Share

Bagian 8

Derap kaki kuda sedikit mengusik para penghuni hutan. Burung-burung liar terbang serentak, melarikan diri. Sementara beberapa ekor rusa berlarian ke bagian dalam hutan yang lebih rimbun.

Iring-iringan kuda tersebut adalah rombongan Kerajaan Arion. Mereka tengah memenuhi undangan Kerajaan Khaz dalam kompetisi pedang tahunan. Surat undangan itulah yang diterima Raja Faryzan beberapa hari lalu. Hadiah untuk pemenang tak main-main, bisa memperistri Putri Kheva, sang bunga Kerajaan Khaz. Artinya, akan terjalin kerja sama amat menguntungkan mengingat Kerajaan Khaz sangat kuat di bidang militer maupun ekonomi. 

Pangeran Ardavan tampak sangat antusias, memimpin perjalanan dengan wajah semringah. Dia bahkan meninggalkan rombongan adik-adiknya di belakang. Kabar kecantikan Putri Kheva dari Kerajaan Khaz memang telah lama menjadi buah bibir. Lelaki genit sepertinya tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memperistri sang putri. 

Sebenarnya, Pangeran Ardavan juga sempat mengincar Gulzar Heer. Beruntung, sang kesatria wanita sudah mengucapkan sumpah setia kepada Pangeran Fayruza. Dia pun terbebas dari bahaya pelecehan seperti yang dialami para pelayan dan dayang yang melayani Pangeran Ardavan.

“Hei, lesu sekali wajah kedua adikku ini! Semangatlah sedikit, sebentar lagi, kalian akan bertemu putri yang katanya sangat cantik. Lihatlah si tukang main perempuan semangat sekali dia. Ah, jangan-jangan kalian tidak suka perempuan?” goda Putri Arezha.

Pangeran Fayruza dan Pangeran Heydar kompak menghela napas berat. Keduanya memang sempat menolak ikut kompetisi berpedang untuk memperebutkan Putri Kheva. Namun, Raja Faryzan telah menurunkan titah yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka mau tidak mau, suka tidak suka harus berpartisipasi.

“Kompak sekali kalian. Aku mengerti penolakan dari Fayruza karena ada gadis yang disukainya, tapi kenapa kamu ikut-ikutan tak ingin ikut kompetisi juga, Heydar? Kau tidak mungkin takut kalah dari si tukang main perempuan, ‘kan? Kukira dia pasti akan kalah telak darimu?” celetuk Putri Arezha lagi.

“Ya, seperti Fayruza yang memiliki orang yang disukai, aku juga punya, Kakak,” sahut Pangeran Heydar. Sorot mata elangnya lurus menatap Shirin. Gadis pelayan itu langsung menunduk dengan pipi bersemu.

“Ada gadis yang disukai Pangeran Fayruza?” cetus Gulzar Heer tanpa sadar, membuat Pangeran Fayruza terbatuk-batuk dengan wajah memerah.

Putri Arezha tergelak. Tentu saja ada, Gulzar Heer. Dia memperlihatkan rasa sukanya dengan sangat jelas. Masa kamu tidak sadar?” Sang putri mengerling kepada adiknya. “Ya ampun, Fayruza! Kamu harus segera menyatakan perasaan. Gadis yang kamu cintai sangat tidak peka.”

Gulzar Heer terperenyak. Tanpa sadar tangannya mengenggam erat tali kekang kuda. Ada perih menyusup perlahan dalam dada. Selama ini, dia beranggapan tidak ada gadis yang menarik hati Pangeran Fayruza, sehingga pemuda itu selalu lari dari perjodohan. Pernyataan Putri Arezha mematahkan hati sang kesatria.

“Patah hati? Tidak! Tidak! Aku tidak mungkin selancang itu berani menaruh hati pada Pangeran Fayruza.” Gulzar Heer mengomel sendiri di dalam hati.

Bruuuk!

“Gulzar!”

Pangeran Fayruza langsung melompat dari kuda saat melihat wanita pujaan hati terguling di tanah. Sementara itu, Gulzar Heer mengusap kening yang benjol. Hati yang galau bahkan bisa membuat pengendara kuda terbaik Kerajaan Arion sampai terjatuh dari kuda kesayangan rupanya.

Putri Arezha terkekeh. Dia dan Pangeran Heydar ikut turun dari kuda. Mereka menyeringai, bersiap untuk menggoda sang adik dan kesatrianya.

“Romantis sekali kalian ha ha ha,” ledek Pangeran Heydar.

“Jantungku sampai ikut berdebar karenanya,” timpal Putri Arezha tak mau kalah.

“Bercanda Anda sekalian kelewatan, Pangeran Heydar, Putri Arezha,” ketus Gulzar Heer.

“Bercanda? Kak Arezha, lihatlah nasib adikmu yang lembut dan penuh kasih sayang ini, pujaan hatinya begitu tidak peka,” goda Pangeran Heydar lagi.

“Pangeran ... Anda tolong jang–”

Gulzar Heer mendadak hening. Sorot matanya berubah tajam, melirik ke arah rimbunnya hutan. Putri Arezha dan Pangeran Fayruza mengerutkan kening. Mereka hampir saja membuka mulut. Namun, Gulzar Heer cepat meletakkan telunjuk di depan bibir. Pangeran Heydar seolah mengerti, langsung mencabut pedang dengan waktu yang bersamaan dengan Gulzar Heer.

Trang!

Suara pedang beradu memkakkan telinga. Tepat waktu! Sabetan pedang sosok-sosok berbaju hitam berhasil ditangkis. Selanjutnya, dengan satu gerakan kilat, Gulzar Heer memutar pedangnya. Darah menyembur ke udara. Satu orang roboh dengan kepala terguling di tanah. Sementara Pangeran Heydar lebih memilih melakukan tusukan telak ke dada musuh, hingga pria berpakaian serba hitam itu tersungkur tak berdaya. 

"Kyaaa!" Shirin menjerit histeris.

Putri Arezha bergerak cepat menenangkan. Dia memang sedikit berbeda dengan putri kebanyakan yang akan mengalami syok ketika berada di pertempuran berdarah. Mungkin sering berada di dekat Pangeran Fayruza dan Gulzar Heer membuatnya terbiasa.

"Tetap waspada, Gulzar! Sepertinya, masih ada lagi," titah Pangeran Heydar.

Dugaan Pangeran Heydar tidaklah meleset. Sosok-sosok berbaju hitam lainnya melompat cepat dari pohon. Kini, mereka harus berhadapan dengan lima pembunuh bayaran. Gulzar Heer juga bisa merasakan keberadaan lima orang lagi bersembunyi di balik pepohonan.

Pangeran Heydar dan Gulzar Heer kembali bersiap dalam posisi siaga. Pangeran Fayruza langsung membuat barrier dari air untuk melindungi Putri Arezha dan para pelayan yang ikut serta dalam perjalanan. Beruntung, ada sungai tak jauh dari mereka, sehingga dia bisa menggunakan airnya.

Pangeran mengerling ke arah Gulzar Heer dan berseru, “Ayo kita mulai, Gulzar!”

Gulzar Heer mengangguk. Dua orang musuh memburu. Dia merunduk, lalu menebaskan mata pedang ke samping, menyobek pinggang dan dada lawan. Dua tubuh berlumur darah roboh ke tanah.

Satu sosok berbaju hitam lagi mengincar dari belakang. Gulzar Heer melakukan tendangan berputar, tepat mengenai alat vital si penjahat, membuatnya jatuh dengan posisi berlutut. Pedang kembali ditebaskan, meninggalkan luka menganga di bagian punggung lawan.

Sementara itu, Pangeran Heydar mengayunkan pedang dengan luwes seolah sedang menari. Namun, tusukan-tusukannya memiliki akurasi dan presisi tinggi, membuat lawan berjatuhan dengan bersimbah darah. Gaya bertarung sang pangeran memang berbeda, lebih berseni. Dia mempelajarinya dari orang-orang timur saat berpetualang keliling dunia 4 tahun yang lalu.

“Gulzar, awas!”

Pangeran Fayruza menahan napas saat melihat salah seorang pembunuh melompat dari atas pohon menerjang Gulzar Heer. Sang kesatria wanita langsung mengarahkan pedangnya ke atas. Darah menyembur, membasahi wajah dan baju zirah saat ujung pedang menusuk leher musuh. Pertarungan sengit berakhir.

Setelah menguburkan 12 mayat pembunuh bayaran dan membersihkan diri dari darah, mereka melanjutkan perjalanan. Rombongan Pangeran Ardavan berhasil disusul. Melihat adik-adiknya dalam keadaan sehat tak kurang satu apa pun, pangeran pertama itu menggemeletukkan gigi diam-diam. 

“Sial, para pembunuh bayaran itu selalu saja tidak berguna!” desisnya. “Hari sebentar lagi gelap, ayo kita harus bergegas!” titahnya lagi setelah berhasil menguasai emosi. Namun, baru saja mereka memasuki wilayah Kerajaan Khaz, Jeritan misterius seorang gadis mengejutkan rombongan. 

“Kyaaa!” 

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status