seven; fix you

Alvis baru saja keluar dari gedung perusahannya saat melihat Nadiar yang berdiri di halaman perusahaan sambil memeluk dirinya sendiri. Alvis mengerutkan alis. Ia memperhatikan dengan seksama saat ada mobil sedan berwarna merah yang terparkir tepat di depan Nadiar. Pengemudi sedan itu lalu keluar, dan menatap Nadiar dengan wajah berbinar senang.

Nadiar buru-buru lari ke arah lelaki itu, lalu mereka berpelukan di sana. Si lelaki kemudian mengecup puncak kepala Nadiar, lalu mengelus pelan rambut perempuan itu.

Walaupun dari jauh, Alvis masih dapat mendengar laki-laki itu bersuara. "Gimana kerjanya, sayang? Lancar?"

Nadiar mengangguk cepat. "Lancar, tapi capek."

"Capek banget?" tanya lelaki itu lagi.

Nadiar kembali mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. "Kangen kamu."

Lelaki yang di peluk Nadiar itu tertawa, lalu kembali mengecup puncak kepala Nadiar. "Kalo gitu, ayo jalan-jalan!"

Nadiar mengangguk semangat, lalu memasuki mobil dengan lelaki itu yang membuka pintu sebelah pengemudi, kemudian mempersilahkan Nadiar masuk dengan tangan lelaki itu yang berada di atas kepala Nadiar, seolah bisa saja detik itu juga Nadiar kejedot bingkai pintu mobil.

Alvis geleng-geleng kepala sambil tetap menatap mobil yang mulai melaju itu. "Manis sekali." sarkasnya.

"Sore, Pak!"

Alvis berdeham menjawab sapaan itu, kemudian kembali melangkah menuju ke arah parkiran.

***

Restaurant itu sangat ramai dengan banyaknya orang yang berlalu lalang dan sibuk untuk memesan. Nadiar duduk dikursinya dengan tenang sambil memperhatikan sekitar. Pandangannya kemudian mendapati sang pacar yang tersenyum ke arahnya dengan tangan yang menumpu sebuah nampan berisi menu makanan mereka di atasnya.

Nadiar tersenyum senang saat pacarnya menghampiri Nadiar sambil tersenyum lebar. Pacar Nadiar itu laki-laki, omong-omong. Umur 20 tahun, dan beda 1 tahun dari Nadiar. Masih kuliah, tapi masa depannya cerah. Pacar Nadiar yang satu itu punya uang dan otak yang cerdas. Dan jangan lupakan juga dengan ketampanannya. Dia bernama Adrian dan salah satu most wanted di kampus. Banyak kaum hawa yang tergila-gila kepada Adrian, tapi Adrian malah memilih Nadiar. HAHAHA!

"Silahkan di makan, Tuan Putri." Adrian duduk di kursi depan Nadiar, lalu menyimpan piring berisi makanan di depan Nadiar.

Nadiar tersenyum lebar. "Makasih, sayang."

Adrian hanya tersenyum menanggapi ucapan Nadiar. Melihatnya, Nadiar jadi teringat seseorang. Si bos gantengnya itu. Iya, si Al! Sebal sekali Nadiar mengingatnya.

"Kamu kenapa?" tanya Adrian yang ternyata melihat perubahan raut wajah Nadiar.

"Ngga apa-apa." Nadiar menjawab jutek sambil cemberut.

Adrian masih menampakan senyumnya. "Oh yaudah."

"Iihhh, sayang! Aku ini kenapa-kenapa, tau!"

"Tadi bilang gapapa."

"Kamu harusnya nanya dua kali biar aku cerita!"

"Yaudah," jawab Adrian sambil tersenyum kalem. "Kamu kenapa?"

Nadiar mendengus. "Aku boleh ngomongin cowok lain, gak?"

"Gak boleh."

"Iihhh! Kok gak boleh, sih? Bolehin, dong!"

Adrian mengangguk dengan senyum kalemnya yang tidak luntur-luntur. "Yaudah boleh."

Nadiar nyengir lebar, lalu menghela napas kuat-kuat, setelah itu membuang napasnya perlahan. "Jadi gini, aku tuh punya bos. Dia cowok. Aku kira dia tuh gendut! Soalnya, Bang Alden bilang begitu. Tapi, ternyata eh ternyata, bos aku tuh masih muda dan dia itu moodyan orangnya! Dikit dikit dingin, dikit dikit cerewet, trus dikit dikit lagi judes. Jadi, aku tuh sebel, kan, ya! Jadi males banget kerja bareng tuh bos ganteng."

Adrian mengangguk mengerti. Masih tersenyum kalem. "Ganteng banget, ya, bosnya?" tanyanya out of topic.

Nadiar mulai memakan makanannya sambil mengangguk cepat. "Banget!"

"Ganteng mana dia sama aku?"

Nadiar menghentikan suapannya. Ia menatap sang pacar yang masih tersenyum kalem sambil menatap Nadiar lurus-lurus. Nadiar menelan makanannya, lalu menghela napas panjang. "Gini, ya, sayang. Aku gamau bohong sama kamu. Jadi, kamu lupain aja pertanyaannya. Ya?"

Adrian menggeleng cepat. "Dia lebih ganteng, ya?"

Nadiar terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Iya."

Senyum kalem Adrian masih ada, dan kepala Adrian mengangguk mengerti. "Aku boleh cemburu, gak?"

"Gak boleh!"

"Yaudah, aku gak akan cemburu."

Nadiar tertawa mendengar jawaban dari Adrian. Tangan Nadiar bahkan sampai memegangi perutnya karena terlalu keras tertawa. "Kamu itu! Kapan, sih, mau rubah sikap kalem dan whatevanya?"

"Hm?" tanya Adrian dengan heran, namun senyum kalemnya masih saja tercetak.

Nadiar menghela napas panjang, lalu menggeleng tidak percaya. "Sayang, kalo kamu mau cemburu, kamu cemburu aja. Gak usah izin segala. Lagian, yang punya perasaan kan kamu. Masa aku yang ngatur, sih?"

Alis Adrian terangkat sebelah. Tangannya yang masih bersih dan tidak menyentuh makanan sedikitpun itu lalu terulur dan mengusap sudut bibir Nadiar yang belepotan karena remah makanan. "Emang boleh?"

"Gak boleh!"

"Yaudah, enggak."

Nadiar lalu tertawa lagi, kemudian memukul tangan Adrian pelan, membuat Adrian juga ikut tertawa kecil. "Kamu lucu!"

"Apa, sih, sayang?" Adrian bertanya sambil masih dengan tawa kecilnya. "Kamu seneng, ya, jalan sama aku?"

Nadiar mengangguk, masih dengan tawanya. "Duh, mood aku jadi balik lagi karna kamu."

"Beneran seneng?" tanya Adrian dengan senyum kalemnya.

"Enggak!"

"Yaudah kalo gak seneng."

Nadiar kembali tertawa kencang. Jarinya mengusap air matanya yang keluar karena banyak tertawa. "Udah,ah! Kalo ngobrol terus, kapan aku makannya?"

"Tadi kamu makan."

"Cuma sesuap. Kamu mau aku kurus?"

"Emang kamu gak mau?"

"Enggak, lah! Tar kalo aku kayak triplek gimana? Kamu mau aku nggak seksi?"

"Yaudah makan lagi kalo gitu."

Mereka lalu meneruskan makannya yang tertunda karena obrolan singkat keduanya. Adrian, salah satu pacar Nadiar yang sifatnya benar-benar kalem dan whateva alias whatever dalam segala hal. Jika orang berkata A, Adrian pasti akan berkata, "Yaudah A."

Dan hal itulah patut di perbaiki dari diri Adrian. Kenapa? Semisal nanti Adrian menikah dan istrinya meminta cerai, bagaimana? Apa Adrian akan berkata, "Yaudah kita cerai."

Amat sangat tidak punya pendirian dan prinsip.

__

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status