Share

MATE
MATE
Author: aleevani

PROLOG

“Ini mimpi buruk .... Sangat buruk. Tidak, ini kutukan ... kutukan.” Kata-kata rancu tumpah dari bibirku yang kering. Dadaku terasa sesak, tubuhku terasa begitu lelah. Aku ingin menyerah, tapi aku tak bisa menghentikan kakiku untuk berhenti melangkah. Aku terus berlari tanpa tau arah. Hatiku terasa seperti diremas, dikoyak, dipukul dengan godam. Amat menyakitkan. Air mataku terus mengalir deras bagai aliran sungai yang tak bermuara. Sedikitpun tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa hari-hari damaiku akan berakhir dalam waktu singkat. Beberapa jam yang lalu kehidupanku masih baik-baik saja. Ayahku yang merupakan seorang Alpha, pemimpin dari ras serigala dalam pack masih duduk dengan gagah di atas singgasananya. Lalu ibuku yang merupakan Luna, pasangan Alpha masih melakukan kegiatan rutin bersamaku, membagikan beberapa daging berkualitas pada semua anggota pack. Kakakku yang suka berbuat jahil padaku selalu berakhir dengan jeweran di telinga oleh ibuku. Kupikir tak akan ada masa kadaluawarsa untuk kehidupan kami yang damai. Ternyata aku salah ... hari damaiku berakhir dengan cepat. Semuanya menghilang bahkan sebelum aku menyadarinya.

Semuanya sudah hancur berantakan. Aku tidak memiliki apapun yang tersisa. Orangtua, kakak, bahkan seluruh anggota packku telah gugur malam ini. Meninggalkanku seorang diri dalam kekejaman dunia ini.

Tubuhku meringkuk di balik semak-semak. Pandanganku kosong dan aku tidak tau di wilayah mana aku sekarang. Dingin, lapar, lelah, tapi aku sudah tidak peduli. Selama berhari-hari aku berlari tanpa arah dalam hutan. Setiap pack memiliki batas teritorial, jika mereka menemukanku sudah pasti aku akan dibawa mereka untuk dikurung atau yang lebih buruk langsung dibunuh. Karena sekarang aku tak lebih dari Rogue bagi mereka. Rogue, itu adalah sebutan untuk mereka yang tak memiliki pack. Banyak dari mereka yang berkeliaran, membentuk kelompok kecil untuk menyerang pack-pack kecil dan menguasainya, sama seperti yang terjadi dalam packku. Para Rogue ganas menyerang packku dan menguasainya.

Ditangkap oleh penjaga batas teritorial adalah hal yang buruk. Namun yang lebih buruk jika aku sampai bertemu dengan Rogue lainnya. Sudah pasti mereka akan membunuhku, sama seperti mereka membunuh seluruh anggota packku. Air mataku rasanya sudah sangat kering dan aku terlalu lelah untuk menangis. Aku selalu berpikir mungkin akan lebih baik jika aku mati saja malam itu. Tapi jika itu terjadi, mungkin akan ada satu orang yang akan hancur. Ditengah keputusasaanku, aku masih percaya bahwa masih ada satu orang di luar sana yang masih menungguku.

Mate, itu adalah sebutan untuk pasangan abadi yang dimiliki oleh kaum kami. Setiap kaum kami memiliki pasangan abadinya masing-masing. Moon goddes, dewi bulan yang selalu kami puja sendiri yang sudah menciptakan kami berpasang-pasang dan aku tak mau pasanganku akan hidup menderita karena kematian bodohku yang sia-sia. Aku ingin selalu percaya. Dalam keadaan apapun aku ingin terus mempercayainya, bahwa dia akan datang mengulurkan tangannya. Menarikku dari lubang gelap, membangunkanku dari mimpi yang mengerikan. 

Langit tampak kelabu dan matahari sudah tak terlihat di mataku. Hujan akan turun dan petang akan berganti malam. Kupeluk lututku semakin erat seiring angin yang berubah semakin kencang dan semakin terasa dingin menusuk hingga tulang.

“Ayah ... Ibu ...” panggilku lirih berharap mereka akan datang dan membawaku pulang. Namun itu hanya sebuah harapan bisu yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Aku tahu hal itu tapi aku masih berusaha berharap. Aku tahu mereka tidak akan pernah datang. Aku hanya akan berakhir disini sendirian.

“Tolong .... Aku tak mau sendirian .... Jangan tinggalkan aku ...” berbisik lirih hampir tak bersuara.  Air mataku kembali beruraian. Aku pasti terlihat sangat menyedihkan sekarang. Seorang gadis 15 tahun yang meringkuk diantara semak sambil  menangis dan memanggil kedua orang tuanya. Berharap ada seseorang yang datang menolongnya.

Kedua mataku terbuka lebar saat sebuah tangan terulur. Sebuah tangan yang bersih dan terawat. Aku bisa lihat kukunya yang lentik dan indah. Mendongak, aku mendapati wajah cantik seorang wanita muda dengan senyuman yang sangat menawan.

“Tenanglah, kau tidak akan sendirian lagi setelah ini. Ikutlah bersamaku dan kita bisa tinggal bersama di sana. Aku juga memiiki anak perempuan yang seumuranmu. Dia pasti akan senang setelah bertemu denganmu,” wanita itu berujar dengan lembut dan manis. Seperti gula yang mengundang semut, ajakannya terlalu manis untuk kutolak. Ditengah-tengah dunia yang kejam, wanita asing itulah satu-satunya yang datang mengulurkan tangannya. Tanpa keraguan aku menggapai tangannya, menggenggamnya erat seolah hanya itu satu-satunya pegangan yang kupunya.

Aku berjalan dengan langkah sedikit cepat, menggenggam erat tangan wanita itu sambil menatap sekeliling hutan yang hanya dipenuhi pohon-pohon besar dan beberapa tanaman sulur yang lebat. Kami melewati jalan yang cukup panjang, medan yang lumayan curam, bebatuan yang ditumbuhi tanaman lumut membuatku hampir terjatuh berkali-kali.  Wanita itu membawaku pergi ke sebuah tempat yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Tempat terpencil yang berada di tengah-tengah hutan.

Sebuah rumah bercat putih bersih terlihat sangat mencolok ditengah-tengah hutan yang sangat jauh dari peradaban manusia. Itu adalah rumah yang cukup besar, berdiri sendiri tanpa ada bangunan lain di sekelilingnya. Dengan keraguan aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah itu, mengikuti langkah wanita itu. Melihat sekitar sambil bersembunyi di belakang punggungnya. Saat pintu di ruang tengah terbuka, aku langsung menemukan seorang gadis berambut pirang yang menatapku dengan tatapan yang tajam. Bibirnya  menunjukkan seringaian yang entah bagaimana membuatku menahan napas. Hanya memandangnya sekilas aku bisa merasakannya, dia seperti iblis kecil yang cantik.

Disinilah tempatku memulai kehidupan baruku. Hari-hari baruku dimulai dari sini. Entah tangis atau tawa yang akan aku dapat, yang kupikirkan untuk saat ini adalah cara untuk tetap bernapas sampai menunggu seseorang yang sudah ditakdirkan Dewi bulan padaku tiba. Oh Moon goddes, sampai hari itu tiba apakah aku akan baik-baik saja?  

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status