Return

Return

By:  Riza Fumiko  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
9Chapters
402views
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Bila diberi kesempatan kembali ke masa lalu, hal apa yang akan kamu rubah dalam hidupmu? Felicia meninggal pada kecelakaan tragis di puncak karirnya, padahal wanita berusia 30 tahun itu belum saatnya mati. Malaikat maut menawarkan satu pilihan, mau tak mau wanita dengan hidup serba glamor itu harus kembali menjadi siswa berusia 15 tahun dengan nama asli Sari Sartika yang tinggal di pedesaan. Felicia jadi dirinya di masa lalu dengan misi utama untuk memperbaiki seluruh kesalahan yang telah ia perbuat. Mulai dari memperbaiki hubungan dengan orang tuanya, menghindari jalan pintas dalam menjadi penyanyi, hingga menghindari hamil di usia muda. Tanpa gelimang harta dan hanya dengan hidup sederhana, mampukah Sari memperbaiki seluruh kesalahan yang telah Felicia perbuat?

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
9 chapters
Prolog
⚠️ Semua yang ada dicerita ini bersifat fiksi dan fantasi serta dibungkus dalam sajian komedi. Penulis tidak bertanggung jawab atas perbedaan prespektif atas suatu kepercayaan yang ada dalam tulisan ini. Harap untuk menyikapi dengan bijak. ⚠️   Felicia POV Asap mengepul tebal dari sebuah mobil yang hancur ringsek parah setelah menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Para warga berkerumun mendekat, menyaksikan pengemudi yang sudah terkapar tak berdaya. Beberapa warga segera melakukan pertolongan seadanya, ada juga yang langsung menelepon ambulans. Sumpah, itu kecelakaan paling parah yang pernah gue lihat seumur hidup. Gue pe
Read more
01. Sari yang Menolak Jatuh Hati
Malam menjelang pagi, Felicia merasakan tubuhnya benar-benar ringan saat ia melihat dunia dan hiruk-pikuknya yang masih terus berputar. Bahkan saat Felicia tidak lagi bernapas. Hingar-bingar lampu jalanan dan ramainya kota benar-benar indah, hanya saja Felicia tidak tahu di zaman mana ia sedang berada.Malaikat Maut membawa Felicia ke tempat yang sangat jauh. Felicia tidak memperhatikan. Ia sibuk dengan aktifitas manusia. Sampai mereka tiba di pintu suatu rumah kecil, Felicia pun akhirnya menoleh dan terdiam merenung."Ini—""Selamat datang kembali ke rumah orang tuamu, Felicia."Felicia merasai bulu kuduknya naik, matanya menghangat dengan pelupuk menahan bendungan air. Semua yang Felicia takutkan, rasa bahagia, jejak penyesalan, titik air mata berasal dari sini. Felicia tak merasa pantas berdiri di sini."Saya beneran harus di sini?""Iya." jawab Malaikat Maut. "Kamu mau protes lagi?"Felicia diam, kemudian menatap rumah orang
Read more
02. Sari dan Segudang Mimpi
Sinar matahari belum terlalu menusuk saat kelas X3 melakukan pemanasan. Tidak ada murid yang tahu apa yang akan mereka lakukan hari ini. Materi sepak bola sudah selesai lebih awal dari yang dijadwalkan, seharusnya ini jam kosong bagi mereka.Tapi Pak Mulyono berkata tidak."Ketua kelas silahkan pimpin. Setelah pemanasan, nanti kalian putari sawah sebelah barat satu kali. Saya tunggu kalian di sini, saya catat."Sari mengumpat kasar dalam hatinya. Sari benci pelajaran olahraga, dia tidak bisa dan fisiknya memang tidak mendukung. Apalagi sawah barat milik warga itu terhitung sangat luas, pelajaran olahraga benar-benar menyiksa. Tertulisnya menyiksa imajinasi, prakteknya menyiksa fisik."Ri, ayo lek ndang." ujar Mega, teman dekat Sari.Sari mengangguk pasrah dan mulai berlari keluar dari sekolah bersama Mega. Masih belum terlalu jauh, Sari yang sedang berlari pelan pun disenggol pundaknya secara sengaja oleh seseorang. Membuat Mega hampir iku
Read more
03. Titik Henti
Kelas X3 kosong saat jam istirahat. Hanya ada beberapa siswa yang makan bekal mereka di kelas, salah satunya Sari. Sedangkan sisanya pergi ke kantin ataupun bermain bola di lapangan. Bangku sebelah Sari kosong. Mega pergi ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas, lalu mampir ke kamar mandi. Dan setelah kembali ke kelas, Mega berlari dengan wajah panik. Derap langkah terdengar di sepanjang koridor, Sari sampai menoleh sebelum Mega sampai di pintu. "Sari ayo, Ri! Felix! Felix! Kasihan Felix, ayo!" "Felix? Felix kenapa Felix?" Sari berusaha tenang. "Felix kesurupan!" Sari mendelik seketika mendengar itu. Ia pun langsung menutup kotak bekalnya dan berlari ke ruang kesehatan bersama Mega. Antara takut dan khawatir bercampur menjadi satu, tapi yang penting sekarang adalah mendampingi teman mereka. Mega langsung menjeblak ruang kesehatan saat ia tiba. Seketika mereka melihat Felix yang duduk tenang di atas ranjang, dengan teh hangat di tanganny
Read more
04. Felix dan Rintik
"SARI, IT'S RAINING!!!" Felix masuk ke kelas yang sedang tak diawasi guru dengan senyuman gembira, dia menari-nari senang dan tersenyum lebar. Mega pun seketika tersenyum lebar. Dia ikut berdiri dan bergabung heboh dengan Felix.  Sari melirik ke jendela, awan mendung yang sedari tadi menggantung akhirnya pun menjatuhkan air hujan. Kalau begini sudah pasti guru tidak akan masuk ke kelas. Jarak ruang guru dan ruang kelas yang terlalu jauh hanya akan membuat para guru kebasahan kalaupun memakai payung sekalipun. Hujan semakin deras dalam waktu singkat. Sari tersenyum tipis dan akhirnya ikut bergabung dengan Felix dan Mega bermain air. Seperti anak kecil, mereka tertawa dan tersenyum lebar, saling menyiram air pada seragam satu sama lain. Siswa lain ikut keluar dari kelas. Baik anak kelas X3 maupun kelas lain. Mereka bermain air, dari menampung sampai saling siram. Ada yang melepas kemeja pramuka dan berguling di lantai yang licin. 
Read more
05. Tanda Tanya Atas Adam
Terik matahari masih berkuasa di langit saat Sari dan Mega tiba di rumah Felix. Meski ini bukan kali pertama mereka datang, tapi tetap saja kagum. Melihat rumah Felix yang besar dan sudah berkeramik lengkap.  Hanya saja ada yang berbeda. Mobil putih yang biasanya terparkir di depan rumah itu tidak ada di tempatnya. Rumah tertutup rapat dan tidak terdengar suara sibuk dari dalam.  "Aku yang ketuk pintunya ya," kata Mega. Sari mengangguk setuju. Mega pun mengetuk pintu kayu besar itu tiga kali. "Permisi, Feliiix!" Tidak ada sahutan dari dalam. Mega mengulum bibir ke dalam sambil menunggu ada suara yang datang. Namun sampai hitungan lima, tidak ada sahutan dari dalam. Mega pun hendak kembali mengetuk pintu, namun suara tiba-tiba terdengar. "Iya, sebentar!" Mega tersenyum lega. Itu suara Felix. Sari bisa mendengar suara langkah Felix mendekat. Ia menjadi sedikit lega, tidak sabar untuk menengok keadaan Felix dan memberika
Read more
06. Langkah Untuk Memperbaiki
Mega menghela napas berat. Ia menyangga dagu dengan tangan kanannya sambil memainkan pulpen di tangan kiri. Pandangannya tertunduk ke buku tulis yang masih kosong setengah, tapi niat untuk mengerjakan tugas sudah habis. Yah, memang terkadang mengumpulkan niat itu hal sulit. Mega melirik ke samping. Pekerjaan Sari malah belum sampai seperempat, tapi tatapan matanya sudah kosong melamun ke ruang tamu rumah Mega. "Kenapa sih, Ri?" tanya Mega menyenggol pundak Sari pelan. Sari pun menoleh, tapi tatapannya masih kosong. "Felix, Ga." jawabnya pelan. "Felix kenapa sih sebenernya? Tadi di kelas juga gak banyak omong sama kita. Lebih suka ngumpul sama yang cowok-cowok."  Mega terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Ya gimana ya, Ri. Felix kan juga cowok. Mungkin dia juga pengen punya temen cowok. Masa konconan sama awake dewe terus." Sari tidak langsung menjawab. Ada jeda sesaat. "Eh?" Mega menoleh.
Read more
07. Rujak, Piring Persahabatan
Sari kembali ke rumah saat hari sudah malam. Ia mengulum bibir ke dalam dan beberapa kali meneguk saliva. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Sari harus memastikan ayahnya belum pulang dari sawah. Masalahnya, Sari tidak memakai baju ganti. Masih dengan dress ungu yang biasa ia kenakan saat bernyanyi di panggung hajatan. Tentu akan sulit berbohong kalau Sari bermain ke rumah Mega karena dress ungu ini. Seiring langkah yang semakin dekat ke rumah, Sari bisa mendengar suara ayahnya yang jelas terdengar. Sari pun terdiam, mengutuk dalam hati. Sekarang mau beralasan bagaimana pun, pasti ketahuan.  Jawaban amannya sekarang cuma ada satu. Memutar ke rumah Mega dan meminjam bajunya supaya seolah-olah Sari memang berkunjung ke sana. Memang jauh, tapi mau bagaimana lagi. Semua ini demi menghindari konflik di rumah. Sari membalikkan tubuh dan hendak berjalan pergi. Namun sepertinya, semua itu sudah terlalu terlambat. "SARI! MAU KE
Read more
08. Hari Pertama Ujian
Hembus angin pagi mengelus kulit. Sari berjalan kaki menuju sekolah ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri. Maklum, jalanan desa tak sebaik di kota. Kalau tidak berangkat sekolah awal, bisa-bisa terlambat. Berpapasan dengan beberapa warga di jalan, Sari tidak lupa untuk menyapa dan menunduk hormat. Adab kebiasaan di kampung. Yang seharusnya masih ada juga di kota. Seharusnya. Soal kata-kata Mega kemarin, Sari jadi merenung. "Gak pernah pulang bareng sama cowok selama 16 tahun selain Felix." Sial, kalimat itu kembali terbayang. Sebenarnya kalau mau diceritakan sih, bukannya tidak ada. Tapi malah ada. Cuma ya, tidak semua berjalan manis. Mungkin salah satunya, adalah pemilik sepeda onthel yang rajin sekali membunyikan klakson sepedanya padahal jarak dengan Sari masih sangat jauh. Dari nada bicaranya yang bahagia, berani bertaruh cowok itu sudah tersenyum dari kejauhan. "Kring, kring, ada sepeda. Sepedaku roda lima. Kud
Read more
DMCA.com Protection Status