Share

Saat Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Saat Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Author: Galuh Arum

Satu

"Loh, Ma, kamu dari mana?" tanyaku saat istriku pulang dengan beberapa tentengan di tangan.

 

"Ada kumpul-kumpul sama teman. Papa sudah pulang?" Istriku berbalik bertanya.

 

"Ya, Mama lihatnya bagaimana?" 

 

Istriku tersenyum, kemudian berlalu begitu saja tanpa memperdulikan aku yang baru saja pulang. Bukannya bertanya suaminya sudah makan apa belum, ini malah begitu saja melewati aku.

 

Dia punya uang dari mana? Padahal, uang yang kuberikan tidak banyak. Kenapa dia bisa setiap hari pulang malam dan membawa banyak barang? 

 

Aku teringat ibu tempo hari bilang kalau istriku kerap menitipkan anak-anak pada ibu. Sementara, ia tidak bilang mau ke mana. Hanya bilang akan kembali sore hari dan ibu pun sama curiga seperti aku.

 

Apa yang dilakukan istriku, apa dia main serong? Dengan dada yang bergemuruh, aku bergegas menghampiri istriku.

 

"Ma!" Aku berteriak lantang.

 

"Ada apa?" Ia menjawab datar. 

 

Aku menoleh beberapa kali ke arah barang belanjaannya. 

 

"Ada apa?" Ia kembali mengulang pertanyaannya.

 

"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Aku saja belum memberikan uang gajiku."

 

"Apa aku harus bilang sama kamu semua pengeluaranku, sementara kamu hanya memberiku 10 persen gajimu dan sisanya kau berikan pada ibu sebagai baktimu pada orang tua?"

 

Tangan ini tak kuasa menampar istriku. Hebat sekali dia berbicara. Memang aku harus berbakti pada ibu karena dia aku menjadi sukses. Untuk apa dia membahasnya. Kalau tidak karena ibu, mana bisa aku sehebat ini.

 

"Aku lelah, biarkan aku istirahat." 

 

Ayu berlalu begitu saja tanpa melawan saat aku tampar. Ia membaringkan tubuh dan menutupnya dengan selimut.

 

***

 

Saat terbangun pagi, aku sudah tidak melihat Ayu di sampingku. Namun, harum masakan membuat aku tak pusing karena dirinya sedang berada di dapur. 

 

Sebaiknya aku bergegas mandi dan berangkat ke kantor. 

 

Selesai mandi, kulihat di meja makan sudah terhidang masakan. Anak-anak juga sudah siap dengan seragam mereka. Begitu juga dengan Ayu. Semakin hari istriku semakin cantik. 

 

Mungkin dia merawat diri dengan baha alami. Mana mampu dia membeli skin care. 

 

"Kamu pergi lagi nanti sore?" tanyaku.

 

"Aku nggak ke mana-mana. Tap sehabis menjemput anak-anak, aku mau ke rumah ibu."

 

"Ngapain?" 

 

"Ngapain? Memangnya hanya kamu yang boleh mengunjungi ibumu?"

 

Kenapa aku bicara satu kata dia bisa lebih dari satu kata. Aku hanya ingin dia di rumah dan tidak pergi ke mana-mana. Mengurus anak-anakku seperti ibu dahulu mengurus kami.

 

"Ya, sudah. Sore pulang," ujarku.

 

Setelah itu aku pamit pada Ayu dan anak-anak. Seperti biasa, Ayu menolak aku antarkan ke sekolah anak-anak. Ia lebih suka mengantar menggunakan motor.

 

Semenjak menikah dengan Ayu, aku bahagia memilikinya. Dia cantik dan berpendidikan. Aku memang tidak memperbolehkan dia bekerja karena ingin lebih fokus pada anak-anak. 

 

Pengalaman ibu, ia mendidik anak pasti baik. Aku ingin Ayu seperti ibuku kelak. Sempat ia protes saat aku memintanya berhenti bekerja, tetapi aku mengancamnya dan dia diam. Baguslah, istri harus tunduk pada suami. 

 

Sudah setahun ini aku memberikan gajiku pada Ayu untuk keperluan masak saja. Sejak adikku Asih kuliah, biaya semakin mendesak. Biarlah aku utamakan adikku dahulu. Toh, Ayu pun tidak masalah, ia hanya mengatakan aku harus adil. Dan aku bisa adil dengan memberikan mereka uang.

 

Baru saja aku memarkirkan mobil, kulihat Arman dengan beberapa SPG yang bekerja di kantor kami. Ia sepertinya mencari muka pada gadis-gadis muda itu.

 

"Weh, inget bini." Aku menggodanya kali ini.

 

"Bini di rumah, nggak tahu. Ciwi-Ciwi mulus, Bro." 

 

"Bini gue lebih mulus." Aku tak malu memuji Ayu di depan Arman.

 

"Yakin, bini lo mulus?"

 

"Main kalau nggak percaya. Lihat ini, mukanya glowing." Aku memberikan ponsel menunjukkan wajah Ayu.

 

Arman menoleh padaku.

 

"Kata Lo, doi Lo kasih uang masak doang. Itu juga cuma 1.500.000. Bini gue aja di rumah ngoceh-ngoceh. Belum beli skincare, crembat, facial dll. Bini, Lo, yakin pakai alami? Atau di belakang Lo dia ada main sama pria lain?" 

 

Sial si Arman, bikin bulu kuduk aku merinding. Ini lebih saram dari diamnya Ayu saat marah. Lebih baik aku pastikan lagi nanti. Benar juga, Ayu terlihat santai dengan uang yang aku berikan. Apa benar perkataan Arman?

 

***

 

Sepulang kantor aku gegas mencari di mana istriku. Namun, Ayu tak nampak di hadapanku. Kemana dia dan anak-anak?

Aku mengusap wajah kasar. Aku langsung menghampiri Ayu saat kulihat dia memasuki halaman rumah. Polesan make up masih terlihat jelas. Apalagi lipstik pink yang membuat ia semakin cantik. Hendak marah, aku menjadi lunak melihat kecantikan istriku.

"Kami dari mana, jam segini baru pulang?"

"Bukannya aku tadi pamit mau ke rumah ibuku? Lagi pula, ini baru jam 15.00. Tumben kamu sudah pulang?" Kesal dibuatnya, bukan menjawab pertanyaanku, dia malah bertanya balik. 

Memang aku pulang lebih cepat karena ucapan Arman sangat menggangguku. Apa benar istriku ini memiliki pria idaman lain? 

Apa kurangku selama ini? Kunafkahi dia, lalu apa yang sedang dia sembunyikan dariku?

"Aku bawa makanan, tadi ketemu Mas Arfan di rumah ibu. Dia membelikan anak-anak makan, sekalian aku minta buat kamu. Kutaruh di meja makan, aku mau menggantikan anak-anak baju."

Lagi, Ayu melewatiku begitu saja. Ia merangkul kedua anakku. Perut terasa lapar, sepertinya kuhentikan saja emosi yang memuncak ini. Besok akan kucari tahu lagi atau kupasang CCTV saja.

***

Tidak ada gelagat aneh dari Ayu. Ia hanya bermain ponsel sebentar, lalu mengajari anak-anak belajar. Setelah itu, ia bangkit dan mengambil nasi untuk ia makan.

Aku membuang wajah saat ia menoleh ke arahku.

"Aku makan dulu, kamu masih mau makan apa nggak?" tanyanya seperti biasa.

"Aku sudah makan, buat kamu saja." Aku kembali fokus pada anak-anak yang sejak tadi mengajakku bermain.

Tanpa menjawab ucapanku, ia langsung melahap makanannya. Aku terus memperhatikannya, tidak mungkin kecantikannya alami. Pasti Ayu perawatan, tapi dari mana uangnya?

Ponselku bergetar, aku mengambil di meja. Ternyata adikku menelepon. 

"Iya, Sih, ada apa?" Sambil melirik ke arah Ayu, aku menjawab telepon dari Asih. Kenapa Ayu biasa saja? Biasanya ia langsung merengut saat menerima telepon dari ibu atau Asih. Apalagi dari Mba Laras--Kakak Perempuanku.

"Mas, aku butuh uang semester. Kemarin aku mengulang satu mata kuliah, jadi harus ikut semester pendek." Aku mengehela napas saat mendengar apa yang diminta Asih.

"Berapa?" tanyaku cepat.

"Dua juta rupiah, Mas." Terdengar suara Asih pelan, mungkin ia takut tidak enak sama aku.

"Nanti Mas tranfser."

"Makasi Mas."

Setelah menutup ponsel, aku menaruh kembali di meja. Kuhampiri Ayu yang sedang mencuci piring.

"Ma, Asih meminta uang untuk semester pendek."

"Hmm."

Dia hanya menjawab seperti itu. Setelah itu, ia kembali mencuci piring lagi.

"Kok kamu cuma jawab, Hmm ... aja?"

Ayu mengembuskan napas kasar. 

"Aku harus bagaimana? Harus jawab apa? Toh, semua keputusan ada ditangan kamu. Kamu yang mencari uang dan kamu pun wajib menghidupi keluarga kamu. Apalagi, pendidikan adikmu. Apa masih bisa aku berkomentar?"

Panjang sekali jawabannya. Aku sampai sesak mendengarnya. Sejak kapan Ayu seperti itu? Sangat tegas dan membuat aku seperti tidak bisa menjawab apa yang dikatakannya.

"Ya, sudah. Jangan diperpanjang." 

Sepertinya memang ada sesuatu pada diri Ayu. Sikapnya seperti acuh pada keluargaku, tapi kenapa?

***

Mengobrol dengan Pak Endang membosankan. Isinya ceramah saja, apalagi kalau sudah mengatakan suami itu harus mendahulukan istri. Apa dia lupa terlahir dari siapa?

Ibu itu lebih penting. Dia yang melahirkan dan membesarkan kita. Sejak Bapak meninggal, ibu bating tulang untuk menghidupi anak-anaknya.

"Astagfirullah, kamu bikin kaget Mas saja," ujarku saat masuk ke kamar melihat Ayu memakai masker wajah.

Ayu duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali dia terlihat tertawa, tanpa sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Aku ingin tahu, dia sedang apa di ponselnya.

"Kamu WA siapa?" tanyaku.

"Nih." Ayu menyodorkan ponsel miliknya. Kulihat video anak dari Mas Arfan--kakaknya.

Pantas saja dia tertawa, keponakannya itu bergaya banyak membuat yang melihat tertawa. Kembali aku memberikan ponselnya.

Aku tak tahan seperti ini. Kenapa seperti bersama wanita kulkas? Dingin dan entah aku merasa hambar.

"Kamu kenapa, sih, aku tanya jawab hanya sekadarnya saja. Mas kaya nikah sama patung, tahu nggak."

"Aku harus seperti apa? Bukannya Mas yang menjadikan aku seperti patung? Harus menuruti apa yang tidak aku inginkan? Aku hanya mengikuti mau kamu, diam dan hanya menurut saja. Apa salah?"

Astaga, kepalaku bisa sakit jika dia terus saja memojokkan aku. Apa salah aku selama ini?

***

Bersambung

Comments (16)
goodnovel comment avatar
Revi Yandra
Dari awal sudah ada greget dalam perannya masing-masing. Lanjut ...
goodnovel comment avatar
Iv_yourbae
Semoga kelak tidak dipertemukan dengan laki2 seperti ini...
goodnovel comment avatar
Rieca Chandra
Heh lo manusia oon yg nemenin loe ampe tua itu bknnya nyokap loe goblok tp bini lu tentu aj istri yg hra diutamakan jd org otaknya kosong gitu
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status