Tawanan Kastil Putih

Tawanan Kastil Putih

By:  Rin Ririn  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
79Chapters
3.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Candra Akarsana melakukan segala cara agar ketiga putrinya mendapatkan masa depan yang cerah. Suatu hari, dia jatuh sakit. Sayangnya, dia menyisakan satu tanggungjawab terakhir, si putri bungsu belum menyelesaikan kuliah kedokterannya. Demi membantu ayahnya, Aurora bersedia mengubur dalam cita-citanya. Dia dan kakak sulungnya berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tanggungjawab sang ayah. Semakin hari sakit yang diderita Candra Akarsana semakin parah. Aurora pun kebingungan. Lalu, datanglah sebuah tawaran pekerjaan dengan imbalan yang sangat menggiurkan. "Pekerjaannya adalah merawat seorang tawanan, apa Nona Aurora bersedia?" Terdesak kebutuhan dan nyaris tidak memiliki pilihan lain, Aurora terpaksa menerima pekerjaan itu. Akankah pekerjaan itu dapat membantu Aurora ataukah justru mempersulitnya? Selamat datang di kehidupan Aurora yang paling gelap sepanjang masa!

View More
Tawanan Kastil Putih Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
79 Chapters
Awal Ikatan
                “Pergi!”                 Pyar!                 Pyar!                 Terdengar teriakan keras dari dalam kamar disertai suara benda pecah, mungkin gelas yang jatuh dari meja atau vas yang sengaja dibanting. Dua pria berpakaian serba hitam berlari menerjang pintu kamar itu.                 “Dok, mari!” pinta Baron, salah satu dari pria berpakaian hitam itu, seraya menarik lengan Raanana.                 Raanana mendengar dengan jelas ajakan pria di sampingnya. Namun, dia masih terpaku di
Read more
Tidak Mau Berhutang
                Pagi kembali datang, Candra bisa merasakannya lewat samar-samar sinar matahari yang menembus tirai jendela kamarnya. Dengan sedikit kesulitan, Candra menarik napasnya dan mengarahkan tangan ke meja kecil di samping ranjang, dia hendak mengambil segelas air yang ada di atasnya.                 Pyar!                 Terdengar suara gelas terjatuh dan pecah berserakan.                 “Papa?” seseorang yang tadinya masih terlelap akhirnya bangun sebab terkejut. Itu istri Candra, Agni.                 “Maaf,” ucap Candra. “Aku hanya tidak ingin membangunkanmu,” jelasnya.<
Read more
Aurora bertemu Raanana
                “Kastil?” tanya Tita seraya mengernyitkan kening.                 Kaira mengangguk, “Klo nggak percaya, tanya aja sama dia,” ucap wanita berambut keriting itu sambil menunjuk teman satunya.                 “Beneran, Ro?” tanya Tita lagi memastikan.                 Aurora mengangguk tidak berselera. Matanya masih sibuk dengan layar laptop dan tugas kuliah yang harus selesai secepatnya. Dia tidak seperti dua temannya yang sejak tadi santai-santai.                 “Ada yang tinggal di sana?” tanya Tita semakin penasaran saja.       &
Read more
Tekad Bulat Aurora
                “Pekerjaannya adalah merawat seorang tawanan, apa Nona Aurora bersedia?”                 Aurora menatap Ken dengan mata bulatnya. Pria jangkung itu pun tidak memalingkan wajah darinya.                 “Nona?”                 “Panggil Aurora aja!” pinta Aurora.                 “Ok,” angguk Ken. “Jadi, kamu bersedia?”                 Aurora tidak kunjung menjawab pertanyaan yang diberikan Ken, melainkan sekali lagi menatap berkeliling. Dia masih cukup takjub dengan dekorasi dan segala orn
Read more
Ada Banyak Orang Gila
                “Daging segar!” celetuk sebuah suara.                 “Cantik, sih! Tapi, tahan berapa lama?” timpal lainnya.                 “Dipikir wanita penghibur,” sahut yang satunya lagi.                 Dan setelahnya, Aurora selalu mendengar suara tawa yang amat merendahkan dari para pelayan itu. Awalnya Aurora berusaha biasa saja, namun saling lempar kalimat cibiran itu semakin lantang mereka cuitkan setiap harinya. Seakan-akan mereka menganggap pekerjaan Aurora ini adalah pekerjaan yang paling rendah di kastil ini.                 Aurora menyeruput minumannya. Ini adalah i
Read more
Penyesalan
                Raanana sedang termenung di depan jendela ruangannya saat Aurora masuk bersama Ken. Dia segera berbalik dan begitu terlihat khawatir saat melihat kondisi anak teman SMA-nya itu.                 “Mereka sudah mendapat peringatan. Jika  terjadi lagi, otomatis akan diberhentikan,” ujar Ken.                 Raanana mengangguk, “Lanjutkan tugasmu,” katanya pada Ken.                 Aurora diam seraya menatap pria tinggi yang beberapa saat lalu menolongnya dari amukan para pelayan gila itu. Andai Ken terlambat, mungkin saja dirinya telah menjadi kue pie atau bahkan sup.             &
Read more
Dua Puluh Tahun yang Tertinggal
                Putih.                 Di setiap mata terbuka yang tampak hanyalah warna putih, dinding-dinding bangunan megah berwarna putih. Jenuh? Iya, namun keluar dari sana akan membahayakan lebih banyak orang lagi. Dan Aaron Theodore Johansson tidak mau melakukannya. Lagi. Tidak lagi.                 Lalu, dua puluh tahun ini dia habiskan di kastil megah dengan nuansa warna putih itu. Setidaknya dengan cara ini akan ada banyak orang terlindungi, termasuk orang tuanya sendiri. Dalam alam bawah sadarnya, dia paham bahwa dunia tetap harus berputar meskipun seorang pewaris kaya sepertinya mati membusuk dengan kondisi mengenaskan.                 Namun, semenjak p
Read more
Orang-orang yang Peduli
                Usianya masih muda, namun tahun ini dia akan berulang tahun untuk yang ke dua puluh lima kalinya. Tidak terasa sudah dua puluh tahun berlalu.                 “Gael!”                 Ya, Gael. Dia adalah Gael, model pria berbakat yang belakangan menjadi ikon di mana-mana. Wajahnya terpampang di banyak sampul majalah ternama. Sebenarnya, ini bukan soal uang sebab pria ini telah kaya sejak lahir di dunia. Hanya saja, pria tampan sepertinya jika tidak populer, apa gunanya?                 “Dia kumat lagi?” tanya Gael pada orang yang baru datang itu.                 Io yan
Read more
Perubahan
                Pelan.                 Namun, ketika matanya terpejam Aaron merasakan indera pendengarannya semakin tajam. Dengan cepat dia membuka matanya. Dia mencoba menerka, siapa gerangan yang masuk itu. Dan betapa leganya dia ketika menyadari bahwa itu adalah perawatnya.                 Sejujurnya, Aaron ingin melihat keadaan wanita itu secara langsung. Namun, mungkin saja Aurora masih ketakutan. Oleh sebab itu, Aaron hanya menunggu hingga waktu minum obat tiba.                 Tadinya, Aurora juga ingin melihat keadaan pasiennya terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangannya. Namun, ekor matanya menangkap suasana yang sedikit berbeda. Sepertinya pria itu sedang
Read more
Mungkin Mereka Bisa Berteman
                Aaron membuka matanya. Semalam adalah malam yang sedikit berbeda, terutama tentang bagaimana caranya melihat dunia. Tadinya Aaron pikir pagi ini semua akan kembali seperti semula, namun ternyata tidak. Dia masih melihat dunia sebagaimana orang lain di sekitarnya.                 Bisikan-bisikan itu memang masih terdengar di waktu-waktu sepi. Namun, setiap bisikan itu muncul suara perawatnya selalu mengimbangi.                 “Kamu tau, hidupmu berharga bagi banyak orang.”                 Aaron menghembuskan napasnya lalu dengan satu tangan dia menyibakkan tirai jendela besar yang sejauh ini masih menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Dia kembali te
Read more
DMCA.com Protection Status