Share

Musibah

Part 4

Hari ini langit terlihat cerah setelah beberapa hari cuaca mendung seperti hati Airi. Wanita itu sudah bertekad untuk memilih jalannya sendiri. Mencari pekerjaan adalah hal yang harus dilakukan. 

Tak akan mungkin mengandalkan Faisal. Lelaki itu sudah memiliki wanita lain. Tak lupa mengucapkan bismillah dan memantapkan niat. 

Mencari lowonga kerja di beberapa situs online melalui gawainya. Airi memulai untuk mencari. Mata dan jari jemari tak jauh dari ponsel. Ia mencari pekerjaan yang tak terlalu jauh. 

Jika, Faisal menceraikannya setidaknya ia memiliki penghasilan sendiri. Ia tak berharap lelaki yang dicintainya mempertahankan dia sebagai istri.

Setelah mendapatkan lowongan, Airi mempersiapkan semua keperluan surat-surat untuk lamaran kerja.

Airi sudah rapi dengan kemeja panjang berwarna putih, rok hitam panjang, dan kerudung putih dengan bros kupu-kupu di sebelah kanan. Menenteng tas keluar kamar tidak lupa map coklat berisi berkas lamaran.

Faisal menatap istrinya yang terlihat rapi. Setelah kejadian penolakan istri pertama yang tak mau disentuh, Faisal tak berbicara sepatah katapun. Hatinya kini penuh kebimbangan.

Ai mengulurkan tangannya ke arah suaminya.

"Abang, Ai minta izin keluar rumah mencari pekerjaan," ucap Ai dengan menundukkan kepala. Ia enggan bertatapan.

"Untuk apa kau kerja. Lebih baik kamu di rumah saja. Kamu tak memiliki pengalaman kerja," jawab Faisal dengan nada meremehkan. Ia sedang duduk di kursi meja makan menikmati secangkir kopi. 

"Di rumah lebih baik daripada ke luar, kota Jakarta sangat luas. Kamu tak tahu arah," cibir lelaki itu. Airi tak pernah berkeliling kota. Wanita itu selalu berada di rumah.

"Maaf Bang, Ai harus bekerja," tegasnya santun. 

"Apa uang yang kuberikan tidak cukup?" Faisal merasa tersinggung dengan ucapannya.

"Maaf Bang, bukan Ai lancang tapi ...." 

"Kalau kamu merasa kurang dengan uang yang Abang berikan, bicaralah! Abang akan menambahkan uang bulananmu," teriaknya. Tatapan Faisal tak lepas dari wajah cantik Airi.

"Tidak Bang, uang yang Abang berikan lebih dari cukup."

Faisal menatap Airi heran, setiap bulan selalu memberikan jatah belanja, tapi mengapa istrinya ingin bekerja.

"Sudahlah Bang! Biarkan saja dia bekerja. Wanita tak pernah bersyukur. Masih mending suami masih menanggung semuanya," sindir Bella. 

"Biarkan saja Bang, ayo makan!" 

Faisal menatap istri pertamanya, menyambut tangan Airi."Hati-hati!" ucap Faisal lirih. Airi tersenyum kepada Faisal. Hatinya merasakan desiran yang hebat senyum yang sudah lama tak terlihat di bibir wanita yang sudah lama tak tersentuh.

Tubuh lelaki itu berdiri hendak menyusul istri pertamanya. Namun, Bella menahan lengan kekar miliknya."Sudah Bang, Biarkan saja. Paling nyasar di jalan," ucap Bella. Mulut wanita itu mengunyah butterrice yang dimasak oleh kakak madunya.

"Bella! Apa maksudmu? Jangan berkata sembarangan! Airi masih istri Abang," bentak Faisal. Lelaki itu geram mendengar ucapan istri kedua. Rasa khawatir dan bimbang menyelimuti hati Faisal.

"Iya, aku tahu dia istrimu! Istri tanpa selaput dara! Istri tak suci yang kau nikahi!" Bella berkata dengan notasi tinggi. Rasa cemburu terlihat jelas di matanya. 

Tersingung dengan ucapan istri mudanya Faisal meninggalkan Bella sendirian di meja makan. Memilih pergi ke kantor tanpa berpamitan.

"Bang, tunggu! Bareng aku. Aku ikut, Bang! Bella berlari ke kamar lantai atas mengambil tas dan gawai miliknya.

Bella juga bekerja di perusahaan milik Faisal. Ia menjabat sebagai seketaris Faisal. Semua itu adalah keinginan Ririn--mama Faisal. Pernikahan yang dilakukannya juga mama-nya yang mengatur. 

"Airi tak pantas bersanding denganmu. Ia polos ternyata bin*l. Kepalanya tertutup, tapi tubuhnya diobral. Dia tak sama derajatnya dengan kita. Sudah miskin ternyata sudah tak suci. Lebih baik kau menikah saja dengan anak teman Mama," ungkap Ririn saat itu. Ririn selalu mengompori anaknya dengan cara menjelek-jelekkan Airi. 

Faisal meremas rambutnya kasar. Melihat Bella yang berteriak, lelaki itu langsung memundurkan mobilnya melaju dengan cepat. Saat ini ia ingin sendiri.Tanpa Bella, Airi, dan Ririn. Tiga wanita yang membuat dirinya frustasi.

Faisal mengemudi mobil dengan ungal-ungalan. Suara gawainya terus berbunyi. Tertera nama Bella di layar gawainya. Hati Faisal terasa panas kepalanya pusing memikirkan masalah yang terjadi. Melempar gawai ke sembarangan tempat. 

Faisal meremas setir mobil. Ingin berteriak sekencang-kencangnya. Sikap Airi membuat dirinya menyesal. 

Mobil Faisal melaju dengan cepat tanpa memikirkan keselamatan dirinya maupun orang lain.

Airi berjalan kaki mencari kendaraan. Ia mengecek kembali alamat perusahaan yang akan menerima karyawan baru. Airi sudah menghubungi HRD perusahaan tersebut. 

Gadis itu tak memiliki aplikasi ojek online. Airi memilih naik angkot dengan berjalan kaki terlebih dahulu. 

Wanita itu berhenti di salah satu halte tempat tujuannya. 

Gedung-gedung menjulang tinggi. Airi menatap bangunan tersebut. Ia tak memiliki pengalaman kerja. Setelah lulus sekolah, Airi membantu Bu Ziah--pemilik panti asuhan mengelolah toko kelontong. Dua tahun di toko tersebut Airi menikah. Kini umur Airi dua puluh tiga tahun sedangkan Faisal dua puluh tujuh tahun.

Ketika Airi hendak menyebrang jalan, mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Sang pengemudi sedang menerima panggilan di gawai miliknya. 

Pemilik mobil tersebut terkejut melihat Airi yang menyeberang jalan. Menekan rem dengan kakinya. Suara teriakkan Airi dan rem mobil terdengar nyaring. Tubuhnya tertabrak, kepala wanita tersebut terbentur aspal. Darah mengalir di belakang kepala. 

Kerudung putih yang ia pakai berubah warna menjadi merah. Orang-orang menghampirinya. Noda darah yang kental mengotori aspal hitam di jalan raya. Airi tak sadarkan diri. 

Sang pengemudi turun dari mobil, melihat keadaan wanita yang telah ia tabrak. Lelaki itu terkejut dengan kondisi Airi yang memperhatinkan. 

"Astaga, apa yang telah aku lakukan. Apa dia masih hidup?" Lelaki pemilik sedan hitam mendekati tubuh Airi. 

Segera menghubungi rumah sakit terdekat. Tak berapa lama kemudian Airi di bawa masuk ke dalam mobil ambulan.. 

Comments (3)
goodnovel comment avatar
Astri
Laki-laki itu nantinya penyelamat Airi saat dia bercera. Dan si Ririn, silakan banggakan mantu kesayanganmu itu setelah Airi cerai sama Faisal
goodnovel comment avatar
Erhin Erhina
terlalu goblok jdi perempuan
goodnovel comment avatar
Bunda Saputri
Kasihan aira
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status