Share

Bab 3

"Bisa dilihat dengan sangat jelas kan penampilan macam apa itu? Penampilan seorang wanita penggoda yang sok polos! Dan dia bahkan masih menggunakan trik murahan seperti itu? Pura-pura menabrakku untuk mendapatkan simpati dariku? Benar-benar menjijikkan!" Ken berbicara pada Vano sambil melangkah masuk ke dalam ruangan interview.

"Kau tidak bisa menilainya dari penampilanya saja. Mungkin saja dia punya alasan sendiri, kenapa pakainya seperti itu." Vano duduk bersebelahan dengan Kenzi di kursi pewawancara.

"Cih! Alasan apa? Alasan menggoda atasan dengan memamerkan tubuhnya itu? Dan kau masih saja membelanya? Jangan bilang kau menyukainya?" tuduh Kenzi.

"Menyukainya? Hm ... mungkin saja. Dia cantik, dan juga menarik." Vano memegang dagunya, seolah sedang berfikir dan membayangkan sosok Freya.

Kenzi yang mendengar jawaban Vano pun, auto diam karena malas berdebat lagi denganya. Melihat Kenzi yang sudah tidak lagi mengomel, dan marah-marah terus, Vano pun mulai memanggil para kandidat yang lolos interview sebelumnya, satu persatu kandidat pun di panggil untuk masuk ke dalam ruangan itu.

"Aduh! Bagaimana ini?" keluh Freya yang saat ini kembali berada di dalam kamar mandi.

"Apa aku pakai ini saja?" gumam Freya sambil menyentuh pin yang dia sematkan di bagian paling atas kemejanya.

Freya pun memasangnya di sobekan rok yang di pakainya itu, dan hal itu pun membuat belahan dada Freya jadi sedikit terlihat, karena pin itu di ambil olehnya.

"Ah masa bodo lah! Dari pada nanti sobekan di rokku makin besar." Freya melihat dirinya di cermin yang ada tebat di hadapanya.

Saat ini, kandidat ketiga sudah masuk ke dalam ruang interview namun Freya belum juga tiba di sana.

"Ini yang terakhir?" tanya Kenzi pada Vano dengan wajah kesalnya, karena tak ada satupun yang sesuai dengan standart yang dia inginkan.

"Tidak, masih ada satu lagi," Vano melihat berkas-berkas kandidat terkahir. "Ini, wanita yang tadi? Jadi dia salah satu kandidat juga? Freya anggita ya, nama yang cantik secantik orangnya. Aku harus mempertahankanmu di perusahaan ini, apapun caranya!" batin Vano saat melihat foto dan data yang tertulis disana.

"Freya anggita!" panggil Vano.

Beberapa saat menunggu, namun Freya tak kunjung datang.

"Cih! Tidak disiplin! Cari yang lain saja,"

"Sabarlah, yang terakhir ini menurutku bagus. Dia lulusan Royal collage, dan itu sesuai standarmu bukan?" ucap Vano, yang berusaha melindungi Freya dari diskualifikasi, karena keterlambatanya.

"Kau kan bisa cari kandidat yang lain, bukankah masih banyak di luaran sana yang berbakat dan disiplin!" Ken terlihat sangat kesal dengan wajahnya sudah sangat tidak enak di pandang.

"Apa kau fikir mudah mencari kandidat yang sesuai dengan standar tingkat dewamu itu? Kau mengharuskan kendidat adalah lulusan universitas design ternama, dan mengharuskan dia juga adalah lulusan terbaik, apa itu tidak gila namanya? Dan sekarang ada satu kandidat yang cocok, dan dengan gampangnya kau bilang, cari yang lain? Oh ayolah, Kenzi Adinata!" Vano memang sering bicara dengan bahasa santai pada Kenzi jika hanya ada mereka berdua saja.

"Ayolah Freya anggita, dimana kau?" batin Vano sambil melirik ke arah pintu, berharap orang yang sedang dia tunggu itu, segera masuk ke ruang interview.

"Freya anggita!" panggil Vano sekali lagi, harapnya Freya sudah ada di depan ruangan itu saat ini, tapi nihil Freya masih belum ada di sana.

"Sudahlah! Aku terlanjur badmood, kau urus saja sendiri aku mau kembali ke ruanganku." Kenzi pun pergi meninggalkan ruang interview itu, dengan wajah kesal dan muramnya, karena merasa paginya hancur gara-gara Freya.

Saat Kenzi berjalan keluar dari ruang interview menuju ruangan pribadinya, dia berpapasan dengan Freya yang sedang berlari dengan terburu-buru, dan membuat mereka bertabrakan.

Gubrak!!

"Aww!! Sakit!!"

"Apa kau tidak punya mata, hah!?" bentak Kenzi dengan kasarnya.

"What? sebenarnya kau atau aku yang tidak punya mata, hah!?" balas Freya menyentak Kenzi tanpa rasa takut sama sekali.

"Aku? Kau bilang aku tidak punya mata? Bukanya kau yang lari-lari seperti orang gila! Ini kantor! Bukan arena balap lari!" seru Kenzi dengan geramnya, karena ini adalah kali pertama, ada seorang wanita yang berani membentaknya seperti itu.

"Aku memang sedang buru-buru, tapi kau juga tidak perlu membentakku kan!" Freya pun berdiri dan membenarkan kemejanya.

"Cih!! Buru-buru? Apa kau terburu-buru untuk menemui calon pelangganmu, hah?!" sindir Kenzi dengan senyum miringnya pada Freya.

"Pelanggan? Aku ini pelamar kerja di sini, bukan penjual cendol keliling, lalu apa maksutnya dengan pelanggan?" tanya Freya dengan wajahnya yang semakin terlihat jutek, karena menahan rasa ingin mencakar-cakar muka Kenzi saat itu juga.

"Tidak usah sok polos! Dengan dandananmu yang seperti ini, kau pasti seorang wanita sewaan kan? Dasar manusia rendahan!" sarkas Kenzi dengan jahatnya, yang auto membuat Freya tersentak dan kaget setengah mati, plus geram dengan ucapan Kenzi yang seenak jidat itu.

"Wanita sewaan?! Dasar mulut bau!! Mulutmu itu tidak pernah di ajari ya? Kotor dan bau sekali, seperti comberan!!" Freya sudah benar-benar tidak bisa menahan emosi tingkat dewanya itu lagi.

"Cih!! Mulut bau? Akan ku buat kau merasakan sendiri mulut bau ini!" ucap Kenzi yang tanpa ba bi bu langsung saja menarik tengkuk Freya, dan menciumnya paksa.

PLAK!!

"Sialan!! Dasar laki-laki mesum!" Freya pun menampar Kenzi seketika, dan mengelap bibirnya yang baru saja di cium paksa oleh Ken.

"Bagaimana rasa mulut bau ini hah?!" Kenzi memegang bekas tamparan Freya di pipinya.

"Menjijikkan!!" seru Freya singkat, padat, jelas, dan menusuk.

"Ciuman pertamaku!!" gumam Freya dengan geramnya dna meninggalkan Kenzi begitu saja, dan berjalan menuju ke ruang interview. "Sudahlah Freya, anggap saja kau barusan di gigit seekor anj*ng!"

"Jadi dia kandidat terakhir itu?" gumam Kenzi saat Freya sudah pergi meninggalkanya begitu saja begitu saja.

Freya pun segera membuka pintu ruangan interview, dimana Vano masih setia menunggunya, "Permisi ..." sapa Freya saat masuk ke dalam ruang interview itu, sambil menundukkan kepalanya karena tau dirinya pasti sudah terlambat.

"Eh! Dia pria yang tadi pagi menolongku kan?" batin Freya saat perlahan mengangkat wajahnya, untuk menatap si pewawancara yang ada di hadapnya.

"Maaf pak, apa interviewnya sudah selesai?" tanya Freya dengan canggung.

"Belum, bisa kita mulai interviewnya?" Vano berbohong pada Freya padahal harusnya sudah sejak tadi interview itu berakhir, namun dia masih ada disana karena sengaja menunggu Freya datang.

"Tentu saja bisa pak," jawab Freya dengan hati gembira, dia pun melupakan sejenak kekesalanya karena insidenya bersama Ken tadi. Setidaknya dia masih beruntung, karena masih bisa ikut interview ini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status