Dimadu Saat Hamil

Dimadu Saat Hamil

By:  jannahsaid  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
Not enough ratings
86Chapters
189.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Suamiku membawakan seorang madu untukku. Di saat aku akhirnya hamil setelah tujuh tahun usia pernikahan kami. Dan perempuan itu juga sedang mengandung buah cintanya dengan suamiku. Akankah aku mampu bertahan ataukah mundur menjadi istri dari suamiku?

View More
Dimadu Saat Hamil Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
86 Chapters
Kejutan Dari Suamiku
  "Ma, besok mas pulang ke rumah. Bersihin kamar tamu sekalian ya? Mas bawa seseorang" "Siapa mas? Keluarga mas ikut kesini?" "Sudah, besok aja mas jelasin. Mas tutup telponnya ya?" "Ya, mas"Aku penasaran siapa yang akan mas Yoga bawa. Mas Yoga dinas diluar kota sudah seminggu ini. Dia sering keluar kota. Di sana ada keluarga ayahnya. Apa mungkin yang akan mas Yoga bawa sepupunya?Aku segera ke kamar tamu, mengganti seprai dan sarung bantal. Juga meletakkan selimut baru di atas ranjang. Menyapu lantainya dengan bersih lalu merentangkan karpet. Sepertinya tamu itu istimewa, sampai-sampai mas Yoga langsung memerintahkan untuk membersihkan kamar tamu.Kembali ke kamar ku, menatap test pack bergaris dua yang sengaja ku letakkan di atas nakas disamping tempat tidur. Ya, akhirnya aku hamil juga. Setelah tujuh tahun m
Read more
Berbagi Waktu
 "Ma, aku mohon. Cobalah untuk menerima Rindu. Sekarang dia juga istriku, dia sama berhaknya denganmu atas diriku, ma?" "Tidak mas, dia berbeda denganku. Aku wanita terhormat sedangkan dia wanita perebut suami orang!" "Sudahlah ma, sudahi ini semua. Mas pusing mendengar kamu sejak tadi selalu marah!" "Aku marah padamu, mas! Menikah diam-diam tanpa sepengetahuan diriku"  "Mas kan sudah jelaskan alasannya, sekarang cobalah mengerti Riana!" "Kalian menikah secara siri kan?" "Iya, ma! Karena status mas dan tidak mendapatkan izin darimu kami menikah siri" "Baguslah, aku tidak akan pernah memberikan izin. Selamanya perempuan ini akan menjadi istri siri mu!" "Apa maksud mbak bicara seperti itu?" Perempuan itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Dasar bodoh. Mau saja dijadikan istri siri.Read more
Berlaku Tak Adil
Hari menjelang sore, aku mondar mandir di depan teras. Suami yang ku tunggu tak kunjung datang. Jangan bilang di pulang ke rumah perempuan jalang itu. Tanganku mengepal menahan amarah.Aku tak akan memaafkannya, jika malam ini dia kembali bersama perempuan itu. Seharusnya dia juga memikirkan ku. Aku juga hamil, istrinya yang sudah menemaninya selama tujuh tahun. Sedangkan perempuan itu baru menjadi istrinya. Aku yang menemani suamiku berusaha dari nol, dari yang tak punya apa-apa sampai punya jabatan yang sebagus sekarang ini.Rasanya ini tidak adil, hanya beralasan keturunan dia tega menduakan ku. Lalu sekarang mencoba tak berlaku adil. Padahal aku sudah bersusah payah mencoba untuk ikhlas.Jika malam ini, dia tak pulang ke rumahku, awas saja. Aku akan kembali menghajar perempuan jalang itu.Emosiku sudah membuncah, hari sudah menjelang magrib. Tapi mas Yoga belum pulang juga. Aku tak tau harus berbuat ap
Read more
Menyusun Rencana
 Suara mobil mas Yoga memasuki bagasi rumah, aku segera membukakan pintu. Akhirnya dia pulang juga. Mas Yoga memasuki rumah, tapi wajahnya seperti memendam kemarahan. Aku tau, mungkin dia marah setelah kejadian tadi. "Mas marah padaku?" "Iya, mas sangat marah Riana!" "Seharusnya aku yang marah, kamu bilang ibu yang memaksa menikahi perempuan itu, nyatanya apa? Semua itu karena kamu tergoda akan rayuannya?" "Ya, aku memang tergoda akan rayuannya. Tapi ibu juga merestui pernikahan kami! Karena dia ingin secepatnya punya cucu" "Sekarang aku telah hamil, aku bisa memberikan cucu untuk ibu dan anak untukmu, aku mau kamu tinggalkan dia!" "Tidak semudah itu Riana, dia juga hamil, di perutnya ada calon anak ku juga!" "Lalu mas mau beristri dua selamanya?" "Iya, mau bagaimana lagi? Semua ini sudah terlanjur!" "Tapi aku tidak sudi hidup seperti ini!"&n
Read more
Mulai Waspada
Saat mobil mas Yoga berhenti di klinik kandungan, aku turun dengan enggan. Rasanya malu sekali. Diperlakukan seperti ini.Karena mas Yoga sudah membuat janji, jadi kami tidak terlalu lama menunggu. Suster memanggil nama suamiku, kami sontak berdiri. Masuk ke ruang pemeriksaan. Bertiga, jalan beriringan. Aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh suster, yang menatap aneh pada kami."Baik, pak Yoga. Kita periksa dulu. Yang mana yang akan saya periksa?""Keduanya dokter, mereka istriku. Dan sama-sama hamil keduanya""Beruntung sekali pak Yoga, punya istri dua hamil pula keduanya" Dokter tersenyum menatap aku dan perempuan itu. Rasanya malu sekali. Suster yang tadi memanggil nama suamiku, terlihat mengulum senyum.Mereka pasti mentertawakan kami. Ah, ingin rasanya keluar berlari untuk menyembunyikan mukaku. Tapi perempuan itu masih bisa tersenyum bahagia, dasar tidak punya malu.
Read more
Putus Asa
 Ku lajukan kendaraan dengan hati yang penuh dengan kemarahan. Aku tak bisa terima perlakuan mas Yoga. Dia sudah berani mengambil tabunganku sendiri demi memenuhi keinginan perempuan itu. Padahal aku sudah lama mengumpulkan uang itu, setiap bulan aku selalu menyisihkan nafkah yang mas Yoga berikan padaku. Berharap suatu saat uang itu bisa aku gunakan untuk hal-hal yang mendesak. Tapi sekarang apa? Dengan mudahnya dia membeli mobil untuk perempuan jalang itu.  Aku mengusap kedua pipiku yang basah oleh airmata. Aku tidak ingin perempuan itu tau aku menangis. Aku sudah tak tahan lagi. Aku ingin membuat perhitungan dengan perempuan itu. Saat aku sampai di rumah perempuan itu, pagarnya terkunci. Ku bunyikan klakson berulang kali agar dia keluar. Ku intip ke dalam, benar saja. Ada mobil baru yang terparkir di garasinya. Darahku seketika mendidih melihatnya. Kamu kejam mas Yoga! Kulihat perempuan itu dengan sombongnya keluar
Read more
Mertua Pilih Kasih
Aku berkemas hendak ke swalayan, kulkas sudah kosong. Aku mau belanja. Terpaksa pergi sendiri. Karena suamiku sekarang pasti di rumah perempuan itu. Sudahlah, aku tidak ingin mengingat apapun tentang mereka.Aku keluar menuju bagasi. Hendak menaiki mobil ku, tapi melihat mobil baru itu seketika aku berbalik. Dan mengambil kunci mobil itu. Hari ini aku akan memakai mobil baru itu. Aku belum kepikiran tentang apa yang harus aku lakukan dengan mobil ini. Haruskah aku jual? Ataukah aku pake? Atau mobil yang lama saja aku jual.Aku suka saat mengendarai mobil baru ini, lagipula perempuan itu belum pernah mengendarainya. Aku merasa nyaman menggunakannya.Aku sedang memilih barang-barang yang aku inginkan, saat seseorang menepuk pundak ku."Rania?" Aku berbalik dan melihat sumber suara. Ternyata Amira, teman semasa kuliah ku dulu."Hai, apa kabar? Lama nggak ketemu ya?" Aku memeluknya dengan hang
Read more
Pilihan Rumit
Sampai di rumah, aku terduduk lesu di ujung ranjang. Berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan. Masih terngiang jelas ucapan ibu pada mas Yoga. Untuk segera menceraikan aku. Walau mereka akan menunggu ku sampai lahiran. Tapi aku yakin, mas Yoga akan terhasut perkataan mereka. Mas Yoga tidak bisa lagi ku percaya. Aku harus mengambil keputusan. Aku tidak mungkin sanggup hidup seperti ini, jelas-jelas mereka tidak menginginkanku. Mas Yoga bertahan padaku hanya demi anak ini, bagaimana nanti? Kalau setelah melahirkan dia menceraikan ku dan merebut hak asuh anakku. Aku tidak mau itu terjadi. Aku harus minta cerai dari mas Yoga. Tidak mungkin lagi aku bertahan dalam rumah tangga seperti ini. Tapi aku harus mencari seseorang yang paham akan masalah ini. Bagaimana caranya untuk bercerai dari mas Yoga? Aku juga tidak ingin kehilangan harta benda yang aku miliki sekarang. Jika aku pergi tanpa membawa harta sedi
Read more
Pertemuan
 "Tidak, mas. Aku tidak ingin memperkarakan dia yang menikah diam-diam. Aku hanya ingin bercerai dan mendapatkan harta benda yang aku punya sekarang" "Baiklah, kalau itu keputusan mu. Sebenarnya, jika kamu mau memperkarakan tindakan suamimu itu, dia bisa masuk penjara, Riana" "Tidak, mas. Aku tak ingin memenjarakan dia" "Kamu kenapa Riana? Apa kamu sangat mencintai dia? Dia bisa di hukum lho karena menduakan mu tanpa meminta izin dari mu?" Amira mempertanyakan keputusanku, tapi entahlah. Hanya saja hati ku tak tega jika mas Yoga harus masuk penjara. Padahal dia sudah begitu jahat padaku.  "Entahlah, Amira. Hanya saja hatiku tidak menginginkan itu" "Ya, sudah. Jadi kapan kamu berencana menggugat cerai suamimu? Aku akan mengurus semuanya. Aku hanya perlu beberapa dokumen darimu, kamu tinggal beres. Aku hanya perlu tanda tanganmu saja nanti" Mas Candra sepertinya serius sekali ingin membantuku. "Bai
Read more
Tamparan
Aku sedang di dapur, saat mas Yoga datang. Aku tak mengacuhkan kehadirannya. Dia membalikkan badan ku agar menghadap padanya. "Kenapa tadi kamu keluar tanpa memberi kabar pada mas?" "Apa peduli, mas? Sedangkan mas saja sehari ini tidak sekalipun mengabari ku!" "Kemaren mas sudah bilang kan? Lalu siapa laki-laki tadi? Dia bukan suami Amira. Untuk apa kalian bertemu?" Dia penasaran siapa mas Candra. "Bukan urusan mu!" Aku berlalu darinya. Menuju ruang tamu. "Jawab mas, Riana! Siapa dia dan untuk apa kalian bertemu?" "Sudah ku jawab mas! Bukan urusanmu! Urus saja gundik mu itu! Belikan apa saja yang dia mau, kamu tidak perlu mencampuri urusanku!"  "Ma, kamu ini kenapa semakin lama semakin membangkang?" "Kalau kamu tidak suka lagi padaku, ceraikan aku sekarang juga!" Bibirku bergetar mengucapkan kata itu. "Kenap selalu mengatakan perceraian Riana? Apa kamu sudah terg
Read more
DMCA.com Protection Status