Share

Empat

Apalagi ini? Ayu tampil sangat cantik. Dengan gamis maron senada dengan hijabnya yang baru aku lihat dan wajah glowing. Ini benar-benar istriku? Cantik sekali ia hari ini. Dada serasa cenat cenut melihatnya seperti itu. Astaga, kapan ia meminta uang untuk membeli gamis?

"Mas, sudah jam 09.00. Jadi berangkat, nggak?" tanya Ayu.

"Eh, iya. Mas ambil kunci dulu." Aku melangkah masuk dengan kikuk, sampai aku tersandung meja. Apa ini namanya jatuh cinta sama istri sendiri. Untung saja masih istri sahku. Duh, kenapa jadi seperti ini, sih. Bisa-bisanya Ayu cantik seperti itu. Jadi pangling aku.

Isi kepala penuh dengan bayangan wajah Ayu. Sampai lupa menaruh kunci mobil di mana. Astaga, Darma, gila kali ini, masa sampai lupa menaruh kunci mobil. Aku menepuk kening sendiri. 

Suara Ayu sudah terdengar tak sabar di luar. Juga suara anak-anak yang sudah kepanasan.

Untung saja ketemu kuncinya. Gegas aku menghampiri mereka di luar.

Sesekali melirik ke arah Ayu yang santai bermain ponsel di sampingku. Degub jantung ini tak berhenti berdetak membuat konsentrasi dslam menyetir seperti buyar. 

"Yu, kamu pakai gamis baru?" Aku bertanya langsung.

"Iya, lagi diskon." Ia menjawab dan kembali memainkan ponselnya. 

"Uangnya dari mana?" Kuberanikan diri bertanya.

Ayo menoleh dengan tangan masih memegang ponsel miliknya. "Dari ATM-lah."

Sungguh jawaban yang tidak aku bisa percaya. Kenapa harus melawak saja, aku tahu uang itu dari ATM. Hanya saja dari mana asalnya.

***

Mobil kuparkir di halaman rumah ibu, tetapi mereka belum juga siap. Aku turun bersama Ayu dan anak-anak. Namun, belum sampai ke dalam sudah ada beberapa ibu-ibu yang menghampiri kami.

"Wah, Mar, sudah lama nggak kesini, loh, istri kamu cantik sekali. Masih sama seperti menikah dulu, padahal, sudah punya anak dua," ujar Bu Adi tetangga sebelah rumah ibu.

Kulihat Ayu memperlihatkan deretan gigi putihnya. Sambil menggandeng Anita yang merengek saja. 

"Pantes saja, pasti deh uang gajinya habis untuk skincare istri sampai ibunya saja mengeluh nggak ada uang." 

"Hus, Bu."

Apa yang kudengar, ibu mengeluh tak punya uang. Lalu, mereka pasti berpikir aku sibuk dengan istri dan anakku sampai lupa berbakti. 

Kenapa bisa seperti itu, sih. Aku pamit masuk ke dalam menemui ibu. Ternyata Mba Laras pun sudah datang.

"Ayo, nanti telat," ucapku.

Ibu bukan menjawab, malah sibuk memandang Ayu. Netranya tak berkedip, pasti melihat gamis yang dikenakan istriku.

"Gamis kamu baru, Yu?" tanya Ibu.

"Iya, Mas Damar membelikannya khusus ke undangan ini." 

Aku menoleh seketika mendengar ucapan Ayu. Kapan aku membelikannya? Lalu, wajah ibu berpaling menatap aku.

"Kamu hanya beli untuk istrimu? Ibu tak kau belikan?" Netra ibu mulai berkaca-kaca. 

"Bukan begitu, Bu. Kan, aku pikir ibu sudah kukasih uang, nah, bisa beli dari uang itu. Kalau Ayu, kan jarang-jarang. Itu pun hadiah dari teman, Bu." Ayu menyunggingkan senyum mendengar kebohonganku. 

Pasti dia sedang mentertawakan kebodohan aku kali ini. Sejak kapan aku membelikam dia gamis. Bahkan, aku saja Di buat kebingungan oleh ulahnya. 

Minta uang saja jarang, tapi malah banyak membeli barang. Belum lagi ibu yang juga mau gamis.

"Iya sudah, Bu. Nanti aku belikan gajian," ujarku.

Ibu masih merengut sampai membuang muka tak mau menatapku. Aduh, Bu, jangan membuat masalah lagi. Aku sudah di abaikan oleh Ayu, jangan sampai Ibu juga ikut-ikutan mendiamkan aku.

"Yang ke salon juga kamu yang menyuruhnya?" tanya Mba Laras.

Aduh apa lagi ini. Aku mengusap wajah kasar jangan sampai Mba Laras mengatakan jumlah uang yang dikeluarkan oleh Ayu saat di salon itu.

"Salon apa, Ras?" 

Aduh, ibu malah bertanya. Padahal aku berharap Ayu tak menjawab, eh malah ibu yang bertanya. Rasanya aku seperti memiliki istri dua dan harus bersikap adil.

"Itu, Ayu ke salon perawatan menghabiskan uang dua juta rupiah," ujar Mba Laras.

Lagi, aku mengusap dan mengacak-acak rambut yang gak gatal. 

"Iya, Mba. Mas Damar sengaja, katanya buat aku perawatan. Masa gaji besar, istrinya kucel dan glowing. Malu sama rekan-rekannya. Benar, kan, Mas?" Ayu memaksa aku menjawab iya sepertinya.

"Eh, iya."

Permainan apa ini, aduh wajah ibu semakin masam saja. Sepertinya dia marah padaku. Kalau seperti ini urusannya jadi panjang. 

"Wah bagus kamu, Mar," ujar Mas Anton--suami Mba Laras. 

"Oh, iya. Yu, kamu masih ingat beberapa pengetahuan tentang keuangan nggak? Mas Anton butuh orang keuangan, kalau bisa kamu mau nggak ambil projek ini sampai karyawan cuti masuk." Mas Anton menawarkan Ayu pekerjaan.

"Masih, boleh. Dari rumah, kan? Nggak harus ke kantor, kan?" tanya Ayu santai.

"Iya. Jadi mau, nih?" tanya Mas Anton bersemangat.

Ada yang aneh, kok Mas Anton bisa menawarkan pekerjaan pada Ayu padahal, sudah jelas lama sekali Ayu tak bekerja. Kok bisa dengan mudahnya Mas Anton percayakan soal keuangan CV-nya pada Ayu?

"Mar, boleh nggak Ayu ngurus keuangan CV gue sementara?" tanya Mas Anton.

"Terserah saja, asal anak-anak keurus aja di rumah." Aku kembali melirik Ayu yang langsung memalingkan wajah dariku.

"Lumayan, buat nambahin uang belanja sama skincare, bener nggak, Yu?" Mas Anton kembali berbicara dan Ayu pun menyambutnya dengan senyum. Ada apa dengan mereka?

Ah, tidak mungkin mereka berselingkuh di belakangku. Sial, pikiran buruk menghantuiku lagi. 

Jadi, selama ini Ayu bisa melakukan pekerjaan keuangan? Jangan-jangan dia bekerja kembali tanpa sepengetahuanku?

***

Setelah pulang dari acara, tubuh ini terasa lelah. Begitu juga otak dan pikiranku terkuras habis memikirkan istriku yang menjadi sorotan keluarga. Teringat tadi Pak De Wowo  mengatakan hal bercanda, tapi membuat keki.

 

"Waduh, Ayunya istrimu. Sayang Pak De sudah tua. Kalau masih muda, tak tikung." Langsung semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Semua tahu memang Pak De Wowo suka bercanda. Namun, bagiku menyebalkan.

 

Sepertinya aku harus bicara langsung sama Ayu kalau aku tidak setuju dengan rencananya bekerja dengan Mas Anton.

 

"Yu, aku mau bicara."

 

"Apa?"

 

"Aku nggak bolehin Mama bekerja dengan Mas Anton. Titik!"

 

"Apa Mas, kamu melarang aku bekerja dengan Kakak iparmu?" tanya Ayu sembari menghampiriku.

 

"Iya, kan sudah aku katakan, kamu ngurus anak saja. Nggak usah kerja, nanti anak-anak  malah terbengkalai. Lagian, urusan cari nafkah biar aku saja." Aku berujar bak suami siaga.

 

Ayu menatap sinis, ia menaikan setengah alisnya. Lalu, tersenyum tipis. 

 

"Biar kamu saja yang mencari nafkah? Nggak salah denger aku? Cari nafkah buat siapa? Aku atau keluargamu?"

 

"Ya, kamu, lah." Aku menjawab cepat.

 

"Aku? Gaji kamu 15 juta sebagai IT. Lalu, kamu pikir, bahan pokok dan kebutuhan rumah tangga cukup dengan satu nol dari angka 15 juta kalau di tendang?" Ayu tertawa di hadapanku. Kurang asem banget dia, pake bawa-bawa angka nol 15 juta. 

 

Asem banget deh aku!

 

"Mas nggak suka kamu terlalu dekat sama Mas Anton. Nggak enak sama Mba Laras, takut dikira macam-macam," jawabku berbohong.

 

Lagi, Ayu tertawa mendengar penuturanku.

 

"Ya, ampun, Mas. Kamu sama kakak ipar saja cemburu. Aku lupa, kalau sama Mas Arfan yang jelas kakak kandungku pun, kamu kadang suka cemburu nggak jelas. Heran aku!" Ayu menarik napas panjang, lalu ia kembali menatapku sengit.

 

Entah, aku juga tidak mengerti degan kondisi seperti ini. Benar kata Ayu, pada kakak kandung Ayu saja aku terkadang cemburu. Sulit mengendalikan diri ini.

 

"Kalau kamu melarang aku ini, itu, ya harusnya rubah dong jalan pikiran kamu. Berbakti, sih, boleh. Tapi pake logika aja, deh.  Maaf, Mas, kali ini aku butuh pekerjaan dari Mas Anton." Dengan sigap Ayu mengambil tas dan memasuki kamar.

 

Aku menepuk kening saat pintu kamar tertutup dengan kencang. Begitulah wanita, jika marah, apa saja jadi sasaran kemarahannya. 

 

Meneguk air dingin membuat kepalaku sedikit tenang. Apalagi jika ada yang lebih segar, misalkan es atau yang lain. Ah, mana mungkin, Ayu saja sedang marah. Mana mau dia membuatkan aku makanan.

 

Lebih baik aku tidur, besok ada tugas yang menunggu di kantor. Sebelum itu, aku terlebih dahulu mandi, badan sudah terasa bau dan gerah.

***

 

Jam sepertinya tidak bersahabat padaku. Kenapa harus menunjukkan pukul 06.00, sedangkan aku harus terburu-buru. Bahkan, Ayu saja tak membangunkanku. Sepertinya dia masih ngambek.

 

"Aku pulang malam nanti. Ada audit soalnya," ucapku pada Ayu. 

 

"Iya," jawabnya singkat. Lalu, kembali mengaduk sayur di panci.

 

Ayu tahu jika pagi hari aku jarang sarapan. Cukup rokok saja sudah kenyang bagiku. Sementara, siang hari baru aku menyentuh nasi.

 

"Kamu tetap kekeh bekerja dengan Mas Anton?" tanyaku lagi.

 

"Iya, selama kamu masih ngasih aku uang segitu. Emang kamu pikir aku PRT, di kasih nafkah segitu. PRT Bu Minah tetangga sebelah saja 2 juta. Kalah, dah istri sah." Ayu menyunggingkan senyum.

 

Aduh, mumet kepalaku mendengarnya. Segera kuulurkan punggung tangan agar dia menciumnya. Lalu, kuciumi anak-anak dan pamit ke kantor. Lama-lama bisa gila mendengar ocehan Ayu. Uang terus yang ada dipikirannya, tidak mengerti kalau suaminya kerja keras juga lelah.

 

Dasar wanita, lawan bicara satu dia bisa sepuluh kata jawabnya. Lagian, tumben dia bawel begitu. 

 

Aku gegas masuk ke mobil melihat jam sudah tidak bisa ditolerir. Kota Jakarta macet, tambah ruwet kalau sampai kesiangan. 

 

***

Ruang kerja sudah sudah tersaji kopi hangat.  Siapa yang iseng memberikan padaku? Aku saja belum meminta sama si Boy OB. Lah, sudah ada aja kopi.

 

"Man, kopi siapa?" tanyaku asal.

 

"Pak Darma itu dari saya. Sebagai ucapan terima kasih karena kemarin membatu pekerjaan saya yang keteteran." Lisa tersenyum padaku saat itu juga.

 

Kopi? Sayangnya aku tidak suka kopi. Lagi pula, kemarin aku hanya membantu karena dia lelet dan kerjaanku pun jadi lama. Bukan karena aku baik hati.

 

Arman kulihat senyum-senyum dari meja kerjanya. Pasti deh bocah itu bakal bikin heboh satu kantor.

 

"Terima kasih, Lis. Saya nggak doyan kopi hitam, Sayangnya." Aku menolak halus, lagi pula aku ingat perkataan Ayu kala itu.

 

"Jangan sembarangan minum kalau disediain perempuan," kata Ayu.

 

"Kenapa?" 

 

"Takut ada guna-guna. Nanti kamu kepelet, kan rugi nanti uang kamu. Mau kamu jadi bangkrut nanti?" 

 

Aku bergidik ngeri saat mengingat perkataan istriku. Ada baiknya aku menjaga diri. Setidaknya, walau kata Ayu aku merki, ya, aku harus setia. 

 

"Oh, maaf, Pak. Mau saya ganti minumnya?" tanya Lisa lagi.

 

"Nggak usah, saya bawa air sendiri." Aku kembali ke meja kerja dan duduk santai.

 

Arman mulai menyenggol lenganku. Sial, anak itu pasti mau bertanya macam-macam.

 

"Gebet, Bro. Lampu ijo itu," cecarnya.

 

Aku menautkan kedua alis, gila aja nih anak nyuruh aku main api? Ayu dingin dan cuek aja kelabakan. Apalagi aku main perempuan, bisa minta ditalak si Ayu.

 

"Buat, lo aja, Bro. Gue masih ada satu bini, itu aja nggak abis." Kusunggingkan senyum pada Arman seolah membuktikan kalau aku pria setia.

 

"Yakin, bahenol, tuh."

 

"Elah, bagusan bini gue."

 

Arman tak bicara lagi setelah aku membuka laptop. Pekerjaan hari ini harus selesai sebelum meeting sore nanti.

 

Pintu ruangan terbuka, Bu Dinda kepala HRD datang menghampiri meja Arman.

 

"Pak Arman, tolong hubungi keuangan CV Buana, namanya Ibu Ayu Ningtias. Cepat, ya. Ini nomer ponselnya." Aku terkesiap mendengar ucapan Bu Dinda. 

 

Apa Ayu itu yang dimaksud adalah istriku? Atau hanya ada kesamaan? Tapi, CV Buana itu bukannya perusahaan kecil yang dibangun Mas Arfan?

 

***

Bersambung

Comments (8)
goodnovel comment avatar
Sumi Yatun
wuih bikin kaget ini kok bisa lsung dg ibu Ayu?
goodnovel comment avatar
Asep Sablon
mulai rame nih..
goodnovel comment avatar
thifan269 MAKE THE AMV
saya terima² saja kalo suami ngasih uang belanja 1,5 juta(karna udah bersihnya segitu,gak perlu mikir kuota,listrik,air,dll) tapi kalo gaji suami saya 15 juta,dan ngasihnya cuman 1,5 juta... yah ngamok lah...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status