Choosing Between Dragon and Werewolf (Indonesian)

Choosing Between Dragon and Werewolf (Indonesian)

By:  Zhen Xin Xin  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
109Chapters
3.1Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Veronica Darren, mahasiswi universitas di salah satu universitas swasta di kota Waterford, baru saja mendapatkan sebuah kiriman kotak berisi sepatu merah yang ternyata sepatu rancangan desainer sepatu terkenal—Karl Smith. Saat ia tengah mendiskusikan temuannya pada kedua temannya, Erna Chen dan Bianca Pedrosa, seorang laki-laki bernama Stephen Laurent mengaku datang untuk menjemputnya ke kediaman Karl Smith, desainer sepatu yang terkenal itu. Yang lebih mengejutkan lagi, Stephen memberitahunya bahwa laki-laki itu adalah serigala, Karl Smith adalah naga, dan ternyata Bianca Pedrosa adalah vampir! Ia yang jatuh cinta di pandangan pertama pada Stephen, penasaran dengan sosok Karl Smith yang tidak pernah tampil di publik. Apakah ia akan tetap bersama Stephen yang sudah menarik perhatiannya sejak awal pertemuan mereka, atau tertarik dengan sosok misterius Karl Smith?

View More

Latest chapter

    Interesting books of the same period

    Comments
    No Comments
    109 chapters
    Bab 1
    “Paketnya, Nona Darren.” Veronica Darren menaikkan sebelah alisnya, keheranan. Ia ingat sekali kalau ia tidak memesan barang apa pun bulan ini. Kakak perempuannya juga tidak mengirimkan apa pun, karena jika iya, kakaknya itu pasti akan mengabarinya terlebih dulu. “Paket? Untuk saya?” Pria kurir itu membenarkan letak topinya. Ia sulit mengenali kurir itu karena pria itu mengenakan masker dan topi yang menutupi wajah pria itu. Hanya suaranya saja yang menandakan kalau kurir yang saat ini menunggu tanda tangannya itu adalah seorang pria. Perasaannya mulai tidak enak. Cara pria itu menatapnya juga tampak aneh. Apa ia harus menerima paket itu atau tidak? “Iya. Silakan tanda tangan di sini,&r
    Read more
    Bab 2
    Mata Veronica mengerjap, tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat saat ini, terus memandangi sosok pria setinggi 185 sentimeter yang menatapnya sambil menyunggingkan senyum hangat yang sanggup menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Seperti dia yang sekarang berusaha mati-matian menenangkan jantungnya yang berisik hanya karena melihat senyuman pria asing itu. Senyuman itu anehnya, jauh lebih menyilaukan dari senyuman yang selalu diperlihatkan Bianca pada semua wanita yang ditemuinya. “Ya?” ujarnya, setelah ia berhasil mengendalikan diri, mengontrol debaran jantungnya yang tidak lagi sekencang tadi. “Dari mana Anda tahu nama saya?” Pria itu tanpa sungkan menarik kursi itu sebelum meminta izin pada mereka semua, duduk di kursi dengan kedua matanya yang masih menatap Veronica, meletakkan kembali buku men
    Read more
    Bab 3
    Veronica tidak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya begitu memasuki apa yang disebut Stephen sebagai rumah dari temannya yang bernama Karl Smith. Butuh waktu lima belas menit mengitari halaman depan kediaman Karl Smith. Sesekali ia melihat beberapa pria berseragam hitam yang sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaan mereka saat melihat kehadiran Stephen. Pria itu sendiri tampaknya tidak menggubris respon mereka yang tidak sopan itu, malah bersiul pelan, seolah tidak menyadarinya.Ah, ralat. Pria itu jelas-jelas menyadarinya. Buktinya, tanpa ragu Stephen menabrakkan mobil yang dikendarainya tadi ke tiga orang pria yang berdiri menghadang mobil mereka. Dengan santainya Stephen membuka kaca jendelanya, menyembulkan kepalanya dari kaca jendela sambil tertawa pelan.Read more
    Bab 4
    Veronica terus bengong. Membiarkan Stephen yang baru saja kembali setelah urusannya selesai itu mengantarkannya pulang ke rumah. Mentalnya terguncang setelah pernyataan cintanya yang menurutnya terlalu mendadak sehingga ia tidak menyimak kata-kata Karl selanjutnya. Otaknya seketika kosong. Seperti sebuah buku ukuran F4 yang masih berwarna putih, kehilangan semua coretan yang sempat menghiasi buku itu. Tidak bisa memproses apa yang baru saja ia dengar dari pria rambut hitam berwajah oriental itu. Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih pada Stephen yang sudah mengantarkannya pulang.“Nikki? Halo?”Tepukan keras di bahunya berhasil menyadarkannya. Ia berbalik, memandangi Stephen yang berdiri di belakangnya, tertawa pelan melihatnya. Read more
    Bab 5
    Baru kali ini ia, Stephen Laurent, gugup.Membawa sebuket bunga mawar merah yang biasanya selalu disukai oleh semua wanita yang menjadi pacarnya, Stephen terus menunggu penuh cemas sambil menekan tombol bel apartemen Veronica.Kemarin, Nikki marah padanya, dan ia tidak mengerti alasan kenapa wanita itu marah. Ia tidak merasa mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu tersinggung. Justru ia memilih dengan cermat setiap ucapannya agar tidak menyakiti perasaan Nikki, mengingat kondisi wanita itu yang spesial. Walaupun ia masih belum mengerti alasan di balik kemarahan Nikki, lebih baik ia meminta maaf. Biasanya, buket bunga mawar yang masih segar dan organik ini akan selalu berhasil menyelesaikan semuanya.Read more
    Bab 6
    Setelah menurunkannya di depan gedung kampusnya, Stephen langsung meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Padahal pria itu berjanji akan menjelaskan semuanya saat di mobil. Sesaat, ia melihat wajah Stephen yang begitu cemas, sehingga ia berusaha memaklumi sikap Stephen. Ia menghela napas panjang, merapikan barang-barangnya yang ada di atas meja. smartphonenya yang ia ubah ke mode getar agar tidak mengganggu konsentrasinya saat ia di kelas tadi bergetar beberapa kali, menandakan ada panggilan masuk. Ia menghentikan sejenak aktivitas merapikan barang-barangnya, meraih smartphonenya yang berada di sebelah kanannya, menekan tombol hijau begitu melihat nama yang tertera di layar smartphonenya.“Halo, Kak,” ujarnya, sambil menj
    Read more
    Bab 7
    Mata Bianca sekilas melirik ke arah luar, melihat Veronica yang mengobrol dengan pria yang kemarin, Stephen Laurent. Bukan tipe pria yang bisa ia percaya untuk menjaga Veronica sebenarnya. Tapi kakak laki-lakinya—Theodore Pedrosa, memintanya untuk mempercayai pria itu. Kalau kakaknya percaya pada pria itu, berarti ia harus percaya. Ia tidak mengerti kenapa Theo bisa dengan mudahnya memberi izin pada pria itu tanpa mempedulikan protokol izin masuk teritori seperti yang biasanya selalu ditekankan pada semua serigala dan vampir yang berniat masuk ke dalam wilayah Pedrosa. Pria itu meminta izin lima menit sebelum memasuki wilayah keluarganya. Lima menit. Padahal seharusnya, jika pihak asing ingin memasuki wilayah Pedrosa, izin itu baru bisa diperoleh paling cepat sehari sebelumnya.Tidak, tidak. Lebih baik ia tidak memikirkannya la
    Read more
    Bab 8
    Veronica menatap layar smartphonenya, penuh cemas. Ini sudah seminggu sejak Bianca mengatakan akan menyelidiki vampir-vampir yang mendatangi apartemennya itu, dan sampai sekarang ia belum mendapat kabar dari sahabatnya itu. Berulang kali ia mengirim chat pada Bianca, berharap sahabatnya itu akan membalas pesannya. Sayangnya, tidak ada jawaban. Bahkan dibaca pun juga tidak. Begitu juga dengan Stephen. Sejak hari itu ia tidak mendapat kabar apa pun dari pria itu, membuatnya menyesal karena tidak meminta ID LINE pria itu di hari pertama pertemuan mereka. Sekarang, bagaimana cara menghubungi pria itu?Urgh …Kenapa ia tolol sekali, sih? Ia mengaca
    Read more
    Bab 9
    Setibanya di kediaman keluarga Pedrosa—tempat Bianca tinggal, ia segera keluar dari mobilnya sebelum Karl membukakan pintunya. Ia berlari, mencegat salah satu pelayan wanita bermata sendu yang berdiri di samping pintu masuk rumah itu, meminta pelayan itu mengantarkannya ke kamar Bianca. Pelayan itu tampak ragu saat melihatnya, namun begitu Karl yang sudah berhasil menyusulnya berdiri di belakangnya, pelayan itu akhirnya mau mengantarkannya ke kamar Bianca. Tempatnya berada saat ini tampak megah, walaupun tidak seluas mansion Karl. Sedari tadi ia tiba di kediaman Pedrosa, ia melihat banyak orang berjalan keluar-masuk. Kondisi mereka sangat mengerikan. Matanya sempat menangkap dua orang yang memegang tandu, membawa jasad seorang pria yang sudah tidak bergerak lagi masuk ke dalam rumah. Luka yang dialami pria itu sangat para
    Read more
    Bab 10
    Sebulan berlalu sejak ia tinggal di rumah Karl setelah mengunjungi upacara pemakaman ibu Bianca. Ia tidak bisa mengundang Erna karena alasan identitas Bianca yang seorang vampir, sehingga mau tidak mau ia terpaksa baru memberitahu Erna beberapa hari setelahnya. Tentunya tidak mungkin berakhir baik-baik. Erna kecewa padanya dan juga Bianca, memutus kontak dengan mereka berdua, membuatnya merasa bersalah. Sama sekali tidak mau menyapanya saat di kampus. Bianca sendiri juga belum menunjukkan batang hidungnya. Mengingat betapa syoknya Bianca waktu itu, ia rasa Bianca masih membutuhkan waktu untuk menerima kematian ibunya. Agak mengejutkan memang, mengingat Bianca sama sekali tidak pernah mengungkit keluarganya. Hanya sekali temannya itu membicarakan keluarganya, itu pun penuh emosi dan kejengkelannya pada kedua orangtuanya yang terus mengasingkan Theo, saat mereka baru saja lulus SMA. Setelah itu, Bianca tidak pernah lag
    Read more
    DMCA.com Protection Status