My Brilliant Doctor
My Brilliant Doctor
Author: Luna Lupin
Chapter 1: The Queen Angel

"Come on.. Come on.." pupil hitam wanita yang tengah sibuk memainkan alat alat bedah oleh jemari tangannya didalam jantung seorang pria paruh baya tampak melebar kala mendapati tiga katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik. Percikan darah telah memenuhi handschoon hingga jas operasi yang ia kenakan. Beruntung ia memilih kacamata g****e dilapisi face shiled hingga mata legam itu terlindungi dari percikan darah dan tetap awas dibawah sorot sinar lampu saat ini.

'bagaimana bisa ia menjalani hari harinya dengan tiga katup jantung yang tidak berfungsi? Bahkan satu katup tak berfungsi pun akan memberikan rasa yang teramat sakit dan sesak' wanita itu menggeleng heran ditengah konsentrasi yang tetap tertuju pada pasien dibawah kendali dirinya.

"Saturation 60." peringat seorang perawat sirkuler dengan memegang catatan memonitor saat operasi berlangsung.

"Dia tak akan bertahan Tara!" Joey mendelik sebal pada Tara yang tak tergubris sedikit pun oleh peringatan dari beberapa rekannya.

"Kau kerjakan tugasmu! Jangan urusi urusanku!" Kali ini Tara tampak geram dengan team nya yang terkadang meragukan kemampuannya bahkan mereka adalah tim Angel yang tak pernah gagal sekalipun dalam berbagai macam operasi.

"Masukkan darah 1000, loss." perintah Tara tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari katup yang akan ia ganti.

"Blood pressure 80/40." peringatan perawat sirkuler kembali menelusuk indra pendengaran ke tiga dokter yang tengah melakukan operasi melalui sternotomi yaitu irisan besar pada dada dan membelah tulang dada.

Tak lama kemudian,

"Done." Tara mulai mengeksplorasi daerah jantung yang ia bedah untuk meminimalisir adanya darah kotor yang tertinggal.

"Saturation 80,"

"Blood pressure 100/60, Pulse 66."

"Kau lanjutkan sisanya." Tunjuk Tara pada Gabriella sang asisten dokter yang ia percayai.

"Aku akan menemuimu diruang rawat nanti, Sir." Tara undur diri setelah melihat keseluruhan kondisi pria paruh baya tersebut yang mulai membaik.

"Lagi lagi kau melakukan hal diluar nalar Tara!" Sentak Gabriella melepas handschoon steril yang penuh dengan darah pasien saat operasi tadi, ia membuangnya ke tempat sampah infeksius sebelum ada asisten bertugas melepas jas operasi yang ia kenakan. Setelahnya ia berjalan mengikuti Tara menuju wastafel untuk mencuci tangan dan melepas masker menggantinya dengan yang baru.

"Aku tak perlu menjelaskan mengenai endingnya bukan?" Jawab Tara melepas kacamata g****e and face Shield, membuang nurse cap dan menggerai rambut hitam panjang yang bergelombang indah diujung rambutnya, lalu ia segera memasang masker yang baru mengingat mereka masih berada di dalam ruang operasi.

"Aku sempat ragu denganmu tadi," Joey yang telah rapi, bersedekap dada menatap kedua wanita yang berdiri dengan pikirannya masing-masing.

"Oh God! Kalian tak perlu meragukan kemampuan ku. Namun kau benar, aku bahkan tadi sempat ragu haha," Sambil berjalan Tara berusaha merangkul kedua sahabatnya yang tak berhenti memukulinya dengan kesal. Tawa mereka mengisi lorong Rumah Sakit yang menghubungkannya dengan caffetaria.

"Aku ingin makan sesuatu." Tara menggigit bibir bawah dan mengelus perutnya lembut saat melihat caffe yang menyajikan beberapa makanan segar yang menggiurkan.

"Jangan bersikap seperti orang yang tidak makan selama setahun," Joey mencari tempat duduk menarik telinga Tara membawa nya ke ujung dimana mereka menghabiskan makanan dengan bersendau gurau mengisi waktu yang hanya akan mereka dapatkan saat senggang seperti ini.

"Memalukan." desah Gabriella lalu mengikuti langkah keduanya dengan anggun.

"Hallo... Apa kalian akan memesan menu terbaru dari kami?" Tanya Felix seorang waiters, pria muda campuran darah Italia-Korea, yang dikenal ramah serta sabar. Wajahnya yang tampan dan unik menjadi daya pikat tersendiri baginya.

"Tidak!" Jawab Tara, Gabriella dan Joey bersamaan. Felix hanya terkekeh menanggapi ketiga dokter Angel yang populer beberapa tahun terakhir di Rumah Sakit ini. Ia sudah cukup paham makanan apa saja yang akan mereka pesan bahkan Felix selalu memisahkan makanan yang menjadi kesukaan mereka setiap kali berkunjung ke caffe.

"Baiklah, akan ku buatkan kesukaan kalian,"

"Lain kali kau tak perlu bertanya lagi! membuang waktu saja," dengus Tara menatap nanar perutnya yang bertengkar meminta asupan makanan yang sehat dan bergizi.

"Aku tak habis pikir mengapa kau berusaha untuk melanjutkan tindakan mu tadi," Joey membuka jas dokter dan menyampirkannya dibelakang kursi.

"Jika tidak, pasien itu akan mati dengan Couse of Death is Heart Failure bukankah kau tau seorang dokter tak boleh membiarkan pasien itu death diruang operasi." Tara mulai meneguk air mineral yang baru diantarkan oleh Felix. Sedangkan Gabriel tengah berfokus pada benda pipih yang sedari tadi ia mainkan begitu mereka tiba di caffe.

Felix menata makanan yang telah menjadi ciri khas mereka bertiga, Sushiritto, Avocado Toast, Carne Asada Fries dan Fish Tacos, Felix juga mengetahui minuman yang sering mereka pesan yaitu Cola de Mono, Rompope dan Coctel de Algarrobina.

"Tampaknya prediksimu meleset Felix," ujar Tara yang tak minat sedikitpun pada minuman yang baru saja Felix taruh didepannya.

"Bukankah ini kesukaan anda dokter Tara Clarke?" Tanya Felix melihat kembali Rompope kesukaan Tara. Apa ia salah? Tak mungkin, jika setiap mendatangi caffe ini Rompope adalah minuman yang menjadi teman setia dokter Tara.

"Yaa hari ini sangat sangaaat membuang energi ku, emm baiklah tak apa. Kau buatkan aku Aguardiente dan Ramen Burger saja."

"Lalu ini?" Felix memandang iba pada makanan yang baru saja ia sajikan. Mungkinkah ia harus mengganti dengan yang baru dan membuang makanan yang tengah susah payah ia siapkan untuk nya?

"Aku akan memakannya, aku memintamu membuatkan lagi bukan menggantinya." Tara menatap Felix dengan tatapan intimidasi.

"Ahhh baiklah kau sedang membutuhkan asupan makanan yang banyak? Kurasa begitu." Felix segera kembali ke pantry dan menyuruh rekan yang bertugas disana untuk membuatkan pesanan baru Tara dengan segera.

"Malam ini hadirlah di pesta pertunangan ku." Joey melahap Avocado Toast dengan perlahan menyesap Cola de Mono.

"Hmmm aku akan datang dengan kekasihku," jawab Gabriella tersenyum mengejek pada Tara yang saat ini telah menghabiskan Sushiritto dengan sekali suapan.

"Aku akan datang bersama suami dan anakku." lagi lagi Tara membuat tawa Gabriella dan Joey mengudara hingga merasakan kram diperutnya. Bagaimana bisa ia akan datang bersama suami dan anak jika ia saja belum bisa move on dari mantan kekasihnya dahulu.

"Bagaimana kabar Nick?" Gabriella menambah kekesalan yang tercetak jelas di wajah mungil seorang Tara Clarke.

"Kau bertanya pada siapa?"

"Kau."

"Aku bukan ibunya!" Tara melempar kacang polong yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Tawa Gabriella dan Joey lagi lagi menyeruak di lorong pendengaran Tara dan itu sungguh menjengkelkan bukan? Tara segera mengambil alih Ramen Burger dan Aguardiente dari tangan Felix sebelum pria itu menaruhnya diatas meja. Felix menggeleng samar lalu kembali menyapa pada tamu yang datang ke caffe silih berganti.

***

-To Be Continued-

Untuk visual book follow I*******m @_lunalupin :)

Karya Luna Lupin yang lain ---> My Wife is Bodyguard

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nova Delfina
keren ceritanya...aku suka
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status