5. Nay

Pagi itu Ratna sudah selesai berdandan ala kadarnya, menggunakan kaos, celana panjang yang warnanya sudah tidak jelas, dan tas yang ia miliki sejak masih sekolah SMA dulu.

Sengaja Ratna duduk saja di atas kasur, tidak keluar kamar. Entah apa yang Rizal lakukan di luar sana, tidak ada panggilan atau pun gerakan yang memaksanya untuk ke luar kamar.

Hingga saat jam di atas pintu menunjukkan pukul sembilan pagi, Ratna keluar dari kamar setelah sebelumnya terdengar bunyi motor milik Rizal keluar dari pagar. 

Dengan susah payah, barang Rizal yang semalam sudah dimasukkan ke dalam tas besar, ia keluarkan dan diletakkan begitu saja di depan pintu kamar.  

Ratna mengunci kamarnya dan bergegas pergi dari rumah setelah sebelumnya mengamankan rumah dan menyalakan beberapa lampu.

Lima belas menit melakukan perjalanan dengan mengendarai mobil pedesaan, Ratna berhenti di sebuah ATM. 

Untung saja sepi, Ratna langsung masuk ke dalam melakukan transaksi kemudian keluar dengan wajah tampak sangat bahagia. 

Dengan tangan mendekap erat tas, Ratna melangkahkan kakinya menyusuri trotoar, dengan sedikit keringat yang mulai membasahi keningnya. 

Di depan sebuah salon yang tampak ramai pengunjung, Ratna menghentikan langkahnya dan membalikkan badan dengan ragu-ragu.

Ditatapnya pintu masuk salon itu dengan sorot mata yang tak bisa di artikan. 

Butuh waktu lima belas menit, untuk dirinya mengumpulkan keberanian. Hingga akhirnya tangan itu terulur, mendorong pintu berkaca lebar itu dan mengayunkan langkahnya masuk ke dalam.

"Ada yang bisa saya ban--" sambutan perempuan berseragam itu terhenti saat kepalanya mendongak ke arah tamunya yang baru masuk.

"Ratna!" Seru perempuan berpenampilan menarik itu dengan mata membulat indah.

"Nay ...." 

Perempuan yang Ratna sebut dengan Nay itu pun bangun dari kursinya. Dengan ekspresi bahagia yang teramat sangat, ia melangkah mendekat, dan langsung memeluk Ratna dengan hangat.

"Kok kamu ngilang sih, aku kangen tahu."

"Aku juga."

"Bohong, buktinya kamu nggak pernah mengabari kita."

"Maaf."

"Eh ... ada apa denganmu?" Nay menyipitkan pandangannya saat matanya menyapu penampilan sahabatnya dari atas ke bawah.

"Aku ...."

"Kamu nginap di tempatku kan? Please ...." Nay langsung memotong ucapan Ratna, dia sepertinya sangat bahagia dengan kedatangan Ratna.

Ratna menganggukkan kepalanya berulang kali, kemudian tersenyum saat melihat sahabatnya melonjak kegirangan seperti anak kecil.

"Kau duduklah dulu di sini, aku kerja sampai jam sebelas, ok!"

Lagi-lagi Ratna mengangguk dan melakukan apa yang Nay tadi suruhkan. 

Setelah melihat ke sekitar tempat kerja Nay, Ratna kemudian kembali tenggelam bersama benda pipih yang warnanya juga sudah tidak tampak aslinya.

"Ratna, ayo!"

Ratna mendongak, tanpa dia sadari Nay sudah berdiri di samping dengan tas menyelempang di bahunya.

"Nay, di sini ada lowongan kerja nggak?" tanya Ratna dengan suara agak ditekan.

"Untuk siapa?"

"Aku ...."

"Kamu? Serius?"

"Mmm ...."

Nay terdiam, matanya menatap penuh selidik ke arah Ratna yang tampak salah tingkah karena ditatap seperti itu. 

"Ayo ....!"

Nay langsung menarik tangan kanan Ratna masuk ke dalam ruang perawatan salon. 

"Duduk!" suruh Nay dengan tangan menunjuk satu kursi, tempat orang biasanya melakukan perawatan rambut.

"Aku? Serius kamu, Nay?" 

Melihat Nay mengangguk serius, Ratna akhirnya duduk dengan pasrah.

"Sebelum kau bertemu dengan bosku, kau harus berubah dulu biar nggak dekil-dekil amat."

"Nay ...!" seru Ratna dengan bola mata memutar, jengah karena ucapan Nay.

Nay sepertinya sudah tak perduli, dia sudah memegang rambut panjang milik Ratna dengan tangan kiri, dan gunting di tangan kanan.

Untung saja salon sudah mulai sepi, jadi tidak ada pelanggan yang harus marah karena tersisihkan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status