Angkasa Merah di Kota Kertas

Angkasa Merah di Kota Kertas

By:  Firdaus Callista  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
95Chapters
3.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Rangkaian teror masih berlanjut. Sembilan orang petinggi Lockwood di kursi parlemen telah terbunuh. Siapa sebenarnya pembunuh berantai itu? Mengapa polisi tidak kunjung menangkapnya? Charlie Redrich, pemuda tujuh belas tahun yang hidupnya hancur karena keluarganya terbunuh. Kehidupan penuh dendam menghantuinya, sehingga dia tidak bisa keluar dalam lingkaran arus yang membuatnya terpuruk. Lockwood adalah pihak yang terlibat. Pertarungan antara Lockwood dengan pemberontak masih belum menemui titik akhir. "Selama ini aku hanya ingin hidup normal." "Hei, sebenarnya dari mana kebahagiaan itu berasal?"

View More
Angkasa Merah di Kota Kertas Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
95 Chapters
PROLOG #1
Aku ingat itu hari paling mencekam sepanjang hidupku.Kakakku, dikelilingi banyak orang seperti penjahat di film bandit. Kekar, raksasa, penuh otot dengan topeng tanpa wajah. Lengan dan kepalanya ditahan kuat. Dia memberontak, kelihatan penuh tenaga, tetapi tidak berdaya.Kakakku tampaknya tahu apa yang akan terjadi. Dalam jarak yang jauh untuk saling menggapai, dia menemukanku—berdiri kaku tidak mampu bergerak. Sensasi air mata seperti mulai mendesak mataku. Aku tahu dia menatapku dalam jarak ini.Dan dia berteriak, dengan suara yang begitu parau.“PERGI! BUAT APINYA MEMBARA DI KOTA KERTAS INI!”Dia menangis. Air mata membuatnya terlihat begitu jauh. Itu bukan lagi sorot sengsara. Itu sorot penuh harap, seperti percaya padaku.Dan yang kuingat, aku berontak. Aku memang pergi, tetapi aku kembali ke arahnya. Aku berpikir bisa membawanya pergi seolah aku yang terkuat. Namun, itu naif. Belum sempat aku berlari, seorang wanita
Read more
PROLOG #2
Saat itu Desember 2017. Distrik Lockwood baru terbentuk, tetapi sudah hampir menguasai seluruh Sandover. Itu tiga bulan setelah kematiannya, tiga bulan setelah hidupku hancur, tiga bulan setelah aku berusaha bertahan hidup di Kawasan Normal—menumpang makan di segala tempat, tidur di tengah hujan deras atau terik matahari, dan seorang diri layaknya penderitaan tiada akhir. Aku merasa semua ini sudah tidak ada artinya. Maka di tengah hujan deras itu, aku duduk di ayunan yang terlantar dan mulai memikirkannya. Pilihan yang lebih baik untukku: pergi menyusul kakakku.Dan dia di sana. Louist Hood. Berdiri di tengah taman yang penuh lumpur. Di tangannya terdapat rangkaian besi—yang agaknya seperti rakitan aneh. Kami bertemu pandang. Dan aku ingat hanya menatapnya kosong. Dalam suatu masa yang membuatku sulit memerhatikan, tiba-tiba dia sudah menghampiriku, berdiri sangat dekat dengan mata hijau cerah yang tajam.“Kau Charlie Redrich. Putra Lewi
Read more
1. 2021, AKADEMI GRINOVER #1
Aku sempat berdebat kecil dengan Louist karena melakukan rencana gegabah—masuk ke Akademi Grinover—jadi kupikir kami akan mengakhiri itu dengan adu tonjok, tetapi tidak kusangka ternyata Louist mengerti.“Kau idiot. Jadi, jangan melakukan kesalahan sedikit pun.”“Yang tidak sekolah biasanya lebih idiot,” balasku.Jadi, waktu itu hari Senin. Aku sempat berpikir tidak akan menghadiri upacara penerimaan, tetapi di sanalah aku. Berdiri di depan gedung Akademi Grinover yang kelihatan jauh dari bayanganku. Barangkali aku terkagum-kagum dengan kebodohan Lockwood. Maksudku—iya, ini akan terdengar kurang ajar, tetapi wujud Akademi Grinover sulit untuk kupercaya.Aku berusaha berpikir wajar melihat air mancur memiliki relief bertuliskan Lockwood. Maka seharusnya bukan hal aneh melihat jalan terlihat bak trotoar dengan lampu-lampu khas mirip lampion. Dinding sekolahnya berlapiskan marmer putih. Nuansa kelasnya mirip teater&m
Read more
2. 2021, AKADEMI GRINOVER #2
Bu Hiroko memiliki kelas yang harus dia masuki di periode setelah istirahat makan siang. Jadi, kelas konseling dimulai seusai jam sekolah. Aku duduk di sofa ketika mendapati guru pra-kalkulus melewati tempatku duduk.“Senang melihatmu mendapat bimbingan, Redrich.”“Bisakah Bapak Tua sopan pada murid bimbinganku?” sergah Bu Hiroko.“Apa?” Dia menyalak Bu Hiroko.“Ada berbagai alternatif sapaan yang bisa dikatakan pada murid baru, yang secara kebetulan mendapat masalah karena kakak kelasnya yang kurang ajar. Jadi, bisakah seorang guru memerhatikan cara bicara pada muridnya?”“Itu membuktikan dia tidak pantas bersekolah—”“Itu dia. Bisakah kita tidak membedakan murid Akademi Grinover?”Mereka saling membalas, dan dalam kurun tiga menit, aku merasa canggung dengan bulu kuduk aktif karena menjadi topik perdebatan dua dewan guru. Dan Bu Hiroko menang karena lawan
Read more
3. 2021, RUMAH POHON
Aku tahu bayangan itu tidak bisa pergi karena pada senin malam, aku kembali mengalami mimpi buruk yang luar biasa mengerikan. Kakak berdiri menungguku, lagi-lagi dengan kepala penuh darah. Aku tidak ingat apa yang terjadi, tetapi tepat sebelum terbangun, aku merasakan sesak yang luar biasa sampai napasku tertahan.Maka begitu aku terbangun, benakku segera kacau sejadi-jadinya. Napasku kacau dan seluruh tubuhku sudah diselimuti keringat. Jantungku berdebar-debar sampai gemetar menguasai seluruh benakku. Lagi-lagi dan lagi. Aku selalu tidak bisa mengakhiri mimpi tanpa air mata. Rasanya aneh, sesak, dan menjengkelkan dalam satu waktu. Mengapa Kakakku selalu kembali?Aku ingat suara terakhirnya. Kota Kertas. Dan satu-satunya yang kutahu tentang itu hanya permainan VR yang dikembangkan Erwin Hood. Permainan simulasi kehidupan yang tokoh utamanya merupakan anak petani, hidup di desa terpencil sampai akhirnya merantau ke kota yang ternyata penuh pelik. Gabungan misteri dengan
Read more
4. AGUSTUS 2021, RENA LOCKWOOD #1
Akademi Grinover itu mengerikan. Selain harus menghadapi realita bahwa seisi sekolah membenciku karena riwayat keluargaku pemberontak, aku harus bertahan dengan surat ancaman yang kuterima setiap harinya. Satu-satunya hal baik yang kudapatkan hanya fakta bahwa aku mendapat empat kali kelas yang sama dengan Rena Lockwood—yang pada dasarnya juga merupakan hal mengerikan karena dia tidak pernah membuat semua menjadi lebih baik. Aku memang ingin bicara dengannya, tetapi dia selalu mengambil tempat duduk di belakangku, ketika semua orang memberi jarak dua bangku—yang secara teknis, membuat semua orang mengawasi gerak-gerik kami.Jadi, meskipun dia duduk di sana, kami tidak pernah memiliki waktu untuk bicara. Aku tidak tahu apa motifnya, tetapi dia kelihatan ikut frustrasi.Namun, pada akhirnya momentum itu datang ketika aku mendapat hukuman dari Pak Green, guru matematikaku, karena kedapatan melihat helikopter ketika dia mengoceh panjang lebar tenta
Read more
5. AGUSTUS 2021, RENA LOCKWOOD #2
Istirahat makan siangku berakhir bagaikan neraka. Ketika aku tengah sibuk memegang sikat toilet, membersihkan ujung urinoar, seseorang—atau dua orang masuk dan segera menutup pintu. Aku menoleh, melihat Regan Reeves berdiri di dekatku. Belum sempat aku bereaksi, kepalan tangannya melesak kuat ke pipiku.Maka aku terbanting, menabrak dinding toilet, dan—hampir—membentur urinoar. Aku segera bangkit, tetapi Regan Reeves langsung mencengkeram kausku.“Kau berani mendekati Rena Lockwood?”“Apa urusanmu?” geramku.“Kau takkan berhenti berurusan denganku selama masih di sekolah ini.” Dia balas menggeram di mataku. Pipiku sakit, rasanya ingin terbatuk dengan sensasi membekas di pelupuk mata. Namun, aku perlu menahan tangannya yang mencekik. “Seharusnya kau tunduk, Bajingan Kecil. Kau pembunuh.”“Aku. Bukan. Pembunuh.”“Kau pasti berniat membunuh Rena.”D
Read more
6. TOKO KELONTONG
Meskipun tinggal di Kawasan Normal, bisa dibilang tempat tinggalku cukup jauh dari pusat Kawasan Normal. Di hari Jumat sepulang sekolah, aku mengunjungi toko kelontong favoritku di Kawasan Normal. Bukan toko mewah yang dikelilingi kaca, melainkan ruangan bak gudang penyimpanan yang memiliki pintu kasa. Satu-satunya toko di Kawasan Normal yang pada dasarnya tidak menjual apa pun.Maksudku, Kawasan Normal tidak menerapkan sistem jual beli. Sebagian besar penduduknya adalah pencuri, perampok, preman, dan sebagian besar lainnya orang-orang yang kehilangan harapan hidup. Jadi, jual beli di Kawasan Normal lebih cenderung ke arah pasar gelap—yang sama sekali tidak ingin kuketahui lokasi dan wujudnya. Mempertimbangkan itu, bisa dibilang toko kelontong bukan sembarang toko. Ini tempat anak-anak yang terlahir di Kawasan Normal memiliki harapan untuk tetap menyambung hidup.Itulah alasan mengapa aku dan Louist bisa selamat di Kawasan Normal.Pemiliknya seorang Kakek
Read more
7. GEDUNG LANGIT
Louist mengajakku ke lantai tertinggi di gedung yang berseberangan dengan kediaman Lee Hudson—salah satu Lockwood di parlemen. Hujan deras membuat lantai ini menjadi gelap, suram, dan bau. Louist bilang, ini lantai tempat pegawai kebersihan beristirahat, tetapi karena tidak lagi dibutuhkan, lantai ini terbengkalai.“Gedung Langit,” kata Louist. Kami berdiri di depan jendela lantai sepuluh, menatap kediaman Lee Hudson. Megah dan mewah. Wilayah paling ujung di Area 2 Distrik Lockwood yang dipisahkan sungai beraliran deras. Dari yang terlihat DI mataku, aku seperti bukan melihat rumah, tetapi kompleks kastel dengan dua bangunan utama dan pekarangan indah yang penuh berbagai jenis tanaman. Gaya arsitektur Asia yang mengedepankan kesan kerajaan.Aku sedang sibuk memikirkan seberapa luas kediaman Lee Hudson, ketika Louist menyergah, “Bisakah kau mengawasi kamera pengawas?”Aku melihat lantai. Ada banyak kabel berjuntai ke sana kemari, sat
Read more
8. INSIDEN AREA 3 DISTRIK LOCKWOOD #1
Hari Selasa. Aku kembali mendapat kelas bersama Rena Lockwood—kelas Matematika di periode ketiga dan Bahasa Jepang di periode kelima. Sebenarnya aku tidak ingin kelihatan terlalu peduli dengan kejadian beberapa hari lalu, tetapi ketika wajahnya terlintas di mataku, mau tak mau ingatan itu kembali ke kepalaku. Pertama kami bertemu pandang adalah saat dia berdiri di samping tempat dudukku. “Selamat pagi," sapanya. "Aneh sekali melihatmu tidak mendapat hukuman.”“Itu sapaan terbaik yang kudengar hari ini,” balasku.“Hanya bercanda,” dia tersenyum, lalu duduk di kursi belakang. “Jangan muram begitu. Aku tahu kau tidak berbuat onar minggu ini. Jadi, bisakah kau sedikit tersenyum?”Dia terlihat ceria, seperti tak pernah mengalami apa-apa. Dia terus berbicara remeh—tertawa dan bertingkah seperti biasanya. Dia juga tidak mengucapkan hal mencurigakan. Kami hanya saling bicara dan bercan
Read more
DMCA.com Protection Status