UNSPOKEN PAIN

UNSPOKEN PAIN

By:  Rose Marberry  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
Not enough ratings
52Chapters
14.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

21++ (MENGANDUNG KONTEN DEWASA, TRIK LICIK BERBAHAYA, JANGAN COBA UNTUK MASUK KE DALAMNYA!) Ilana mengira, hubungannya bersama Harry berjalan mulus, semulus pantat bayi. Tapi Harry lebih memilih peduli dan sangat protektif pada adiknya—Adora, yang Ilana sebut—si Boots. Harry sangat protektif pada Adora, hingga membuat gadis itu risih, dan membuat siapa saja yang melihatnya mengira mereka mempunyai hubungan khusus, padahal mereka hanya kakak adik. Adora tak boleh keluar, Adora tak boleh punya pacar. Harry menyimpan rahasia mengapa ia sangat peduli pada Adora dan mengabaikan Ilana, sedangkan Adora diam-diam punya kekasih—Syden sahabat Harry. Bagaimana kelanjutan dari hubungan mereka yang rumit? Rahasia apa yang sebenarnya Harry pegang?

View More
UNSPOKEN PAIN Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
52 Chapters
Perkenalan
"Dan untuk kesekian kalinya, kamu beralasan ini yang! Lagi-lagi si boots. Aku muak! Jangan hubungin aku dulu!" "Dia punya nama!" bentak Harry tak terima. Ilana membuang ponselnya, sambil berbaring di kasur. Setiap kali ingin berjumpa, Harry pasti beralasan. "Dora sakit, Dora sendiri di rumah. Dora nggak boleh ditinggalkan, Dora belum makan. Aku akan datang, sebelum Dora tidur. Aku harus mengucapkan goodnight untuk Dora." Padahal Adora sudah berumur 20 tahun. Bukan lagi anak usia dua tahun. Adora adalah prioritas. Apalagi mereka hanya tinggal berduaan. Tanpa orang tua.________________________________Adora jatuh cinta pada Syden, nama yang memiliki arti senyum yang indah. dan memang senyum Syden sangat menawan. membuat Adora tidak pernah melepaskan pandangannya dari sahabat kakaknya tersebut. namun sayang, Adora memiliki seorang kakak yang over protektif. semua hal tidak boleh dilakukan sendiri. dan
Read more
Bagian 1 : Rumitnya Hidup
Adora menghembuskan napas kesal berkali-kali. Sambil melirik laki-laki di sampingnya. Ia kesal pada Harry-kelewat kesal.Harry harus merepotkan dirinya, membuat ia harus terlambat ke kampus. Padahal ini hari pertama perkenalan mahasiswa baru. Adora yakin, jika hari pertama sudah sial seperti ini, maka hari-hari selanjutnya harinya akan berakhir buruk.Apalagi ia rela menunda kuliahnya selama satu tahun. Dan sekarang, masanya untuk kembali mengenyam pendidikan. Adora suka sekolah, dengan sekolah ia banyak teman dan bebas dari kukungan Harry. Harry terlalu berlebihan padanya. Padahal, jika laki-laki itu mengerti, Adora hanya ingin mereka menjaga privasi masing-masing. Adora sudah cukup umur-lebih umur. Tapi Harry memperlakukan dirinya, seperti anak TK. Sikap protektif Harry padanya membuat Adora risih, ia tak nyaman tapi Adora tak bisa membantah semua kata Harry."Pulang jam berapa?" Adora pura-pura tuli, dan tak mendengarka
Read more
Bagian 2 : Psikopat Barry
Suara piring bergaduh menandakan sang pemilik sedang mengisi lambungnya dengan makanan. Adora makan malam dalam diam. Rasanya malas untuk menatap Harry. Ia sudah kesal pada laki-laki itu."Kalau ada tugas dikerjakan. Kalau tidak, langsung tidur." See? Adora merasa Harry mengatakan untuk anak 5 tahun. Padahal umurnya nyaris 20 tahun. Harus berapa lama lagi, Harry melihat dirinya seperti anak kecil?Adora memilih diam dan memasukan capcay dalam mulutnya-lebih tepatnya bunga kol putih. Walau sudah penat, Harry yang akan memasak untuk makan malam daripada menyuruh Adora yang melakukan semuanya. Karena malas satu ruangan bersama Harry, Adora lebih memilih mengurung diri di kamar. Dan menunggu Harry memanggilnya untuk makan malam. Padahal Adora sudah bilang, ia bisa masak tapi Harry tetap tidak mengizinkan dirinya. Terkadang Adora kasihan pada Harry tapi sifat laki-laki itu juga yang buat jengkel.Adora pura-pura menunduk dan me
Read more
Bagian 3 : Alasan Bertahan Hidup
"Ini rekomended sekali. Lihat, bagaimana spons begitu empuk dan merata sempurna di wajah aku. Tinggal totol sedikit dan langsung merata krim yang tadi. Bagi yang mau pesan link di bio. Kebetulan sekarang ada diskon sebesar 30% bagi pembeli pertama. Kalian beli banyak semakin banyak diskon."Ilana tersenyum ke arah kamera dan melambai. Rekaman hasil endors yang sudah mengantre beberapa minggu yang lalu. Ilana mendesah lelah, apa hidupnya seperti ini? Terus monoton? Tapi bukankah perkerjaan seperti ini yang ia inginkan dari dulu? Tapi kenapa sekarang ia mengeluh?Ilana melihat ke bawah, masih banyak produk yang siap untuk menanti dirinya. Mungkin Ilana perlu menghire seseorang yang bisa membantu dirinya mengurus semua ini. Dalam sehari, Ilana bisa merekam 20-an produk dan masih saja banyak mengantre dan menghubungi dirinya untuk endors pada dirinya. Harusnya Ilana bersyukur ia tak perlu bekerja terlalu susah seperti yang lain, bekerja dengan
Read more
Bagian 4 : Tytyd Ngambek
"What the fuck?!" pekik Ilana. Saat membuka pintu unit apartemen dan menemukan psikopat Barry berdiri di sana sambil tersenyum mesum. Nih cowok emang cari mati. "Malam manis!" Buk! Ilana menutup pintu lagi dengan keras. Ia hanya memakai handuk dan juga handuk kecil kepalanya karena baru selesai mandi, setelah hampir tiga jam ia menghabiskan waktu untuk berendam. Kepala Ilana rasanya mau pecah, karena terlalu overthinking tentang hubungannya bersama Harry yang rasanya seperti tak bisa diselamatkan. Sayang saja, Ilana tak punya cadangan laki-laki idaman hingga ia tetap mempertahankan Harry hingga sekarang. Jika tidak, Ilana sudah membuang Harry ke semak-semak. Ilana membuka kulkas mininya dan makan apel. Persetan dengan psikopat itu. Untuk apa ia menganggu dirinya. Ilana khawatir, persahabatannya bersama Alena kandas karena si psikopat tak tahu malu ini. Ilana duduk di sofa, mengambil hairdryer dan mengeringkan rambutnya, ia berencana me
Read more
Bagian 5 : Tips Sembuh Ala Barry
"Abang berangkat dua hari, mau survei lapangan. Ada proyek di sana. Sudah abang telpon restoran untuk mengantarkan makanan saat makan malam. Makanan di kulkas juga sudah diisi penuh. Jaga diri baik-baik, biar abang nelpon diangkat." Adora diam, padahal dalam hatinya ia ingin menari zumba saking senangnya. Dalam 19 tahun hidupnya akhirnya Harry meninggalkan dirinya walau dalam dua hari. Tentu ini proyek yang besar, mana mau Harry meninggalkan dirinya. "Karena proyek ini bonusnya besar. Abang usahakan dapat, biar nanti kita bisa liburan." Adora tersenyum, walau hanya terpaksa. Ia memang jadi manusia paling munafik di dunia ini. "Oh iya hati-hati." Basa-basi. Padahal dalam hati Adora berharap Harry mati dalam perjalanan entah kecelakaan pesawat atau mobil masuk jurang. Gadis itu menggeleng, jangan dulu ia belum kerja dan belum punya tabungan yang cukup untuk masa depannya. "Sebenarnya Abang mau minta orang temanin kami tidur." Read more
Bagian 6 : Rumitnya Hidup Adora
"Serius Bar, aku merasa kayak pelihara kambing." ujar Ilana tanpa peduli lawannya tersinggung. Barry yang sedang bermain PS di layar plasma lebar Ilana hanya diam dan melanjutkan makan popcorn.Barry adalah keturunan manusia yang urat malunya putus. Saat pembagian urat malu, Barry datang telat jadi ia tak dapat. Sehingga terjadilah manusia tak tahu malu seperti sekarang.Rasanya Ilana ingin melemparkan remote ke kepala Barry agar laki-laki ini sadar dan segera minggat dari unitnya. Selain psikopat, tak punya malu, Barry juga tak peka. Padahal sudah terang-terangan Ilana mengusirnya."Serius deh aku betah bangat di sini. Kayaknya kita nikah aja."Ilana merenggut kesal. Barry sudah bisa bergerak kesana kemari, walau ia masih memakai sarung dan dokter belum mengizinkan laki-laki ini untuk kembali beraktivitas normal. Barry beralasan tytyd miliknya masih bengkak, walau Ilana merasa semuanya hanya akal-akalan Barry
Read more
Bagian 7 : Unspoken Pain
Yang Adora ingat, Harry selalu lembut padanya. Jarang sekali laki-laki itu membentak dirinya. Dan kali ini, Adora tak mau Harry muka padanya. Walau bagaimanapun Harry, Adora masih membutuhkan Harry. Laki-laki itulah tempatnya bergantung selama ini.Rasanya benci, tapi Adora membutuhkan Harry. Jadi, memang Adora tak bisa memendam lama-lama perasaan itu. Walau ada rasa kesal yang membuatnya ingin mengeluh, ingin mengadu, atau ingin berteriak sekuat yang ia bisa atas hidup yang ia terima.Adora langsung naik ojek pulang, khawatir Harry mengetahui dirinya. Bahkan Adora meminta tukang ojek untuk terbang saja.Adora tahu, Harry pasti tahu bagaimana penampilan Adora sekarang dan Harry pasti curiga karena Adora beralasan mereka kerja kelompok. Kerja kelompok di mana sampai larut malam? Makanan mahal yang masuk dalam perutnya rasanya mau dimuntahkan semuanya."Pak please pak! Cepat!" Adora mendesak tukang ojek. Syd
Read more
Bagian 8 : Sampai Kapan?
Malam ini, Ilana bisa melihat sebagai seorang laki-laki. Laki-laki yang bisa membuat dirinya terlindungi, laki-laki yang membuat dirinya sebagai seorang wanita seutuhnya, bukan dirinya yang dikenal sebagai wanita judes anti laki-laki. Udara malam yang dingin menusuk, tak menyurutkan keduanya untuk berbagi kebersamaan setelah sekian lama mereka saling merasa asing. Ilana selalu yakin, ia tak pernah salah memilih laki-laki ini. Bagaimana malam ini Ilana melihat diri Dennis—abangnya ada dalam diri Harry. Semoga Harry terus seperti ini. "Saya pinjamkan jaket?" Ilana mengangguk, ia mencium bau tubuh Harry. Segalak apapun wanita, mau semandiri apapun, ia tetap makhluk lemah yang bergantung pada laki-laki, apalagi laki-lakinya itu yang menawarkan. Harry tahu, Ilana adalah wanita galak yang kurang belaian. Jika diberi perhatian sedikit saja maka ia akan begitu menurut seperti anjing pada majikannya. Harry tidak memanfaatkan Ilana, tapi ia sedang belajar u
Read more
Bagian 9 : Permintaan Maaf
"Gils! Akhirnya, kita berpesta. Ajak pacarmu juga Nana." Ilana yang sedang sibuk mengoles di bibirnya menoleh pada Alena. Well, pacarnya bukan seperti manusia normal hal itu tak semudah itu ia mengundang Harry ikut bersama mereka. "Dia sibuk jaga kandang babi." jawab Ilana asal, sebelum ia mendengar barang yang dilemparkan tapi tak tepat sasaran. Ilana hanya memandang Alena malas, lebih malas lagi ia tahu fakta jika psikopat Barry akan ada di sana. Sepertinya Ilana harus menyiapkannya pisau lipat kecil di tasnya, jika Barry macam-macam padanya, Ilana langsung mengembiri milik laki-laki itu. "Nana babinya." gurau Alena sambil tertawa begitu kencang. Ilana tak perlu tersinggung, karena ia juga sering berbicara seperti itu dan berharap lawannya tidak tersinggung, lagian persetan dengan tersinggung, Ilana melakukan apa yang menurutnya benar. "Ke cafe pacarmu lagi?" tanya Ilana. Terlihat pancaran bahagia dia mata Alena. Andai sahabatnya tah
Read more
DMCA.com Protection Status