Home / Romansa / Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan / Bab 1. Kenyataan Menyakitkan

Share

Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan
Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan
Author: Sulistiani

Bab 1. Kenyataan Menyakitkan

Author: Sulistiani
last update Last Updated: 2026-01-06 17:44:04

"Kenapa harus di bawa ke rumah sakit, tadinya biarkan saja dia sampai sekarat!"

Arnie yang baru mendapatkan kesadarannya setelah pingsan, sayup-sayup mendengar ucapan wanita paruh baya, suaranya begitu familiar dan ternyata benar itu adalah suara Murni-ibu mertuanya.

Wanita cantik itu, mengurungkan niat untuk membuka mata. Ia memilih berpura-pura masih pingsan agar bisa mendengar ucapan sang mertua selanjutnya.

"Tapi kata dokter tadi, Arnie sedang hamil anak Daren, kalau di biarkan bisa keguguran, Mah."

Arnie menajamkan pendengarannya, ia yakin yang berbicara itu adalah Maya, istri dari kakak iparnya laki-lakinya yang meninggal, sehingga Maya, Anaknya, dan Murni tinggal bersama Arnie dan Daren.

"Bisa-bisanya kamu membuat wanita sial ini hamil, Daren. Mama gak mau punya cucu dari dia, bagaimanapun caranya, kandungannya harus digugurkan!"

Dada Arnie terasa sesak mendengar ucapan sang mertua, sementara itu ia tak mendengar suara suaminya sedikitpun, tak ada pembelaan, atau perlindungan dari suami untuknya.

"Cucu mama cuma satu yaitu Clarisa anak Maya dan Dimas, meskipun Dimas sudah meninggal dia memberikan keturunan melalui Maya," ucap Murni membuat hati Arnie sangat teriris.

Ia tak mengerti mengapa sang mertua bisa berkata demikian, padahal sejak dulu Murni sangat dekat dengan Arnie karena Arnie adalah sahabat anak bungsunya. Namun, hubungan Arnie dan Murni memang renggang setelah kematian Dena dan Arnie pun tak mengerti apa sebabnya. Ia hanya berpikir jika sang mertua masih belum bisa ikhlas dengan kepergian Dena hingga menjadi dingin dan menjauh dari Arnie.

"Sudah-sudah kalian jangan ribut, aku bawa Arnie ke rumah sakit karena takut dia mati membawa kandungannya. Belum saatnya dia mati sekarang, orang yang sudah membuat Dena meninggal dengan mengenaskan, tidak akan aku biarkan mati dengan mudah!"

Deg.

Deg.

Jantung Arnie terasa di lempar batu besar, sesak dan sakit tak bisa dijelaskan. Suara itu adalah suara suaminya, tapi bagaimana mungkin orang yang selama ini ia cintai bisa berkata seperti itu, apalagi mengatakan jika ia adalah penyebab kematian Dena.

"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mama murni sangat membenciku, kenapa mas Daren berkata seperti itu. Bukan aku yang membuat Dena meninggal, apa ada kesalahpahaman?" gumam Arnie dalam hati.

Begitu banyak pertanyaan dalam hati dan pikiran Arnie tentang apa yang sedang di bicarakan suami dan mertua nya, ia ingin tetap berpura-pura pingsan agar mendengar lebih banyak percakapan mereka, agar ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, suara ponsel berdering, membuat mereka berhenti berbicara.

"Mah, Daren. Maaf, aku harus pergi sekarang, sudah waktunya aku antar Clarisa les," ucap Maya setelah mengangkat panggilan telepon tadi.

"Pergilah, Sayang. Les yang rajin, cucu kesayangan nenek harus jadi anak pintar ya!" ucap Murni.

"Oke nenek," ucap Clarisa dengan suara riang.

Maya dan Clarisa pun keluar dari ruang rawat Arnie, sementara Daren masih duduk dengan menatap wajah pucat Arnie tanpa sedikit pun rasa kasihan dan bersalah.

Arnie pingsan karena kelelahan, setelah menikahi Arnie semua asisten rumah tangga di berhentikan oleh Daren, hanya menyisakan satu orang yang sudah mengikuti keluarga mereka sejak dulu.

Semua pekerjaan rumah tangga di kerjakan oleh Arnie, satu-satunya asisten rumah tangga di rumah Daren hanya membantu saat Murni dan Daren tidak di rumah saja.

"Clarisa tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar, persis seperti ibunya. Dia sudah menganggap mu ayahnya sendiri, Daren." ucap Murni.

"Itu wajar, dia anak kakakku. Akupun menganggapnya seperti anakku sendiri," ucap Daren.

"Karena itu, mama tidak ingin anak dalam perut Arnie lahir. Mama tidak ingin perhatian dan kasih sayang kamu terhadap Clarisa terbagi, gugurkan saja anak dalam kandungan Arnie," ucap Murni dengan entengnya.

Arnie mencoba menahan rasa sakit hatinya mendengar ucapan sang mertua, ia masih belum mengerti mengapa sang mertua begitu membencinya, hingga ingin menghilangkan nyawa tak berdosa yang kini ada dalam perutnya.

"Aku benci Arnie, aku menikahinya karena dendam. Namun, anak dalam perutnya tetap anakku, Mah. Dia tidak salah dan tidak berdosa," ucap Daren.

Hati Arnie terasa semakin sesak mendengar pengakuan sang suami, 2 tahun pernikahan ternyata suami yang sangat ia cintai menikahinya karena dendam.

"Kenapa kamu begitu membenciku, Mas. Dendam apa yang kamu miliki sampai menipuku dalam pernikahan ini? Bukankah dulu kamu bilang menikahi aku karena permintaan terakhir Dena?" gumam Arnie dalam hati.

Wanita cantik itu masih terpejam, ingatannya kembali pada 2 tahun lalu.

Saat itu 1 Minggu setelah Dena meninggal dunia, setelah selesai acara tahlilan di rumah keluarga Dena, tiba-tiba Daren yang tak pernah berbicara banyak dengannya, menghampirinya dan mengajaknya menikah.

"Sebelum Dena meninggal, dia bilang padaku jika kamu sangat mencintaiku. Dia berharap aku bisa menikahi kamu, karena kamu adalah sahabat terbaiknya," ucap Daren.

Jantung Arnie berdegup begitu kencang, lelaki tampan yang selama ini ia sukai secara diam-diam ada di hadapannya, bahkan membicarakan soal pernikahan.

Arnie dan Dena bersahabat sejak SMA, karena kecerdasan Arnie, Dena meminta mengajarinya pelajaran sehabis pulang sekolah. Setiap kali Arnie mengajari Dena di rumahnya, ia mencuri pandang pada Daren yang saat itu masih seorang mahasiswa semester akhir.

Rasa suka Arnie perlahan semakin dalam, melihat sikap Daren yang dingin terhadap wanita, tapi begitu menyayangi Dena sebagai adiknya, dan menghormati ibu nya, membuat Dena semakin mencintai Daren.

Arnie tidak menyangka jika Dena menceritakan semua itu pada kakaknya, hingga sebelum meninggal menginginkan pernikahan diantara Daren dan dirinya.

"Arnie, benarkan apa yang dikatakan Dena? Apa benar kamu sudah lama mencintaiku? Apa kamu mau mengabulkan permintaan terakhir Dena? Apa kamu mau menikah denganku?"

Pertanyaan Daren terus berputar di kepalanya, rasa suka dan cinta yang selama ini Arnie pendam terhadap lelaki itu seakan membuat jantungnya hampir meledak.

Tak ada kata-kata yang mampu ia ucapkan, hanya anggukan kepala sebagai jawaban jika ia mau menikah dengan Daren. Tanpa ia ketahui jika pernikahan itu Daren lakukan bukan karena permintaan terakhir Dena, melainkan rencana Daren untuk membalas dendam terhadap Arnie.

Kini di ruang rawat rumah sakit, Arnie baru mengetahui jika pernikahan itu bukan permintaan terakhir Dena. Namun, cara Daren membalas dendam padanya.

"Aku pikir selama ini kamu dingin dan tidak pernah perhatian padaku karena memang terpaksa menikahi ku untuk menuruti keinginan terakhir Dena. Aku selalu bersabar dan berusaha menjadi istri yang baik, berharap suatu saat nanti kamu luluh dan akhirnya mencintaiku," gumam Arnie dalam hati.

Tanpa Daren dan Murni sadari, tangan Arnie bergerak meremas seprai. Ia menahan sakit di dadanya mengetahui kenyataan yang begitu menyakitkan.

"Jika seperti ini kenyataanya, aku yakin sampai kapan pun tak akan ada cinta di hatimu untukku, Mas. Pantas saja selama ini kamu dan keluargamu memperlakukanku seperti pembantu gratisan di rumahmu. Ternyata kamu menikahi ku bukan untuk menuruti keinginan terakhir Dena, tapi karena dendam padaku. Namun, aku gak ngerti apa yang sudah aku lakukan sampai kamu dan mama menaruh dendam yang begitu besar padaku?" gumam Arnie dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 7. Langkah Awal

    Arnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu."Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie.Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diperlakukan tidak baik, ia tetap sabar. Namun, kini setelah tahu suami dan mertua nya menyimpan kebencian yang tak berdasar padanya, Arnie ingin memberi sedikit balasan pada perlakuan buruk mereka."Nasi goreng pedas, biar aja mereka kepedesan atau mulas pagi-pagi karena makan masakanku!" gumam Arnie.Arnie mulai memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu serta toping untuk nasi goreng. Setelah itu ia mulai memasak, aroma lezat dari masakan Arnie mulai menyebar hingga menusuk indera penciuman orang-orang yang sudah lapar di rumah itu. Arnie selesai memasak, tetapi sebelum nasi goreng itu dihidangkan di meja makan, ia memisahkan 2 piring untuk ia dan mbok Inah sarapan. Sebab setiap hari Arnie

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 6. Dipeluk Erat

    Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.Krieek ....Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa."Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengoceh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie."Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 5. Mencari Bukti

    "Arnie!" Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri."Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi."Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar."Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren."Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya."Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bis

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 4. Tak Lagi Patuh

    "Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun.Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya."Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni."Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie."Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya.Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 3. Orang Tua Tahu

    "Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu."Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?" "Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, h

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 2. Sendiri

    "Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit.Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya."Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie.Kepala wanita itu terasa sakit m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status