Pendekar Dalam Selubung Mantra

Pendekar Dalam Selubung Mantra

By:  Tias Yuliana  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Not enough ratings
43Chapters
10.4Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Di akhir abad ke-18 ada seorang pemuda yang memiliki wajah androgini. Pemuda itu adalah seorang mantan gemblak (anak laki-laki yang dijadikan pemuas seksual seorang warok) di Ponorogo. Dia melarikan diri dari waroknya selama tujuh tahun dengan hidup berpindah-pindah. Akan tetapi trauma dan bayangan tentang sosok sang warok tidak juga memunah dari pikirannya. Pemuda itu merasa telah diselubungi sebuah mantra yang membuatnya selalu ingin kembali dan takhluk pada sang warok. Apa yang terjadi pada pemuda itu dan bagaimana perjuangannya untuk bisa lepas dari selubung mantra itu? Ikuti kisahnya di novel ini dan dapatkan versi cetaknya melalui penulis.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
43 chapters
-1-
Bojonegoro, September 1898 Sepasang tangan berotot dengan urat-urat kebiruan yang menonjol terus bergerak naik turun mengerek air dari sumur. Suara kelontang akibat gesekan timba dengan dinding sumur menggema di lubang yang dalam. Berulang kali air di timba logam itu muncrat dan tumpah karena lengannya gemetar.Tetes-tetes darah yang meluruh dari bagian kemeja belacunya yang basah menggenang pada permukaan tanah berlapis batu kali datar, menguarkan anyir, lalu mengalir menuju selokan yang tersambung pada parit kecil di belakang rumah. Sebilah celurit berlumuran darah juga tergeletak di tanah tak jauh dari kakinya berpijak.Sececah mata, tangan kasar sesosok pria dengan cambang bauk lebat yang membelai tubuhnya kembali berbayang. Tangan bertakhtakan cincin emas bermata kecubung itu berubah menjadi jemari lentik seorang mevrow yang tubuhnya menguarkan soga dan melati.Dia menggosok dan terus menggosok bagian wajah, leher, dada, lengan
Read more
-2-
Pria berambut kekuningan yang mengenakan topi pet putih itu berjalan sambil mengentak-entakan sepatunya hingga menimbulkan gema di lantai plester yang kasar dan panas. Dengan setangan katun dia menyeka keringat yang membulir di hidung mancungnya yang sedikit membengkok dan di sekitar pipinya yang dipenuhi dengan bercak totol-totol cokelat—terlihat kontras di permukaan kulit yang pucat. Tubuh jangkung dan berisi itu terlihat mengesani di balik jas, celana, dan sepatu yang serba putih.Langkah opas itu seirama dengan dentangan tongkat di genggaman yang dipukul-pukulkannya pada besi terali. Entakan sepatunya terus mendekat dan semakin menggenapi kegelisahan wajah-wajah gelap tanpa pengharapan di balik jajaran jeruji yang terkunci. Semua saja berkeringat. Mereka meringkuk berjubel-jubel—jongkok, berdiri, rebah, dan bersandaran—pada dinding tebal dan di lantai plester yang kasar tanpa alas. Para tawanan itu terus membisu dan menetaki diri yang dibekap jeruji besi
Read more
-3-
Kereta membelok ke kediaman bupati, bukan ke landraad yang sekaligus menjadi kediaman Residen Bojonegoro. Endaru dan Suro terperangah saat melihat kerumunan orang-orang di sana.Para pria berudeng itu hampir tak ada yang mengenakan kemeja hanya bercawat sarung yang dibebatkan ke tubuh bagian bawah. Para perempuannya berkemben dan berkain jarik dengan selendang menudungi kepala. Sedangkan anak-anak yang turut serta, lebih banyak yang telanjang daripada yang berpakaian. Mereka semua duduk dan berjongkok di tanah berumput rendah dari jalan depan hingga ke halaman rumah sang bupati.Para perempuan dan laki-laki itu—dari yang tua hingga muda—begitu terkagum-kagum pada sosok Endaru yang mereka kenal sebagai pemuda yang tak bisa dimiliki karena tak sedikit para gadis yang dibuat patah hati. Setiap musim panen tiba Endaru bersama-sama dengan rombongannya akan berkeliling dari dusun ke dusun untuk melakukan pertunjukan reog gebyog. Kepiawaiannya me
Read more
-4-
Ponorogo, September 1888 Cericau burung dan pekik kera menggema dari dalam hutan yang mengepung sepanjang aliran sungai. Kepala bocah laki-laki berambut hitam pekat tiba-tiba menyembul ke permukaan sungai hingga mengejutkan seekor kerbau jantan yang tengah berendam. Dia menarik tanduk sang kerbau lalu naik ke tengkuknya sambil tertawa riang. Telapak kecil bocah itu mengusap-usap kepala kerbau dengan penuh kasih sayang.“Emak berkata bapak meninggalkanmu sebagai ganti dirinya, tidakkah itu lucu?” bisik sang bocah pada kerbaunya.Di atas tebing seorang pria berbeskap dan bersarung batik putih berdiri di atas batu sambil mengawasi ke arah sungai. Satu tangannya berkacak pinggang, sedang yang lain menjepit cerutu.Sececah kepergian pria itu tertangkap oleh sudut mata seorang perempuan berkemban yang tengah menggilas cucian di bibir sungai. Perempuan itu segera meraih ebor, menjejalkan pakaian basah ke dalamnya, dan berlari-lari mener
Read more
-5-
Gandari menuju ke gubuk bambunya setelah memasukkan kerbau ke kandang. Tangan telanjangnya terulur hendak membuka pintu, tetapi urung saat mendengar raungan dan kegaduhan dari dalam rumah.Dia menghela. Perlahan disorongnya juga pintu bambu itu hingga terbuka. Terlihat Endaru tengah membungkuk mencangkuli lantai tanah rumahnya yang menjadi simbol kesabaran sang ibu dengan sekuat tenaga. Dia luapkan segala bentuk kemarahan, ketakutan, dan kebencian dengan terus merusak lantai tanah yang setiap hari Gandari sapu dan padatkan agar rata.Gandari tak mampu berkata. Dia duduk bersimpuh di ambang pintu dengan nelangsa. Lantai tanah itu kini berlubang-lubang dengan sisa cangkulan yang terserak di setiap jengkal seperti raga dan perasaannya yang tak berdaya.Setelah puas melampiaskan kemarahan, Endaru melempar cangkulnya hingga menghantam dinding gedek dan terpental. Tubuh berpeluhnya limbung ke lantai tanah yang berbenggol-benggol, “Jadi kepada siapa Emak akan ser
Read more
-6-
Fajar mulai berpendar kemerahan. Endaru tiba di batas Kademangan Jetis setelah berjalan hampir semalaman. Bibirnya membiru dengan rahang yang terus-menerus bergemeletuk. Bebat luka di wajahnya sudah lembap karena darah yang terus saja merembas. Lukanya masih terasa menyayat-nyayat dan semakin perih setiap kali melangkahkan kaki. Dia berjongkok sambil bersedekap di bawah beringin tua untuk mengistirahatkan raga yang larat.Dia harus segera tiba di Pesantren Tegalsari untuk meminta perlindungan kepada siapa saja yang berada di sana. Terlihat dua orang preman memanggul buntelan dari kain sarung berjalan meninggalkan gapura Kademangan Jetis. Endaru segera bangkit dan mengadang salah satu dari mereka.“Kulo nuwun,[1] Pak Lik.” Endaru memberikan tabik.Partikelir itu tersentak melihat bebat kain di wajah Endaru yang memerah. “Kau terluka, Nak?”Pria itu tiba-tiba berlari ke arah semak belukar untuk mencari sesua
Read more
-7-
Dokter Schneider baru keluar dari kamar Endaru dan segera disambut senyum ramah Nyai Larsih, “Bagaimana keadaannya, Dokter?”Pria berambut dan bermata cokelat di balik kaca monokelnya itu menghela. Dia berbicara dalam bahasa Melayu yang baik, “Penyembuhannya cepat, hanya tiga hari lukanya sudah cukup kering. Akan tetapi, pasti akan meninggalkan bekas dan kemungkinan menjadi buta juga besar.”Perempuan yang membawa Endaru ke rumah Demang Sastro menggunakan dokar tiga hari lalu itu mengangguk dan memandang iba pada Endaru yang masih duduk di ranjang, “Anak setampan itu!”“Izinkan saya undur diri dulu, Nyai.”“Tidak singgah lebih lama, Dokter?” sergah sang nyai, “Siang ini kami mengadakan pertunjukan reog gebyog[1].”“Ada perayaan rupanya?” tanya sang dokter sambil melepas kaca monokelnya.“Hanya perayaan wujud syukur dan penolak
Read more
-8-
Warok Sastro menyesap kembali pipa tembakaunya dengan pandangan menerawang jauh.“Suatu malam bapakmu datang ke sini dan berkata bahwa dia merasa gagal menjadi seorang bapak. Nak, Gus, maka kubawa kau ke sini untuk kudidik dan kusiapkan sebelum menempuh jalan yang sunyi untuk menjadi warok sejati. Oleh karena itu, belajarlah apa saja yang bisa kau ambil di sini.”Tubuh Endaru semakin bergetar hebat. Dia berusaha mengendalikannya dengan mengepalkan tangan sekuat tenaga dan mengalirkan segala kecamuk rasa itu ke dalam genggaman tangannya.“Nyai, bagaimana persiapan menjamas[1]?”Terdengar suara gesekan kain jarik dan tapak selop Nyai Larsih yang mendekat, “Sudah semua, Kangmas. Mari saya bantu bersalin baju.”Warok Sastro berjalan diiringi Nyai Larsih menuju ke biliknya. Endaru berjalan gontai di belakang mereka menuju ke bangsal para babu. Endaru memperlambat langkah saat terdengar teriakan dan keributan
Read more
-9-
Iring-iringan reog gebyog untuk merayakan malam satu Suro baru kembali ke kediaman Warok Sastro pada sore hari. Menjelang puncak malam para siswa dan gemblak di Padepokan Bantarangin menggelar pesta dengan menyantap beraneka hidangan di pendopo setelah upacara menjamas yang dipimpin oleh Warok Sastro selesai.Sebuah dokar dengan iring-iringan pria berpenunggang kuda dalam jumlah besar datang memasuki regol Padepokan Bantarangin.“Bandit Merah!”“Warok Wengker!”Teriakan dan pekikan tanda bahaya itu seketika mengubah kemeriahan pesta menjadi ketegangan yang luar biasa. Para warok Bantarangin langsung bersiaga dan mengadang sang pendatang sambil mengacungkan senjata masing-masing—belati, celurit, parang, bahkan tombak.Endaru bersama para gemblak lain yang duduk melingkari aneka hidangan makanan turut bangkit untuk memeriksa keributan yang terjadi. Warok Sastro yang duduk bersila di karpet Turki di anta
Read more
-10-
Bojonegoro, September 1898 Endaru menghentikan ceritanya sampai saat jongos Cornellis mengirimnya kembali ke rumah Warok Sastro. Bisik-bisik mulai merebak disusul tatapan jijik, cemoohan, bahkan tududuhan dari mulut-mulut manusia berkulit cokelat, kuning, dan putih yang hadir dalam persidangan tersebut. Mereka tiba-tiba berperan menjadi hakim bagi masa lalu Endaru yang belum juga tahu di mana kebenarannya.Semula mereka menduga-duga bagaimana seorang budak pekerja bisa menjadi pahlawan bagi sesama kaumnya yang papah dengan melawan tuan tanah yang memiliki kelainan seksual—penyuka sesama jenis. Orang-orang yang mulanya bersimpati dan memberikan dukungan pada Endaru, kini berbalik memusuhi dan mencibirnya. Mereka menganggap bahwa pemuda berparas cantik itu sengaja datang ke rumah Crussoe untuk menjadi budak nafsu sang kontrolir. Menjual diri dari satu tangan tuan besar ke tangan tuan besar yang lainnya.Seorang perempuan yang menjual diri&mdash
Read more
DMCA.com Protection Status