Semalam Bersamamu
Semalam Bersamamu
Author: Aldrich Candra
Pekerjaanku

"Lo yakin enggak pa-pa?"

Pertanyaanku dijawab dengan anggukan. Sara masih terpejam di bawah kuasa lenguhan napasku yang mengedar pada tulang selangkanya.

Jemariku bergetar saat meloloskan tiap kancing seragamnya yang telah basah karena hujan. Kesegaran alami berpadu wangi anggur yang manis di permukaan kulitnya membuatku sesekali memberi gigitan kecil.

Sara melengkungkan punggung ketika puncak penutup dadanya kugigit, dan memudahkan jemari bergerak di belakang tubuhnya, meloloskan benda hitam yang kontras dengan warna kulit Sara.

Lututku sudah bergerak di antara pangkal pahanya, menyingkap rok kelabunya hingga atas perut.

"Aksa ...." Dia menyebut namaku bersama desah menggoda. Jemarinya bergerak di antara helai rambut sebelum mencengkeram, menahan kepalaku melekat pada tubuhnya ketika meraup gunung kembar yang cukup besar dalam genggaman.

Dinginnya udara, panasnya gerakan, berpadu dalam getar ragu dan khawatir.

Aku mundur, melepaskan diri darinya yang terbaring di permukaan ranjang.

"Aksa ...." Sara protes dengan intonasi manja, berusaha meraih tanganku sampai tengkurap.

Dia berantakan, dan aku merasa bersalah. Apa yang kulakukan?

"Gue enggak bisa, Ra."

"Apa yang enggak bisa? Lo sering gini kan sama nenek-nenek sok kaya di luar?"

Aku tidak menampik pendapatnya tentang profesiku sebagai gigolo, tapi ..., "Lo yakin?"

"Gue enggak bakal bayar lo sebanyak itu kalau nggak yakin."

Kuacak rambut di kepala, berbalik sesaat, lalu menatapnya lagi. Senyumnya seolah menantang ketika melihatku menghela napas sembari membuka seragam yang melapisi kaus dalam. Basah. Setelah hujan yang kami lalui.

Pasrah.

Perlahan, kunaiki lagi ranjangnya. Membiarkan telapak tangan Sara bertumpu di dada saat menerima pagutan.

Bibirku masih nyeri karena pukulan para fans Sara saat pulang sekolah, apalagi jika harus memberi kuasa gairah.

"Sakit?" tanya Sara ketika memberi jarak di antara ciuman. Jari lentiknya bergerak di pinggiran bibir, menatap dengan sendu dan rasa kasihan.

Sementara Sara masih menelusuri tiap garis wajahku dengan kekaguman, kulepaskan seragam yang tanggung dari tubuhnya. Kulit putih khas gadis blasteran yang mulus saat disentuh.

Kuhidu tiap ruas jarinya, menjilat perlahan permukaan kulit punggung tangannya, lengan, bahu, dan meninggalkan lingkaran merah di pangkal leher.

"Lo suka?"

Sara mengangguk perlahan. Kubaringkan ia, melucuti pakaiannya yang tersisa. Binar mata dan senyumannya seperti anak kecil yang berhasil mendapat kemauan.

Kubiarkan kulitnya di terpa udara sesaat, menikmati setiap geliat ketika dia merengek lagi dengan menyebutkan namaku. Terasa menggelitik perut. Ini lucu.

"Lo mau gue gimana?"

"Biasanya?"

Kuusap belakang kepala dengan kasar. Seperti apa? Sebenarnya ... aku belum pernah.

***

Sebelumnya ....

Aku masih bergelung dalam selimut, sesekali membuka mata cuma buat mastiin langit-langit kamar adalah nyata. Bukan monster jelek yang keluar dari dunia mimpi.

Kalau waktu kecil dulu, pasti takut banget lihat makhluk lumpur yang jelek mau tenggelamin. Sekarang? Aneh aja. Tiap ketemu masih bikin capek kayak abis berenang keringat. Tidak ada perlawanan selain teriakan dalam dunia mimpi.

"Sa!"

Ketukan keras berulang di luar kamar membuatku harus bangkit, menurunkan selimut dari ujung kepala. Malas! "Bisa enggak biarin gue tidur? Ini minggu!"

Kuacak rambut ketika membuka pintu. Enggak peduli keberadaan Garini Sarasidya yang terpaku, mendadak diam di depan pintu setelah beberapa kali memanggil.

Bener kayaknya itu nama lengkap Sara. Pernah lihat di seragamnya tepat di bagian saku seragam dan sempat mengalihkan perhatian karena jadi ngebayangin isinya.

Ya Tuhan! Ngapain mikir sampai ke situ?

Begitu memperhatikan si gadis berkucir, Sara beneran bengong ternyata. Aku sampai harus menepuk tangan tepat di depan mata gelapnya karena enggak denger aku berteriak. "Apa? Hei!"

"Pakai baju dulu sana!" Dia langsung mendorongku masuk dan menutup pintu dari luar.

Enggak jelas! Apa yang salah? Cuma enggak pakai baju, kan?

Gadis aneh. Belum pernah lihat perut kotak-kotak kali. Aku meringis, menertawakan kemungkinan yang dipikirkan si putri pemilik kos. Padahal gadis-gadis yang pernah satu kelas denganku selalu memuja para bias yang selalu pamer perut.

Kuambil kaus baru dari lemari setelah memeriksa pakaian tergeletak yang ternyata enggak layak pakai. Bau. Kayaknya bakal cucian lagi. Wajib. Risih melihat tumpukan menggunung. Kalau pakai jasa penatu, mahal enggak, ya?

Yah mahal lah, Dol!

Aku mengeluarkan dompet dari saku. Isinya ... aih. Bikin nyesel ngebuka. Enggak ada penampakan Pak Soekarno-Hatta.

"Sudah, Sa?" Gadis di luar teriak lagi. Suara cemprengnya berasa ngerobek telinga.

Kubuka pintu dan mengenakan kaus di depan gadis yang sebenarnya memiliki wajah cantik khas pribumi. Mata lebar, hidung mancung, bibir tipis, dan wajah menyudut di dagu. Itu standar cowok-cowok di kelas kalau lagi ngomongin taksiran mereka dan Sara masuk dalam salah satu daftar famous yang sebenarnya enggak ada manis-manisnya.

Dia terpaksa menutup mata dengan kedua tangan. Apa karena ulahku yang masih pamer perut? Sedikit terhibur sih setelah melihat ekspresi kagetnya ternyata seperti anak kecil yang mengintip dari sela jari-jari. Lucu aja gitu ngerjain anak orang pagi-pagi.

"Apa?" Aku berusaha menormalkan raut di wajah dengan menggigit dinding mulut di balik pipi sambil menyugar helaian rambut.

"Mogok. Bisa baikin lagi?" Sara menurunkan telapak tangannya, seperti memindai tampilan yang menurutku kacau.

Aku mendengkus, melihat cengirannya. "Enggak gratis."

Senyum di wajah Sara luntur seketika. Dia merengut sambil menggulung ujung rambut panjangnya menggunakan telunjuk. Ujung sandalnya menghentak-hentak seolah mempertimbangkan.

"Bengkel enggak jauh kali. Dorong aja." Aku hampir menutup pintu ketika gadis itu langsung menyelipkan diri.

"Enggak mau. Gue bayarin, tapi jangan mahal-mahal."

Elah ... padahal tinggal cek onderdil, paling banter ganti busi motor seberapa, sih?

Sudut bibir kananku naik seketika. "Bukan duit."

"Jadi, apaan?"

Kubuka pintu dan memperlihatkan tumpukan di keranjang yang membludak sampai lantai.

"Aksa! Jorok banget, sih!" teriaknya histeris. Terbukti dengan beberapa penghuni kamar sebelah yang sempat keluar dan menggeleng.

Sara memunggungiku, lalu kembali menghadap setelah menyadari perhatian sekeliling. Dia melotot sambil berkacak pinggang pada penonton yang awalnya menyeringai dengan kata "Apa?" tanpa suara hingga kembali masuk ke kamar masing-masing.

Kusandarkan punggung pada pembatas pintu sambil menyilangkan kaki dan memasukkan kedua tangan dalam saku celana pendek. "Lo kan punya mesin cuci juga. Enggak perlu megang kali. Enggak mau? Ya udah."

Sara kudorong mundur dengan paksa, menutup pintu tepat di depan wajahnya. Enggak peduli bakal gimana kesalnya dia. Kalau kosnya enggak murah, males kali ngeladenin gadis yang tiap hari mampir kayak gitu. Bisa jadi aku malah pilih pindah.

Aku mundur selangkah dari daun pintu. Menunggu. Gadis kayak Sara biasanya enggak gampang nyerah buat bujuk. Dan, ya. Ketukan berulang terdengar lagi.

"Aksa! Ayo, udah!"

Spontan aku tersenyum penuh kemenangan. Laundry gratis.

"Mana?" Akhirnya aku keluar dari kamar, mengikuti Sara menuju parkiran.

***

"Kerja apa sih, Sa? Kok kayaknya pulang pagi mulu?"

"Ah?" Aku sempat mendongak ketika mengencangkan baut pada boks motor Sara. Gadis ngeselin itu sudah berganti pakaian dan bersandar pada penyangga atap di area parkir kos. Mungkin dia mandi dengan kembang tujuh rupa dan menghabiskan sebotol parfum. Wanginya semerbak, bikin pengin muntah.

"Mending lo beli baru aja daripada baikin mulu." Aku mengalihkan pembicaraan sambil menutup jok. Sempat perhatikan rengutan bibirnya yang maju seperti bebek. Lucu, tapi enggak bisa buat ketawa. Hanya seringai yang lolos ketika perhatianku teralihkan pada starter motor.

Suara mesin nyala terus menderu. Asap dari knalpot merebak, memenuhi atmosfer di sekitar kami.

Sara terbatuk-batuk, berlari menjauh dari kepulan yang memenuhi ruang kosong di antara kami. Gadis manja itu ....

Aku jelas menertawakannya yang kembali setelah mengenakan masker, menutup sebagian wajah. Akhirnya enggak bisa tahan dengan rasa yang menggelitik perut. Padahal tidak ada yang bergerak di sana.

"Hari ini di kos aja, Sa?" Pertanyaan Sara seolah enggak ada habisnya. Langsung memupuskan tawa yang sempat meninggalkan lega.

Aku sadar memutar bola mata. "Taraf kepo lo setinggi apa, sih?" Mesin motornya langsung kumatikan setelah asap mereda.

Kukembalikan kunci ke tangannya, lalu kembali memasuki koridor sepanjang lima pintu sebelum sampai kamar milikku.

"Ye kali liburan cuma tidur doang." Sara mengekor di belakangku dan berhenti di depan kamar, menghadapi pintu yang kubanting. "Cuciannya, Sa?"

Ngeselin amat, ya. Suaranya enggak enak banget di pendengaran. Aku aja sampai perlu menekan telunjuk di lubang telinga saat membuka pintu lagi.

Kuserahkan sekeranjang pakaian kotor yang dijejalkan paksa. Lalu nutup pintu lagi. Dikunci sekalian.

Argh! Aku cuma perlu tidur. Enggak peduli Sara dengan ketukan lagi ampe bego. Kusumpal telinga dengan gumpalan tisu, nutup kepala pakai bantal sekalian. Lebih nyaman ketika bersembunyi dalam selimut.

Sayangnya, cuma bentaran.

Nyanyian Grenade-nya Bang Bruno nyaring banget. Suara yang berasal dari ponsel di nakas sontak membuatku harus membuka mata. "Sial!"

Tertera "Nyonya" sedang memanggil ketika ponsel berpindah dalam genggaman. Pengen nolak, tapi lagi butuh juga. Isi dompet beneran tipis.

Wanita berusia lebih tua dari Ambu itu menyeretku dalam pekerjaan jasa yang cukup menantang semenjak masalah kebakaran yang menewaskan keluarganya. Tentu saat itu aku sudah yatim. Ambu meninggal, dan Abah memang enggak pernah pulang semenjak Pak Es Be Ye menjabat.

Katanya dulu, "Pokoknya elo ikut aja yang gue suruh. Ini cara satu-satunya nyelametin rumah Nimas."

Dia menyebutkan nama Ambu. Saat itu, aku enggak mikir panjang buat nolak. Kami sama-sama saling membutuhkan. Pertukaran yang kujalani sampai sekarang. Uang buat rumah Ambu yang tergadai hutang dengan wajahku yang dianggap menarik.

Nyonya memiliki koneksi yang luas dan aku bisa mempermudah berbagai persetujuan dengan bayaran jasa yang menyenangkan. Bodo amat sama aturan mempekerjakan remaja di bawah umur. Aku juga menikmati hasilnya.

Eh, tapi sekarang kan sudah delapan belas. Bukan di bawah umur lagi.

Balik lagi pada panggilan telepon yang terus berdering. Setelah mengambil dan mempertimbangkan, jadinya aku enggak ngejawab panggilan juga karena pesan masuk menyusul.

Ngantuk.

Punggungku bersandar pada dinding kamar sambil menendang selimut saat menyeret layar ponsel. Pesan terbuka menunjukkan jumlah yang lumayan sebagai uang muka.

"Ini nyuruh beli baju baru namanya." Aku jadi ingat nasib isi lemari yang sudah kosong melompong saat dibuka.

Aldrich Candra

Salam kenal. Ditunggu review dan vote-nya. Komentar kamu sangat berharga untuk penulisan cerita ini.

| 1
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mustika RahmaDika
awal baca udah puanasss, kipas mana kipas
goodnovel comment avatar
Reka
Hahaha humorku hnya sekedar pak soekarno hatta gak ada di dompet
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status