Share

Lilya • 06


PERNIKAHANNYA tidak meriah, tidak ada banyak tamu yang datang, tidak ada makanan apa pun yang terhidang, hanya ijab singkat, dan bubar. Lilya dibawa pergi oleh suaminya setelah ijab selesai dikumandangkan.

Lionel Ervan Gunawan, atau yang dikenal dengan nama Evan. Begitu yang Lilya ingat tentang nama suaminya.

Laki-laki mapan itu langsung membawanya ke sebuah rumah besar yang berisikan satpam, penjaga kebun, dan pengurus rumah. Lalu kemudian, Lilya dan Evan akan mulai tinggal di sana.

"Kuharap kamu bisa terbiasa dengan rumah baru, karena aku tidak mau tinggal bersama keluargamu."

Dada Lilya terasa tercubit mendengar penuturan itu. "Mengapa? Mereka orang tuaku, sekarang mereka juga menjadi orang tuamu."

Evan menghela napasnya kasar. "Jangan salah sangka, aku hanya ingin menjaga diriku sendiri dari bahaya ular yang ada di dalam sana."

Lilya memiringkan kepalanya. "Apa menurutmu, keluargaku seperti ular?"

Evan tersenyum sinis. "Gayamu yang polos begini membuatku ingin memukulmu sampai menangis setiap malam. Diam dan jangan banyak tanya."

Evan berlalu dari sana, meninggalkan Lilya yang mematung dan terbayang malam pertama mereka. Dia yang menangis dalam keadaan tubuh lebam akibat dipukuli.

Apakah begini tabiat asli suaminya? Dia suka memukuli wanita apalagi di ranjang?

Itu mengapa ... walaupun dia setampan itu, tapi dia tidak pernah menikah-menikah padahal usianya sudah tua.

Padahal, Lilya yakin, cukup dengan menampakkan wajah dan isi kantongnya, akan ada banyak wanita yang mengantre untuk diperistri.

Lalu, mengapa ia menunggu perjodohan tidak jelas semacam ini hanya untuk menikah?

Lilya mendengkus. Jawabannya jelas hanya satu.

Mana ada wanita yang mau dipukuli setiap malam oleh pria tampan yang berstatus menjadi suaminya?

Mungkin, kecuali dirinya yang hanya bisa pasrah saja, karena kalau dia melawan, bisa jadi Evan akan membatalkan bantuan yang akan ia berikan pada keluarganya.

***

Malam pun tiba. Lilya duduk dengan gelisah di pinggir ranjang, menunggu sang suami yang tak kunjung masuk kamar. Sejak pulang dan mengenalkannya pada semua pengurus rumah, Evan mengurung dirinya di sebuah ruangan, dia tidak keluar, bahkan untuk makan siang maupun makan malam.

Lama menunggu, Evan tetap tak kunjung datang. Lilya pun bangkit, masih mengenakan piama tidurnya yang berupa celana katun panjang dan kemeja panjang, Lilya menuju ruangan Evan berada.

Pintu diketuk, Lilya terdiam. Bagaimana cara ia memanggil suaminya? Abang, Akang, Kangmas, Kakak, atau Om Evan?

Panggilan terakhir sepertinya bisa membuat Lilya langsung dimasukkan ke rumah sakit selama seminggu.

Pintu di hadapannya tiba-tiba saja terbuka. Evan berdiri di hadapan sambil menatapnya datar.

"Ada apa?"

"Kamu ... sudah makan?" Lilya bertanya sembari mencoba mengulum senyum di bibirnya.

"Belum."

"Kalau begitu, kamu harus makan dulu. Ini sudah malam."

Evan membuang muka. "Jangan pedulikan aku," katanya sembari berbalik, hendak menutup pintu dan meninggalkan Lilya begitu saja, tapi anak SMA itu menarik tangan Evan dan membuat mereka kembali bertatapan.

"Jangan begitu, kalau kamu sakit, nanti kamu malah nggak bisa kerja lagi. Sekarang kamu makan dulu, ya, abis itu istirahat, kerjaannya dilanjut besok aja."

Evan mendekatkan wajahnya. "Apa kamu berkata begini, karena menantikan malam pertama kita, hm?"

Wajah Lilya memerah, kepalanya sontak menunduk dan hal itu membuat Evan tersenyum tipis.

"Dasar bocah mesum!"

"Aku nggak mesum!" bantah Lilya tidak terima.

"Lalu? Kenapa wajahmu merah begitu, malu? Membayangkan sesuatu tentang kita di atas ranjang?"

Lilya tidak bisa menjawab, wajahnya benar-benar memerah layaknya tomat. Gadis itu sontak mendongak dan menatap Evan kesal. Tambah satu lagi sifat Evan yang membuatnya tidak laku-laku di pasaran.

Menyebalkan!

"Nyebelin!" Lilya langsung menarik tangan Evan agar lekas turun menuju meja makan. "Pokoknya makan dulu, abis itu kamu mau kerja sampai mati juga nggak peduli aku!" teriaknya yang sudah kesal bukan main dengan suaminya.

Sedangkan Evan merasa harga dirinya hilang sudah karena ditarik-tarik oleh anak SMA yang tadi pagi dinikahi olehnya. Walaupun begitu ia hanya bisa menghela napas kasar dan pasrah saja.

Jujur saja, dia sedang malas berdebat setelah mengetahui apa saja kerugian yang akan dia dapatkan karena memutuskan untuk menolong keluarga Atmawijaya.

"Li?"

"Apa?"

"Kamu bukan anak kandung Mawar dan Kaisar, bukan?" serang Evan tepat ketika mereka sampai di ruang makan.

Lilya terdiam beberapa saat. "Memang kenapa kalau aku bukan anak kandung mereka?"

___

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dhesta Dhestria Rahadjha
kenap harus pakai koin trus si
goodnovel comment avatar
ryan gantara
terlalu singkat per bab nya hah
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status