Home / Rumah Tangga / Istri Gila Pak Dokter / Bab 5: Apa dia juga pernah...

Share

Bab 5: Apa dia juga pernah...

last update publish date: 2026-01-05 16:30:52

Eryas mengernyitkan kening, merasa ada yang janggal dari ucapannya barusan. Ia menurunkan tangannya perlahan, membatalkan niat untuk menjabat.

"Ada apa? Kenapa diam saja? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"

'Tentu saja salah! Kita kan suami istri, bukan teman,' batin Eira geram, namun tetap bungkam. Ia hanya menggeleng pelan tanpa berani bersuara.

Eryas terkekeh kecil. Ia menutup sebagian wajahnya dengan tangan, seperti baru sadar akan sesuatu.

"Astaga! Aku lupa! Kita sudah menikah. Tentu saja kita bukanlah teman, tapi sepasang suami istri. Maksudmu begitu, kan?"

Eira mengangguk polos, seperti anak kecil yang baru saja ditebak isi pikirannya.

Tatapan Eryas berubah dingin, menusuk dalam. Di balik ketenangannya, pikirannya bergolak. 'Dia bahkan mengerti konsep pernikahan, status suami dan istri. Jika dugaanku benar, berarti dia tidak sepenuhnya gila.'

Eira menunduk. Perasaannya seperti diupas perlahan, satu per satu. Ia bisa merasakan tubuhnya memanas oleh tatapan Eryas. Pelipisnya mulai berkeringat. 'Bagaimana ini? Apa dia mulai mencurigaiku lagi?'

Tanpa sepatah kata, Eryas mengalihkan pandangan. Ia melangkah menjauh dan berjalan menuju kamar, meninggalkan Eira yang makin kebingungan. 'Eh? Kenapa dia pergi lagi? Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan padaku?'

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah di lantai atas. Eira menengadah, dan mendapati Eryas berdiri di pagar lantai dua. Namun alih-alih turun lewat tangga, pria itu justru melompat begitu saja, mendarat di ruang tamu dengan presisi sempurna.

Mata Eira membelalak. 'Dia ini... bukan manusia biasa? Atlet? Atau semacamnya?'

Dengan tenang, Eryas berjalan mendekat. Di tangannya, ada sekantong camilan yang sebelumnya ditinggalkan di kamar. "Soal barter yang aku ajukan... apa kau yakin mau menolaknya?"

'Barter apa?' Eira menatap bingung, mencoba mengingat maksudnya.

Eryas menjatuhkan diri santai di sofa di dekatnya setelah meletakkan semua camilan di meja. "Apa kau lupa? Tentang barter sederhana. Kau boleh makan semua camilan ini, asal aku boleh melihat luka di tubuhmu."

Eira menegang. Tubuhnya kaku. 'Masalah itu lagi? Kenapa dia sangat terobsesi dengan tubuhku? Apa jangan-jangan...'

Pikiran Eira melayang. Ia teringat suara ayahnya yang menggema dalam kepalanya.

Flashback:

"Kau harus melayaninya dengan baik, Eira! Jangan sampai kau menolak saat Eryas ingin menyentuhmu!"

Flashback off.

Eira menggeleng cepat, seperti menepis ingatan itu. Ketakutan kembali menyelimuti wajahnya.

Eryas memandangi perubahan ekspresi Eira dengan tatapan datar. "Kenapa takut? Bukankah aku sudah melihat tubuhmu saat memandikanmu setelah kita sampai di sini? Tidak terjadi hal buruk, kan?"

Eira membeku. Wajahnya langsung memerah saat mengingat kejadian itu. Ia menunduk dalam-dalam.

"Jadi bagaimana? Tetap tidak mau?" tanya Eryas. Ia mengambil satu snack, membukanya, lalu mengunyahnya dengan santai. "Kalau tidak mau, ya sudah. Semuanya aku makan saja."

Dengan refleks, Eira meraih tangan Eryas. Ia sendiri tak tahu kenapa. Yang jelas, hatinya menolak melihat semua camilan itu dihabiskan begitu saja oleh pria di depannya.

Ia menatap Eryas dengan sorot mata tajam. Meski tak mengucapkan sepatah kata pun, siapa pun yang melihat bisa langsung mengerti apa yang ada di benaknya. 'Jangan dihabiskan sendiri! Aku juga mau!'

Eryas tersenyum miring, penuh kemenangan. Ia menyodorkan sebungkus snack ke arah Eira, seperti sedang memberi umpan kepada makhluk liar yang mulai jinak.

Eira menatap bungkus snack itu penuh waspada. Ia mengendus aromanya, seolah memastikan tak ada sesuatu yang aneh.

Eryas hanya menatapnya dengan ekspresi dingin, lalu bertanya tenang, "Apa kau pernah diberi makan menggunakan racun? Tenang saja. Ini aman."

'Pria ini siapa? Apa dia bisa membaca pikiranku? Kenapa dia selalu tahu apa yang kupikirkan?' Eira mengerutkan dahi, namun akhirnya mengulurkan tangan, mengambil camilan yang ditawarkan—keripik kentang.

Ia menatap lekat bentuk dan warnanya. Sekali lagi, ia mengendusnya dengan hati-hati sebelum akhirnya memasukkan satu ke mulut.

"Kau adalah orang gila paling waras dan hati-hati. Aktingmu dapat bintang empat dari lima."

"Uhuk!" Eira langsung tersedak. Camilan belum sempat turun sepenuhnya, sudah dihentak kalimat tajam itu.

Eryas hanya terkekeh pelan. Entah mengapa, bagi dirinya yang biasanya kaku dan tanpa emosi, tingkah Eira terasa... lucu. Tapi ia tahu, ini bukan waktu untuk tertawa.

Tanpa berkata apa-apa, Eryas berbalik dan berlari ke dapur. Tak sampai semenit, ia kembali dengan segelas air putih di tangannya.

"Minum ini." Ia mengulurkan gelas itu padanya. "Tenang saja. Ini air mineral biasa. Tidak ada racun atau hal aneh lainnya."

Entah kenapa, Eira mempercayainya begitu saja. Ia menerima gelas itu dan langsung meneguknya habis.

Eryas duduk di sebelahnya, mengusap punggung gadis itu perlahan, menenangkan. "Sudah, pelan-pelan saja minumnya. Jangan sampai tersedak lagi."

Eira menggerutu dalam hati. 'Kau sendiri yang membuatku tersedak! Orang aneh!'

Setelah gelas itu kosong, Eryas mengambilnya dari tangan Eira dan meletakkannya hati-hati di atas meja. Gerak-geriknya sangat tenang, terukur.

"Sudah lebih baik?" tanyanya, kali ini dengan suara yang tetap datar, tapi ada kelembutan tipis yang menyelinap di balik nada suaranya.

Tak menjawab, Eira tiba-tiba membuka bagian atas pakaian tidurnya. Ia berbaring telungkup di sofa, membelakangi Eryas tanpa sepatah kata pun.

Eryas menunduk, dan terdiam. Punggung Eira penuh luka. Bekas cambukan, sayatan... semuanya terlihat nyata dan menyakitkan. Luka-luka itu bukan sesuatu yang baru; sebagian bahkan sudah mulai membentuk jaringan parut.

Ia mengulurkan tangan perlahan, jari-jarinya menyentuh kulit Eira dengan sangat hati-hati. Gerakannya seperti sedang menyentuh kaca rapuh. "…Kau benar-benar mengingatkanku pada diriku sendiri, dua puluh tahun lalu."

Eira terpaku. 'Mengingatkan pada dirinya sendiri?' batinnya mulai bergolak. 'Apa maksudnya? Memangnya dia... pernah pura-pura gila juga sepertiku? Apa dia juga pernah... harus bertahan hidup dengan cara seperti ini?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 100

    Udara malam yang tenang hanya dipecah oleh suara napas dua insan yang kini berada dalam ruang yang sama—ditemani aroma lembut minyak aromaterapi yang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya lampu redup memantul di kulit Eira, menciptakan bayangan halus di sepanjang lekuk punggungnya yang dipijat perlahan oleh tangan Eryas. "Jadi, kita tidak perlu melakukan hal seperti itu untuk mendapatkan anak?" tanya Eira dengan polos, suaranya terdengar lembut namun menggantung di udara. Eryas tersenyum kecil, tetap fokus pada pijatannya. "Sebenarnya hal itu diperlukan untuk foreplay. Tapi rencanaku adalah membuatmu relaks. Otot tubuhmu terlihat tegang. Ditakutkan jika melakukan penetrasi akan merasa sakit." Ia menekan lembut punggung Eira, suaranya terdengar lebih dalam namun tetap menenangkan. "Yang penting sekarang, nikmati dulu pijatannya. Buat dirimu relaks dan katakan jika ada yang membuatmu tidak nyaman!" Eira hanya mengangguk pelan. Ia menutup matanya perlahan, menyerahkan diri pada kehang

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 99

    Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit dalam balutan gelap pekat. Lampu di kamar menyala redup, menyebarkan cahaya hangat yang memantul di dinding. Di atas ranjang, sepasang suami istri itu telah berbaring berdampingan. Eryas memiringkan tubuhnya, menghadap Eira. Tatapannya lembut, namun di balik ketenangan itu ada aura dominan yang samar—seolah ia mengamati, menilai setiap reaksi kecil yang muncul di wajah Eira. Eira, yang menyadari tatapan itu, menoleh perlahan. Sorot matanya bertemu dengan mata Eryas, dan dalam sekejap udara di antara mereka menjadi begitu sunyi. Detak jam dinding terdengar jelas, berdenting pelan seperti menghitung waktu yang melambat. Eryas mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh pipi Eira dengan lembut. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. “Sudah malam. Ayo tidur,” titahnya lembut. Eira menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku belum bisa tidur. Aku masih penasaran.” Eryas mengangkat alis sedikit, suaranya tetap tenang. “Tentang apa? Tentang c

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 98

    “Kau mau uang?” tanya Eryas dengan nada datar tapi matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang dalam. Ia kemudian merogoh sakunya perlahan, mengeluarkan dompet kulit berwarna hitam yang tampak sudah sering dipakai. Gerakannya tenang, penuh perhitungan, seolah bahkan tindakan sekecil itu memiliki makna tersendiri. Dari sela lipatan dompet, Eryas menarik selembar uang berwarna ungu, halus dan masih kaku, lalu menyerahkannya kepada Eira. “Karena kau baru pertama kali memegang uang, aku akan mengawasimu. Sekarang, ayo kita ke kantin dan aku akan mengajarimu cara menggunakan uang.” Eira menerima uang itu dengan kedua tangan, memandangi kertas berwarna ungu itu seperti benda asing dari dunia lain. Mata peraknya menatapnya penuh kebingungan dan kekaguman sekaligus. “Kantin?” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri terdengar aneh di telinganya. Eryas bangkit dari kursinya, jas dokternya berayun ringan. Ia mengulurkan tangan ke arah Eira dengan sikap penuh wibawa tapi lembut. “Benar. Kita a

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 97

    Di ruang pemeriksaan, Eira hanya duduk diam di atas ranjang pasien yang terasa dingin. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membuat dada terasa sedikit sesak. Tubuhnya tegang ketika alat-alat medis mulai dipasang satu per satu di kulitnya—beberapa terasa dingin, sebagian lainnya menggelitik. Eira menoleh ke samping, matanya menangkap gelembung aneh yang perlahan membesar di lengannya. Cairan transparan di dalamnya beriak lembut, seperti hidup. Jantungnya berdetak lebih cepat. 'Apa ini normal? Kenapa rasanya seperti tubuhku sedang diperiksa sampai ke tulang?' pikirnya, menelan ludah gugup. Beberapa menit kemudian, suara pena dokter yang menari di atas kertas terdengar begitu jelas di telinganya. Ketika pemeriksaan selesai, dokter itu menutup berkas hasil dengan suara klik lembut, lalu menyerahkan selembar catatan ke tangan Eira. "Ini adalah hasil pemeriksaan dan masa suburmu. Silakan tunjukkan ke suamimu," ucap dokter Marisa dengan suara lembut namun tegas. Eira memandangi lembaran it

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 96

    Ara masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah ringan, sebelah tangannya membawa segelas es teh manis yang masih berembun dingin. Cairan kecokelatan itu bergoyang lembut setiap kali ia melangkah cepat di lantai rumah sakit yang mengilap. Udara di dalam terasa jauh lebih dingin dibanding di luar, membuat embun pada gelas plastik itu menetes perlahan di sepanjang jari Ara. Tatapannya berputar mencari Eira, hingga matanya menangkap sosok berambut silver terang yang berdiri kaku di tengah koridor. Eira terlihat mencolok—seperti potongan cahaya yang tersesat di antara lautan jas putih dan seragam perawat. Ara segera berlari menghampiri, langkahnya bergema pelan di lantai ubin. “Kak Eira, ada apa?” tanyanya cepat, nada suaranya sedikit terengah namun tetap ceria. Begitu mendekat, senyum Ara perlahan memudar. Ia menatap wajah Eira yang tampak pucat, matanya berair, dan bibirnya sedikit bergetar. Ada sesuatu yang tidak beres. Ara mengikuti arah pandang Eira. Matanya menajam, menyipit sedik

  • Istri Gila Pak Dokter    Bab 95

    "Memangnya kenapa?" tanya Eira dengan ekspresi bingung. Tatapan matanya polos, seolah tidak paham kenapa Ara tiba-tiba berubah nada. "Lupakan saja! Yang terpenting sekarang, kita harus berjalan ke arah rumah sakit itu. Kau mau bertemu dengan suamimu, kan?" Ara menunjuk lurus ke depan, ke arah gedung tinggi berwarna putih keabu-abuan yang menjulang di kejauhan. Logo rumah sakit di atasnya berkilau terkena sinar matahari, tampak megah dan sedikit menakutkan bagi orang yang belum pernah ke sana. Dari tempat mereka berdiri, gedung itu terlihat tidak terlalu jauh—tapi cukup untuk membuat keringat mengalir jika harus berjalan kaki ke sana. Eira mengangguk cepat, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat taman hiburan. "Ayo!" serunya bersemangat, lalu berlari ke arah rumah sakit tanpa pikir panjang. Langkahnya ringan, namun penuh energi—seolah semua rasa lelah di perjalanan tadi menguap begitu saja. "Kak Eira! Aku bilang berjalan saja! Jangan berlari!" teriak Ara sambil berus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status