MISTERI GADIS KEMBAR

MISTERI GADIS KEMBAR

By:  Ningty  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.9
Not enough ratings
37Chapters
8.6Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Keanehan terjadi pada pasangan Rudiansyah dan Mayasari ketika wanita itu melahirkan bayinya. Meski hanya dari desa dan tidak berpendidikan tinggi, Mayasari dan Rudiansyah bukanlah orang-orang yang berpikiran sempit. Bahkan, selama masa kehamilan Mayasari mereka lebih memilih memeriksakan kandungannya ke bidan atau dokter di kota. Untuk USG dia memang memilih ke dokter di kota karena bidan dan puskesmas di desanya belum memiliki alat USG. Mayasari sendiri termasuk wanita yang rajin memeriksakan kandungannya. Dan kala itu, dokter juga sudah melakukan pemeriksaan Ultrasonografi atau USG. Dari hasil pemeriksaan USG diketahui jika Mayasari mengandung seorang bayi perempuan. Hanya satu orang bayi. Namun, betapa terkejutnya mereka saat tiba waktunya Mayasari melahirkan, wanita itu melahirkan bayi kembar perempuan. Bayi tersebut lahir setelah beberapa menit setelah Mayasari melahirkan bayinya yang lain. Hal yang membuat mereka heran adalah setelah Mayasari melahirkan bayinya yang pertama, perut Mayasari langsung kempes dan dokter sudah memeriksa jika memang tak ada bayi lain setelah Mayasari melahirkan. Mereka bertanya-tanya, darimana datangnya bayi kedua Mayasari? Selain itu ada keanehan lain saat bayi kedua itu lahir. Kelahiran bayi itu, diiringi gemuruh suara angin dan petir yang menggelegar bersahutan juga hujan yang sangat deras. Bahkan suasana pun berubah mencekam dan mampu membuat bulu kuduk berdiri. Ada misteri apakah sebenarnya di balik kelahiran kembaran bayi Mayasari?

View More

Latest chapter

    Interesting books of the same period

    Comments
    No Comments
    37 chapters
    Bab 1. MISTERI LAHIRNYA SI KEMBAR
         DUA PULUH TAHUN SEBELUMNYA.     Malam itu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Suasana di Desa Damai juga sudah sepi. Hanya sesekali terdengar suara pantongan dari bambu yang dipukul oleh para peronda. Termasuk Rudiansyah, suami dari Mayasari yang juga ikut meronda.     “Rud ... Rudi!” panggil seorang pria paruh baya yang tergopoh-gopoh mendekati Rudi yang sedang asik main catur di pos ronda.     “Lho Pak! Ada apa ini, malam-malam Bapak kok malah ke sini?! Ada yang terjadi sama Maya?!” tanya Rudi cemas. Tak pelak pikirannya menerawang kepada istrinya di rumah yang saat ini sedang hamil tua.     “Iya Rud, istrimu ... Maya ... dia mau melahirkan!” seru pria paruh baya itu terbata.     “Be-benarkah, Pak?!” kembali Rudi bertanya.     “Iya! Maka
    Read more
    Bab 2. AQIQAHAN YANG KACAU
         Dengan diliputi kebingungan dan keheranan, Rudi melangkah ke ruangan itu untuk mengadzankan dua putrinya.     Terjadi keanehan saat Rudi membisikan adzan di telinga putri keduanya. Bayi yang belum terdengar suara tangisnya sejak dilahirkan itu, tiba-tiba menangis sangat kencang begitu mendengar lafal adzan. Namun, anehnya suara tangis bayi itu terdengar sangat mengerikan. Suara tangis itu lebih terdengar seperti suara rintihan kesakitan. Hingga siapa pun yang mendengarnya, tak pelak bergidik ngeri.     Dara Syahita dan Diandra Sarinila itulah nama yang diberikan Rudi untuk kedua putrinya. Meski masih diliputi kebingungan atas lahirnya Diandra, namun Rudi dan Maya tetap menerimanya dengan ikhlas. Mayasari merawat keduanya seolah-olah keduanya memang benar-benar saudara kembar. Apalagi wajah kedua bayi itu memang benar-benar mirip.     Berbeda dengan mereka berdua, Pak Karta da
    Read more
    Bab 3. BAYI YANG ANEH
         Pencarian terus berlanjut. Hingga tanpa mereka sadari, mereka sudah memasuki hutan yang ada di ujung desa. Hutan yang menurut warga adalah hutan terlarang dan angker. Selama ini tak seorang pun yang berani memasukinya. Beruntung, salah satu warga segera menyadari hal itu sebelum mereka masuk terlalu dalam. Saat ini mereka hanya mengandalkan lampu senter sebagai penerangan karena obor yang mereka bawa sudah mati diterpa angin yang bertiup kencang.     “Ustadz, sepertinya kita sudah memasuki hutan terlarang,” bisik salah satu warga kepada Ustadz Yusuf.     “Bapak benar. Sebentar. Pak Rudi, sepertinya saat ini kita sudah memasuki hutan terlarang. Bagaimana jika pencarian putri Bapak dilanjutkan besok saja?” usul Ustadz Yusuf.     “Sa-saya ... ikut saja Ustadz. Saya juga sudah pasrah. Saya juga tidak ingin bapak-bapak yang lain ada dalam masalah kare
    Read more
    Bab 4. (TERNYATA) BUKAN DIANDRA YANG HILANG
    “Mas ... Diandra sudah ditemukan,” lirih wanita itu. Membuat kedua pria itu terperanjat dan menatap penuh tanya pada Mayasari. Maya yang mengerti arti tatapan itu pun memulai ceritanya.     “Tadi, Pak Rahman datang ke rumah. Beliau mendapat kabar dari Bu Bidan jika saat ini, Diandra ada di Puskesmas. Kebetulan tadi Pak Rahman mengantar istrinya berobat ke sana,” terang Maya.     Rudi dan Pak Karta hanya manggut-manggut tanda mengerti.     “Ya sudah, biar Mas yang Puskesmas. Kamu jaga Dara di rumah,” ujar Rudi.     “Tapi Mas ...”     “ ... Nggak ada tapi-tapian, Maya. Turuti Mas ya. Kamu jaga Dara aja di rumah!” ucap Rudi tegas. Bukan tanpa alasan Rudi meminta hal itu dari Maya. Rudi hanya tidak ingin Maya mendapat cemoohan dari beberapa warga seperti yang dia dan bapaknya dapatkan terka
    Read more
    Bab 5. BAYIMU PEMBAWA SIAL
        Sementara Rudi yang memilih untuk menemani istri dan dua putrinya. Terkejut saat tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah depan rumah. Pria itu bergegas keluar. Tapi sebelumnya dia meminta istrinya untuk tetap berada di kamar.     Betapa terkejutnya dia saat melihat beberapa warga berkumpul di halaman rumah orang tuannya. Tak hanya Rudi, Bu Minah yang sudah tergopoh-gopoh keluar dari rumah juga merasa terkejut.     “Hai Rudi! Bayi anehmu itu benar-benar pembawa sial!” terdengar suara nyaring seorang perempuan yang berasal dari arah belakang kerumunan warga.     “Iya betul itu!”     “Bayi pembawa sial!”     “Buang saja jauh-jauh dari sini!”     Suara-suara hujatan itu terus saja terdengar. Rudi dan Bu Minah yang masih syok dan belum mengerti dengan apa yang
    Read more
    Bab 6. DENDAM INI HARUS TERBALAS
    POV WATI     Perempuan itu bergegas meninggalkan halaman rumah orang tua Rudi. Amarah tergambar jelas di wajahnya. Bahkan dia mengabaikan orang-orang yang ditemuinya.     “Hai Wati! Mau kemana ... buru-buru amat!” sapa seorang wanita paruh baya. Namun, perempuan yang ternyata Wati itu hanya diam dan terus saja berlalu.     ‘Dasar aneh, ditanyain diam aja. Kesambet kali tuh orang!’ gerutu wanita paruh baya itu.     Sementara itu, Wati terus melangkahkan kakinya hingga tiba di jalan raya. Dia menghentikan angkutan umum yang menuju ke Desa Dayoh. ‘Dendamku harus terbalas’ geram perempuan itu dalam hati.     Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya Wati tiba di Desa Dayoh. Desa tempat dia dan Mayasari berasal sebelum mereka pindah ke Desa Damai. Bergegas dia menuju ke rumah lamanya. Lima belas menit dari gapura
    Read more
    Bab 7. PETAKA DI DESA DAMAI
        Waktu bergulir begitu cepatnya. Tanpa terasa satu bulan sudah Wati meninggalkan Desa Damai dan kembali ke Desa Dayoh demi untuk menyempurnakan niatnya membalas dendam kepada Mayasari.     Meninggalkan Wati dengan segala ritualnya di Desa Dayoh. Ternyata hampir satu bulan ini Desa Damai mengalami petaka tiada henti. Tak hanya ternak yang mati mendadak tetapi hampir seluruh warga yang bertani dan berladang mengalami gagal panen. Sungai dan sumur tiba-tiba mengering. Bahkan, banyak anak kecil dan balita yang tiba-tiba jatuh sakit. Entah semua itu disebabkan karena apa. Hanya saja warga Desa Damai yang sempat terhasut oleh ucapan Wati tentang siapa orang tua Mayasari, mulai kasak-kusuk  kembali.     Tak segan mereka melontarkan tuduhan keji bahwa bencana yang terjadi di Desa Damai disebabkan oleh kehadiran bayi kembar Mayasari atau karena kutukan Mayasari yang sempat terlontar karena amarahnya. Dari kedua bayi Ma
    Read more
    Bab 8. KISAH TENTANG HUTAN TERLARANG (1)
         “Kisah ini berawal, jauh sebelum kami menikah dan memiliki keturunan,” ucap Pak Karta memulai ceritanya.     Namun, saat itu kami telah memiliki calon pasangan masing-masing. Kemana-mana kami selalu berempat hingga suatu hari Sarina, adik Widarta ingin ikut bergabung dengan kami. Tak ada alasan dari kami untuk menolak. Karena kami juga tak melakukan hal-hal yang aneh. Kami yang waktu itu masih muda sangat menyukai petualangan. Terkadang kami bahkan pergi ke tempat-tempat yang menurut warga adalah tempat yang angker dan terlarang untuk kami datangi.     Suatu hari, di Desa Dayoh, datang seorang warga baru bernama Aki Sudra. Kami tidak tahu darimana dia berasal atau siapa dia sebenarnya. Waktu itu Aki Sudra berusia sekitar empat puluhan. Yang membuat kami heran adalah, dia memilih untuk menempati rumah kosong yang sudah tidak layak huni yang berada di ujung desa padahal masih banyak rumah yang laya
    Read more
    Bab 9. KISAH TENTANG HUTAN TERLARANG (2)
        Gadis itu diam-diam tersenyum licik. Dari sorot matanya terpancar banyak rencana jahat. Sebuah rencana yang entah dia tujukan untuk siapa. Sorot mata itu tertuju hanya pada satu orang.     “Hai Sudra!” apakah mereka ini pengikut baruku?!” tanya sosok itu dengan suara menggelegar.     “Benar Tuan, junjungan hamba,” jawab Aki Sudra sambil membungkuk penuh hormat pada makhluk itu. Lalu terdengar suara tawa makhluk itu lagi.     “Apakah mereka sudah menikah?!” tanya makhluk itu lagi.     “Belum Tuanku,” jawab Aki Sudra.     “Hmm ... di antara mereka siapa yang akan menikah lebih dulu?!” kembali makhluk itu bertanya.     “Mereka Tuanku. Mereka akan menikah bulan depan,” jawab Aki Sudra sambil menunjuk ke arah Karta dan Minah.Read more
    Bab 10. SOSOK MISTERIUS
        Setelah menceritakan kisahnya kepada Ustadz Yusuf, Pak Karta lalu menyampaikan niatnya untuk pergi ke hutan terlarang dan bermaksud meminta bantuan Ustadz Yusuf.     “Jadi, Bapak ingin kesana?” tanya Ustadz Yusuf.     “Iya Ustadz. Saya berniat menemui Haruni dan Widarta dan berbicara dengan mereka. Entah kenapa saya merasa kelahiran Diandra ada kaitannya dengan mereka. Saya juga bermaksud meminta bantuan Ustadz untuk menyadarkan mereka,” terang Pak Karta.     “Maaf, Pak Karta, untuk menemani Bapak ke hutan itu, mungkin saya masih bisa tapi jika untuk menyadarkan mereka, saya tidak yakin saya akan mampu,” jawab Ustadz Yusuf meragu.     “Saya percaya, Ustadz pasti bisa,” ucap Pak Karta mencoba meyakinkan Ustadz Yusuf.     “Kita coba saja, Pak. Kapan rencananya kita akan ke sana?&r
    Read more
    DMCA.com Protection Status