ANMELDEN“Biarkan aku melihatnya!” teriak Ivy, suaranya pecah dan serak bergetar.Paramedis bergeser sedikit. Dari celah itu, Ivy melihat ...Ethan, kepala miring ke samping, wajahnya pucat, darah samar di bawah pelipis. Sabuk pengaman telah dipotong. Dadanya naik turun sangat pelan.Teramat sangat pelan.“Ethan …” bisik Ivy, bukan memanggil, tapi memohon.Paramedis berteriak cepat, “Kita harus pindahkan korban! Satu, dua—angkat!”Ivy ikut bergerak maju, seolah tubuhnya sendiri menolak berpisah dari Ethan.Adrian menahan bahu Ivy dengan tegas, tapi lembut. “Nona, biarkan mereka bekerja.”Ivy menelan napas gemetar, tapi matanya tidak lepas dari tubuh Ethan yang dinaikkan ke tandu.“Status kesadaran menurun,” kata paramedis pada rekannya. “GCS enam. Kita harus ke rumah sakit sekarang.”GCS. Skor kesadaran. Angka enam berarti …Ivy merasa tubuhnya melemah, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri.“Adrian,” panggilnya, hampir tidak terdengar, “aku ikut di ambulans.”“Tentu, Nona.”Pintu ambulans dit
Hanya kilatan lampu putih besar yang menerobos kabut hujan. Ban mobil yang melintasi genangan besar menyebabkan hydroplaning mendadak. Bagian belakang mobilnya tergelincir ke kiri. Ethan mencengkeram kemudi kuat-kuat. “Sial!” “Ivy—tunggu!” Ia berusaha menahan mobil tetap lurus, tapi hujan sangat deras, jalan terlalu licin, dan mobil dari arah berlawanan berjarak dekat. “Ivy, tutup teleponnya!” perintahnya refleks, hanya agar Ivy di seberang sana tidak bisa mendengar apa yang sedang terjadi padanya, walau teredam suara derasnya hujan. Braak! Suara metal beradu terdengar begitu keras, memecah area sekitar. Benturan mendadak membuat tubuh Ethan terlempar ke depan, sabuk pengaman menahan keras hingga dadanya seperti diremas dari dalam. Mobil menghantam pembatas jalan, berputar setengah lingkaran, lalu berhenti mendadak dengan hentakan brutal. Namun di seberang, Ivy tidak mengakhiri panggilan. Ia menunggu. “Ethan …? Ethan?!” Ada getaran panik dalam suara memanggil yang
Perpustakaan itu berbau lembut kertas tua dan kayu. Sunyi, kecuali suara halaman yang dibalik perlahan.Isla duduk di sisi meja panjang, tubuhnya condong sedikit ke depan, memperhatikan beberapa lembar dokumen yang disusun rapi.Adrian berdiri di samping Isla, menunjuk satu bagian dengan ujung pulpennya. “Yang ini bukan angka yang perlu dihafal,” ujarnya pelan. “Cukup dipahami alurnya. Kau hanya perlu tahu bagaimana aset keluarga ini dicatat dan diinventaris setiap bulan.”Isla menggigit bibir bawahnya sebentar. “Sepertinya aku belum terbiasa melihat … begitu banyaknya kertas.”“Tidak ada yang terbiasa di hari pertama.” Adrian menata ulang map-map itu, suara yang keluar bernada lembut. “Dan kau belajar cepat. Itu yang terpenting.”Isla terdiam, tapi ada sedikit rona malu di wajahnya. Seakan tidak nyaman dipuji, tapi juga tidak menolak.Sementara Ivy sudah berdiri di ambang pintu—tempat terakhir yang ingin ia tuju hari ini, sambil kini memperhatikan Isla dan Adrian selama beberapa deti
Ivy tersenyum. Sama sekali tidak tersinggung. “Tidak boleh berubah pikiran, Kakek.”Arthur mendengus. “Kau ini, sama keras kepalanya sepertiku.”Ivy tidak menanggapi lagi. Ia melangkah keluar dari ruang kerja Arthur, menutup pintu perlahan. Napasnya baru saja ia embuskan ketika mendapati ayahnya berdiri di ujung lorong, seolah sudah menunggu sejak tadi.Alexander menatap putrinya. Tatapannya kini tidak setajam Arthur, namun lebih menyelidik dan lebih hati-hati.“Sudah selesai bicara dengan Ayahku?” tanyanya pelan.Ivy mengangguk. “Sudah.”Alexander tidak langsung mengajak masuk ke ruang lain. Ia hanya memberi isyarat kecil dengan kepalanya, mengarah ke ruang kecil di sudut lorong—tempat biasa ia membaca atau bersantai sejenak setelah hari melelahkan.Tidak bertanya, Ivy langsung mengikuti.Setelah pintu ruang kecil itu tertutup, barulah Alexander bicara.“Jadi,” katanya sambil bersandar ringan pada tepian meja, “kau benar-benar memutuskan menikah dengan pria dari Winchester itu, ya ..
Arthur menatap cucunya lekat-lekat. Penuh dugaan, namun ia sudah menebak apa yang akan Ivy bicarakan dengannya.“Ayo, ke ruang kerjaku,” perintahnya datar, menghabiskan langkahnya di tangga, dan melewati Ivy.Ivy menghela napas pelan, lalu mengikuti sang kakek.Mereka duduk bersamaan di kursi masing-masing.“Katakan ...” Tanpa basa-basi, Arthur menatap Ivy, menunggu.Sama seperti Arthur, Ivy pun tidak mau berputar-putar. “Aku akan menikah dengan Ethan.” Dahi Arthur menegang sedikit. Kedua alis matanya bertaut, namun itu sama sekali tidak mengejutkan untuknya.Selama cucunya kembali ke Harrington, dan beberapa hari terakhir, ia terus membedakan dan membandingkan setiap perilaku Ivy. Melihat keseriusan atau keterpaksaan yang tampak dari cucu yang ia besarkan sedari kecil dengan didikannya yang keras.“Apa pun yang kukatakan, tidak akan merubah keputusanmu, bukan?”Tanpa berpikir, Ivy menjawab. “Ya, tidak akan.”Arthur menghela napas pendek. “Keluarga Harrington dan Winchester tidak aka
“Aku tidak akan berhenti. Sampai kau yang meminta aku berhenti memperjuangkanmu, Sayang.”Ivy menelan ludah mendengar pernyataan lembut, tapi tegas dari Ethan.Jantungnya berdetak terlalu kuat … ia merasa takut. Takut akan betapa banyaknya tempat di dalam dirinya yang sudah terisi oleh Ethan.Kemampuannya saat ini hanyalah menatap pria itu tanpa berkedip, tidak ada kata-kata.Ethan sendiri bersiap pergi. Ia membenarkan kerah kemejanya, mengambil ponsel dari meja, lalu menatap Ivy sekali lagi.Tatapan yang menyiratkan keberanian yang tidak terlalu lama. Karena kalau lebih lama, ia pasti akan mencumbu Ivy lagi.“Aku pergi dulu. Tolong hubungi aku kalau ada apa-apa,” ucapnya tenang.Ivy hanya mengangguk. Tidak menatap atau bertingkah dingin, tapi ia sedang menahan segala sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dadanya.Ethan berjalan menuju pintu. Ivy menatap punggung pria itu.Dan tepat saat Ethan menyentuh gagang pintu, Ivy bergerak begitu saja, tanpa sadar mengikuti langkah Ethan.“Ak







