The King Of Denver (INDONESIA)

The King Of Denver (INDONESIA)

By:  Blezzia  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Not enough ratings
130Chapters
102.6Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Mencari pria bernama Jaxon Bradwood bukanlah hal yang mudah bagi Mia. Dia bahkan tidak pernah bertemu ataupun mengenal pria tersebut, tetapi sebuah ancaman membawa Mia pada misi yang tidak masuk akal. Dia sudah mencari pria bernama Jaxon Bradwood di Denver, tapi dengan misteriusnya semua orang seolah tidak mengenal pria ini. Bahkan beberapa orang yang tadinya simpati berubah menjadi antipati hanya dengan mendengar nama Jaxon Bradwood. Seolah pria itu 'dia yang tidak boleh kau sebut namanya' di seluruh wilayah Denver, Colorado. Hingga akhirnya takdir membawa Mia kedalam pelukan Jaxon Bradwood yang lebih dikenal sebagai 'The King of Underground'. Pria paling ditakuti sekaligus penguasa jaringan mafia dan kriminal di seluruh wilayah Amerika Bagian Selatan. Satu per satu masa lalu Mia muncul ke permukaan, membuatnya bertanya kembali akan identitas dirinya. Siapa dia sebenarnya? Mengapa namanya berikatan dengan jaringan mafia paling berbahaya?

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
130 chapters
PROLOG
Chicago, IllinoisSuara jerit kesakitan terdengar dari balik pintu ruang persalinan di salah satu rumah sakit tua. Dua pria yang berjaga di depannya menahan ngilu ketika jeritan itu kembali terdengar. Dell Rosie yang berdiri tak jauh dari kasur persalinan tampak diam mematung, mengawasi seorang perawat dan dokter paruh baya yang membantu persalinan seorang wanita latin. Sesekali dia melirik rekannya yang juga mengawasi dari sudut ruangan.Read more
BAB 1
Malam menunjukkan pukul sebelas di Blueberry Hill.  Kota kecil yang berada tak jauh dari negara bagian Michigan itu tampak mati tanpa ada aktivitas di atas jam sepuluh. Lampu-lampu jalanan terlihat menerangi sebagian kota, dan hanya terdengar lolongan anjing liar di kota kecil berpenduduk kurang dari lima ribu orang tersebut.Mia yang bekerja di salah satu restoran di Blueberry Hill tampak sibuk membersihkan peralatan dapur dan juga lantai. Dia ingin cepat-cepat pulang, tapi mengerjakan semuanya sendiri membuatnya mengurungkan niat. Biasanya Matt, bosnya ikut membantu, tapi
Read more
BAB 2
Mia menghela napas panjang, dia menatap motel yang berdiri kumuh di pinggiran jalan tak jauh dari kota tujuannya, Denver. Setelah debat panjang dengan diri sendiri, akhirnya Mia memutuskan untuk keluar dari truk tua yang diberikan pria paruh baya itu.Kesepakatannya adalah dia memberikan amplop kuning yang tersimpan aman di dalam tas ransel miliknya pada pria bernama Jaxon Bradwood tanpa membuka atau pun merusak amplop tersebut, utuh tersegel seperti pertama kali diberikan, dan setelahnya dia bebas untuk pergi kemana pun.Itu tampak seperti tugas yang mudah, namun ada sesuatu yang mengganjal hati Mia sejak ia pergi meninggalkan Blueberry, seolah ada ses
Read more
BAB 3
Suara alarm seperti pemadam kebakaran membangunkan Mia. Pandangannya masih digelayuti kantuk saat menemukan ponsel tersebut di atas meja, di sampingnya. Baginya ini masih terlalu pagi. Beberapa kali dia mengedipkan mata mengusir kabut di kepalanya hingga suara ketukan di pintu mengembalikan kesadarannya.Mengerang pelan, Mia bangkit dari kasur. Dia masih dibalut bajunya yang malam tadi.Tas putih mungilnya berdekatan dengan ponselnya. Kondisi kamar motel yang dia sewa masih sama seperti kali terakhir dia tinggalkan, tetapi keningnya berkerut saat mendapati jas hitam di sisi kasur yang satunya. Dia hendak meraih jas tersebut saat suara ketukan di pintu kamarnya terdengar untuk kedua kalinya.  

Read more

BAB 4
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Mia berdiri gelisah mendapat tatapan menyelidik dari tujuh pasang mata. Dia merasa seperti benda antik dalam museum yang sedang diobservasi. Tidak satupun dari pria-pria tampan dalam ruangan itu bergerak dan membalas sapaannya, kecuali satu orang, pria berambut pirang dan berwajah imut yang berdiri di dekat sofa.Pria itu tersenyum padanya, namun seolah menahan geli. Mia bahkan tidak mengerti dimana letak lucunya.“Namaku, Mia He―.”“Kami sudah mendengar namamu barusan, tidak perlu memperkenalkan diri.”Mia menata
Read more
BAB 5
Tidak bisa dipercaya. Batin Mia saat dia dikurung di sebuah ruangan, bahkan ada dua pria bersenjata yang kini berjaga di balik pintu. Rasa marah membuatnya tidak bisa duduk berdiam diri. Lama dia menunggu di ruangan, tapi hingga makan malam diantar, pria yang dia tunggu tidak kunjung menemuinya.“Aku tidak butuh makanan-makanan ini. Bawa semuanya kembali, dan biarkan aku keluar!” serunya kesal pada pemuda yang mengantar troli penuh makanan.Pemuda itu terlihat tenang, seakan tidak ada siapapun yang berbicara di ruangan itu.Merasa diabaikan, Mia mulai berteriak dan tidak menyentuh makanan yang dihidangkan.

Read more

BAB 6
Dua pria terkapar tak berdaya di dalam ruang bawah tanah Red Cage. Noda darah mengotori baju keduanya. Pandangan mereka setengah fokus pada sosok yang berdiri di tengah ruangan. Tubuh tinggi menjulang dengan tangan terkepal berbalur darah segar hingga menetes di ujung sepatu kulitnya yang mengilat.“Sudah cukup Jax,” ucap Rey yang sejak tadi mengawasi Jaxon memukuli dua pria di hadapannya yang mulai tak sadarkan diri.Jaxon tidak mendengarkan ucapan Rey. Tangannya cepat meraih senjata api dari balik punggungnya. Sahabatnya itu seolah menutup akses kesadaran pada lingkungan sekitar, tenggelam dalam hasrat membunuh yang menyelimuti tubuhnya.&ldq
Read more
BAB 7
Rasa malu menjalari pipi Mia keesokan paginya. Untung saja hari terlalu pagi sehingga meja makan itu sepi dan hanya beberapa pelayan yang bertugas. Dia bahkan berdoa pagi itu Jaxon tidak ada di Kastil Aurelia, karena dia tidak sanggup bertatapan langsung dengan mata gelapnya yang indah.“Apa tidurmu nyenyak?”Dan harapan itu terhempas begitu suara maskulinnya mengisi ruang makan yang sepi.       “Ya,” jawab Mia semakin menundukkan kepala tanpa sekalipun menatap ke arah Jaxon yang duduk di kepala meja berjarak satu bangku darinya.

Read more

BAB 8
Tinggal di Denver tidak seburuk yang Mia pikirkan sebelumnya, malah sebaliknya. Dia mendapatkan teman baru dalam waktu singkat. Semua pegawai di De La Crush memperlakukannya dengan sangat bersahabat.Biasanya di Blueberry Hill dia selalu menghabiskan waktu kosong dengan mengurung diri di apartemen studionya, tetapi di Denver hampir setiap malam setelah shiftnya berakhir dia diajak keluar. Terkadang teman-teman barunya mengajaknya ke klub atau hanya sekedar nongkrong di cafe terdekat, dan dia merasa senang hari-hari yang dilaluinya tidak lagi sendiri.              Hari-harinya memakan roti lapis juga berakhir seiring datangnya kiriman makan siang dari pria misterius yang meni
Read more
BAB 9
Suara-suara percakapan membangunkan Mia. Kepalanya bergerak sedikit saat dia mendengar Jaxon mengatakan sesuatu pada seseorang.“Mual,” keluh Mia. Dia meraba-raba sekitar, dan meraih baju kemeja yang Jaxon pakai untuk menarik perhatian pria itu.“Shhh … sebentar lagi, Mia.” Jaxon mengeratkan pelukannya yang membuat Mia sadar bagaimana posisi keduanya di bangku belakang mobil SUV pribadi Jaxon.Tadinya Jaxon terburu-buru keluar dari Sugar Trap tanpa pamit kepada teman-temannya, dan dia tahu keenam sahabatnya pasti menyaksikan adegan tadi dari meja bar, dan Jaxon dapat mendengar tawa mereka saat dirinya kesakitan menahan pukula
Read more
DMCA.com Protection Status