2. Ibu mertua.

Mendengar teriakan suaminya dari dalam kamar, Ratna meletakkan ponselnya di atas meja dan segera berlalu ke dapur, membuatkan sesuatu untuk suaminya.

"Mana kopiku?" tanya Rizal untuk kedua kalinya,  saat keluar dari kamar dengan penampilan yang berbeda, tampak segar dengan air yang masih menetes di ujung rambutnya.

"Tidak ada kopi, hanya sisa teh itu pun tawar, gulanya habis," jawab Ratna, dia menunjuk satu-satunya gelas berisi teh di atas meja.

"Kau keterlaluan! Aku tidak bisa minum sesuatu yang tawar, kamu tahu itu!" sahut Rizal, dengan nada meninggi.

"Aku tahu, tapi bukan aku penanggung jawab rumah tangga bukan? Uangnya ada di tanganmu, jadi silahkan belanja sesuai dengan keinginanmu." Ratna kembali berkata dengan wajah datar, tangannya kembali memegang ponsel, satu satunya barang berharga yang di miliki, pemberian dari Nita, sahabatnya.

"Jangan lupa, sisakan uang untuk listrik dan air, dan untuk air minum." Ratna lagi-lagi menambahi  apa yang di ucapkannya tadi.

Rizal mendengus, tangannya kembali menyambar kunci  motor  di tempat biasanya ia gantung.

Ratna kembali tersenyum saat suara omelan Rizal masih terdengar menjauh.

Baru saja hendak melangkah ke kamar, terdengar suara orang mengucapkan salam, membuatnya berhenti dan membalikkan langkah ke pintu depan.

"Wa alaikum salam," jawab Ratna, sambil membuka pintu lebar lebar. 

"Bu ...." Agak kaget Ratna, karena tiba tiba saja kedatangan ibu dari suaminya. 

"Aku tadi ketemu Rizal di jalan, katanya mau belanja. Kenapa bukan kamu saja yang belanja, Na?" tanya mertuanya,dengan penuh selidik.

"Saya tak pandai mengatur uang, Bu. Selalu habis nggak sampai tengah bulan."

"Kamu harus belajar dong, Na. Masak iya nggak bisa ngatur uang, gimana kalau nanti nambah orang di sini,  pasti habis meski masih awal bulan."

Ratna hanya bisa tersenyum, dengan wajah datar seperti tidak mendengar apa yang mertuanya barusan ucapkan.

"Kamu sudah  menyiapkan baju untuk  acara melamar madumu?" Ibu bertanya dengan tatapan mata yang tidak mengenakkan.

"Saya tidak ikut, Bu."

"Kenapa, kamu cemburu karena dia bisa memberikan Rizal keturunan sedangkan kamu tidak."

"Tidak, Bu.  Saya tidak cemburu."  jawab Ratna tanpa perubahan wajah dan suara.

"Atau kamu iri, karena yang sekarang akan di pestain, sedangkan waktu sama kamu cuma acara syukuran aja?" Ibu mertuanya masih terus mengejar dengan ucapan yang sangat menyakiti telinga dan hati bagi yang mendengarnya.

"Tidak, Bu. Saya tidak masalah. Itu terserah ibu dan mas Rizal aja." Ratna tersenyum, tak ada di wajah dan suaranya, getar emosi dan marah. Sepertinya dia benar benar sudah siap dan ikhlas.

"Kalau benar tidak ada apa-apa, kenapa kamu keberatan untuk ikut melamar."

"Tidak ada hak saya melarang suami untuk beristri lagi, saya hanya menjaga agar keluarga ibu tidak dijadikan bahan gosip di mata masyarakat."

"Ah ... itukan alasanmu saja, kamu itu sebenarnya iri kan, karena Rizal memilih menduakanmu?"

"Kalau menurut ibu, apa saja kekurangan saya?"

"Kamu itu ngaca, Ratna. Kamu itu bukan saja mandul, keuangan rumah saja kamu tak sanggup menghandle nya, kamu itu penuh kekurangan."

"Alhamdulillah, kalau begitu ibu mau kan kalau membujuk Rizal untuk menceraikan saya."

"Tak usah kau suruh pun, kau pasti akan di ceraikannya. Tinggal nunggu waktu saja." sepertinya ibu mertuanya sangat yakin akan apa yang beliau ucapkan. 

"Alhamdulillah, apa ibu bisa menyuruhnya mempercepat, bukankan tidak baik untuk nama keluarga ibu di mata masyarakat, bila ternyata ada anak ibu yang berpoligami, tahu sendiri kan kalau masyarakat kita masih memandang  jelek pada orang yang berpoligami." Untuk kedua kali, Ratna mencoba menghasut ibu mertuanya, mengingat Rizal tadi menolak untuk cerai.

Ibu mertuanya terdiam, mungkin sedang berpikir tentang yang baru saja Ratna ucapkan.

"Kenapa kamu masih memikirkan nama baik keluarga kami, bukannya kamu sakit hati karena Rizal lebih memilih wanita lain."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tria Udik
jut .........
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status