Share

Bagian 10

Rombongan Kerajaan Arion tiba di Kerajaan Khaz tepat setelah matahari terbenam sempurna. Mereka segera memasuki aula utama. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian para pangeran dari kerajaan lain yang telah datang lebih dulu. Tentu saja, Pangeran Heydar yang paling menjadi buah bibir mengingat kemampuan berpedangnya memang tersohor.

“Salam hormat kami kepada Raja Khamzad,” cetus Pangeran Ardavan sembari membungkukkan badan begitu mereka berada di hadapan Raja Khamzad, penguasa Kerajaan Khaz.

Pangeran Fayruza dan Pangeran Heydar turut membungkukkan badan di belakangnya. Putri Arezha melakukan penghormatan selayaknya seorang putri. Sementara seluruh kesatria dan pelayan yang mengiringi melakukan salam hormat dengan berlutut.

“Salam kepada para tamu agung dari Kerajaan Arion.” Hening sejenak. “Aku sudah mendengar dari Kheva bagaimana kalian menyelamatkannya dan Manvash. Kami atas nama Kerajaan Khaz mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”

“Kami hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan.” Pangeran Ardavan bersikap seolah tulus dan merendah, padahal dalam hatinya berharap menapatkan perhatian Raja Khamzad karena telah menolong putrinya.

Setelah berbasa-basi beberapa saat, Raja Khamzad memerintahkan kepala pelayan untuk mengantarkan para tamu agung itu ke kamar yang telah disiapkan. Kompetisi pedang memang baru akan diadakan besok pagi. Mereka sempat saling bertegur sapa dengan peserta kompetisi dari kerajaan lain sebelum meninggalkan aula utama Kerajaan Khaz.

***

“Gu-Gu-Gulzar, kenapa kamu di sini?”

Pangeran Fayruza tergagap saat menyadari Gulzar Heer ikut masuk ke kamarnya. Jubah yang hampir dilepas, dirapikan dengan terburu-buru. Tadinya, dia berniat langsung mandi karena tubuh sudah terasa lengket.

“Tentu saja hamba harus menjaga Anda semalaman agar bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan, Pangeran. Pembunuh bayaran tadi bisa saja masih ada kawanannya yang berkeliaran,” sahut Gulzar Heer dengan penuh rasa hormat.

“Justru kalau kamu ada di sini aku tidak bisa tidur tenang, Gulzar!” jerit Pangeran Fayruza dalam hati.

Dia tahu tidak mungkin mengatakan alasan tersebut. Sang pangeran pun memutar otak. Senyumnya terkembang begitu menemukan ide cemerlang.

“Bukankah sebaiknya kamu menjaga Kak Arezha?”

Gulzar Heer menggeleng tegas.

“Hamba adalah kesatria Anda dan Putri Arezha juga sudah memiliki kesatria sendiri.”

Pangeran Fayruza menghela napas berat. Dia tahu jika Gulzar Heer sudah memasang wajah tegas, tidak akan bisa diganggu gugat. Tekad gadis itu sudah bulat. Pangeran Fayruza pun memutuskan untuk mandi saja. Paling tidak badan dan pikiran bisa menjadi lebih segar. Tentunya, dia terpaksa membawa serta pakaian, terlalu memalukan kalau harus menggantinya di depan Gulzar Heer.

“Ternyata, Anda mandi lama juga. Hampir saja saya membuka paksa pintu kamar mandi karena khawatir,” cetus Gulzar Heer begitu Pangeran Fayruza keluar dari kamar mandi.

“Jika kamu melakukannya, aku bisa pingsan karena malu,” jerit hati Pangeran Fayruza.

“Anda baik-baik saja, ‘kan?”

Pangeran Fayruza mendengkus. “Haruskah bersikap formal saat kita berdua saja?”

“Ah, maaf, Fay.” Gulzar Heer menatap langit gelap di luar. “Sudah larut malam, sebaiknya kamu segera beristirahat,” cetusnya sambil menutup jendela.

Pangeran Fayruza tak ingin berdebat, memilih untuk menurut saja. Dia segera berbaring di ranjang, lalu memejamkan mata, mencoba tidur, tetapi otak terus bekerja. Tubuh seketika memanas saat dirasakannya tangan kokoh merapikan selimut, juga menyentuh wajahnya dengan lembut.

“Tidurlah dengan nyaman, Fay,” bisik Gulzar Heer. Namun, dia segera berdiri tegap dengan pipi bersemu.

“Apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar gila! Beraninya menyentuh wajah Fay!’ Gulzar Heer mengomel sendiri dalam hati.

Sementara itu, sang pangeran berusaha keras menahan gejolak dalam dada. Pipinya terasa hangat dan jantung berdetak dengan kecepatan tinggi. Malam itu, sudah dapat dipastikan Pangeran Fayruza tidak akan bisa tidur dengan tenang.

***

Sinar mentari terasa hangat. Embun pagi masih menetes dari dedaunan. Cicit burung-burung kecil di pepohonan menambah semarak arena kompetisi. Pertandingan berpedang memang dilaksanakan di lokasi khusus. Kerajaan Khaz membangun arena kompetisi mewah dan kokoh di tengah hutan. Para penonton sudah berdesakan dan riuh.

Kompetisi akan dibagi ke dalam dua grup. Peserta pada masing-masing grup, akan duel untuk mendapatkan pemenang. Setelah itu, barulah akan diadakan pertandingan final antara pemenang dari kedua grup.

Saat wasit mengundi nama peserta yang akan dimasukkan ke dalam grup, kursi kehormatan telah diisi oleh raja dan para putri. Raja Khamzad duduk paling terdepan. Baris kedua ditempati Putri Kheva yang yang diapit oleh Putri Manvash dan Putri Arezha. Gulzar Heer berdiri tegap di belakang kursi Putri Arezha bersama Shirin. 

“Akhirnya, kakakku memiliki lelaki yang wajar untuk disukai,” goda Putri Manvash ketika menyadari sang kakak diam-diam melirik Pangeran Heydar.

“Berisik sekali kamu, Manvash!” gerutu Putri Kheva dengan pipi bersemu.

“Ya, kali ini, Kakak benar-benar menyukai lelaki normal bukan raja kejam seperti Raja Atashanoush dari Kerajaan Asytar.”

Telinga Putri Arezha langsung berdiri begitu mendengar nama raja yang terkenal dengan ketampanannya itu. Sementara itu, Shirin langsung gemetaran. Gulzar Heer menepuk pundaknya untuk menenangkan.

“Kamu tidak tahu betapa kuat dan hebatnya Raja Atashanoush.  Dia bisa membunuh belasan bozkou seorang diri.” Putri Kheva mendengkus. “Dan lagi, meski seumuran ayah, dia masih terlihat muda, juga tampan. Tidak pernah kulihat lelaki yang lebih tampan darinya."

Putri Kheva terus memuji-muji Raja Atashanoush. Namun, dia juga seolah menegaskan hanya sekedar mengagumi, tak berharap lebih karena konon katanya mendiang ratu Kerajaan Asytar begitu memesona. Kalau tak kuat hati, para lelaki bisa langsung gila saat melihatnya. Putri Manvash mendengarkan dengan ekspresi wajah malas.

Berbeda dengan Putri Arezha yang duduk di sisi kiri Putri Kheva. Matanya berbinar-binar. Ambisi untuk menyusup ke Kerajaan Asytar semakin menggebu. Dia mulai merencanakan berbagai taktik untuk merayu Delaram agar mengizinkan membawa Gulzar Heer pergi bersama.

“Pengundian telah selesai! Saya akan mengumumkan hasilnya!” Seruan wasit kompetisi mengalihkan perhatian para putri.

Lelaki berjanggut tebal itu membacakan pengumuman. Berdasarkan hasil pengundian, Pangeran Ardavan dan Pangeran Fayruza berada di grup pertama, sedangkan Pangeran Heydar di grup kedua. Sebenarnya, ada sedikit keanehan pada hasil undian tersebut, para pangeran dan kesatria yang memiliki kemampuan pedang tingkat tinggi berada di grup kedua.

Wasit mengangkat tangan dan berseru, “Kita akan memulai pertandingan pertama!”

Arena pertandingan menjadi riuh, para penonton saling memberi dukungan untuk pangeran atau kesatria yang dijagokan. Wasit kembali mengangkat tangan untuk menenangkan masa. Suasana seketika menjadi senyap.

“Pertandingan pertama ini akan sangat menarik, kita akan langsung  menyaksikan kompetisi dua bersaudara dari Kerajaan Arion, Pangeran Ardavan dengan Pangeran Fayruza!”

Sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh. Kedua pangeran maju ke arena pertandingan. Wasit memasangkan gelang dari permata heez di tangan mereka. Permata ini memiliki fungsi untuk mengunci mana sehingga tidak bisa digunakan agar kompetisi murni untuk menilai kemampuan berpedang.

“Aku merasakan firasat buruk soal ini,” celetuk Putri Arezha, membuat Gulzar Heer mengepalkan jemari.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status