He Is My Husband (INDONESIA)

He Is My Husband (INDONESIA)

By:  helloimironman  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
Not enough ratings
70Chapters
78.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Umur pernikahan baru 2 bulan, Anjani harus menelan kenyataan pahit kalau suaminya akan meneruskan studinya di kota sebrang. Anjani tidak bisa berbuat banyak mengingat ia masih belum menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Dengan berat hati, Arsya pergi ke Jogja meninggalkan istri dan calon anaknya yang baru berumur 2 minggu di kandungan. Awalnya mereka kira semua hanya tentang waktu saja, karena lambat laun mereka akan bersatu kembali, tapi apa mungkin semua berjalan seperti yang mereka bayangkan, sedangkan orang ketiga hadir dan mencari ruang. Memilih bertahan atau meninggalkan?

View More
He Is My Husband (INDONESIA) Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
70 Chapters
Prolog
Ada sebuah keharusan yang tidak bisa di tunda. Meninggalkan seorang istri yang baru di pinangnya dua bulan lalu demi mengejar cita-cita. Membuatnya terpaksa membuka celah pada keharmonisan yang selalu mereka jaga. Sebuah jarak akan menguji kekuatan kedua cinta mereka.    Memilih bertahan atau meninggalkan?    Arsya dengan keras bersumpah tidak akan ada yang bisa merusak rumah tangga mereka dengan cara apapun, jarak, komunikasi dan rindu yang mungkin akan menjadi masalah baru. Namun, Arsya bersumpah semua hal kecil itu tidak akan menggoyahkan bentang rumah tangga mereka. Itu janji yang Arsya berikan pada Anjani -istrinya. Memberi bekal kepercayaan selama mereka berpisah.  Sebagai seorang istri yang perngertian dan bijaksana, Anjani berusaha untuk turut percaya. Ikut menjaga dan merawat hubungan jarak jauh mereka. Seperti yang suaminya katakan; jarak, komunikasi dan rindu. Itu hanya setitik masalah yang mungkin ada mener
Read more
01. Di Tinggal Lagi
Meski sudah tiga bulan berlalu sejak kepergian Arsya mengejar gelar Magister-nya di kota istimewa Yogyakarta. Akan tetapi tanpa kehadiran Arsya di sisinya masih terasa asing bagi Anjani. Sang suami yang terbiasa berada di dekatnya kini menghilang sampai waktu yang tak ditentukan.Anjani mengusap perutnya yang mulai menonjol, kehadiran jabang bayinya seolah menggantikan sosok Arsya yang selalu menemaninya kemana pun.Mata Anjani menatap lesuh layar laptopnya. Sudah dua hari dirinya tidak tidur demi merevisi draft skripsi. Anjani tidak boleh lengah, ia harus cepat menyelesaikan skripsinya, dengan begitu ia bisa cepat lulus dan menyusul Arsya ke Jogja.“Sabar ya, Nak. Bunda janji sebentar lagi kita akan bersama Ayah setiap hari, nggak perlu nunggu tanggal merah dan hari libur lagi.” Kata Anjani sambil mengusap perutnya yang mulai membucit.Senyum Anjani terbentang, berinteraksi den
Read more
02. Tukang Palak
Anjani Pov“Bab empat sudah ditandatangani pak Broto?”Aku mendongak, lalu mengangguk, “Sudah pak,” jawabku sambil menatap Pak Ardan yang tengah fokus mengecek bab empat draf skripsiku.Sesuai janji yang di buat Pak Ardan dua hari lalu via pesan singkat, hari ini aku mulai bimbingan dengannya di cafe Camilla sejak beberapa menit lalu.“Deadline skripsimu bulan depan?” tanya Pak Ardan tanpa menatap kearahku.“Iya, Pak.”“Dan kamu baru sampai bab empat?”Aku mematung, bingung harus menjawab apa. Wajah dingin Pak Ardan membuatku mengulas senyum tipis saja tak mampu.“Satu minggu,” kata Pak Ardan sambil menaruh draf skripsiku ke atas meja, “Selesaikan bab lima dalam waktu satu minggu. Lusa temui saya lagi."Aku menghela nafas panjang. Mau protes pun
Read more
03. Alasan Yang Menyakitkan
“Lo nggak capek apa Jan kuliah dengan keadaan hamil kayak gitu?”   Anjani menghela nafas, pertanyaan yang sudah sering ia dengar. Katanya mereka prihatin dengan keadaan tubuhnya yang tengah hamil tapi masih harus disibukan dengan kegiatan perkuliahan. Padahal Anjani fine - fine saja menjalaninya.   Anjani tersenyum simpul, menatap Naura yang menunggu jawaban darinya, “Jangankan merasa lelah, ngeluh aja gue jarang. Keadaan gue yang kayak gini nggak menyusahkan gue sama sekali kok, serius!"    Cecilia yang duduk disamping Naura ikut menyahut, “Mungkin belum kali, baru tiga bulan kan? Nanti kalo udah gede juga baru kerasa capeknya,”    “Betul tuh! Lagian kok lo boleh nikah sebelum lulus kuliah, kalo gue sih udah diusir dari rumah kali,” Nah kalau ini Jiya yang bicara. Demi apapun, mendengar ocehannya membuat Anjani menahan diri untuk tidak menarik rambut cewek bermulut lemes itu. Tidak etis se
Read more
04. ACC
Arsya: Jek, lagi sama bini gue gak?  Jee Katama: lo kira hidup gue cuma dipake buat ngintilin bini lo?  Arsya: sensi amat, gue kan cuma nanya Jee Katama: gak tau, digondol kucing kali bini lo Arsya mengusap wajahnya kasar. Dari pagi Anjani tidak ada kabar. Papahnya bilang Anjani pamit pergi dari rumah jam sembilan tadi dan sampai siang ini ponsel istrinya itu masih tidak aktif.  Terlebih Jeka –sahabat karib Anjani sendiri tidak mengetahui keberadaan istrinya itu. Padahal kalo kemana-mana mereka pasti selalu bareng. Gimana Arsya tidak panik seperti ini?  Memang semenjak kejadian masalah seminggu lalu komunikasi antara dirinya dan Anjani terasa hambar. Tidak romantis dan penuh perhatian seperti biasanya. Anjani cenderung singkat dan slow respon setiap membalas chatnya.  Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Arsya memang kecewa saat mengetahui Anjani berbohong padanya. Seperti apa sih sosok Ardan sampai - samp
Read more
05. Jealous
Arsya mengusap matanya yang masih berat. Ia segera menyibak selimutnya tatkala merasa ada sesuatu di perutnya yang mendesak ingin keluar. Dengan cepat Arsya langsung berlari memasuki kamar mandi.Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama didalam kamar mandi, Arsya segera keluar sambil mengusap perutnya yang merasa tak enak sejak subuh tadi. Terhitung sudah tiga kali Arsya keluar masuk kamar mandi pagi ini."Kayaknya gue masuk angin nih," gumam Arsya mengingat semalam ia bergadang nonton bareng pertandingan bola dengan teman kantornya, belum lagi semalam ia pulang jam 2 dini hari.Melihat layar ponselnya yang menyala diatas meja, Arsya segera meraihnya. Terdapat puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Anjani di sana. Arsya menepuk jidat, sejak kapan ponselnya berubah jadi mode silent?Ah, iya, sejak meeting kemarin siang. Dan ia lupa mengubahnya lagi.

Read more

06. Hot Daddy
Deka Ipar: pesawat kak jani udah berangkat sejam lalu, kalau masih belum sampe tolong jemput di bandara ya bang   Deka Ipar: gue takut kakak nyasar   Arsya yang baru saja selesai bersih-bersih tempat kosnya langsung terdiam. Mencerna lebih dalam maksud pesan yang adik iparnya kirim setengah jam lalu.    Segera jari jempol Arsya menekan cepat ikon berbentuk telpon di roomchat mereka. Belum ada jawaban, Deka mengabaikan panggilannya.    Arsya: jani emang mau kemana, Ka?    Lima menit berlalu, pesannya belum juga dibaca. Bergantian Arsya menghubungi Anjani dan Deka, tapi hasilnya sama, mereka kompak mengabaikan panggilannya.    "Assalamu'alaikum, ada apa anak ganteng?"   Arsya sedikit bernafas lega mendengar suara Mamahnya disebrang sana, "Walaikumsalam, Mah, Mamah dimana?"   "Di hati ayahmu," jawab S
Read more
07. He Is My Husband
Anjani menatap Arsya penuh selidik. Memperhatikan gerak - gerik panik suaminya ntah karena apa. Keluar masuk kamar tidak jelas sedang melakukan apa. "KAMU NGAPAIN SIH MAS?!" teriak Anjani kesal. Baru datang bukannya dikasih minum, malah disuruh nonton tingkah anehnya Arsya. Arsya yang baru mau kembali masuk kedalam kamar berhenti, menatap Anjani kikuk, lalu mengeluarkan cengiran bodohnya. "Itu.. Hm.. Iya ya, mas ngapain ya daritadi?" ujar Arsya membuat Anjani menahan bibirnya supaya tidak kebablasan mengumpati suaminya itu. Anjani bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Arsya lalu menempelkan telapak tangannya pada kening pria itu. "Oh, panas," kata Anjani lalu membawa Arsya masuk kedalam kamar. "Tidur, mas masih demam," titah Anjani, Arsya segera merebahkan dirinya diatas ranjang nurut. Anjani melangkah keluar, menuju dapur. Menyeduhkan Arsya segelas teh manis anget. Karena apapun sakitnya, teh
Read more
08. Siapa Yang Menyebalkan?
Menyebalkan. Anjani paling nggak suka kalo liat Arsya lebih mementingkan pekerjaan atau tugas kuliah daripada dirinya, sedangkan mereka jarang punya waktu bersama. Arsya tuh ngerti nggak sih sama yang namanya memanfaatkan waktu? Nggak tau apa kalau nyari kesempatan buat mereka berada di satu atap yang sama itu nggak gampang. Segala cara udah Anjani lakukan buat menarik atensi suaminya itu. Dari mulai menaikan volume tivi hingga full, menghentak-hentakan kaki kesal, dan yang terakhir.... Menimpuk kepala Arsya pakai remot AC. Dan itu berhasil. "Nggak bisa dilanjut besok?" seru Anjani saat Arsya mendongak dan menatapnya bertanya. Arsya terlihat biasa saja walau Anjani sudah bersikap kurang ajar padanya. Arsya mengusap belakang kepalanya yang kena sasaran tadi, "Maunya gitu, tapi nanggung," jawab Arsya, lalu kembali fokus pada layar laptopnya lagi. Mengabaikan raut muka Anjani yang
Read more
09. Menyogok
Seminggu tinggal sama istri, akhirnya Arsya kembali merasakan rasanya diperlakukan layaknya seorang suami. Terakhir, empat bulan yang lalu Anjani melayani nya seperti ini. Iya, empat bulan yang lalu sebelum jarak memisahkan mereka. Untung saja urusan perkuliahan Anjani tinggal selangkah lagi, jadi ia tidak perlu menunggu lama-lama untuk kembali tinggal bersama. "Nanti aku ke supermarket ya mas, kulkas udah kosong kayak dompet tanggung bulan," Seru Anjani sambil menyeduh susu hangat untuk Arsya. "Iya, tapi nanti malam ya tunggu mas pulang kerja," jawab Arsya sambil menyicip susu hangat buatan sang istri. Kalo pagi Arsya memang kebiasaan minum susu daripada kopi. Kecuali kalo bergadangin tugas sampe pagi baru yang Arsya cari kopi. "Emang mas gak capek? Aku bisa sendiri kok," "Nggak, pokoknya tunggu mas pulang." Anjani mengangguk nurut lalu memindahkan nasi gorengnya ke wadah, kemudian menyajikannya diatas meja mak
Read more
DMCA.com Protection Status