Marry Me
Marry Me
Author: Butiran Rinso
1. Kencan Buta

Soal jodoh biarkan menjadi urusan Tuhan, manusia hanya bisa berencana, merangkai ekspetasi dan berakhir dengan sebuah realita.

Davin mendengus pelan, melihat antrian mobil di depannya. Saat ini dirinya terjebak macet, setelah menghadiri peresmian club barunya, Davin segera menuju ke mall karena mamanya meminta dijemput di sana.

Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Davin tiba di sebuah mall di kawasan Senayan. Dia langsung menghubungi mamanya. "Halo, Ma. Davin sudah sampai di lobi."

Kening Davin mengkerut, mendengarkan mamanya yang terus berbicara, memintanya agar menjemputnya di dalam. "Harus banget ya Ma?" Davin menghela napas, dia tak bisa menolak keinginan mamanya. "Oke, Davin parkir mobil dulu." Davin menutup sambungan telepon, kemudian memarkirkan mobil Ferrari-nya di parkir valet depan lobi mall.

Davin yang memiliki visual tampan, serta pakaian necis dan rambut yang tertata rapi, jelas jadi pusat perhatian ketika memasuki mall. Banyak wanita yang secara terang-terangan mencuri pandang ke arahnya. Tapi Davin sendiri tak menghiraukan tatapan penuh damba dari para wanita itu, dia sibuk mencari keberadaan mamanya.

Kesulitan mencari mamanya di tengah keramaian karena sekarang hari sabtu jadi mall sangat ramai pengunjung. Davin kemudian berinisiatif untuk kembali menghubungi mamanya. "Halo, Mama di mana? Davin sudah ada di depan Partico

Terrace

Bistro." Davin membaca papan nama sebuah restoran. "Mama di dalam?" Davin menatap ke dalam restoran. "Kenapa nggak langsung keluar aja si, Ma?"

Davin menghela napas, mau tidak mau pria itu masuk mengikuti arahan mamanya di telepon. "Mama di mana, Davin sudah di dalam." Mata Davin celingukan ke sana sini mencari keberadaan mamanya. Hingga perhatiannya tertuju ke arah meja yang disebutkan mamanya, Davin mendekat, tapi betapa terkejutnya dia ketika mendapati seorang wanita asing yang duduk di sana. "Maaf," ucap Davin, menahan malu luar biasa.

Davin berbalik, matanya bergerak liar. "Mama sebenarnya di mana si?" Pria itu mulai kesal dengan mamanya.  "Apa?" Ekspresinya berubah masam. "Ma, yang bener aja. Mama nyuruh Davin ke sini buat ...." Davin mengatupkan bibirnya ketika menyadari wanita tadi tengah menatapnya. "Kita bicarakan ini di rumah." Dia menutup teleponnya secara sepihak, tanpa mau mendengarkan penjelasan mamanya.

"Davin?" Wanita itu membuka suara ketika melihat Davin sudah selesai menelepon, senyuman manis dipamerkannya, berharap mampu memikat Davin.

Davin mendengus pelan, menyembunyikan wajah kesalnya. "Ya."

"Aku Nabila, kebetulan mama kamu yang minta aku ketemu kamu di sini." Wanita itu beranjak berdiri untuk memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya pada Davin.

"Davin." Davin menjabat uluran tangan Nabila.

"Kamu pasti tahu kan tujuan kita dipertemukan di sini?" ucap Nabila, kembali duduk.

Davin mengangguk, menarik kursi di hadapan Nabila. Jelas Davin tahu maksud pertemuan yang sudah direncanakan oleh mamanya tanpa meminta persetujuan dirinya. Apalagi kalau bukan kencan buta. Jujur Davin sudah lelah, berkali-kali kena jebakan batman sang mama. Berdalih minta dijemput atau diantar, kemudian berakhir dengan pertemuan terselubung dengan maksud menjodohkannya.

Sudah satu tahun lebih berlalu semenjak kegagalan pertunangannya dengan Vina dan Kimmy, dua wanita yang dijodohkan secara paksa dengan Davin dan dua-duanya berakhir kandas karena ditikung oleh para mantan sekaligus jodoh mereka yang sesungguhnya. Miris memang, dua kali gagal berjodoh, nyatanya tak membuat orangtuanya jera. Mereka justru semakin gencar menjodohkan Davin dengan anak teman-teman arisan mamanya atau kolega bisnis sang papa. Pria itu seolah barang antik yang tengah dilelang.

"Jadi, bagaimana?" Suara Nabila memecah ketermenungan Davin.

"Ya?" Davin yang sedari tadi sibuk dengan lamunannya tak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Nabila.

"Jadi, bagaimana dengan nanti malam. Apa kamu bisa menemaniku nonton? Kebetulan aku punya dua tiket nonton bioskop," ujar Nabila, mengulang ucapannya.

"Maaf, sepertinya tidak bisa. Soalnya gue sibuk harus ngurusin club yang baru saja dibuka," kata Davin, menolak ajakan Nabila.

"Wow, kamu buka club baru?" Nabila tampak antusias. "Nggak heran mama kamu sering banget banggain kamu, ternyata kamu memang hebat mengelola bisnis."

Davin tersenyum tipis, malas dengan pembicaraan ini. Nabila memang cantik, tapi dia bukan tipe Davin. Pria itu kurang suka dengan tipe-tipe wanita seperti Nabila, manja, hobi shopping, terlihat dari pakaian glamor yang dikenakan wanita itu. Sementara kriteria Davin sendiri, seorang wanita yang berpenampilan simple

namun terlihat anggun, cakap berbicara, berwawasan luas dan dia lebih suka kalau dengan seorang Dokter.

Ya, Davin memang sudah punya tambatan hatinya sendiri. Tapi sayangnya Dokter cantik yang Davin suka justru akan menikah dalam waktu dekat, bahkan sebelum Davin sempat menyatakan perasaannya.

———————

Setelah pertemuan membosankan dengan Nabila, Davin segera melajukan mobil menuju club barunya. Mengabaikan perintah sang mama untuk pulang. Davin malas pulang, karena dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh mamanya. Wanita paruh baya itu akan mencecarnya dan menuntut Davin agar segera menikah.

Menjelang petang keadaan club mulai ramai, apalagi club Davin memang sudah ditunggu-tunggu opening-nya. Club bernuansa classy

dengan warna putih yang lebih dominan, berbeda dengan kebanyakan club yang mengusung warna-warna gelap seperti hitam. Eniqma, nama club baru milik Davin.

Davin menghampiri dua pria yang sedang duduk di salah satu sofa, keduanya tampak asyik bercengkrama sampai tak menyadari kedatangannya.

"Hey, Bapak-Bapak," seru Davin, menyapa dua orang pria itu yang seketika menolehkan kepalanya ke arah Davin.

"Hey jomlo," balas pria bersetelan necis dengan rambut sedikit gondrong.

"Hello, jones." Pria di sampingnya ikut menimpali.

Davin mendecih, duduk di dekat pria bersetelan necis yang tak lain Reyvan, mantan pesaingnya, atau lebih jelasnya suami Kimmy dan pria di sampingnya Sean, suami Vina. Keduanya kini sudah punya anak, makanya Davin memanggil mereka dengan sebutan 'bapak-bapak'.

"Gue musti jelasin berapa kali ke kalian, kalau gue bukan jomlo, apalagi jones. Tapi gue itu singlesingle elegan," ucap Davin.

"Btw, sama aja tuh. Sama-sama sendiri, lo cuma memperhalus sebutannya," kata Reyvan, diselingi kekehan yang terdengar menyebalkan bagi Davin.

"Yups, gue setuju." Sean ikut-ikutan. "Seandainya aja lo gercep Vin, mungkin sekarang lo yang bakal jadi adik iparnya si Reyvan."

Davin mendengus, enggan menanggapi celotehan Sean mengenai adiknya Reyvan. Hal itu mengingatkannya pada kejadian mengenaskan waktu di pantai, di mana Davin kecolongan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyatakan cintanya pada wanita yang Davin sukai.

"Ngomong-ngomong lo dari mana?" Davin menoleh, ketika Reyvan bertanya.

"Biasa, palingan juga abis COD'an sama kandidat jodoh yang dipilih oleh mama suhu," celetuk Sean.

Davin mencebikkan bibirnya, ucapan Sean memang tepat sasaran. Tanpa perlu Davin jelaskan, keduanya sudah tahu bagaimana gigihnya orangtua Davin mencarikannya jodoh. "Skip, omongin yang lain aja."

"Kebetulan banget, si Devan mau ngadain reuni, cuma reuni kali ini di Pulau Bawah, gimana? Lo semua setuju?"

Davin menghela napas, mendengar nama pulau itu kembali mengingatkannya pada kejadian setahun lalu. "Nggak ada tempat lain, gue bosen. Lo berdua nggak bosen? Bukannya lo berdua honeymoon juga di sana, Arsen juga kan? Kaya nggak ada tempat lain." Bukan Davin tidak suka dengan tempatnya, jujur dia sangat suka dengan keindahan pantai di sana, tapi Davin benci dengan kenangan yang tertinggal di sana.

"Karena kita butuh tempat yang privasi buat pesta reuni kali ini, kalau tempat lain kurang memadahi, atau lo ada saran?"

Davin menggeleng, dia sudah jarang liburan dan sibuk mengembangkan bisnisnya, jadi dia tidak begitu banyak wawasan mengenai tempat wisata privat seperti itu.

Perbincangan mereka berlangsung lama, hingga waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ketika dua ponsel milik Reyvan dan Sean berbunyi bersamaan. Kedua pria itu saling berpandangan saat melihat nama yang muncul di layar, lalu mereka segera mengangkatnya.

"Halo, ibu negara," jawab Sean saat sambungan telepon diangkat.

"Halo, ibu bos." Begitupun dengan Reyvan.

Keduanya terlihat kompak menjawab, Davin yang melihat keduanya berbohong pun hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu dia meminum air berwarna dari gelas sloki.

"Vin, gue cabut ya. Ibu negara udah nyuruh pulang," kata Sean, beranjak dari tempat duduknya.

"Iya, Vin. Gue juga, si bu bos lagi kewalahan, anak gue demam katanya." Reyvan ikut berdiri.

"Oke, hati-hati. Titip salam buat mantan———vangke!!" Davin memekik setelah mendapat dua jitakan dari Sean dan Reyvan. "Dahlah, lo berdua minggat sono!!" usir Davin saking kesalnya.

Reyvan dan Sean terkekeh geli, keduanya pun pergi setelah puas mengacak-ngacak rambut klimis Davin. "Dasar temen nggak ada ahlak!!" decak Davin, merapikan rambutnya kembali.

Sendiri lagi, di tempat yang ramai dengan alunan musik yang berdentum kencang. Nyatanya Davin justru merasa kesepian, dia berniat untuk pulang ke aparteman, namun tiba-tiba netranya terfokus pada seorang perempuan yang sedang duduk di depan meja bar. Lantas Davin mendekatinya, memastikan bahwa dia mengenali wanita itu.

"Rena?" Davin mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang sudah mabuk itu ternyata Rena, adiknya Reyvan.

Rena menoleh, menyunggingkan senyum konyolnya. "Hai." Wanita itu menyengir. "Lama nggak ketemu, aku ka——" Detik berikutnya Rena jatuh tak sadarkan diri, beruntung Davin sigap menangkap tubuh ramping wanita itu.

"Ren, bangun Ren." Davin menepuk-nepuk pipi Rena, tapi wanita itu sudah mabuk berat.

Davin bingung, dia tidak mungkin membawa Rena pulang dalam keadaan begini. Apa yang harus Davin jelaskan ke orangtua Rena, mengingat wanita itu tidak pernah mabuk-mabukan sebelumnya. Dia juga tidak mungkin menelepon Reyvan, pria itu pasti sedang sibuk dengan anaknya yang demam. Lalu ke mana Davin akan membawanya? Di saat Davin dilema, tiba-tiba Rena menarik kerah bajunya, wanita itu mendongak dengan mata sedikit terbuka.

"Davin, bawa aku pergi ... yang jauh."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status