Putih Abu-abu

Putih Abu-abu

By:  Mars Mipai  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
12Chapters
651views
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Perjalanan masa putih abu-abu yang penuh dengan kejutan. Berbagai tantangan harus dihadapi untuk menjadi manusia dewasa. Merubah diri menjadi orang dewasa tidaklah mudah. Di tambah harus menikah saat masih duduk di bangku SMA. Ada rasa bahagia karena menikah dengan orang yang dicintai,tapi tidak mudah untuk dijalani karena waktu yang belum tepat.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
12 chapters
Episode 1
"Besok, kalian harus menggunakan pita merah putih yang jumlahnya sesuai dengan tanggal lahir kalian,"kata kakak kelas panitia MOS."Apa?! Tanggal lahir aku kan tanggal 30. Berarti, besok kepalaku penuh dengan pita merah putih." Gumamku dalam hati,kaget mendengar ucapan kakak kelas tadiIni adalah hari pertama aku MOS di SMAN 1 Jakarta. Hari ini juga, kakak kelas panitia MOS memberitahu apa saja yang harus di bawa oleh perserta MOS selama 1 minggu. Perlengkapan yang harus di bawa namanya aneh-aneh, mulai dari singkong i love you, minuman bengkel,snack monyet-monyet gila,triplek berlapis,ratu perak, sampai minuman ngeres.Sepulang dari sekolah, aku langsung menyiapkan perlengkapan yang harus di bawa besok. Untuk mengartikan istilah-istilah perlengkapan yang aku bawa, aku harus bertanya ke keluargaku bahkan sampai tetanggaku."Mah! Besok aku di suruh bawa minuman bengkel kata kakak kelas. Mamah tahu tidak, minuman bengkel itu apa?" Aku bertanya pada mamahku yang
Read more
Episode 2
Seharian aku tidak memegang handphone,jadi aku enggak kepikiran buat tanya ke teman sekelas lewat chat. Beruntung, aku sempat minta nomor handphone temanku. Aku segera mengubunginya dan bertanya tentang scank monyet-monyet gila dan minuman ngeres.Alhamdulillah, temanku cepat membalas dan memberitahu kepadaku. Ternyata, snack monyet-monyet gila itu momogi dan minuman ngeres itu marimas. Ya ampun, otakku enggak kepikiran sampai situ. Akupun langsung membeli momogi dan marimas di warung madura. Sialnya, di warung madura tidak ada momogi,adanya nabati sip. Harus beli di mana lagi ini? Sekarang sudah malam. Warung-warung yang ada di sekitar rumahku tidak menyediakan momogi. Kata mamah,besok aku harus ke pasar pagi-pagi sebelum berangkat sekolah.***Setelah solat subuh dan mandi, aku dan mamahku pergi ke pasar mencari momogi. Alhamdulillah momoginya ada, tapi aku harus membelinya 1 pack. Enggak apa-apalah sisanya bisa buat nyemil.Sehabis pulang dari pasar, aku l
Read more
Episode 3
Oh my god! Semua bangku sudah terisi oleh 41 siswa. Begitu aku masuk semua mata tertuju padaku. Mereka semua seperti sedang mengheningkan cipta tidak ada yang berbicara satupun. Aku melihat ke kanan dan kiri tidak ada tempat yang kosong,kecuali kursi yang beda sendiri dan paling belakang. Tempatnya pun sempit banget,karena terpaksa tidak ada tempat lagi."Ini tempat, ada orangnya enggak?"tanyaku agar tidak malu kalau ternyata itu tempatnya orang."Kayaknya enggak ada, aku juga baru datang. Udah duduk aja di situ!" jawab temanku."Oke, aku duduk bareng kamu ya." Akhirnya aku dapat tempat duduk lalu menyimpan tas dan mencoba mengeringkan seragamku yang basah.Setelah berkenalan, aku jadi tahu temanku bernama Sasya. Baru berkenalan dia langsung bercerita,kalau dia datang persis sebelum aku datang. Jadi, intinya kita sama-sama malu datang terlambat ditambah baju yang basah.Baru kenal hari ini, ternyata Sasya orangnya asyik juga di ajak ngobrol. Mungkin kar
Read more
Episode 4
Aku tertidur,karena mata sudah ngantuk dan tidak ingat siapa nama temanku yang bijak di sekolah. Mungkin, besok aku akan mencoba mencari tahu namanya. Tapi, aku tidak bertanya langsung sama orangnya ya,karena malu kalau kenalan sama laki-laki. Nanti aku akan diam-diam mendengar orang lain memanggilnya.Bangun tidur ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi ku pakai baju,lalu membersihkan tempat tidurku. Bantal guling aku tidak bau pesing ya,karena aku tidak ngompol.Sepiring sarapan sudah aku habiskan dengan lahap. Aku segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat lagi. Pagi ini tidak hujan seperti kemarin. Alhamdulillah aku bisa datang awal waktu di sekolah.Suasana di kelas sudah tidak mengheningkan cipta lagi. Beberapa orang ada yang mencoba berkenalan dengan teman-teman yang duduknya dekat dengan mereka. Begitu juga teman yang ada di depanku, mereka mengajak aku dan Sasya berkenalan."Hai! Nama kamu Hani kan?"tanya teman yang ada di depan
Read more
Episode 5
"Kalian sudah kenal sama Ibu kan? Jadi ibu tidak usah perkenalan lagi. Insyaallah selama 1 tahun Ibu akan mengajar pelajaran matematika di kelas ini." Bu Rini berbicara di depan kelas.Ternyata bu Rini datang ke kelas untuk mengajar matematika bukan untuk mencari aku dan Sasya. Mudah-mudahan bu Rini melupakan kejadian di kantin. Aamiin doakan ya teman-teman.Bu Rini menjelaskan tentang logaritma. Aku masih belum terlalu paham dengan yang di jelaskan bu Rini,tapi aku tidak berani bertanya.Aku melihat temanku yang bijak itu,antusias sekali belajar matematika. Dia sangat aktif bertanya dan menjawab. Sampai bu Rini memberikan apresiasi kepada temanku itu.Tiba saatnya bu Rini mengacak nama untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Aku berdoa,semoga bukan aku yang terpilih. Sudah 3 orang yang maju, 2 orang bisa menjawab benar dan 1 lainnya menjawab salah. Tinggal satu nama lagi yang akan di pilih. Aduh! Semoga bukan aku!"Satu nomor lagi yang belum di
Read more
Episode 6
Ngobrol apaan? Aku cuma mau pinjam bolpoin saja di tegur. Nanti kalau aku enggak nulis malah di marahin lagi. Aku berucap dalam hati,kesal sama guru yang seperti itu. Bukan hanya aku saja yang kesal, Sasya juga kesal. Akhirnya teman-teman sekelas jadi melihat kita.Padahalkan, aku dan Sasya dari tadi memperhatikan dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh guru tersebut. Percakapan aku dan Sasya juga tidak banyak kok saat meminjam bolpoin. Entah kenapa,aku orangnya memang sensitif banget kalo di tegur seperti itu. Coba saja kalau guru itu tahu aku cuma ngomong mau pinjam bolpoin. Tapi tadi aku enggak bicara sama guru itu,palingan juga kalau aku  bilang cuma mau pinjam bolpoin nanti di jawab  'alasan saja' tapi kalau tidak memberikan alasan,nanti di tanya 'apa alasan kamu mengobrol' guru seperti ini tidak bisa menghargai muridnya.***Sepulang sekolah,Sasya dan Santi mengajak aku untuk ikut menjadi anggota osis. Kemarin,saat upacara ada pengumuman pendaft
Read more
Episode 7
"Huhuhu! Kak aku mau pulang!,"ucap salah satu peserta yang menangis dan ingin pulang."Silakan! Silakan kamu pulang kalau kamu berani! Ini sudah tengah malam,tidak ada kendaraan umum. Silakan kamu pulang!"teriak kakak kelas kepada peserta yang menangis.Dalam hatiku berkata,"duh,sebenarnya aku juga mau nangis kalau diginiin,tapi aku tahan-tahan biar enggak malu dan malah dimarahin nantinya. Eh ada juga yang enggak kuat ternyata".Setelah diteriaki oleh kakak kelas dan diberi tahu bahwa ini sudah tengah malam,peserta yang tadi menangis tidak jadi pulang. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Mau pulang takut enggak pulang juga takut.Kami di suruh memasuki ruangan kelas yang di dalamnya ada kakak kelasnya. Gila! Ini horor banget! Dan kelompok aku adalah yang pertama jalan duluan. Ya Allah! Aku tuh orangnya penakut banget padahal,tapi melihat teman aku yang sama-sama takut,aku mencoba memberanikan diri. Alhamdulillahnya malam ini bulan purnama,jadi malamnya tid
Read more
Episode 8
2 minggu kemudian,akan diadakan pemilihan ketua osis. Aku kaget,melihat daftar calon ketua osis. Ferdi adalah salah satu calon ketua osis. Bukan aku saja yang kaget,teman sekelasku juga kaget. Karena selama ini tidak ada yang tahu kalau Ferdi mencalonkan diri jadi ketua osis.Hari ini,seluruh calon ketua osis berorasi mencari dukungan agar dipilih. Mereka satu persatu bergantian berpidato menyampaikan visi misi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan beberapa siswa-siswi.Aku kagum melihat cara berbicara Ferdi di depan umum. Sepertinya banyak yang suka juga dengan cara pembawaan Ferdi yang berwibawa. Kalau dibandingkan dengan calon yang lain Ferdi jauh lebih bagus cara berbicaranya di depan umum.Pertanyaan yang diajukan kepada Ferdi,langsung dijawab dengan tegas,jelas,dan tepat sasaran tanpa bertele-tele. Berbeda dengan calon yang lainnya terlalu bertele-tele dalam menjawab pertanyaan.***Pemilihan ketua osispun dilaksanakan. Hari ini tidak a
Read more
Episode 9
"Ikut kemana?" Aku bertanya kepada Sasya saat Sasya menarik-narik tanganku."Udah pokoknya ikut dulu! Nanti kamu lihat sendiri!"jawab Sasya yang terus menarik tanganku menuju lapangan."Apaan sih,Sya? Kamu narik-narik tangan aku. Sakit tahu!!"kataku kesal."Itu lihat!" Sasya menyuruhku untuk melihat pameran seni yang sedang berlangsung."Lihat apa?"tanyaku yang tidak dijawab oleh Sasya. Setelah itu aku menyadari,ternyata yang sedang tampil adalah kakak kelas yang aku kagumi."Sya! Itu serius dia? Ya ampun,keren banget!" Aku melongo melihat penampilan kakak kelas yang aku kagumi itu.Sebenarnya bukan aku saja sih yang mengagumi,Sasya juga. Bahkan,hampir seluruh siswi di sekolah ini. Beruntung sekali Sasya mengajak aku ke lapangan daripada melihat Ferdi dan Santi yang bikin kesal.***Hari selanjutnya,aku diberi kabar oleh ketua osis bahwa setelah pulang sekolah akan ada rapat untuk lomba kebersihan dan kerapihan kelas.Siang
Read more
Episode 10
Lalu ada suara laki-laki mengentuk pintu kamarku. Itu pasti laki-laki yang tadi di kamar mamah. Aku tidak berniat membuka,tapi setelah itu mamah yang mengetuk pintu aku langsung membukanya.Aku kaget melihat mamah dan laki-laki itu berdiri di pintu kamarku. Mataku mengamati dari ujung kepala sampai kaki laki-laki itu. Setelah aku amati,sepertinya aku mengenal laki-laki itu."Papah?"tanyaku penasaran."Iya.""Papaahh!" Aku langsung memeluknya sangat erat. Ternyata laki-laki itu adalah papahku."Papah aku kangen banget,kenapa Papah lama sekali pulangnya?"tanyaku kecewa karena papah selalu jarang pulang. Tapi sekarang aku senang papah udah pulang."Yang penting sekarang Papah udah pulang. Kamu cepat ganti baju,kita akan jalan-jalan,"kata papah."Beneran?"tanyaku penuh harap dan dijawab anggukan oleh papah."Yeayyy!" Aku bersorak gembira sekali.Aku segera mengganti baju dan bersiap pergi jalan-jalan bersama keluargaku. Aku tidak men
Read more
DMCA.com Protection Status