Share

Sembilan

POV ibu Damar

"Mas kamu kebangetan. Dia malah membela istrinya dari pada ibu." Aku mulai kesal karena Damar sekarang malah memilih Ayu dari apa aku. 

Aku pun kesal dengan Laras. Sejak dulu dia selalu bertentangan denganku. Seperti sekarang, dia sepertinya lebih berpihak pada Ayu dari pada aku. Kasihan sekali Asih, jatah uang jajannya harus berkurang.

"Iya, aku juga kesal. Masa jatah jajanku berkurang. Bagaimana aku bisa kuliah, Bu? Mana Mba Laras bongkar semuanya. Sebenarnya dia anak ibu apa bukan, sih. Kok malah membela si Ayu itu." Asih pun sama kesalnya denganku. 

Laras anakku, tapi sikapnya berbeda memang. Ia diasuh ibuku dulu karena aku bekerja dan Laras tak mau kembali tinggal bersamaku. Setelah ibuku meninggal, barulah ia kembali tinggal bersamaku.

Namun, ia sangat berbeda. Entah, apa yang ibuku ajarkan padanya. Tak pernah mau menuruti kemauanku. Bahkan, memberikan sebagian gajinya saja tidak mau. Dasar anak durhaka, sekarang malah membawa Damar juga. 

"Bu, aku nggak mau dikurangi uang jajanku. Mana bisa aku dengan uang sekecil itu. Belum ongkos, makan sama yang lain. Lebih baik aku nggak usah kuliah." Asih mengerucutkan bibir.

Aduh, kalau dia tidak mau kuliah, bagaimana nanti masa depannya? Aku nggak mau terus membiayainya. Atau aku suruh nikah sama laki-laki kaya raya saja. Biar dia hidup enak dan aku pun enak.

"Kamu masih mau kuliah, nggak sih?" tanyaku.

"Hmm ... sebenarnya males, sih, Bu. Apalagi Mas Damar saja sudah mengancam aku. Mau belajar sampai kapan pun, otakku nggak akan nyampe," ujar Asih. 

"Kalau gitu, kamu nikah saja. Cari orang kaya, bagaimana?" 

Wajah Asih terlihat kebingungan. 

"Maksud Ibu, aku berhenti kuliah dan menikah saja?" tanya Asih.

"Iya. Bagaimana? Kamu hidup enak, nah, pasti ibu juga bakal hidup enak." 

Asih tak menanggapi ucapanku. Anak itu malah masuk ke kamarnya. Hah, sama saja dia seperti Laras. Kuberikan masukan baik, malah tidak mau dengar.

Laras juga, dulu aku bilang menikah saja dengan juragan Ajung, eh malah menolak dan memilih si Anton itu. Nah, hidup mepet, memberi uang pun dijatah. Dia saja harus bekerja, tidak nurut dengan orang tua, sih.

***

Sudah dua hari aku bungkam dan tak mau mengirimkan kabar pada Damar. Tadi dia mengirim pesan untukku. Tidak mungkinlah aku meminta maaf pada Ayu. Bagaimana derajatku sebagai orang tua.

Semua gara-gara Ayu. Sejak dulu aku tidak suka padanya. Sudah kukatakan, menikah dengan wanita kaya saja. Malah lebih memilih wanita itu. Mana sekarang lebih cantik dan semua barangnya terlihat mewah. Pasti Ayu meminta macam-macam pada anakku. Awas saja, kubuat dia meminta cerai pada Damar. 

Lebih baik kukirim pesan atau kutelepon saja, ya, sih Ayu?

Kuputuskan berkirim pesan padanya. 

[Kamu sengaja, ya, Ayu. Membuat Damar benci sama ibu? Dasar istri nggak tahu diri, suami lagi sakit malah kabur. Sudah nggak becus merawatnya. Malah kabur dan nggak mau urusi Damar.]

Kukirim dan sepertinya sudah dia baca. Pasti dia langsung panik. 

Ternyata cepat juga dia membalasnya. Cepat aku membuka pesan dari Ayu.

[Jangan salahkan aku, Bu. Silahkan Ibu urus anak ibu sepeti dulu. Sudah cukup, aku akan ikuti kemauan ibu. Kukembalikan Mas Damar pada Ibu.]

Benar-benar menantu tidak tahu diri. Begini balasan pada ibu mertuanya? Tidak ada sopan santun sekali si Ayu.

Kesal aku dibuatnya. Jadi, dia mau menceraikan Damar? Kabar baik kalau begitu. Jadi, Damar biar fokus padaku saja. Toh, anak juga akan ikut si Ayu. Kasih saja nafkah seadaanya. Kalau si Ayu menikah lagi, pasti nanti juga ada yang menafkahinya

"Terima kasih, ya." 

Aku mendengar suara Asih dari luar. Sepertinya dia habis di antar seseorang. Kuhampiri anak itu yang baru pulang kuliah.

"Sama siapa tadi, Sih?" tanyaku sambil melongok kanan kiri. 

"Teman kampus." Asih menjawab sekenanya.

"Jangan yang naik motor, Sih. Yang punya mobil kalau mau minta anterin. Nggak ada masa depan, sama aja kaya si Anton." 

Wajah Asih kembali di tekuk. "Bu, kalau mau numpang ya, sama siapa aja. Siapa suruh uang jajanku berkurang."

Asih langsung masuk ke kamar. Langsung saja aku ikuti dia.

"Bu, Asih mau mandi. Ibu ngapain di sini?" tanya Asih.

"Kamu minta maaf ke rumah Mas kamu, sana. Ini, kan sudah tanggal 31. Mas kamu gajian, nanti dia lupa ngaasih ke Ibu." Sengaja aku meminta Asih menelepon Damar.

"Ibu saja. Makanya jangan seperti itu. Ibukan masih butuh Mas Damar, pakai ngambek segala," ujar Asih. 

Benar, sih. Yang susah aku juga kalau seperti ini. Apa aku harus ke rumah Damar saja. Atau bagaimana, ya?

Kuputar otak bagaimana caranya Damar bisa datang ke rumah. Kembali aku menemui Asih.

"Sih, telepon Masmu. Bilang ibu sakit, ini." Kuberikan ponselku pada Asih. Wajahnya masih saja cemberut saat aku meminta dia menelepon Damar.

"Kalau susah saja, Asih yang di suruh-suruh."

Walau mengeluh, Asih sama seperti Damar. Dia selalu menuruti kemauan ibunya. Aku mendengarkan saja saat dia menelepon.

"Kata Mas Damar, ibu ke dokter saja sama aku. Dia belum pulih benar, dia aja tinggal sama Mba Laras sekarang."

"Kok, sama Mba Laras?"

"Iya, kan, istrinya kabur. Ibu nggak mau ngurusin dia, jadi dia tinggal di rumah Mas Anton."

"Dia nyuruh ke dokter, uangnya bagaimana?" tanyaku.

"Nanti sekalian di transfer, atau kalau ke rumah."

Halah, gagal deh nyuruh si Damar ke rumah. Biasanya hari ini dia sudah mentransfer sejumlah uang dan aku bisa makan enak di luar.

Nasib, punya anak kok durhaka. Kok nggak ada nyenengin ibunya. Awas saja kalau nggak datang ke rumah. 

***

Saat kudengar mobil Laras, gegas aku berbaring dengan tempelan koyo di kanan kiri dahi. Tidak lupa aku tutup tubuh ini dengan selimut.

"Ibu mana, Sih?" terdengar suara Damar bertanya pada Asih.

"Di dalam, Mas." 

Derap langkah semakin mendekati kamar. Seperti akan ada yang masuk, segera saja aku pura-pura batuk.

"Bu," panggil Damar. 

"Kamu sama siapa?" tanyaku.

"Diantar Mba Laras." Damar duduk di pinggir ranjang sembari menatapku yang terbaring.

"Tuh, bener, kan ibu paling meriang." Suara Laras tiba-tiba memecah keheningan. 

Merusak suasana saja si Laras ini. Datang bukannya cemas sama ibunya, malah bikin Damar tidak cemas lagi, kan.

"Sudah ke dokter belum, Bu?" tanya Laras.

"Sudah, ke puskesmas." Aku manjawab datar.

"Katanya ke dokter?" Wajahnya seperti mengintimidasiku. 

"Mana uangnya?" Aku mengulurkan uang pada Laras. 

"Punya ibu kok matre amat. Pakai aja uang ibu, nanti, kan bisa diganti," ucapnya tanpa berdosa.

"Mulut kamu tuh pedes, amat, sih, Ras," kataku kesal.

"Lah, turunan ibu ini." Dia malah tertawa. 

Aku tersenyum kecut. Begitulah anak pertamaku yang selalu berbeda pendapat. Bukannya kasihan melihat ibunya sakit, eh malah seperti itu.

"Bu, setelah sembuh, ikut aku ke rumah Ayu. Minta maaf sama dia, Bu. Aku mau memperbaiki rumah tangga dengannya," pinta Damar.

"Apa?Minta maaf? Mau taruh di mana harga diri ibu, harusnya dia yang datang meminta maaf. Nggak becus urus kamu, malah kabur dengan alasan nggak cocok sama ibu." Aku membuang wajah. Demi apa pun, aku tidak sudi meminta maaf.

"Bu, tolong sekali saja." Wajah Damar memelas. Alah, hanya karena wanita seperti itu dia sampai memohon padaku. 

Enak saja aku meminta maaf. Sampai kapan pun tidak akan sudi.

Sejenak Damar tak memohon karena dia mendapat telepon. Dia bangkit dan keluar dari kamar.

Biar saja kalian bercerai. Toh anakku juga tidak jelek banget. Bisa mencari wanita lain yang lebih baik dan penurut. Tidak seperti Ayu yang pembangkang.

Damar masuk ke kamarku. Namun, ada yang aneh, wajahnya terlihat begitu emosi. Ada apa dengan anakku?

"Bu, apa maksud ibu mengirimi Ayu pesan ini? Belum selesai masalahku, sudah dibuat panas lagi dengan pesan ibu. Ibu mau aku bercerai sama Ayu, hah?" Damar begitu emosi padaku.

"Iya, ceraikan saja wanita pembangkang kaya dia. Di dunia ini pun banyak wanita, bukan hanya satu!" 

Brakk ....

Damar memukul keras pintu kamar hingga membuat aku ketakutan. Astaga, dia benar marah padaku?

***

Bersambung

Comments (20)
goodnovel comment avatar
Dyah Ayu Fatimah Azzahra
gemess suaminya P A
goodnovel comment avatar
Ahmad Sukari
pak ustad bgmn pendapat anda ?
goodnovel comment avatar
Rinawati Sianturi
emosi lihat mertuany ayu
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status