4. Cerai

"Ini ...." 

Rizal meletakkan lagi se-kresek besar dengan warna dan logo yang sama seperti yang ibunya tadi bawa pulang, di samping kaki Ratna yang duduk di sofa sedang memegang ponsel, depan TV yang juga sedang menyala.

"Mmm ... makasih," jawab Ratna yang meletakkan ponselnya di atas meja, mengalihkan perhatian pada kresek yang di bawa oleh suaminya. 

Ia keluarkan semua barang dari dalam kresek, kemudian langsung di letakkan ke tempat yang biasanya.

"Berasnya, mana? Kamu lupa beli ya?" tanya Ratna saat barang pokok untuk makan sehari hari tidak ia temukan di dalam kresek.

"Aku sengaja nggak beli, uangnya sudah habis," jawab Rizal dengan enteng, matanya masih menatap acara di TV.

"Terus kita makannya mau pakai apa?"

"Di motor ada satu dos mie goreng campur mie kuah. Kau ambillah, untuk sementara kita makan mie dulu, aku butuh banyak uang untuk melamar." Rizal menjawab dengan tangan terus menekan remote control TV. 

"Mie? Kamu serius?"

"He em ...."

"Wow, katanya mau adil, sekarang aja sudah tidak, bagaimana nanti?"

"Apa maksudmu?" Rizal seketika itu juga langsung memutar leher ke arah istrinya.

"Kau bilang akan adil, tapi sekarang? Lihat! Kau akan memuatku kelaparan dan kurang gizi, hanya agar pinanganmu kelihatan 'wah' bukan?" Cibir Ratna, tangannya kbali memegang benda pipih 

"Sekarang kau tambah cerdas, tanpa aku jelaskan, kau sudah tahu apa yang kuinginkan." Rizal menjawab tanpa menoleh lagi.

"Oiya, aku ingin mulai malam ini,. Kau pindah kamarmu ke belakang, kita bukan suami istri lagi, karena aku sudah tak mau lagi menyentuhmu." Rizal menambahi lagi dengan ucapan yang lebih menyakitkan.

"Kenapa kau tidak menceraikan aku saja? Bukankah itu mudah di lakukan? Tapi ...." Wajah Ratna yang tadi terlihat memerah kini berubah sumringah.

"Tapi, tapi apa?"

"Sepertinya,aku tadi mendengar kata yang hampir sama artinya dengan kata kalau kau menceraikanku. Dan itu berarti kau sudah menalak aku. Terima kasih." Ratna langsung mengangkat kedua tangannya ke atas. Mulutnya tak berhenti mengucapkan syukur pada Allah.

"Kau ...!" seru Raizal, dia sudah berdiri dari kursinya dengan tangan kanan mengepal.

"Jangan bersikap kurang ajar. Aku sekarang adalah mantan istrimu, kita sudah orang lain mulai hari ini." Ratna tak mau kalah, dia juga berdiri dan menoleh pada Rizal dengan wajah yang mulai keras.

"Lagian, kalau sekarang kamu berani pukul aku, kupastikan! Pada saat acara lamaran tiba, kau tak akan datang karena harus menginap di dalam penjara." 

"Terserah! Kau pikir, hidup di luar sana itu gampang apa kalau tak punya uang? Dasar perempuan nggak punya otak." Agak tersudut juga Rizal mendengar ancaman dari Ratna. 

"Tak usah menghina. Aku juga mau terserah kok! Lagian mulai hari ini aku tidak mempunyai kewajiban untuk mematuhi dan melayani, jadi jual saja rumah ini, karena rumah ini adalah harta kita berdua."

"Enak saja, ini aku beli pakai uangku, jangan main-main kamu!?" Mendengar apa yang dikatakan perempuan yang sekarang secara agama telah menjadi mantan istrinya, Rizal tersulut amarah, dia berdiri dari duduknya dengan mata melotot, mendekat ke arah Ratna.

"Tapi atas namaku, jadi kalau kau mau menjualnya, harus ada tanda tanganku, dan ingat satu hal! Aku bisa tahu asli nggaknya tanda tanganku!" Ratna tidak mau kalah, walau tidak ada tekanan dalam ucapannya. 

Tapi, apa yang ia katakan. Sudah membuat jiwa Rizal yang tak mau dikalahkan seorang wanita, sedikit tergores.

Ratna bergegas masuk ke dalam kamar, membanting kemudian mengunci pintunya dari dalam.

"Hei, wanita miskin! Pindah kau!"

"Nggak!"

"Dasar, wanita sialan!" Rizal menendang angin di depan pintu kamar yang tadi dibanting istrinya.

Wajahnya memerah karena kesal dan marah. 

Malam ini, terpaksa dia tidur dia depan tv, tanpa bantal, selimut dan tentu saja di temani nyamuk.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status