Share

SEBUAH ANGAN

Aku berada disebuah tempat, nampaknya aku belum pernah kesini sebelumnya. Tapi yang pasti tempat ini indah sekali. Di depanku terbentang luas lautan yang membiru tanpa batas. Dibelakangku berdiri tinggi gunung-gunung hijau membentang. Ada sebuah pondok kecil di sebelah kananku, aku masih bertanya-tanya dimanakah aku ini. Aku masuk kedalam gubuk kecil itu, untuk mencari tahu apakah ada orang didalamnya, agar aku bisa menanyakan ada dimana aku ini.

“kreeek…” kubuka pintu reot yang terbuat dari bambu itu. Hanya ada meja persegi empat, dan satu kursi didepannya. Tak ada barang lain disana. “Tempat apa ini?” … ada selembar kertas diatas meja. “apakah ini untukku…” seolah ada yang mendengarkan.

Cinta adalah ciptaan tuhan, semua dan setiap butir pasir di dalamnya. Cintailah setiap daun, setiap sinar terang Tuhan. Cintailah binatang, cintailah tanaman, cintailah semuanya. Jika mencintai semuanya, kau akan melihat misteri ilahi dalam setiap mahluk. Begitu melihatnya, kau akan mulai memahaminya lebih baik setiap hari. Dan kau akhirnya akan bisa mencintai seluruh dunia dengan kasih yang merengkuh segalanya.

Begitu kira-kira bunyi tulisan yang tertulis diatas kertas usang tak jelas berwarna putih atau kuning.

“Tok-tok…Bim…Bimo” ada suara ketukan pintu. Aku segera membalikan badan untuk mencari asal suara itu. Tak ada siapapun di pintu.

Kali ini agak lebih keras. “Bimo…bangun sudah siang!” aku…masih dikamarku. Ternyata aku hanya mimpi.

Dengan nada ngantuk, “masuk aja Pril gak di kunci kok pintunya.” Aku kembali menutup mata sambil memeluk guling.

“Hei ayo bangun…kamu ini tidur terus…nanti kasurnya tipis kamu tiduri terus.”

Suaranya…ini …aku menoleh kearah suara itu, “oh hai mam…aku kira Pril”

“Iya ya biasanya kan Pril yang bangunin kamu, kemana yah si Pril”

aku tak menjawab

“Eeee iye budak…bangun atuh Bim…udah siang” dengan logat sundanya mami menepis pipiku.

“itu sudah mami siapkan sarapan buat kamu, gera (cepat) atuh bisi (keburu) dingin.”

“Thanks ya mam” sambil mencoba berdiri. “nanti aku menyusul”

Aku masih duduk diatas tempat tidurku, mengumpulkan sembilan nyawa yang aku punya. Kulihat jam didinding, jam sembilan lewat lima belas. Dengan melakukan sedikit stratching dan memastikan nyawaku terkumpul semua, aku putuskan untuk mandi dulu sebelum turun dari kamar ku.

Rasanya ada yang ganjal hari ini, entah apa tapi yang pasti hari ini seperti ada yang kurang. Apa karena mimpi itu. Ah rasanya tidak. Bicara soal mimpi, mimpi yang aneh. Aku tak mengerti sama sekali tentang mimpi itu, apa maksud tulisan itu? Pastinya mimpi itu telah membuatku penasaran setengah mati, rasanya sama seperti saat aku mimpi basah untuk pertama kalinya. Benar-benar mimpi yang aneh!!

Sarapan terbaik, dipersembahkan oleh mami.

“Hallo mamiku yang paling cantik sedunia” kukecup pipi kiri, pipi kanan, bibir serta keningnya. Aku lalu mengambil piring dan langsung menyendok nasi goreng sebanyak banyaknya. Seperti gembel yang sudah tiga hari tidak makan saja. Tanpa banyak basa-basi kulahap dengan buas apa yang ada di piring itu. Aku lapar sekali.

“Heemm uenak sekali ini bi…tumben bibi bikin nasi goreng seenak ini” aku berkata kepada bi Tina yang kebetulan melintas didepanku sambil membawa bakul nasi yang sudah kukuras habis isinya tadi.

“Yee si aden ngejek ya…”

“Lho kok ngejek bener kok bi Tina enak banget nih”

“Tapi yang bikin bukan si bibi den tapi nyonyah…misi den” ujar bi Tina yang langsung masuk kedapur untuk mencuci piring.

Aku hanya terpaku menatap ibuku yang juga menatapku dengan pandangan hangatnya. Di rumah ini mami jarang sekali turun langsung kedapur, kecuali pada event-event tertentu. Ini hanya sarapan, ia rela masuk dapur.

Tanpa menunggu lama lagi aku segera berdiri dan memeluk ibuku dari belakang, menyandarkan daguku kebahunya. Kupeluk sangat erat, seakan ingin meremas tubuhnya saja. Kuciumi pipinya berulang kali sampai bedak dipipinya mulai luntur karena pindah kebibirku.

“Thanks mom, you are the best mom I ever have in the world, thanks for everything you gave to me…mmmuuuaaah” kuberikan kecupan besar yang terakhir. Dan aku kembali duduk menikmati nasi goreng buatannya. Walau hanya nasi goreng tapi aku rasanya ingin nangis dengan kuat ku tahan agar tak keluar setetespun dari mataku

“Bim tadi kamu mimpi apa sih?” ia menatapku dengan keheranan.

“Kenapa mam ada yang aneh denganku?” kok ia tahu aku tadi habis mimpi.

“Jelas ada …sudah lama kamu tidak semanis ini, ini hari pertama kamu cium pipi mami setelah hampir setahun lamanya kamu hanya bengong duduk ditaman depan, kamu juga peluk mami erat sekali sampai mam tidak bisa napas, aya naon kasep?”

“Ah te aya naon naon…mam” jawab ku sok berbahasa sunda.

“Are wrong if I’ kis and hug my own mom?”

“Nya enteu sih… aneh wee meni tumben pisan…kamu nteu sakit pan kasep, bageur?”

“Mam… what’s wrong with you I’m your son that really meant to you?”

“Nothing wrong handsome…it just…weird…not really you…who are you?? please bring back my lovely son” kira-kira begitulah terjemahan sunda-inggrisnya.

“Trus mam sendiri…tumben masakin aku nasi goreng…biasanya kan si bibi…ada apa nih hayo?”

Ibuku hanya tersenyum ”yah latihan Bim…siapa tahu suatu saat nanti si bibi harus pergi…” terdiam dan tak meneruskan pembicarannya.

“Hah si bibi sakit apa? Separah apa? Umurnya tinggal berapa lama lagi?”

“Huss sembarangan…maksud mami teh kalau kita sudah tak bisa membayar gajinya lagi, masa dia kerja gratisan disini…mau tak mau bibi harus berhenti dong, bebel pisan maneh (bodo banget)“ jawabannya membuatku kaget setengah mampus…kembali mengingatkan akan kondisi keuangan keluarga yang sedang hancur berat.

Aku menatapnya dengan rasa penuh iba. Ia yang semula sedang merapikan rangkaian bunga kering diatas meja makan, berhenti hanya terdiam. Apa mamiku tercinta harus mengalami semua ini…? “sabar ya mam…”ucapku dalam hati. Dengan nada sedikit menghibur aku melontarkan sedikit canda…”Oooo…jadi aku ini kelinci percobaan…jadi kalau masakan mam gagal taruhannya nyawaku?”

“Ah kamu…tapi kalau tak sengaja bisa juga sih…”dengan senyum yang mulai melebar di bibirnya.

“Bisa apa mam?” tanya ku heran.

“Ya bisa…bisa…bisa…” ia tak meneruskan hanya tertawa lepas. Sudah lama aku tak melihat ibuku tertawa seperti itu, damai…, tanpa ada beban. Kami berdua asik di dapur pagi itu. Aku senang…sudah lama aku tak merasakan perasaan ini. Hingga “Krriiing…krriing…kring” berhenti setelah tiga kali berdering, diangkat oleh bi Tina.

“Haloh…ini siapa yah…oh non Pril…ada non lagi sarapan sama nyonya…sebentar yah non bibi panggilkan”

Mati aku…ngapain dia…“Den Bimo…ini non Pril telpon”

“Iya bi…makasih ya” sambil meraih gagang telepon yang diberikan oleh bi Tina.

”ya….”

“Kamu udah bangun Bim…udah sarapan lagi….tumben ada apa nih…” terdengar suara lembut yang sangat aku puja dari seberang sana. Yang langsung saja aku potong, karena jujur saja aku tak mau merusak hari ini hanya karena harus meratapi nasibku lagi.

“Em iya…tadi mami yang bangunin aku…eee ada apa yah Pril?”

“Ah enggak Cuma pengen denger suara kamu ajah…” kembali ku potong

“Oooo kukira ada apa…eemm Pril kalau tidak ada yang penting lagi aku mau siap-siap dulu nih, sorry lho…gak apa-apakan?”

“Oh kamu mau pergi…perlu dianter…aku jemput yah…aku gak ada kuliah kok hari ini…”ku potong lagi.

“nggak…gak usah Pril…aku mau naik sepeda saja sudah lama aku nggak olah raga juga.” Jawabku cepat seraya mencari alasan.

“Bim…aku…” kembali ku potong perkataannya

“Pril aku beneran udah telat nih…sorry ya…udah dulu oke, trims dah nelpon aku.” Padahal aku tak ada janji sama siapapun dan tak ingin keluar rumah.

“Oke deh…maaf udah ganggu…klik” terdengar sudah sepi di ujung sana.

Aku lantas bersandiwara. “Oke dah sayang…mmmuuuahh…love you”

Piiuuhh…nyaris saja. “Bim…bukannya satu-satunya sepeda di rumah ini sudah dijual ketukang loak?” tanya ibuku ”Wah gawat harus bilang apa aku sama mam…” pikirku dalam hati.

“Eh.. kan aku masih punya sepeda mam, inget…waktu aku terakhir ke jepang sama pap…pulangnya kan aku bawa dus gede tuh…” jawabku cepat. Dan untungnya memang masih tersimpan rapi di kamarku.

“Bukannya kamu Cuma alasan aja sama Pril?? kamu lagi ada masalah ya sama dia?”

“Enggak kok mih…bener kok sepedanya masih utuh…sama sekali belum aku rakit. Dan memang aku berencana untuk jalan-jalan hari ini” mampus…masa aku harus bohong sama mami sih…

“Awas kamu Bim…jangan sekali-kali kamu sakiti Pril…urusan kamu sama mami”

“gak kok mam…” mati aku.

“Ya sudah mam mau kekamar dulu…kamu perlu uang?”

“Oh nggak mam thanks…Muuahh” kukecup kening ibuku. Piiiuuuuhhh…untung percakapan kami tak diteruskan, bisa gawat. Aku tak ingin mam tahu aku dan Pril sudah putus, kalau kondisi nya lain, mungkin tak apa. Aku tak ingin mamiku jadi membenci Pril hanya karena kesalahanku sendiri.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status