Sekali Lagi

Sekali Lagi

By:  Amethystia  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Not enough ratings
5Chapters
421views
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

"Pulang lu sana, jangan mempermalukan gue kayak gini. Pake acara teriak-teriak di mall segala!” Karena gelap mata, aku mendorong Kania ke tengah jalan dan lekas berbalik pergi. Terdengar suara klakson yang cukup panjang. Tiinn… Tiiiinnn…. "Bruuuuuuk.. " suara tabrakan yang keras terdengar dari arah Kania berada. Seperti mimpi, aku kembali ke masa lalu. Sekarang saatnya aku untuk menebus kesalahan yang sudah kulakukan dulu. Akan kupastikan kali ini aku mampu memperbaiki masa depan.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
5 chapters
Bab 1. Waktu yang kembali
Malam itu, tidak akan pernah aku lupakan selamanya. Penampilanku begitu kacau. Nafasku sangat memburu dipenuhi emosi yang tak dapat ku bendung lagi. Tanpa memperhatikan sekitar, aku terus memacu mobilku dengan sangat cepat. Hidupku sudah sangat hancur. Aku sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi nanti. Tepat satu bulan yang lalu tanpa sengaja aku telah membuat Kania, calon istriku beserta anak di dalam kandungannya meninggal.Tuhan seakan menghukum diriku. Belum kering air mata ini, aku harus menerima kenyataan pahit lain. Wanita yang selama ini menjadi selingkuhanku telah menghianati aku tepat di depan mataku. Dia sedang bercumbu dengan Papaku sendiri. Tanpa pikir panjang aku segera meninggalkan mereka. Inilah diriku sekarang, memacu mobilku tanpa arah dan tujuan.“Haha..! Lucu sekali hidupku memang.” Aku menertawakan diriku sendiri. Tanpa sadar air mata menetes di pelupuk mataku. Aku tertawa kembali, menyesali semuanya dan mengutuk diriku se
Read more
Bab 2. Tujuan Lainnya
Aku mengabaikan sikap Gentala dan kembali menunggu Kania menyadari keberadaannku. Sambil menatap ruangannya yang begitu familiar, aku memejamkan mata. Perlahan kenangan itu tiba-tiba datang kembali.“Yang sabar ya!” Andre mengelus pundakku pelan. Aku hanya terdiam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.Isak tangis mengiringi proses pemakaman Kania saat itu. Tidak banyak orang yang datang, hanya beberapa teman dan keluarga dekat saja yang melayat. Selama prosesi pemakaman tak sedikitpun ekspresi kesedihan yang aku tunjukan. Karena memang tidak ada rasa kesedihan ataupun penyesalan yang aku rasakan.Namun banyak yang masih mencoba berpikir positif. Mereka mengira mungkin aku masih syok karena harus kehilangan calon istri dan bayiku dengan begitu cepat. ‘Kapan sih pemakamannya beres. Biasanya juga gak selama ini, merepotkan saja!' rutukku dalam hati. Bagiku proses pemakaman Kania hanya menyia-nyiakan waktu saja kala itu.Aku hanya ingin s
Read more
Bab 3. Potongan yang hilang
Setelah kelas berakhir. Aku dan Andre bergegas untuk pergi hangout. Namun sebuah suara menghentikan kami. “Dareen, tunggu sebentar..!”Sekar berlari kecil menyusul kami berdua. “Kamu mau kemana sih buru-buru gitu. Hari ini kamu gak inget kita ada pemotretan untuk kampus?”‘Sial,’ pikirku. Aku sama sekali tidak mengingat bahwa hari ini aku ada pemotretan dengannya. Aku melupakan bahwa ketika aku kembali, semua pekerjaan yang sudah kulakukan pun terulang lagi.Aku menatap Andre dengan wajah memelas. Dia hanya menaikkan kedua bahunya, sebagai tanda dia tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya kami pun mengikuti sekar menuju ruang pemotretan.“Ren lu kenapa ngejauhin Sekar?” Andre berbisik pelan padaku.Aku menundukan kepalaku dan berbisik pada Andre, “ceritanya panjang, nanti gue ceritain sama lu semua.”Selama diperjalanan, Sekar terus berusaha mendekatiku. Dia berusaha merangkul tanganku
Read more
Bab 4. Realitas yang berbeda
Seketika aku tersentak, mataku membulat tak percaya. Aku tidak ingat pernah melihat Sekar disaat kejadian itu berlangsung. Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan dikepalaku. ‘Kenapa tiba-tiba dia bisa ada didalam ingatanku saat itu. Siapa yang dia telpon?’Sebuah tepukan keras dari Andre berhasil menyadarkanku. “Ren lu kenapa nangis gitu?”“Hah, nangis?” Aku segera mengusap pipiku yang memang basah. “Gue gak apa-apa kok. Yuk udah beres nih kita jalan!”“Yakin lu gak apa-apa? Kalau lu sakit gue bisa anterin lu langsung ke rumah aja,” ucap Andre. Dia terlihat mencemaskan keadaanku saat ini.Aku hanya menggeleng pelan. Aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Ingatan masa depan yang pernah aku alami terus bermunculan perlahan. Membuat aku mengingat kembali, seberapa jahatnya diriku dahulu.“Gue gak apa-apa kok Ndre. Yuk jalan, udah laper banget gue.” Aku segera melangkahkan k
Read more
Bab 5. Roda mulai berputar
Setelah menutup telpon, aku langsung bergegas pulang. Saat itu Andre sangat khawatir, dia bersikeras untuk mengantarkan pulang.“Mau gue temenin Ren?” tanya Andre sebelum pulang.“Gapapa  Ndre, gue bisa sendiri. Thanks yah, sorry lu harus pake taxi online baliknya.” ucapku. Dia pun tersenyum kecil, mencoba menenangkan sahabatnya ini.“Santai bro, lu kan sohib gue. Yaudah lu istirahat yah!” Andre pun memasuki taxi online dan menjauh pulang.Saat di depan rumah aku terdiam sejenak. Aku merasa ketakutan akan melihat sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Pemandangan mama yang sudah terbujur kaku. Setelah aku kuatkan diriku. Kubuka perlahan pintu rumahku. Terlihat mama kini terduduk menangis dengan sebuah foto ditangannya.Terimakasih Tuhan, kau masih memberiku kesempatan. Segera kuhampiri mama yang sedang menangis. Perlahan ku ambil foto dari tangan mama. Terlihat papa sedang bersama Sekar disebuah kafe. Kejad
Read more
DMCA.com Protection Status