Share

TERIMALAH HUKUMAN DARIKU, SAYANG

Di tempat lain.

"Dewa kayaknya aku harus pulang sekarang."

Nada melihat jam di handphone-nya lalu merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan berkemas untuk segera pulang. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Tak terasa sudah hampir dua jam Nada dan Dewa mengerjakan tugas kuliah.

Memang setelah keluar dari kafe tadi Dewa tidak langsung mengantar Nada untuk pulang tetapi mereka berdua pergi dulu ke tukang nasi goreng langganan mereka untuk makan malam.

Saat berada di tukang nasi goreng, mereka juga mengerjakan tugas-tugas kuliah seperti yang biasa mereka sering lakukan setiap kali Nada pulang dari kerja part time. Malam ini karena Nada lembur sampai jam sebelas malam mereka mengerjakan tugasnya juga selesai lebih malam.

Dan sekarang, bayangan Radit muncul di pikirannya. Dia pun takut jika Radit marah padanya karena sudah pulang terlambat.

"Kalau begitu berikan bukumu kepadaku! Biar aku selesaikan di rumah nanti!"

Dewa tanpa izin dari Nada langsung mengambil kembali tas Nada dan mengambil buku laporan tugas milik Nada dan mengambil laptop Nada, membuka file laporan praktikum Nada yang belum selesai dan mengirim ke email milik Dewa. Dewa berencana untuk meringankan beban Nada dengan memberi bantuan untuk tugas kuliah sebanyak yang Dewa bisa.

"Kamu sudah membantu banyak! Biar aku selesaikan sisanya nanti di rumah!" Nada mencoba bernegosiasi dengan Dewa.

"Biar aku saja yang kerjakan! Kamu sudah cukup lelah hari ini, sampai rumah istirahat lah!" Dewa tersenyum dan memasukkan kembali laptop Nada setelah laporan praktikum Nada terkirim ke emailnya.

Nada pun tidak bisa menolak lagi dan mengikuti kemauan Dewa. Bagaimanapun, dia tetap berterima kasih pada pria itu.

Selesai beberes, Dewa pun langsung menyalakan mesin motornya. Mereka segera melaju ke jalanan menuju ke rumah Radit.

Beberapa saat kemudian, motor Dewa sampai di depan rumah Radit.

Nada langsung turun dari motor, lalu melambaikan tangan kepada Dewa sambil tersenyum sebelum masuk ke rumah.

Setelah memastikan Nada sampai di rumah dengan aman, Dewa pun kembali menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan rumah Radit.

Sementara di dalam rumah, Nada tampak celingak-celinguk sambil menutup pintu ruang tamu perlahan. Suasana di dalam rumah Radit sudah gelap menandakan bahwa semua penghuni rumah sudah tidur. Lalu Nada berjalan perlahan menuju ke kamarnya.

“Untunglah mereka semua sudah pada tidur! Lagian, siapa juga yang mau bangun di jam setengah dua malam seperti ini! Hahaha! Nada, habislah kamu besok! Mereka berdua pasti akan menerjangmu bagaikan harimau kelaparan! Habis mau bagaimana lagi, hari ini aku harus lembur di kafe! Belum lagi aku harus mengerjakan tugas-tugasku! Dewa juga sepertinya sengaja mengendarai motornya sangat pelan tadi. Hah, bodo amat! Kalau mereka berdua besok akan marah kepadaku, aku akan menerimanya dengan lapang dada! Memang ini adalah kesalahanku,” oceh Nada dengan berbisik pelan saat dia menaiki tangga ke lantai 2.

Nada yang masih berjalan mengendap-endap perlahan membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali, dan setelah itu menyalakan lampu kamar.

Klik.

"Sudah puas keluyuran tengah malam?"

"Kyaaaaaak...!" Nada berteriak saat mendengar suara baritone khas pria itu ada di kamarnya.

Radit saat ini sedang duduk bersandar di tempat tidur Nada. Dengan tatapan penuh makna, Radit menatap langsung ke mata Nada bagaikan busur panah yang melesat tepat pada pusat sasarannya membuat nyali Nada ciut.

"Maafkan aku, aku pulang terlambat. Sebelum pulang tadi, aku mengerjakan tugas dulu sambil makan di tukang nasi goreng," jawab nada jujur sambi menunduk, bahkan sebelum Radit bertanya kepada Nada.

"Sudah jelas aku katakan tadi di kafe, habis bekerja, jangan mampir ke mana-mana dulu dan langsung pulang ke rumah!" Radit akhirnya berbicara dan berdiri mendekat ke arah Nada hingga mereka berdiri berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter.

"Maafkan aku!" Nada menunduk tak berani menatap ke arah wajah Radit

"Kamu tahu siapa aku?" tanya Radit kemudian sambil menaruh kedua tangannya di depan dadanya

Nada mengangguk. "Tuan Raditya Abimanyu Prayoga," jawab Nada menyebutkan nama Radit

"Aku tahu kalau kamu sudah hapal namaku sejak kita bertemu pertama kali! Maksud dari pertanyaanku, Apa hubunganku denganmu?" tanya Radit lagi, mencoba membuat Nada lebih mengerti arti dari pertanyaannya

"Suami," jawab Nada pelan.

"Malam ini, aku ada di sini, apa kamu tahu kenapa? Apa kamu tahu juga kesalahanmu hari ini?" Radit kembali berbicara kepada Nada.

Nada mengangguk.

"Katakan!" Radit diam, dan menunggu Nada menjawabnya. Agak lama, hingga akhirnya Nada membuka suara.

"Aku pulang larut malam."

"Kesalahan lainnya?"

"Tidak langsung pulang ke rumah."

"Kesalahan lainnya?"

"Aku tidak tahu kesalahan yang lainnya..." jawab Nada jujur

"Kamu pulang dengan siapa?"

"Dengan temanku," jawab Nada sangat ketakutan dan suaranya pun bergetar.

"Teman?" Radit mengerutkan keningnya, tatapan matanya semakin tajam dan menggelap.

Nada mengangguk pelan dan meremas kedua tangannya karena cemas.

Melihat sikap Nada yang tampak gelisah sambil meremas kedua tangannya itu, membuat Radit tahu jika Nada sedang berbohong kepadanya. Selama tinggal bersama dengan Nada, dia memang sudah beberapa kali melihat kebiasaan ini dari Nada saat wanita itu sedang panik, ketakutan ataupun cemas.

"Kamu mau membohongiku?" tanya Radit lagi kepada Nada.

"Tidak, dia memang temanku. Kami satu kelas di kampus. Tapi, hubungan kami saat ini rumit,” jawab Nada jujur kepada Radit masih sambil menunduk tak berani menatap ke mata Radit.

“Rumit? Maksudmu, pacar?”

Pertanyaan Radit sontak mengejutkan Nada. Dari mana pria itu tahu jika dia pernah berpacaran dengan Dewa?

Nada pun buru-buru menjelaskan, “Bukan, dia bukan pacarku. Kami sudah putus.”

Radit tidak langsung menanggapi. Dia masih menatap Nada dengan pandangan yang dalam.

"Dia mengetahui hubungan kita?" tanya Radit menyelidik.

Nada mengangguk.

"Kamu menceritakan semuanya?" tanya Radit lagi. Saat ini raut wajah Radit sudah tidak lagi datar, tapi menunjukkan kekesalan dan kemarahan pada Nada.

Nada kembali mengangguk.

"Apa aku mengizinkanmu untuk menceritakan ini kepada orang lain selain anggota keluargaku?"

Nada menggeleng.

"Lalu, Kenapa kamu katakan rahasia yang seharusnya tidak kamu beritahu kepada siapa pun?"

"Maafkan aku, Radit! Hanya itu yang dapat aku lakukan saat aku harus memutuskan hubunganku dengannya. Dia tidak menerima alasan apa pun yang aku berikan. Barulah ketika aku berikan alasan itu, dia membiarkanku pergi." Nada tertunduk dan butiran air mata mulai mengalir dari sudut matanya.

"Lalu hari ini, dia ingin kembali lagi padamu?" tanya Radit masih di posisi berdiri yang sama.

Nada mengangguk.

"Walaupun dia tahu hubungan kita?"

Nada mengangguk lagi.

Ada rasa tidak suka dalam hati Radit saat mengambil kesimpulan seperti yang baru saja diutarakan dalam hatinya. Dia berpikir jika pria bernama Dewa itu benar-benar cinta pada istrinya, Nada. Sedikit ada rasa kesal, karena harga dirinya dan rasa kepemilikannya terganggu.

Lalu, tiba-tiba saja Radit melangkahkah kakinya berjalan perlahan ke arah Nada. Radit seketika menarik tubuh Nada hingga kini tubuh wanita itu bersentuhan dengan dada bidangnya.

Pergerakan Radit yang tiba-tiba membuat Nada tidak bisa melakukan perlawanan. Tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya pun terasa kuat dan tidak mudah untuk dirinya melepaskan diri dari kungkungan pria itu.

Nada pun hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Radit dengan jarak dekat seperti ini. Sementara Radit menundukkan kepalanya sambil menatap tajam ke arah Nada.

Suara berat dan seksi serta desah napasnya yang panas menggelitik telinga Nada saat pria itu berbisik dengan pelan, "Kamu akan mendapat hukuman malam ini!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status