Share

Lilya • 04

EVAN mendengarkan isi percakapan itu dengan mata terpejam. Dia membayangkan gadis itu mengucapkan semuanya dengan baik, bagaimana ekspresinya pun ia bisa membayangkannya dengan jelas.

Dia gadis yang baik, batinnya.

"Tuan?"

"Hm."

"Apa Anda yakin, akan melaksanakan pernikahan ini minggu depan?" tanya Chris yang tidak percaya, mengingat Evan baru saja bertengkar dengan sepupunya dan kini wajahnya dihiasi luka lebam yang cukup banyak.

"Kenapa? Apa kamu meragukan keputusanku?"

Chris menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan."

"Persiapkan saja semuanya, Chris, semuanya sudah diatur, tidak ada alasan lagi untuk mundur."

"Baik, Tuan."

Benar, tidak ada alasan lagi untuk mundur.

Evan mengambil kesempatan ini agar dia bisa menikah, mendapatkan seorang istri yang mungkin bisa mengurusnya sampai di kemudian hari.

Namun, dia juga tidak tahu, akankah istrinya nanti bisa mengurusnya atau tidak, karena dia masih pelajar.

Chris pamit dari kamarnya menyusul seorang perempuan yang kini masuk ke kamarnya. "Kak Evan beneran mau nikah, ya?"

"Hm, kenapa, kamu cemburu?"

Perempuan itu berdecak kesal. "Bukannya gitu, tapi aneh aja. Abisnya, Kak Evan nikahnya sama bocah, sih."

Evan mendengkus. "Dia bukan bocah lagi, Syil."

"Tetap aja. Coba deh, sepuluh tahun lagi kalian jalan bareng, lihat aja, dia bakal kelihatan kayak anak Kak Evan, bukannya istri Kak Evan."

Evan mendengkus. "Lalu, kamu lebih suka lihat Kak Evan nikah sama mama kamu gitu?"

Syila melotot tajam. "Kakak ... masih suka sama Mama?"

Evan tersenyum tipis. "Masih."

"Tapi, Papa bilang, Kak Evan suka sama Mama waktu masih umur lima tahun, kan?"

"Terus, masalahnya di mana? Mama kamu juga nggak nambah tua, Syil." Evan tersenyum tipis. "Jadi, sebelum papa kamu ngamuk, mendingan Kakak menikah dengan orang lain, bukan?"

"Terserah Kakak ajalah!" teriak Syila yang pasrah dan meninggalkan Evan sendirian.

Dia hanya berharap, Lilya bisa menjadi pasangannya. Seseorang yang bisa mengerti dirinya luar dan dalam. Seseorang ... yang mungkin bisa menemaninya hingga kematiannya datang.

***

Undangan pernikahan itu sampai di rumah keluarga Atmawijaya. Kenanga yang pertama kali mendapatkannya langsung melemparkan kertas undangan itu pada Lilya.

"Perhatikan dengan baik kapan tanggalnya dan siap-siap aja lo nikah sama orang tua mesum itu."

Lilya hanya menunduk. Dia sudah ikhlas, dia rela menikahi orang itu demi keluarga kecilnya ini. Agar mereka bahagia, tidak apa-apa.

"Jujur, ya, Li, gue kasihan banget sama hidup lo. Udah anak pungut, dijadiin pembantu, terus nikah sama orang tua gendut kayak badut gitu pula." Kenanga mendengkus. "Emangnya, lo nggak pernah mikir mau hidup bahagia gitu?"

Lilya hanya diam saja. Sebersit keinginan untuk bahagia, menikahi orang yang ia cintai, tentu saja ada. Namun, Lilya sudah melupakannya.

Demi ayah dan ibu yang telah membesarkannya.

Seorang kurir datang dan membawa kotak yang terbungkus pita cantik. "Untuk Nona Lilya," katanya.

Lilya menerimanya dan membuka isinya. Gaun pengantin yang terlihat mewah dan cantik, terlihat sekali kalau gaun itu dipesan khusus untuknya.

Namun, bagaimana bisa? Bukannya mereka baru bertemu Lilya kemarin? Bagaimana gaun ini bisa langsung jadi dalam waktu dua hari?

"Cantik," gumam Kenanga, "gaunnya."

Lilya tersenyum. Yang membuat gaun ini jelas orang yang memiliki kekuasaan dan uang yang banyak. Dia pasti sangat kaya raya. Abaikan rupa dan bagaimana bentuk orang yang memberikannya.

Lilya hanya berpikir, apakah hanya uang bisa membuat seseorang bahagia?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status