Marry My Ex

Marry My Ex

By:  Anindya NF  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
49Chapters
4.3Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Winda berusaha mengenyahkan segala tentang mantan kekasihnya. Tapi tiba-tiba, orang tuanya menjodohkan dengan mantan kekasihnya.Takdir atau malapetaka bagi Winda?

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
49 chapters
Chapter One | MME
"Bu, jangan bercanda seperti itu. Winda nggak suka" "Win, ini semua sudah di atur. Tidak bisa lagi di batalkan, bahkan undangan akan dicetak!" ujar Melati, ibunya Winda. Winda meremas ujung bajunya, mencoba meredam emosinya agar tidak meluap-luap. "Salah kamu sendiri, mengenalkan Ardi pada kakekmu," sungut Melati. "Sabar Winda!" gumam Winda dengan helaan napas beratnya. "Kenapa sulung keluarga Prakostama? Bukankah ada tiga anak laki-laki di keluarga itu?" tanya Winda. Dengan entengnya Melati menjawab, "Karena kamu pernah pacaran dulu dengannya, maka dari itu kakekmu memilih untuk menjodohkanmu dengannya." Rasa-rasanya Winda ingin ditenggelamkan saja, menikah dengan mantan? Tidak, tidak mungkin.  "Bu, bantuin Winda gagalkan perjodoham ini," pinta Winda sembari berlutut di hadapan Ibunya. Mengh
Read more
Chapter Two | MME
Selesai makan malam, seluruh keluarga Adiwijaya berkumpul guna membahas lebih lanjut perjodohan Winda.Mereka semua terlihat antusias, terkecuali Winda. Dengan malas Winda menopang dagu dengan kedua tangannya.Winda asik berkelana dengan pikirannya. Membayangkan bagaimana jika ia menikah dengan Ardi.Hingga tepukan pada bahu menyadarkannya. "Dengarkan! Jangan asik melamun" tegur Melati berbisik.Winda menatap malas Ibunya, "Winda ngantuk Bu!" ujar Winda mebenarkan posisi kakinya menyila di sofa."Jadi, perjodohan ini akan berlanjut ke pernikahan. Prakostama sudah memberitahu jika pernikahan akan dimajukan tiga hari lagi!" jelas kakek Adiwijaya yang membuat Winda tersedak minumannya."Uhuk, kok dimajukan? Winda kan belum bilang setuju mau dijodohkan!" seru Winda tak setuju."Setuju tidak setuju, pernikahan tetap dilaksanakan!" tegas Kakeknya.Winda m
Read more
Chapter Three | MME
Malam ini, keluarga Prakostama dan Adiwijaya berkumpul. Mereka berbincang lega karena telah menggelar pernikahan cucu-cucu mereka.Winda tidak ikut bergabung karena Winda sedang membantu memasak. Hanya laki-laki yang berkumpul. "Bu, ini sudah matang. Taruh dimana?" tanya Winda mematikan api kompor."Sebentar, Ibu ambil tempatnya" jawab Melati mengambil mangkuk besar dari dalam lemari.Ditaruhnya di atas meja. Sehingga Winda dengan mudah menuangkan sop nya."Aww, panas" pekik Winda saat tanganya tidak sengaja mengenai panci yang sedang ia tuang isinya. Beruntung sop tidak tumpah."Biar Mama aja, tangan kamu obati dulu. Nanti melepuh" suruh Santi segera menggantikan Winda menuang sop nya."Siapa yang melepuh?" tanya seseorang. Winda mengenalnya, Raka Dimas Prakostama. Adik dari Ardi."Oh, itu kakak iparmu. Tidak sengaja mengenai panci panas ini"
Read more
Chapter Four | MME
Tepat seminggu usia pernikahan Ardi dan Winda. Ardi telah memboyong Winda ke rumah mereka setelah menginap semalam. Siangnya mereka langsung  memutuskan untuk segera menempati rumah mereka. Sebenarnya bukan mereka tapi, Ardi sendiri yang membuat keputusan. Winda hanya bisa pasrah, "Turuti apa perkataan suami" wejang Ibunya. Dan kini, Winda tengah menikmati hari terakhir cutinya selama seminggu. Winda bekerja di toko bunga 'Gardenia nama tokonya. Sudah beberapa bulan yang lalu Winda bekerja setelah keluar dari Bank. Sayang kan? Tapi Winda hanya ingin menikmati harinya dengan baik. Bukan dengan tumpukan kertas dan uang yang membuat matanya panas. Sudah lima hari pula Ardi tidak pulang ke rumah. Winda sih biasa saja, yang terpenting Ardi tidak meminta haknya. Tapi, hal yang paling merepotkan adalah saat Ardi meminta Winda mengirimkan ba
Read more
Chapter Five | MME
Riska, dan Riska yang ada di pikiran Winda. Kenapa mantan sahabatnya mengirim foto dirinya tengah bersama Ardi.Winda ingin mengklarifikasi hubungan apa antara Ardi dan Riska.Malam tadi, Ardi ada panggilan mendadak dari kakeknya. Winda tidak ikut karena Ardi memaksanya untuk tetap di rumah.Pagi ini bahkan Ardi belum menunjukan batang hidungnyam. Memberi kabar setidaknya, tetapi tidak dilakukan oleh Ardi.Winda hanya memasak seadanya, hari ini ia harus berangkat pagi karena ada pesanan rangkaian bunga yang banyak.Selesai sarapan, Winda keluar rumah tidak lupa ia meninggalkan note di lemari pendingin.Mengendarai motor scoopynya. "Sampai detik ini. Aku tidak percaya jika aku menikah dengan mantanku sendiri." Pikir Winda sembari berkendara.Beruntung rumah yang Ardi miliki memiliki jarak tempuh dekat dengan toko bunga tempai Winda bekerja. Berbeda dengan saat Winda
Read more
Chapter Six | MME
Hanya satu hal yang terlintas dalam pikiran Ardi saat ini adalah, Winda. Ardi tidak mengetahui jika ada Winda melihat dirinya memberikan bunga pada Riska. "Pasti Winda salah paham lagi!" ujarnya sambil mengejar Winda yang telah masuk ke dalam lift. Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, "Winda!" ujar Ardi pelan tetapi penuh penekanan. Winda menyesali dirinya kini seperti orang bodoh yang memergoki suaminya. Ditambah tangisannya, entah kenapa Winda merasa sesak dalam hatinya. Saat Ardi masuk ke dalam lift, digenggamnya tangan Winda. Ardi menatapnya, tetapi Winda terus menunduk melihat ke arah bawah. Ardi tahu istrinya tengah menangis saat ini, diraihnya dagu Winda hingga wajahnya menghadap ke Ardi. "Hei, jangan menangis," kata Ardi pelan sembari menghapus air mata di pipi Winda. Winda hendak menepis, tangan Ardi sigap untuk
Read more
Chapter Seven | MME
"Terima kasih sudah mengantar sampai rumah, mau mampir?" tawarku. Dia menolak halus, baiklah jika seperti ini tidak bisa ada paksaan lagi. Pun aku melihat mobil milik Ardi sudah terparkir dalam garasi. "Makasih banget, nggak tahu mbak kalau tidak ada kamu" ujarku membenarkan tasku. "Nggak usah sungkan, mbak juga udah Raka anggap kakak Raka sendiri" ujarnya tersenyum kepadaku. Kadang aku bertanya-tanya, apa benar Ardi dan Raka saudara kandung. Kalau iya, sifatnya mengapa berbeda jauh sekali. "Kenapa mbak?"  "Eh, nggak papa kok. Mbak masuk dulu ya. Assalamualaikum" pamitku membuka pintu mobil. "Waalaikumsalam" jawabnya lalu melajukan kembali mobilnya. "Huh" helaan napasku berat sebelum membuka gerbang. Sampai di depan pintu, hendak aku membukanya Ardi sudah berdiri dengan tangan menyilang di da
Read more
Chapter Eight | MME
Suara adzan dzuhur menggema di setiap masjid pinggir jalan yang kami lalui. Mas Ardi memilih menepikan mobil di salah satu masjid dekat dengan rumah sakit."Kita shalat di sini dulu" Mas Ardi melepas sealtbelt nya, aku pun sama melakukannya."Iya" kuambil tas dan mencari mukena yang sudahku persiapkan.Kami berpisah di tempat wudhu, banyak juga orang yang melaksanakan shalat di masjid. Bahkan anak kecil juga banyak. Masyaallah, anak kecil saja sudah tahu apa yang akan menjadi kewajibannya.Setelah melaksanakan 4 rakaat, sejenak aku berdoa meminta pada sang Kuasa. Agar pernikahan ini selaku disertai dengan-Nya.Dalam perjalanan menuju rumah sakit, keheningan menyelimuti kami dalam mobil. "Ada masalah?" tanyaku pada Mas Ardi.Kentara sekali wajahnya yang risau atau apalah, "Tidak! Tadi Fani chat aku. Katanya satu jam lagi ada meeting" ujarnya."
Read more
Chapter Nine | MME
Tepat di persimpangan jalan yang ada di lampu merah rumah sakit. Raka keluar menggunakan mobil nya. Jam ini shift nya berakhir, perutnya yang keroncongan meminta untuk diisi.Sembari meunggu lampu merah, dari kaca jendela mobil. Raka melihat siluet seperti kakak iparnya yang sedang memasuki rumah makan padang."Oke! Mari kita makan" ujar Raka tersenyum kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah makan Padang.Sesampainya di sana. Raka masuk dan mencari keberadaan kakak iparnya.Sebenarnya, Raka bukan ingin merebut Winda dari Ardi. Raka hanya melihat kesungguhan pernikahan yang mereka jalani."Ehm" dehem Raka mendekati Winda.Winda menoleh kemudian mendapati adik iparnya sedang berdiri di belakangnya."Ng, kamu Raka. Mau ngapain?" tanya Winda bingung. Raka seorang dokter, mustahil makan pinggir jalan begini."Mau makan lah, masa mau mancing Kak. Ada-
Read more
Chapter Ten | MME
Ardi, dan Raka tengah berada di ruang tamu. Mereka berdua saling nendiamkan, Ardi yang sibuk melihat Raka dan Raka yang sibuk dengan tontonan di tv.Winda yang melihat mereka berdua hanya menggelengkan kepala, sembari menaruh nampan yang berisi teh hangat dan kue."Ada apa sih?" tanya Winda. Keduanya menoleh, tetapi Winda menatap Raka sekarang.Ardi menjadi geram sendiri melihat interaksi antara Winda dan Raka. "Ck," decak Ardi."Nggak ada apa-apa. Cuma nonton tv, nggak tau kak Ardi ngapain" jawab Raka.Winda mengangguk mengerti, lalu mendudukan dirinya di samping Raka. Tetap memisahkan jarak."Oh iya, soal yang dimobil itu gimana?"Raka mencerna kalimat Winda, dan ia sadar akhirnya lalu berdehem."Sekarang?" bisik Raka melirik Ardi yang ternyata juga melihat kearahnya.Winda menyunggingkan senyumnya, Raka mengerti dan ia sudah meng
Read more
DMCA.com Protection Status