Share

3. Pernikahan Sampah?!

Sonya mengambil botol air dari kulkas, lalu meminumnya hingga tandas. Berharap air itu bisa mencairkan kebekuan pikirannya karena ulah suami dan beban pekerjaan.

Bayangan sosok Janu, membawa langkah kaki Sonya menuju kamar putra semata wayangnya. Janu yang didapatkannya dengan susah payah melalui proses bayi tabung, harus pergi meninggalkannya secepat itu. ia bahkan belum sempat menghabiskan banyak waktu bersama Janu karena kesibukannya di rumah sakit. Pukul sembilan malam dan itu hari kedua Emir meninggalkan rumah setelah pernikahan mereka.

Langkahnya gontai menuju lemari menatapi rak demi rak di mana pakaian Janu berada. Air matanya keluar tak henti sejak tadi. Hatinya terasa sangat kosong seakan hidup yang dijalaninya sekarang pun tak ada gunanya. Sepasang pakaian rumah yang paling sering dikenakan Janu, tenggelam di tangannya.

“Nak ... maafin, Mamah,” isak Sonya sembari berbaring di kasur milik Janu. Sonya meringkuk di ranjang anaknya itu berusaha untuk menenangkan dirinya dari gelombang kesedihan yang tiba-tiba menerpa Sonya.

“Maafin Mamah, Sayang. Maafin Mamah yang nggak bisa jaga kamu. Mamah salah, Sayang. Mamah salah ....” Sonya menangis sesenggukan akibat rasa bersalah yang sudah menguasai dirinya saat ini, tubuhnya bergetar dan lututnya makin dekat dengan dadanya, tangis Sonya terdengar sangat pilu dan menyayat hati siapa pun yang mendengar suaranya.

“Maaf, Sayang, Maaf ....” Sonya menutup matanya sambil terisak hebat, ini adalah satu-satunya situasi yang membuat Sonya menitikkan air matanya.

Rasa kehilangan Janu yang mampu membuat Sonya menangis hingga kesulitan bernapas, hanya itulah hal yang membuat Sonya menangis parah. Bahkan, kelakuan Emir yang tukang selingkuh dan berhubungan badan dengan semua wanita murahan yang bisa ia bayar di muka bumi ini.

“Maafkan Mamah, Janu anak Mamah yang paling Mamah sayang, maaf ... maaf.” Sonya terus bergumam kalimat tersebut, sebuah kalimat yang Sonya harap bisa menghapus rasa bersalah yang Sonya menggerogoti dirinya.

Sonya beranjak dari ranjang Janu dan pergi keluar kama anaknya itu, melangkahkan kakinya dengan gontai ke kamar miliknya, Sonya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sudah babak belur akibat pertengkaran dengan Emir dan rasa bersalah yang menyelimutinya. Dengan cepat Sonya membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya sendiri sembari memeluk pakaian Janu, mengisap wangi malaikat kecilnya hingga Sonya terlelap tidur.

***

"Sonya ... Sonya," panggil Emir pelan sembari mengusap bahu Sonya yang sudah tertidur sembari memeluk pakaian Janu.

Selama dua hari ini Emir tinggal bersama selingkuhannya, namun, tadi malam selingkuhannya pergi ke acara keluarganya dan Emir menolak untuk ikut karena dirinya masih berstatus suami Sonya. Emir akhirnya pergi ke klub malam yang sering dia datangi untuk memanjakan hasratnya dengan wanita-wanita malam yang ada, sayangnya karena ada sesuatu hal Emir harus pergi meninggalkan klub lebih cepat dan mendatangi Sonya.

Sonya istrinya yang cantik dan memiliki tubuh bak gitar Spanyol namun, setiap Emir menatap wajah dan manik matanya detik itu juga Emir akan merasakan rasa bersalah dan insecure yang teramat sangat. Rasa bersalah karena dirinya tidak dapat menjaga Janu dengan baik hingga mengakibatkan kematian anak semata wayangnya itu dan rasa insecure karena saat ini dirinya yang harusnya berperan sebagai kepala keluarga yang mampu menghidupi keluarganya harus berada di bawah Sonya karena sudah beberapa tahun ini Sonyalah yang menghidupi keluarganya.

Pekerjaan Emir benar-benar tersedat, sebagai kontraktor yang mengandalkan tender dari almarhum bapaknya saat ini Emir sangat kesulitan mendapatkan tender yang menguntungkan dan besar, hal itu mau tidak mau membuat Emir harus pasrah saat semua biaya kehidupan dan modal usahanya di biayayai oleh Sonya, hal itu kadang membuat ego prianya tergerus dan membuat dirinya melakukan tindakan yang menyakiti  Sonya.

"Sonya ... bangun," pinta Emir sembari mengecupi pipi Sonya berharap Sonya bangun.

Sonya bergerak dan memutar tubuhnya hingga mendapati Emir di hadapannya, hidung Sonya mencium bau minuman keras bercampur dengan parfum  murahan beraroma mawar. "Kamu dari mana?"

"Aku mau peluk kamu, Sonya," ucap Emir sembari mencoba memeluk Sonya, minuman keras yang sudah dia tegak untuk menghilangkan rasa bersalah atas kematian Janu membuat dirinya melakukan sesuatu hal yang paling Sonya benci, menyetubuhi Sonya dalam keadaan mabuk.

"Kamu habis dari mana, Emir!? Kamu dari mana?" Sejujurnya Sonya tahu dari mana suaminya itu datang, Sonya tahu kalau sudah sebulan ini Emir bolak balik ke klub malam, menghamburkan uang seenaknya dan melakukan BO dengan wanita-wanita murahan di sana atau pergi dengan sekretaris sialannya. Sonya tahu semuanya, itu semua dapat Sonya liat dari tagihan kartu kredit milik Emir.

"Aku mau kamu, Sonya. Aku mau ...." Emir dengan cepat melumat bibir Sonya dengan kasar, tangannya dengan cepat menyusup ke balik celana dalam Sonya dan memasukkan jemarinya ke bagian kewanitaan Sonya.

Sonya terkesiap saat merasakan jemari Emir mengoyak kewanitaannya dengan kasar, detik itu juga rasa perih langsung Sonya rasakan di bagian inti tubuhnya karena Emir benar-benar menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya dengan seenaknya, mengoyak bagian paling sensitif milik Sonya.

“Emir, sakit,” pekik Sonya sembari mendorong tubuh Emir lebih keras lagi berjuang untuk melepaskan jemari Emir yang terus bergerak memberikan rasa sakit yang langsung menyebar dari bagian inti ke seluruh tubuhnya.

“Diam, Sonya ... tunaikan tugas kamu, sialan?!” seru Emir yang terpicu rasa kesalnya karena mendapatkan penolakan dari Sonya, dengan cepat Emir menangkap tangan Sonya dan menahannya dengan tangannya di atas kepala Sonya, sedangkan tangan lainnya terus bergerak keluar masuk di bagian kewanitaan Sonya.

Sonya menjerit keras saat merasakan gigitan di bagian putingnya yang tersingkap dari pakaian tidurnya yang berdada rendah, Emir menggigit dan meliukkan lidahnya di puting payudara Sonya berharap Sonya terangsang namun yang Sonya rasakan hanya rasa sakit yang menghantam Sonya, suara rintihan Sonya terdengar di telinga Emir. Emir sama sekali tidak mengindahkan suara rintihan Sonya, dengan cepat Emir mencium bibir Sonya dengan kasar berusaha untuk meredam suara rintihan Sonya.

"Lepas!?" jerit Sonya di sela-sela ciuman Emir yang membuat bibirnya sakit bukan main karena suaminya itu menggigitnya dengan seenaknya.

Seolah kesetanan Emir sama sekali tidak peduli dengan teriakkan dan penolakan yang Sonya berikan, malah semua penolakan Sonya membuat Emir makin bergairah dengan cepat dibukanya celana panjang miliknya dan mengarahkan kejantanannya untuk memasuki tubuh Sonya dengan paksa.

"Ahh ... sakit, Emir sakit!?" jerit Sonya sembari menendang-nendang kakinya membuat Emir kesulitan ungtuk memasuki tubuh Sonya. Iya ... mungkin Emir adalah suaminya tapi, Sonya tidak mau dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dengan Emir dan lebih parahnya lagi dalam keadaan Emir mabuk juga memiliki bau badan seorang lonte.

"Emir stop ... aku mohon stop," isak Sonya sembari menggerakkan seluruh tubuhnya berjuang untuk mempertahankan celana dalamnya agar Emir tidak memasuki tubuhnya dengan paksa.

"Kenapa aku harus stop?" sentak Emir sembari melepaskan gigitannya dan menatap manik mata Sonya. "Kamu istri aku dan aku berhak akan diri kamu."

"Kamu memang suami aku dan kamu berhak akan diri aku tapi, aku tidak sudi melayani kamu dalam keadaan kamu mabuk dan wangi parfum lonte!?" teriak Sonya sembari menahan air matanya yang sudah berdesakkan untuk keluar dari matanya.

"Aku nggak mabuk dan aku nggak wangi lonte!?" teriak Emir yang masih dalam pengaruh alkohol, tangannya dilepaskan dari lengan Sonya, kakinya mengendur membuat Sonya dengan cepat mendorong tubuh Emir.

"Orang buta aja tahu kalau kamu mabuk, Emir!?" sentak Sonya sembari menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari tubuh Emir.

"Oke fine ... fine, aku mabuk tapi, aku nggak pake lonte!?" teriak Emir sembari menatap manik mata Sonya yang terlihat menahan tangisnya.

"Emir, please jangan siksa aku lagi dengan kelakuan kamu yang suka bolak balik ke klub malam, aku tahu kamu lakukan ini semua karena rasa bersalah kamu karena kematian Janu, aku tahu. Jadi, aku mohon sama kamu ayo kita lalui ini bersama-sama, Emir," pinta Sonya berharap masih ada rasa sayang Emir pada dirinya.

"Aku nggak bisa, Sonya, aku nggak bisa," jawab Emir sambil menatap Sonya dan tertawa seperti orang gila, pengaruh alkohol benar-benar membuat Emir berperilaku sinting. "Setiap aku lihat mata kamu, aku selalu merasa bersalah."

"Emir ... udah aku mohon, udah. Stop, jangan ke klub malam lagi dan jangan pakai wanita-wanita murahan itu. Aku mohon, aku senang hari ini kamu nggak pakai wanita murahan itu dan memilih untuk menyentuh aku, aku senang." Sonya mendekati Emir seraya menyentuh pipi suaminya itu berharap kalau suaminya terketuk hatinya dan mau berubah.

"Aku nggak pakai lonte, Sonya. Aku nggak pakai mereka hari ini ...."

"Iya ... stop, aku mohon stop. Ayo ... kita sama-sama hadapi semua ini, ayo kita jalani semuanya." Sonya mengenakan baju tidurnya dan menutupi setiap lekuk tubuhnya.

"Hahaha ... aku nggak bisa Sonya, aku nggak bisa untuk berhenti minum dan pakai perempuan-perempuan itu," ucap Emir sembari memukul pipi Sonya pelan.

Sonya menyerngit karena menahan mual akibat bau alkohol dari napas Emir, "Kenapa?"

"Kalau aku stop minum aku pasti lihat kamu lagi dan aku setiap liat muka kamu aku langsung merasa bersalah lagi. Aku ... nggak bisa, Sonya.” Emir menggaruk kepalanya dengan keras seperti orang frustrasi.

"Aku nggak nyalahin kamu, Emir, itu hanya perasaan kamu aja. Ayo dong Emir kamu pasti bisa untuk menjauhi itu semuanya, buktinya sekarang kamu nggak pakai perempuan murahan dan malah pulang, Emir," bujuk Sonya.

Emir tersenyum dan menatap Sonya dengan tatapan mengejek, "Sonya, kamu tahu kenapa aku pulang dan aku nggak pake lonte?" tanya Emir.

"Karena kamu sadar itu salah dan mau bareng sama aku buat sama-sama melanjutkan hidup?" tanya Sonya penuh harap.

"Hahaha ... salah, Sayang. Salah, aku pulang dan nggak pake perempuan murahan karena limit kartu kredit aku habis!?" Setelah berkata itu Emir ambruk dan tertidur di samping Sonya.

Mendengar perkataan Emir, Sonya menggigit bibirnya. Bahkan suaminya pun seakan berubah menjadi sesuatu yang menambah kepahitan hidupnya. Keprgian Janu membuat kehidupannya bersama Emir seperti neraka. Setiap perkataan Emir yang dilontarkan padanya seakan berniat ikut membunuhnya perlahan-lahan. Semakin lama ... semakin berat mengharapkan seorang Emir yang bisa menenangkan kegelisahan hati dan mengisi kekosongan atas kepergian Janu.

Sonya bangkit dari ranjang. Emir menggeliat dan menyebut namanya.

“Sonya ... layani aku dengan gratis ....”

••

Comments (22)
goodnovel comment avatar
Jaenal Mutakin
seru banget cerita nya
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
ya ampun, ada laki2 kayak gitu.........
goodnovel comment avatar
alistebalsinchan
ayo Ming.. wkwkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status