Share

Tamu tak diundang (part 2)

Ada suara lagi, kali ini diiringi dengan munculnya sosok yang tak begitu jelas, hanya ‘SEPASANG BOLA MATA MERAH’ yang terlihat. Aku pun terperanjat kaget dibuatnya, tapi aku tak dapat bergerak, seakan kedua kaki ku terkunci di tanah. Sepasang mata merah itu menatapku, akupun menatapnya, seperti jika kita sedang mengalami cinta pada pandangan pertama, bedanya aku tak tahu mahluk apa yang ada di depanku ini.

Terpikir olehku, “ya Tuhanku, jika aku harus mati malam ini, mohon ampuni dosa-dosaku Tuhan, entah apa yang kau kirim kehadapanku ini, jika aku harus mati malam ini Tuhan, terimalah aku disisimu.” Sosok itu bergerak maju, gerakannya aneh sekali, kedua kaki belakangnya diayunkan bersamaan, seperti lompatan kodok atau kelinci, ia pun mendekat.

Sambil memejamkan mata, “Tuhan aku tarik kembali ucapanku, aku tak mau mati malam ini, berilah aku kesempatan sekali lagi Tuhan.”

Saat aku membuka mataku, sosok itu sudah ada persis didepanku, dibantu dengan cahaya redup lampu taman, aku coba memastikan apa sih itu? Ternyata… kelinci… ya seekor kelinci. Berwarna putih polos, dan rupanya, matanya memang berwarna merah. Hampir saja jantungku copot dibuatnya, ia hanya duduk menatapku, seakan ia sudah mengenalku sekian lama, tak ada rasa takut terpancar dari raut wajahnya, hanya keluguan yang dicerminkan oleh muka bulat itu.

Walaupun aku tak tahu pasti bagaimana raut wajah kelinci, tapi aku tahu pasti ia mau menunjukkan bahwa ia bersahabat. Dari posturnya, ia tak seperti kelinci yang biasa aku lihat di pet shop atau di pasar, untuk ukuran seekor kelinci, badannya jauh lebih besar, bisa dibilang ia bertubuh sangat gemuk sekali.

Sebenarnya aku tak begitu menyukai kelinci. Aku suka anjing, terima kasih banyak. Menurutku kelinci hanyalah hewan biasa, tak punya kepintaran, dan selalu buang air sembarangan. Sejak kecil aku terbiasa hidup berteman dengan anjing, kakakku Rio memelihara seekor golden retriver, yang kini sudah tiada, mati karena umur.

Aku punya sepupu, yang memelihara kelinci di rumahnya. Dan kalau tak salah aku pernah digigit oleh kelincinya saat aku sedang berkunjung kerumahnya. Kelincinya dibiarkan bebas berkeliaran dalam rumah dan tak dikurung di kandang. Aku bertanya-tanya apakah penghuni rumah itu mengabaikan bau pesing yang menyerbak di seluruh sudut ruangan. Yang jelas, seumur hidupku aku tak pernah tertarik pada seekor kelinci.

Tapi saat aku berlutut, dan melihat kelinci itu menatapku, aku melihat ketulusan dari dalam matanya. Sebenarnya ingin aku mengusirnya dari halaman rumahku, akan tetapi sepertinya ada sebab mengapa ia sampai ada disini. Mungkin ia dikejar si Bruno anjing tetangga sebelah rumah, yang sering berkeliaran di jalanan depan rumah ku. Hingga ia tersasar masuk kedalam pekaranganku. Mungkin ia milik salah satu tetanggaku. Yang secara tak sengaja terlepas.

“Hai…siapa namamu…rumah kamu dimana?” aku coba menyapanya, walau ku tau ia tak akan menjawab pertanyaanku, dengan agak menggerakkan kepalanya dan menegakkan kedua telinganya yang sangat panjang ia menunjukkan reaksi seakan ia mengerti akan ucapanku. Aku memberanikan diri untuk menjulurkan tanganku, tak disangka ia menyambutnya dengan menjilati telapak tanganku. Tak salah lagi, pasti kelinci ini piaraan seseorang, ia jinak sekali seperti sudah terbiasa berada diantara manusia, dan pasti pemiliknya merasa sangat kehilangan.

Ada sesuatu dalam diriku memaksa untuk coba meraih dan membelai kepalanya. Ia langsung lari menjauh. Kupikir, “baiklah, yah paling tidak aku sudah mencoba” tapi ketika aku berjalan menjauh, ia berlari menghampiriku, aku menghentikan langkahku, ia pun hanya berdiri menatapku. Begitu aku menghampirinya, ia berlari. Aku berjalan, ia menghampiriku, aku mendekat ia berlari. Hal ini berulang kali terjadi. Hingga membuatku kesal.

Aku berlutut dan coba menjentikkan jariku, berharap ia mau mendekat. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya ia mau mendekat, langsung saja ku raih dan kudekap. Ketika aku menggendongnya, ia terasa sangat berat dan besar. Hingga membutuhkan dua tangan untuk memegangnya. Harus kuakui ia sangat manis. Dan ia tak berhenti menjilati tanganku.

Apa yang kulakukan benar-benar bertentangan dengan hatiku, tapi aku membawa masuk kelinci itu kedalam rumah. Dalam dekapanku, ia ku bawa masuk kedalam rumah. sampai di tengah rumah, keluarga ku kebetulan sedang berkumpul diruang keluarga, mungkin sedang membahas sesuatu, karena terasa tegang sekali disini, begitu melihat apa yang sedang kupeluk, mereka terlihat kaget dan bertanya-tanya apa yang sedang aku bawa ini.

“Halo semua…”

“Bim…binatang apa itu?” tanya Hilda kakak ku yang ketiga.

“Kelinci lah Hil…memangnya?

“Wah besar sekali yah…”

“Milik siapa itu Bim…” ibuku bertanya.

“Tak tahu mam…aku menemukannya di taman tadi”

Apapun yang sedang terjadi sebelumnya, tetapi yang pasti hewan ini berhasil memecah kebekuan dan ketegangan yang sedang terjadi. Aku melanjutkan langkah ku ke arah dapur, menemui bi Tina, pembantu rumah tangga kami yang sudah bersama kami hampir lebih dari sebelas tahun lamanya. Sampai di dapur, kulihat si bibi sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk keluarga kami.

“Wah apa itu den…anak anjing ya?”

“iya…

“Sana…sana jangan dekat-dekat saya takut den Bimo

“Tenang ini bukan anak anjing tapi kelinci…”

“Wah besar banget kelincinya den”

“Iya-ya bi aku juga baru lihat ada kelinci sebesar ini…aneh” aneh memang kelinci ini besar sekali, badan nya benar-benar super besar, seperti kelinci mutan saja. “kira-kira makannya apa ya bi?”

“Biasanya sih kangkung atau wortel den”

“Kalau tidak salah di kulkas masih ada wortel tuh den Bimo, biar besok nanti bibi belikan kangkung di pasar” sambil membuka pintu kulkas dan mengambil sebatang wortel.

“Beli dimana kelincinya den?”

“Beli…aku nemu kok bi di taman, aku juga heran kenapa ada tiba-tiba kelinci, jangan-jangan punya tetangga, makanya tugas bibi besok cari tahu siapa yang punya”

“Masa sih den? setau saya, disekitar sini tidak ada yang punya kelinci deh”

Aku pun menuju halaman belakang rumah. Di halaman belakang rumah, sebelah kolam renang, terdapat kandang anjing permanen, ku masukan kelinci itu kedalam kandang, dan kuberikan sebatang wortel yang tadi diberi oleh bi Tina.

Aku sedikit berharap keesokan harinya ada pemiliknya datang untuk mengambilnya, “malam ini kamu tidur disini ya, besok kalau pemilik kamu datang, kamu pasti bisa pulang.”

Ku perhatikan kelinci itu yang sedang menikmati wortel pemberian bi Tina, akan tetapi nampaknya ia tak senang berada di dalam kandang, ia sedikit gelisah, dan terlihat dari pandangan matanya, ia seperti kecewa dengan diriku.

Mungkin ia lebih suka bebas ketimbang di kurung di kandang. Setelah ku buka pintu kandang itu, ia pun berlari keluar, seperti tahanan yang sudah lama tak menghirup udara segar. Tapi anehnya ia tak berusaha untuk kabur, ia hanya duduk disampingku. Sepertinya ia sudah menemukan rumah baru baginya.

“Jadi…kelinci itu mau kamu pelihara Bim…?” tanya kakak keduaku Putri yang datang tiba-tiba dari arah belakang. “Tak tahulah, apa yang harus kulakukan bila pemiliknya tak datang untuk mengambilnya, mungkin akan kuberikan pada Jimmy.”

“Gigit nggak…sepertinya mukanya galak”

“Enggak kok…ia jinak sekali…pasti ia memang binatang piaraan seseorang”

Putri mencoba menjulurkan tangannya untuk membelainya, kelinci itu pun seakan membiarkan tangan kakakku membelai kepalanya.

“Ih iya ya jinak banget…” ia tak bergeming sedikitpun, seakan ia menikmati belaian kakakku Putri, mungkin karena ia kelinci jantan, kakakku itukan cantik sekali, persis seperti ibuku.

Memang wanita dikeluargaku di anugerahi kecantikan yang luar biasa cantiknya. Mungkin karena ibuku adalah wanita keturunan, ia berdarah campuran. Ibunya (nenekku) berasal dari negri Belanda sedangkan kakekku asli dari jawa barat, Bandung.

Ketiganya, ibuku, Hilda dan Putri, adalah ratu, dan dua putri kerajaan kecil di rumah. “Ayo Bim…kita makan malam dulu, ada yang harus kita bicarakan.”

“Kamu duluan saja Put nanti aku menyusul.” Aku tahu pasti apa yang mau di bahas didalam, setiap malam tak ada hal lain yang aku dengarkan selain ocehan tentang bangkrutnya keluargaku dan saling tuding siapa yang salah dalam hal ini. Ini membuatku semakin terseret dalam lorong hitam. Yang sebenarnya aku sudah bersusah payah dan berusaha keras untuk keluar dari sana.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status