7. Sudahlah

"Duduk!"

Ratna maju ke depan dan menuruti perintah orang yang mungkin akan menjadi bosnya nanti.

"Sebelumnya kerja apa?"

"Tidak kerja, Pak. Hanya jadi ibu rumah tangga biasa aja."

"Terus ... kenapa sekarang ingin bekerja?"

"Karena ingin mendapatkan penghasilan sendiri pak."

"Suami sudah mengijinkan?"

"Saya sudah cerai secara agama, pak."

Pak Aldo tak bersuara. Namun, mulutnya mengerucut membentuk huruf 'o'. Dengan pandangan tetap fokus ke komputer.

"Kamu bisa apa lagi?"

"Saya hanya bisa mengarang, Pak."

"Mengarang? Maksudnya gimana?" Kini atasan yang cakepnya nggak ketulungan ini, menolehkan matanya sejenak ke arah Ratna. Kemudian kembali fokus ke komputer.

"Sebelum cerai dengan suami, saya mencari rejeki dengan menulis cerita secara online, Pak."

"Oooo ... menulis."

"Permisi, Pak. Ini saya bawakan yang bapak suruh." 

Nay langsung masuk ke dalam ruangan karena memang pintunya tak tertutup. Di tangannya tampak terlihat alat dan bahan rias.

"Kamu ambil dan segera mulai berdandan," suruh pak Aldo, yang kini memusatkan perhatiannya pada Ratna.

Ratna menerima semua alat kecantikan yang disodorkan Nay, sahabatnya. Kemudian dengan di bantu Nay yang memegang kaca dan kipas kecil, Ratna mulai melakukan perintah lelaki yang duduk di depannya itu dengan sedikit kaku.

Ratna mulai mengoles wajahnya, sesekali ekor matanya melirik ke arah si bos yang masih menatapnya sambil sesekali menggerakkan jari di ponselnya.

"Sudah, Pak."

Dua puluh menit berlalu, akhirnya selesai juga Ratna menghias dirinya sendiri. 

Pak Aldo memandangi Ratna dengan tatapan dan senyuman di bibirnya yang tak bisa diartikan.

"Besok langsung kerja," putus pak Aldo, tangannya menyodorkan sebuah kertas berwarna putih ke dekat Ratna. 

Sontak membuat Nay dan Ratna langsung sumringah dan saling bertatapan dengan bahagia.

"Nay, beri dia seragam untuk menggantikanmu di depan, kamu kembali jadi sekretarisku." sambung pak Aldo, lagi!

"Baik, Pak." Nay kembali melangkah ke luar ruangan.

"Ini apa, Pak?"

"Itu surat kontrak. Baca! Kalau kamu sepakat dengan penawaran saya, langsung saja tanda tangan," suruh pak Aldo, yang kini mulai asyik dengan ponsel di tangannya.

Ratna yang tampak bahagia, mengambil kertas itu dan membacanya pelan, kemudian menandatanganinya.

Masih dengan menunduk, Ratna terdiam, hingga membuat pak Aldo yang penasaran karena tidak ada reaksi dari Ratna, kembali mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke arah Ratna.

"Kenapa?"

"Saya hanya terharu, Pak. Saya tidak menyangka bakalan bisa keterima kerja," jawab Ratna, matanya tampak berkaca kaca saat tangannya menggeser kertas itu ke dekat si bos.

"Kasihkan ke dia." Suruh pak Aldo saat Nay datang dengan tiga tumpuk seragam berbungkus plastik putih. "Kamu juga harus bantu ajarin dia, apa saja tugasnya di depan." 

"Baik, Pak."

"Kamu cobalah kalau ukurannya nggak pas kamu bisa langsung tanyakan ke Nay, dan jangan lupa, kita kerja di bidang pelayanan, jangan sampai ada pengaduan tentang penampilan kamu, paham!?" pesan pak Aldo yang memandangi kedua perempuan di depannya itu dengan silih berganti.

"Paham, Pak!" jawab Ratna, mengangguk cepat.

"Kalian boleh pergi."

"Makasih, Pak." Hampir bersamaan Nay dan Ratna menjawab perintah si bos, kemudian keduanya melangkah ke luar ruangan dengan senyum di bibir keduanya. 

"Alhamdulillah," seru Nay, sambil menutup pintu ruangan di bos dengan perlahan. 

"Kita coba dulu seragammu, setelah itu beli perlengkapan buat perang kita tiap hari," sambungnya lagi, tangannya menarik Ratna untuk bergegas.

"Kenapa?" tanya Nay yang heran karena Ratna malah memeluk dirinya sambil terisak. 

"Selama ini, aku pikir ... aku tak akan bisa hidup bila tak bersamanya. Namun, aku keliru."

"Sudahlah, lupakan. Ingat, kita harus bahagia .... Ayo! Coba seragammu di bilik itu!" Nay mengurai pelukan di antara mereka dan kembali menarik Ratna yang mengusap pipinya kasar sambil tersenyum.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status