Share

⁶ | Dan si Zoologist

Tak memiliki pilihan setelah pernyataan ayahnya didengar, Jasper pun mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah dan dari balik jendela, tampak Jasper sedang memaksa istrinya untuk keluar memberikan Abigail kepada Louis. Meskipun wanita itu ragu, pada akhirnya ia keluar dengan Abigail dalam gendongannya membuat Louis sedikit terbelalak mengetahui fakta bahwa Abigail bukan lagi seorang bayi karena dia muncul dalam balutan baju tidur yang cantik dengan rambut pendek mencapai daun telinganya. Tampak sangat cantik dan membuat Louis tersenyum ketika menarik Abigail ke dalam gendongannya karena gadis kecil itu memiliki mata Celestine tapi lebih gelap jadi tampak seperti biru miliknya yang tak terlalu terang.

"Ya, ucapan ayahmu membuktikan bahwa Abigail memang lebih baik bersamaku daripada denganmu, Joseph. Terima saja." Joseph hanya meludahi rumputnya sekali dan Louis pergi setelah seringainya. Namun, ia berbalik dengan cepat ketika Celestine memanggil namanya.

Lalu tangan Celestine menggenggam milik Joseph sehingga kedua pasang mata itu bertemu. "Aku harus ikut dengan Louie. Bagaimanapun, Abigail adalah putriku dan dia bisa menangis kapan saja. Setidaknya, aku harus ada di sana untuk menjaganya. Jika tidak, aku akan merasa sangat khawatir." Telapak sebelah kanan Celestine kini beralih untuk menangkup satu sisi pipi kekasihnya itu. "Kau mengizinkanku, Joseph? Kumohon, untuk putri kita."

Joseph mengalihkan pandangannya untuk menatap Louis dengan seringainya sekilas yang membuatnya mual tiba-tiba lalu beralih menatap wajah cantik nan polos milik Abigail dan berakhir menatap Celestine di hadapannya. Dengan begitu, Joseph pun membuat keputusan dan berkata, "Baiklah." Sehingga senyum Celestine mengembang seketika.

"Aku berjanji akan segera pulang bersama Abbie." Dan ia pun memberikan kecupan singkat pada pipi Joseph yang lalu membuat pria itu menautkan bibirnya dengan milik Celestine mendorong tangan Louis terangkat menutupi sepasang mata biru Abigail seraya memutar kepalanya agar tak lagi menatap pemandangan menjijikan itu bagi Louis. Setelah itu, Celestine pun menghilang untuk mengepak barang dan menghilang bersama Louis dan Abigail meninggalkan pekarangan rumah Stefar dengan mobil Louis.

Abigail yang terduduk di pangkuan Celestine di samping Louis, sesekali tertawa karena candaan ringan buatan pamannya yang menuntun bibir Celestine untuk menumbuhkan senyuman lainnya.

Pada dasarnya, Celestine memang sudah bahagia bersama Joseph dan keluarga kecilnya. Namun, terkadang ia juga merindukan kebahagiaan lainnya seperti; menghabiskan waktu untuk bercanda atau sekadar mengobrol dengan keluarganya seperti dulu, atau bahkan merindukan hal-hal kecil seperti senyuman Louis yang menampakkan gigi-gigi tak rapihnya yang menggemaskan (karena hanya Louis yang memiliki gigi tak rapih dalam keluarga) atau wajah kesal Anthony apabila ayahnya kembali membicarakan soal Pendidikan ataupun Wistletone's School, atau menatap gaun ibunya dengan motif bunga-bunga yang cerah serasi dengan pemilihan topi yang terkadang miring di kepalanya, atau pelukan Virginia yang paling sering dirasakannya dalam suka maupun duka, atau bahkan, kisah yang diceritakan ayahnya pada hari lenggangnya meskipun ia sudah dewasa.

Semua itu dirindukannya dan mengingat fakta ia akan kembali sekarang, semua perasaan itu berkumpul memenuhi hatinya membawa kembali air mata bahagia lama yang pernah menghampirinya.

"Oh, Celestine, kau menangis? Mengapa?" Saat itu pula Celestine menghapus air matanya sebelum jatuh lebih banyak daripada sebelumnya.

"Tidak, tapi hanya salah satu wujud kebahagiaan yang jarang diperhatikan." Louis tersenyum menanggapi sehingga Celestine pun melanjutkan ucapannya sembari mengelus rambut Abigail dengan penuh kasih sayang. "Untuk apa senyuman itu?"

"Kupikir kau lebih pantas menjadi penerus pap daripada Anthony. Maksudku, kau memang terbiasa mengembangkan kata-katamu lalu merangkainya menjadi indah. Mungkin kau tertarik dengan Sastra dan Pendidikan."

Sepasang alis Celestine menyatu singkat. "Anthony tidak mengajar Bahasa, 'kan?"

Louis menggeleng setelah memalingkan pandangannya ke arah jalanan. "Ekonomi. Seharusnya dia menjadi businessman, 'kan? Tapi biarlah, kita memang tak bisa mendapatkan semua yang kita butuhkan dan inginkan. Semuanya selalu memiliki batas." Celestine baru saja mencoba membuka mulutnya namun dengan cepat Louis mengangkat telunjuknya meminta izin untuk melanjutkan ucapannya. "Ya, Celestine, aku tahu. Kalahkan batasannya!" ucapnya dengan intonasi nada yang menguat diisi sedikit emosi layaknya pidato yang menuntut hak atau membahas nasionalisme. "Tapi sungguh, batasan tetap ada dan kita tak bisa menghancurkan semuanya. Satu batasan hancur yang lain bertengger layaknya rambu-rambu lalu lintas di jalanan." Sehingga Celestine tersenyum bersamaan dengan mendorong tubuhnya untuk bersandar kepala kursi.

Ketibaan Louis sudah dinantikan oleh ibunya dan Virginia yang sekarang tampak berdiri di teras rumah dengan wajah khawatirnya. Namun, setelah Louis memarkirkan mobilnya, pria itu tak berlari ke arah ibunya ataupun Virginia, melainkan ke arah seorang pria dalam setelan jas berwarna hitam dengan sedikit garis di pergelangan tangannya lalu memeluk pria itu erat.

"Dan." ucapnya setelah menarik diri untuk menatap wajah si pria beserta senyumannya sedangkan ibunya dan Virginia justru tampak terkejut dengan kemunculan Celestine dan Abigail. Bukan karena mereka tak tahu mengenai Abigail. Namun, karena sudah hampir setahun Celestine tak pulang ke rumah.

"Luxemburg!" pekik pria di hadapan Louis ketika baik ibunya, Virginia, maupun Celestine dan Abigail, menghilang dari area teras berpindah ke sekitar perpustakaan, mencoba menemukan Anthony dan Richard yang sedang disibukkan tumpukan buku. "Empat tahun menghilang dari Newcastle, wajahmu semakin jelek saja dengan lebam dan sudut bibir yang berdarah."

Louis yang mendengar jawaban sahabat lamanya itu langsung melemparkan tamparan kecil ke arah pipinya membuat Dan mengelus pipi miliknya menyebabkan Louis terkekeh. "Sudah lama sekali aku tak melihatmu. Aku hampir lupa wajahmu dan ucapanmu tetap kurang ajar seperti dulu." Lalu ia beralih untuk menarik kursi yang ada di teras diikuti dengan Dan yang duduk di hadapannya kemudian mengulap darah di salah satu sudut bibirnya.

"Aku memang seperti ini sejak dulu dan aku tak heran jika kau berkata demikian, Louisa." Ucapan Dan terpotong sekilas karena kekehan Louis, lalu ia melanjutkan, "Kau memang teman yang buruk." Ia pun melemparkan tinju kecil ke bahu Louis.

"Ayolah, Daniela. Aku hanya bercanda. Tapi sungguh, ketika aku tiba, aku tak memikirkanmu atau Blighty Boys—" Dan bersorak sekilas. "—aku langsung mencari keluargaku terutama Anthony."

"Aunty?" tanya Dan dan Louis pun terkekeh hingga menggelengkan kepalanya. "Keadaannya pasti buruk sekali. Dia tak menyambutku tadi! Ibumu berkata dia sedang belajar. Aku terkejut."

"Ya, dia harus melanjutkan karir pap menjadi kepala sekolah. Hey, apa yang terjadi dengan aksenmu, Dan? Kau terdengar sangat ..." Dan mendekatkan wajahnya dengan seringai mendampingi lalu berbisik, "Amerika, hmm?" Louis kembali terkekeh dalam gelengannya.

"Kau pikir hanya dirimu saja yang pergi empat tahun lamanya untuk menemukan kemanisan pengetahuan dalam wujud yang berbeda? Aku juga, jika kau ingin tahu. Dan jika kau ingin tahu pula, Louie, kau satu-satunya yang belum tahu aku seorang Zoologist sekarang."

Louis menertawakan pengakuan Dan dengan wajah bangganya itu lalu menampar sahabatnya dengan kalimat, "Kebohongan rupanya lebih manis daripada pengetahuan sekarang."

"Aku tak berbohong, Louis! Aku berkata yang sesungguhnya. Aku pergi empat tahun silam ke Brown untuk mempelajari Zoologi. Karena menjadi dokter hewan itu sudah biasa, kuputuskan untuk menjadi Zoologist." Louis kali ini tak menertawakan ucapan sahabatnya itu, melainkan memberikan sedikit senyuman manisnya. "Kau pikir dari mana datangnya R's yang tebal ini jika bukan dari Amerika? Inggris melafalkan R's dengan tipis karena digantikan UH."

"Baiklah, Danny, aku percaya dan aku sangat bangga padamu. Tapi aku curiga kau sengaja membuat-buat aksenmu untuk pamer padaku."

Dan tertawa setelahnya lalu tangannya pun tergerak untuk menepuk wajah meja berkali-kali. "Hey, ayolah. Ini kebiasaan karena terlalu sering menghabiskan waktu di Brown. Tapi tenang saja, aku masih mengantongi aksen Inggrisku." Ia terdiam sekilas untuk menyelesaikan tawanya lalu menambahkan, "Apa kau tahu kura-kura bernapas melalui bokong?"

Louis kembali tertawa mendengar kalimat itu ditambah dengan ekspresi Dan yang polos ketika mengatakannya. "Sungguh, Lou, itu benar. Aku juga hampir tertawa begitu mendengar pernyataan itu di Brown, tapi itu juga bisa menjadi sebuah lelucon atau alasan."

"Maksudmu?"

"Ya, ketika kau kentut katakan saja aku manusia kura-kura. Aku bernapas melalui bokong."

"Kau keterlaluan."

Tiba-tiba saja Dan menggebrakan meja di hadapan keduanya dengan cukup keras namun Louis tak terkejut melainkan hanya mengangkat salah satu alisnya bingung.

"Kau yang keterlaluan, Louis!" Telunjuknya melambung ke arah Louis seolah menghardiknya. "Pete dan Ian tetap mengirimi telegram padaku dan selalu sempat membalas telegram dariku selama empat tahun terakhir ini meskipun aku jauh dari UK, sedangkan kau? Empat tahun ini tak ada kabar sama sekali darimu! Dan telegram yang kukirim empat tahun silam juga tak kau jawab, brengsek."

"Tak perlu berlebihan seperti itu, Dan. Aku sibuk. Sekolah di Sandhurst Akademi tak seperti sekolah di Brown, mengerti? Terkadang aku lupa jika aku menerima surat karena jadwalku padat sekali dan aku tak pernah menerima telegram sebelumnya. Maafkan aku."

"Permintaan maaf diterima." Louis menepuk bahu Dan berulang kali namun senyuman tak lagi singgah di wajahnya. "Permintaan maaf diterima apabila besok malam kau datang ke pesta Derry."

"Wow, Nordström. Kau berani mengadakan pesta? Aku tersanjung."

"Bukan aku tapi Diederik."

"Kalian tinggal di rumah yang sama!"

"Ya, ayah pergi besok artinya rumah sepi lalu mengapa tak mengadakan pesta? Ucap Derry padaku dan kupikir itu berarti reuni sebagian murid Wistletone's dan Blighty Boys. Tapi pesta besok malam sebenarnya tak diadakan di rumah."

Seketika Louis terdiam kebingungan dan ketika kedua alisnya hampir menyatu, ia bertanya, "Lalu?"

Dan melipat ujung lengan kemejanya seraya menjawab, "Derry tak mau ambil risiko mengadakan pesta di rumah karena ya, kau tahu. Jika semakin malam pesta semakin menggila mereka akan meninggalkan noda wine di atas karpet. Itu bisa jadi masalah, jadi Derry menyewa tempat di Fenham untuk berpesta besok malam." Dan yang sudah selesai melipat kedua ujung lengan kemejanya pun, beralih menampar bahu Louis pelan. "Tenang saja, pestanya tetap akan menarik. Derry tak mungkin menyewa sembarang tempat." Dan mengakhirinya dengan kedipan sebelah mata.

"Aku sedikit kecewa sekarang. Padahal, jika pestanya diadakan di rumahmu, itu akan menjadi sebuah pengalaman. Kau tak pernah mengajak Blighty Boys ke sana."

"Tapi besok Blighty Boys akan di sana dan aku juga mengundang banyak teman lama jadi ... kita akan bersenang-senang. Bahkan, Derry mengizinkan pesta dua puluh empat jam penuh. Ia juga menyiapkan wine dengan cita rasa kelas dunia kiriman dari Prancis langsung."

Setelah Dan menyelesaikan kalimatnya, Louis bangkit dari duduknya dan bersorak sekaligus menepuki bahu Dan berulang kali membuat pria itu tersenyum. "Sudah lama aku tidak berpesta! Sekarang kurasa, aku merindukan Pete dan Ian dan kerabat lama di Wistletone's School."

Dan bangkit setelahnya, menepuk bahu Louis sekali dan memakai mantelnya yang sejak tadi tergantung di punggung kursi. "Sebenarnya, aku datang ke sini hanya untuk memberitahu perihal pesta, jadi aku pulang sekarang. Lagi pula, ini sudah malam. Ajaklah Anthony jika dia bisa."

Pria itu kini perlahan meninggalkan teras Wistletone menuju ke arah mobilnya. "Pasti," jawab Louis yang membuat Dan berbalik sedetik kemudian setelah ucapan itu. "Ajak Virginia juga, bila bisa Celestine. Eh, jangan Celestine. Joseph bisa menggila." Louis terkekeh.

Ketika tangan Dan sudah menarik pintu mobil untuk dirinya sendiri, dia berkata, "Kita butuh lebih banyak gadis." Lalu ia mendorong tubuhnya ke dalam mobil membuat Louis melambaikan tangannya dan bergumam hati-hati di jalan yang dibalas anggukan singkat darinya.

Setelah Dan memutar setir mobilnya agar mobilnya menghadap gerbang kediaman Wistletone. Ia menurunkan jendelanya untuk berkata, "Dua puluh dua tahun dan masih memanggil ayahnya dengan sebutan pap? Mengesankan."

Sebelum Louis melempari Dan dengan sepatunya, pria itu sudah dulu pergi dari sana meskipun jendela mobilnya belum dinaikkan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status