Dear Gavin (INDONESIA)

Dear Gavin (INDONESIA)

By:  Blezzia  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Not enough ratings
70Chapters
31.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Saat berusia tiga belas tahun Krista Reid memutuskan bahwa dia akan menikah dengan Gavin Caleston. Ketika usianya delapan belas tahun, Krista Reid meminta Gavin Caleston menjadi pasangan prom night untuk pesta kelulusan SMA. Dia terobsesi untuk memiliki Gavin Caleston. Demi cinta monyetnya terwujud, Krista mengejar Gavin ke seluruh sudut Denver. Dimana pria itu berada, maka Krista ada di sana. Saat usianya tiga belas tahun, Gavin masih sibuk bermain sepeda keliling Denver. Begitu usianya menginjak delapan belas tahun, Gavin sibuk mengejar wanita di seluruh Denver. Ketika usia Gavin Caleston menginjak dua puluh tiga tahun seorang gadis kecil berusia tiga belas melamarnya. Dan ketika usia Gavin Caleston dua puluh delapan, gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita cantik rupawan, dan tanpa malu mengajaknya ke acara prom night SMA. Tentu saja Gavin menolak!

View More
Dear Gavin (INDONESIA) Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
70 Chapters
PROLOG
Ibu baru saja turun ke lantai bawah saat mendengar suara-suara ramai pertanda tamu sudah tiba. Aku mengepas rok dan dress merah muda yang kemarin dibeli khusus untuk acara hari ini. Sembari berputar-putar mematut diri di cermin, aku pun berlatih memberi senyum manis seperti yang Ibu ajarkan.“Krista!”Suara ibu yang memanggilku dari luar sontak mengejutkanku.Membuatku bergegas beranjak dari kamar dan membukakan pintu hanya untuk mendapati Ibu ternyata sudah berdiri di luar.“Ya ampun Krista, kenapa tidak juga turun ke bawah?” tanya Ibu berkacak pinggang.Aku hanya mengangkat bahu dan berlalu melewatinya, tetapi Ibu menahan tubuhku dan kami kembali masuk ke kamar.“Aduh … Krista, lihat rokmu kusut sekali! Ayo, ganti yang baru,” katanya sembari mengacak isi lemariku yang penuh hendak memuntahkan isinya.“Mom, tidak ada yang salah dengan rok ini,” sungutku kesal karena malas menggan
Read more
BAB 1
Aku menatap gedung di depan dengan penasaran. Selama ini, aku hanya mendengar cerita keseruan pertunjukan tinju di Red Cage melalui gossip terpercaya.Akhirnya, hari ini aku bisa masuk melewati gerbang. Dua penjaga di sana bahkan tersenyum ramah begitu melihat kedatanganku.Lima tahun sudah berlalu sejak pertemuan kami waktu itu, tapi aku tidak pernah lupa. Kata Ibu yang namanya janji harus ditepati. Sekarang umurku delapan belas, sudah waktunya menemui calon suami. Dia pasti terlalu lama menungguku menjadi dewasa. Betapa malangnya dia harus bersabar hingga aku berusia delapan belas.Bahkan rumor yang beredar mengatakan dia belum menikah, pasti menunggu dengan setia.Benar-benar pria sejati yang menepati janji.Dengan langkah semangat aku memasuki gedung melewati tangga menuju ruang bawah tanah.Ya ampun, tempat ini ramai sekali. Tidak mengira sepadat ini. Memangnya seseru apa sampai antrian panjang mengular ke jalan raya. Benar-benar gila.
Read more
BAB 2
Baru saja aku keluar dari toilet saat teman dekatku, Audrey Jewel memanggil dari arah kantin. Ya ampun Audry, aku sedang tidak ingin bertemu denganmu. Bukannya kemarin dia sendiri yang bilang untuk tidak menyapa, mengapa selalu dia yang lebih dulu melanggar.“Krista!” pekiknya hingga menarik perhatian seisi kantin dan koridor.Duh, sekarang semua orang memperhatikan kami seperti sirkus.“Ada apa kau memanggilku?” kataku berusaha ketus, tetapi Audrey malah nyengir kuda tanpa dosa.“Ada berita baik yang ingin kusampaikan,” katanya dengan mata berbinar.“Maksudmu, berita baik untukmu tetapi buruk untukku?” sindirku tidak halus sama sekali.Senyum Audrey semakin lebar yang mana semakin membuatku yakin dia benar-benar ingin mengajak pertengkaran.“Ya ampun, kau sensitif sekali,” sungutnya sembari melingkarkan tangan ke lenganku. Dan begitu saja, pertengkaran kami yang tadi terlupa
Read more
BAB 3
Malam ini Ayah dan Ibu bersiap untuk menyambut tamu. Mereka bahkan mewanti-wanti agar aku tidak membuat masalah dan menasihati panjang lebar apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Karena kata Ayah dia mengundang hampir seluruh anggota Red Cage, jadi aku tidak boleh mempermalukan mereka. Ibu bahkan berpesan, kelakukanku adalah cerminan Ayah sebagai seorang Mayor, sehingga aku harus jadi anak manis walau hanya semalam.Duh, memangnya kapan aku pernah bikin malu mereka?Ehm … padahal dua minggu lalu aku hanya tidak sengaja menyiram wajah Natasha dengan wine karena dia membuka mulutnya terlalu lebar dan mengatakan sesuatu yang tidak pantas hingga tanganku bergerak sendiri menyiramkan wine ke wajahnya.Sebulan yang lalu aku juga tidak sengaja menendang kemaluan Austin Walker si tuan rumah acara amal karena dia bilang tidak sengaja saat menyentuh payudaraku.Nah, see, aku hanya tidak sengaja.Kali ini aku akan berusaha bersikap manis agar membe
Read more
BAB 4
Selama jamuan makan, aku memperhatikan Gavin yang tampak berbicara mesra dengan wanita di sebelah. Nama Nayla Quinn menjadi musuh dalam kamus ‘Mencari Cinta Gavin’, dan aku menandainya di urutan paling atas agar ingat betapa sakit hati pertemuan pertama Gavin membawa wanita lain.Padahal dia sendiri yang memintaku untuk berjanji, tetapi dia mengingkari karena ternyata tidak menunggu sampai aku dewasa. Ugh! Ibu bisa-bisa membenarkan bahwa ini hanyalah mimpi monyet, begitu pula Audrey yang memastikan bahwa ini benar-benar cinta monyet. Aku memberi mosi tidak percaya, karena Gavin belum melihatku dengan benar dan seksama.“Krista, jangan memainkan makananmu,” bisik Ibu yang duduk di sebelah.“Aku tidak lapar,” balasku sama berbisik.“Perhatikan etikamu, beberapa mata memperhatikan kita.”Huft, aku ingin mengatakan pada Ibu bahwa mata-mata yang melihat ke sini bukan karena aku memainkan sendok di piring,
Read more
BAB 5
Setelah kejadian makan malam waktu itu, aku bertekad untuk menunjukan pada Gavin bahwa aku tidak pernah ingkar dengan janji yang telah dibuat. Kami bahkan sudah melakukan Pinky Promise dan mengesahkannya dengan saling menautkan jemari.Perduli setan dengan Si Jalang Nayla, Karena pada akhirnya aku yang akan memiliki Gavin dengan utuh!Baiklah, pertama-tama aku harus menyusun strategi agar memudahkan hubungan kami berdua.Selama ini aku membiarkan Gavin hidup bebas tanpa peduli kabar tentang kehidupan dia di luar sana, tetapi kali ini aku tidak akan duduk manis dan menunggu Gavin menyadari perasaannya. Bisa-bisa dia menemukan wanita lain dan posisi-ku digantikan orang lain.Tidak akan kubiarkan!Begitu jam pelajaran terakhir selesai, aku mencari Audrey yang sudah menunggu di parkiran. Dia menatapku dengan pandangan heran karena jelas sekali masih ada sisa-sisa kemarahan malam kemarin yang tidak sengaja dibawa ke sekolah.“Ada apa dengan
Read more
BAB 6
Dapat kurasakan tatapan dari Audrey yang pasti melihatku dengan penuh keraguan, namun aku menolak untuk kalah. Setiap hari hatiku selalu berbisik bahwa Gavin Caleston diciptakan untuk Krista Reid.Semua wanita di sekelilingnya hanyalah ujian cinta kami berdua.Aku tidak peduli bila orang-orang menentang hubungan ini, karena yang merasakan jantungku berdetak untuk Gavin hanyalah diriku sendiri.“Sepertinya kita datang disaat yang tidak tepat,” bisik Audrey yang mengikuti arah pandangku ke lantai dansa.Kami melihat Gavin yang sedang menggoyangkan pinggulnya ke tubuh seorang wanita. Dua orang itu bergerak seirama seolah memang diciptakan sepasang dengan sempurna, tetapi tetap saja aku menolak pemikiran tersebut, karena jelas sekali Gavin Caleston hanya untuk Krista Reid.“Krista, sebaiknya kita pulang,” ucap Audrey sembari menarik bajuku.“Tidak. Kita tunggu seberapa lama mereka bertahan di lantai dansa,” ka
Read more
BAB 7
Dua hari sudah berlalu sejak kejadian itu, tetapi rasa kesalnya masih terbawa sampai saat ini. Bahkan aku juga mengabaikan Ibu yang bercerita panjang lebar tentang rencana untuk berlibur ke Hawai.“Krista, apa kau tidak dengar?” tanya Ibu yang menghentikan cerita.Hhhh … aku dengar, hanya saja aku tidak diajak, jadi, untuk apa aku mendengarkan semua rencana Ibu yang hanya akan membuatku cemburu.“Iya, iya, Mom akan pergi bulan depan selama dua minggu,” kataku tidak antusias sembari menyeruput teh hangat. Aaahhh … memang disaat seperti ini cocok sekali dinikmati dengan secangkir teh dan juga cookies.Kudengar Ibu menghela napas karena aku sudah tidak berminat diajak bercerita.“Kau bisa membawa Audrey ke sini dan Ibu juga akan meminta Bethani untuk sering-sering berada di rumah,” kata Ibu berusaha menebus kesalahan karena meninggalkanku sendiri.“Hmm … Hmm …,” gumamku
Read more
BAB 8
Pagi ini aku merasa tidak semangat untuk bangun, bahkan rasanya berat ketika membuka loker dan menghadapi kelas selanjutnya. Bila perlu aku ingin tiduran di ruang UKS dan izin sakit, tetapi mengingat Ibu yang mengancam tidak akan memberi tiket konser Boyband STB yang diadakan dua bulan lagi, aku pun tidak ingin melakukan itu.Duh, mengapa sulit sekali menjadi remaja!Trust Fund-ku bahkan belum bisa dicairkan sebelum usiaku dua puluh enam. Apa kakek sengaja melakukan itu agar aku menderita! Bahkan setelah beliau meninggal pun, semua warisan diberi ke Ayah dan tidak sedikit menyisakan untuk-ku walau hanya satu cent.Beliau bilang; ‘Krista, kau masih terlalu muda untuk mengerti soal ini. Biar orang dewasa yang mengurus semua’ seolah-olah aku buta finansial.Apa susahnya memberiku satu juta dollar, kan uangnya tidak aku habiskan semua. Seriusan Kek, pasti akan kutabung, dan sisanya aku belikan mobil sport Buggati Veyron.“Krista, apa
Read more
BAB 9
Suasana dalam mobil terasa sunyi. Gavin sengaja mendiamkanku hingga atmosfir sekitar begitu sesak.Tidak tahan didiamkan, akhirnya aku menghidupkan musik dari radio, tetapi Gavin mematikanya dan membuat suasana hening kembali.Tidak mau kalah, aku pun menyalakan musik itu lagi, tetapi Gavin terus mematikan lagu dan menciptakan kebisuan di antara kami. Hal ini berulang sebanyak lima kali, hingga akhirnya aku menyerah dan duduk diam dengan wajah tertekuk kesal sembari menatap ke luar jendela.“Apa kau mau berkencan denganku besok?” tanyaku terus terang, berpikir ini adalah kesempatan baik untuk memulai pembicaraan kasual pertama kami.Kulihat Gavin mendengus dan terus menyetir tanpa mengatakan apa-apa, menjadikan hatiku berdenyut tidak nyaman.“Aku serius. Berkencanlah denganku besok,” ulangku lagi yang tetap diabaikan.Melihat rekasinya yang tidak antusias, aku pun menggembungkan pipi sembari mengetuk-ketuk jemari di d
Read more
DMCA.com Protection Status