jawab Nadiar semangat sambil menangguk cepat. "Tadinya, mereka keliatan kaya cuma temenan gitu. Tapi, pas saya liat-liat, ternyata cowok yang satunya malah meluk pinggang si cowok, trus turun, trus malah remas-remas pantat gitu!" Nadiar kembali tertawa sesaat setelah mengucapkan kalimatnya.

Alvis menatap horror ke jalanan, lalu bergidik ngeri. "Gila. Untung saya gak liat. Dengernya aja jijik."

Tawa Nadiar terhenti. Ia menatap pada Alvis dengan tatapan tajamnya.

Alvis yang merasa di tatap tajam seperti itu malah menatap heran pada Nadiar. "Apa?"

"Ooohh, bos gitu, ya? Bakal nge-respon panjang kalo ada yang homoan."

Alvis melotot horror, lalu kembali bergidik ngeri. Nadiar tertawa kencang, sedangkan Alvis menjalankan mobilnya masih dengan bergidik.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status