مشاركة

Bab 4: Suami Istri

last update تاريخ النشر: 2026-01-05 16:30:18

Eryas dengan tenang mengambil cokelat dari tangan Eira. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka bungkusnya dengan gerakan santai, lalu menyodorkannya kembali. "Ini, sekarang bisa dimakan," ucapnya.

Eira menatapnya dengan tatapan waspada. Ketakutan terlihat jelas di mata merahnya yang bergetar, meski bibirnya tetap terkunci rapat. ‘Jangan perlihatkan ketakutanmu! Bersikap biasa saja! Kenapa aku selalu kehilangan kendali saat bersama pria ini?!’ batinnya menggerutu, tubuhnya menegang.

Eryas menatap balik, kali ini dengan pandangan datar yang sulit ditebak. Ia meletakkan cokelat itu ke tangan Eira, lalu berdiri dan melangkah pergi.

"Itu camilanmu. Jika kau belum nyaman menunjukkan lukamu pada orang asing, aku akan pergi."

Langkah-langkah Eryas menjauh, dan punggung tegapnya semakin kecil di mata Eira—membuat dadanya diliputi kepanikan aneh. Tubuhnya bergerak spontan, memeluk Eryas dari belakang.

Tubuh Eryas menegang sejenak, membeku. Dingin tubuh Eira menempel di punggungnya, membuatnya terdiam, berpikir cepat. ‘Ada yang aneh dengan anak ini,’ batinnya.

Eryas berbalik perlahan, lalu memegang kedua bahu Eira.

"Apa kau kedinginan?"

Eira hanya menunduk dalam diam, menggigit bibirnya sendiri, menghujat dirinya dalam hati. ‘Bodoh! Kenapa aku melakukannya? Sekarang aku benar-benar ketahuan!’

Eryas terus menatapnya—tenang, namun penuh perhitungan. Tatapannya menajam saat melihat gurat ketakutan di wajah Eira. Ia lalu menatap dalam ke mata merah itu. "Eira, apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin aku pergi atau tetap di sini?"

Otak Eira mendadak beku. Dadanya sesak. Pertanyaan itu terasa asing baginya, hampir menyakitkan. Tidak pernah ada yang bertanya seperti itu sebelumnya.

"Kau mau aku tetap di sini?" suara Eryas merendah, nyaris seperti bisikan. Ia memperhatikan perubahan mikro-ekspresi di wajah Eira. "Aku pergi saja?" lanjutnya, memiringkan kepala sedikit, masih menunggu jawaban. "Kau mau apa?"

"Huwaaa!" Eira tiba-tiba meronta. Tubuh mungilnya melepaskan diri dari genggaman Eryas lalu berlari mengelilingi kamar, mengacak seprei seperti anak kecil kehilangan arah.

Eryas hanya berdiri diam, wajahnya datar namun matanya tajam, menganalisis setiap gerakan Eira. "Coping mechanism murahan," gumamnya dingin. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan meninggalkan kamar, membiarkan Eira sendirian.

Saat pintu tertutup, suasana kamar mendadak sunyi—dan beban kembali menghantam bahu Eira.

Ia menatap pintu kamar yang kini terkunci. Napasnya berat. Tiba-tiba, tangannya meraih rambut panjangnya, mencengkeram keras—menariknya sekuat tenaga hingga beberapa helai rontok.

‘Bagaimana ini?! Aku ketahuan! Kalau dia melapor pada Ayah… apa yang akan terjadi padaku?!’

Kepalanya berdenyut hebat. Suara-suara dalam kepalanya menggema, saling bertabrakan, tak memberi ruang logika.

‘Lakukan sesuatu! Harus melakukan sesuatu yang meyakinkan!’

Matanya mengarah ke satu titik—pintu balkon. ‘Itu dia…’

Dengan langkah cepat, nyaris seperti melayang, Eira membuka pintu balkon. Angin sore menyambutnya, dan ia berdiri di tepi pagar balkon lantai dua. Tubuhnya kecil, ringkih, namun tatapannya gila dan tajam.

Ia menunduk, menilai ketinggian antara dirinya dan tanah. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis.

Tanpa ragu, ia merentangkan tangan.

‘Kalau terluka parah… kalau tak sadarkan diri… aku bisa lepas dari semua ini. Dari Ayah. Dari pria itu. Dari… segalanya.’

Angin menyapu rambut dan pakaian tidurnya saat tubuhnya mulai condong ke depan. Eira memejamkan mata.

Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada gravitasi.

Dan terjun.

Namun…

Tubuh Eira tiba-tiba terhempas ke udara. Refleks, matanya terbuka lebar.

Dia terkejut—bukannya menghantam tanah, tubuhnya justru memantul, terlempar kembali ke atas… lalu jatuh lagi… dan terpantul lagi. Berulang-ulang.

Ketika akhirnya hentakan terakhir mereda, tubuh Eira mendarat dengan duduk di atas… trampolin?

Napasnya memburu, kepalanya berputar. Lalu, sosok pertama yang tertangkap oleh matanya adalah—

“Trik yang bagus.” Eryas muncul dari balik bayangan, berjalan pelan sambil bertepuk tangan, iramanya tenang, menghantui. Ia kemudian ikut duduk di atas trampolin, beberapa jengkal darinya. “Apa yang kau pikirkan? Bahwa dengan tidak sadarkan diri, masalahmu akan hilang begitu saja?”

Eira menelan ludah. Rasanya seperti ada batu menancap di tenggorokannya. Emosinya terkelupas satu per satu oleh sorot mata pria itu.

‘Bagaimana dia bisa tahu? Semua yang aku lakukan selalu berhasil... selama puluhan tahun... Tapi sekarang? Kenapa... kenapa tidak berhasil padanya?’

Panik kembali menyerbu dadanya.

‘Lakukan sesuatu! Jangan biarkan dia membaca lebih dalam!’

Tanpa aba-aba, Eira berteriak dan melompat turun dari trampolin, mencoba kabur—atau setidaknya menjauh.

Tapi Eryas lebih cepat. Dalam sekejap, dia menangkap tubuh mungil itu dengan satu tangan, mendekapnya dengan mudah seolah hanya memindahkan karung beras.

“Mau ke mana lagi?” suara Eryas tenang, namun tajam. “Membuat keributan di rumahku tidak akan membawa hasil apa-apa.”

Tanpa repot, dia mengangkat Eira dengan satu lengan, membawanya seperti barang ringan yang tak memberontak. Eira meronta, tubuhnya bergetar, matanya liar mencari jalan keluar. ‘Aku takut! Dia mau membawaku ke mana? Apa dia akan bilang ke Ayah? Tidak… jangan!’

Eryas menurunkannya perlahan di atas sofa ruang tamu. Napas Eira terengah-engah, tubuhnya kaku karena ketakutan.

‘Apa yang harus kulakukan sekarang? Menangis histeris? Tidak! Aku sudah membuat terlalu banyak masalah. Dia pasti sudah kehilangan kesabaran! Dia akan memukulku. Tidak... aku tidak mau! Lebih baik aku jatuh dari lantai dua daripada dipukuli sampai pingsan! Bahkan saat sudah pingsan pun mereka masih memukul... aku tidak mau lagi!’

Eryas memperhatikan Eira dalam diam. Gadis itu terus menggelengkan kepala, seolah mencoba mengusir sesuatu dari pikirannya. Ketakutan begitu nyata di wajahnya.

"Aku tidak akan memberitahukan apapun pada ayahmu," kata Eryas, suaranya tajam dan tegas seperti pisau yang memotong kabut.

Seketika, Eira membeku. Pupil merahnya menatap langsung ke pupil hitam Eryas yang kini menatapnya tajam namun tidak menghakimi.

"Anggap saja kita ini sama," lanjut Eryas, nada suaranya merendah, lebih dalam. "Kita sama-sama harus berpura-pura agar bisa bertahan hidup."

Dia tersenyum tipis. Sebuah senyum yang... hangat. Tulus. Nyaris asing di wajah sedingin miliknya.

Eryas mengulurkan tangan, menjabatkan telapak tangannya padanya.

“Tenang saja. Aku di pihakmu. Tidak perlu takut lagi. Aku... adalah temanmu.”

Eira hanya menatapnya, bingung, seperti seseorang yang baru mendengar bahasa asing. ‘Teman? Bukannya... suami istri?’

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 100

    Udara malam yang tenang hanya dipecah oleh suara napas dua insan yang kini berada dalam ruang yang sama—ditemani aroma lembut minyak aromaterapi yang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu redup memantul di kulit Eira, menciptakan bayangan halus di sepanjang lekuk punggungnya yang dipijat perlahan oleh tangan Eryas. "Jadi, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan anak?" tanya Eira dengan polos, suaranya terdengar lembut namun menggantung di udara. Eryas tersenyum kecil, tetap fokus pada pijatannya. "Sebenarnya hal itu diperlukan untuk foreplay. Tapi rencanaku adalah membuatmu relaks. Otot tubuhmu terlihat tegang. Ditakutkan jika melakukan penetrasi akan merasa sakit." Ia menekan lembut punggung Eira, suaranya terdengar lebih dalam namun tetap menenangkan. "Yang penting sekarang, nikmati dulu pijatannya. Buat dirimu relaks dan katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman!" Eira hanya mengangguk pelan. Ia menutup matanya perlahan, menyerahkan diri pada kehang

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 99

    Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit dalam balutan gelap pekat. Lampu di kamar menyala redup, menyebarkan cahaya hangat yang memantul di dinding. Di atas ranjang, sepasang suami istri itu telah berbaring berdampingan. Eryas memiringkan tubuhnya, menghadap Eira. Tatapannya lembut, namun di balik ketenangan itu ada aura dominan yang samar—seolah ia mengamati, menilai setiap reaksi kecil yang muncul di wajah Eira. Eira, yang menyadari tatapan itu, menoleh perlahan. Sorot matanya bertemu dengan mata Eryas, dan dalam sekejap udara di antara mereka menjadi begitu sunyi. Detak jam dinding terdengar jelas, berdenting pelan seperti menghitung waktu yang melambat. Eryas mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Eira dengan lembut. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Sudah malam. Ayo tidur,” titahnya lembut. Eira menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku belum bisa tidur. Aku masih penasaran.” Eryas mengangkat alis sedikit, suaranya tetap tenang. “Tentang apa? Tentang c

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 98

    “Kau mau uang?” tanya Eryas dengan nada datar tapi matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia kemudian merogoh sakunya perlahan, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang tampak sudah sering dipakai. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah bahkan tindakan sekecil itu memiliki makna tersendiri. Dari sela lipatan dompet, Eryas menarik selembar uang berwarna ungu, halus dan masih kaku, lalu menyerahkannya kepada Eira. “Karena kau baru pertama kali memegang uang, aku akan mengawasimu. Sekarang, ayo kita ke kantin dan aku akan mengajarimu cara menggunakan uang.” Eira menerima uang itu dengan kedua tangan, memandangi kertas berwarna ungu itu seperti benda asing dari dunia lain. Mata peraknya menatapnya penuh kebingungan dan kekaguman sekaligus. “Kantin?” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri terdengar aneh di telinganya. Eryas bangkit dari kursinya, jas dokternya berayun ringan. Ia mengulurkan tangan ke arah Eira dengan sikap penuh wibawa tapi lembut. “Benar. Kita a

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 97

    Di ruang pemeriksaan, Eira hanya duduk diam di atas ranjang pasien yang terasa dingin. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuat dada terasa sedikit sesak. Tubuhnya tegang ketika alat-alat medis mulai dipasang satu per satu di kulitnya—beberapa terasa dingin, sebagian lainnya menggelitik. Eira menoleh ke samping, matanya menangkap gelembung aneh yang perlahan membesar di lengannya. Cairan transparan di dalamnya beriak lembut, seperti hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Apa ini normal? Kenapa rasanya seperti tubuhku sedang diperiksa sampai ke tulang?' pikirnya, menelan ludah gugup. Beberapa menit kemudian, suara pena dokter yang menari di atas kertas terdengar begitu jelas di telinganya. Ketika pemeriksaan selesai, dokter itu menutup berkas hasil dengan suara klik lembut, lalu menyerahkan selembar catatan ke tangan Eira. "Ini adalah hasil pemeriksaan dan masa suburmu. Silakan tunjukkan ke suamimu," ucap dokter Marisa dengan suara lembut namun tegas. Eira memandangi lembaran it

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 96

    Ara masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah ringan, sebelah tangannya membawa segelas es teh manis yang masih berembun dingin. Cairan kecokelatan itu bergoyang lembut setiap kali ia melangkah cepat di lantai rumah sakit yang mengilap. Udara di dalam terasa jauh lebih dingin dibanding di luar, membuat embun pada gelas plastik itu menetes perlahan di sepanjang jari Ara. Tatapannya berputar mencari Eira, hingga matanya menangkap sosok berambut silver terang yang berdiri kaku di tengah koridor. Eira terlihat mencolok—seperti potongan cahaya yang tersesat di antara lautan jas putih dan seragam perawat. Ara segera berlari menghampiri, langkahnya bergema pelan di lantai ubin. “Kak Eira, ada apa?” tanyanya cepat, nada suaranya sedikit terengah namun tetap ceria. Begitu mendekat, senyum Ara perlahan memudar. Ia menatap wajah Eira yang tampak pucat, matanya berair, dan bibirnya sedikit bergetar. Ada sesuatu yang tidak beres. Ara mengikuti arah pandang Eira. Matanya menajam, menyipit sedik

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 95

    "Memangnya kenapa?" tanya Eira dengan ekspresi bingung. Tatapan matanya polos, seolah tidak paham kenapa Ara tiba-tiba berubah nada. "Lupakan saja! Yang terpenting sekarang, kita harus berjalan ke arah rumah sakit itu. Kau mau bertemu dengan suamimu, kan?" Ara menunjuk lurus ke depan, ke arah gedung tinggi berwarna putih keabu-abuan yang menjulang di kejauhan. Logo rumah sakit di atasnya berkilau terkena sinar matahari, tampak megah dan sedikit menakutkan bagi orang yang belum pernah ke sana. Dari tempat mereka berdiri, gedung itu terlihat tidak terlalu jauh—tapi cukup untuk membuat keringat mengalir jika harus berjalan kaki ke sana. Eira mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat taman hiburan. "Ayo!" serunya bersemangat, lalu berlari ke arah rumah sakit tanpa pikir panjang. Langkahnya ringan, namun penuh energi—seolah semua rasa lelah di perjalanan tadi menguap begitu saja. "Kak Eira! Aku bilang berjalan saja! Jangan berlari!" teriak Ara sambil berus

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status