Ditipu Mertua dan Suami

Ditipu Mertua dan Suami

By:  Anatasia Etik Pratiwi  Completed
Language: English
goodnovel18goodnovel
0.0
Not enough ratings
99Chapters
2.0Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Apa jadinya kalau sebuah rumah tangga yang terlihat baik-baik saja ternyata penuh adegan sandiwara? Ketika suami serta sikap misterius mertua dan adik sepupu penuh tipu daya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kisah drama rumah tangga Tiara yang dibanjiri air mata, tetapi juga diwarnai romantisme.

View More

Latest chapter

    Interesting books of the same period

    Comments
    No Comments
    99 chapters
    1. Hadirnya saudara sepupu
    "Nggak, Mas, apapun alasan Mas Fikri, aku tetap tidak setuju Kartika tinggal di sini. Rumah ini bukan tempat penampungan janda ya, Mas! Silahkan Mas Fikri bantu mereka tapi tidak tinggal di sini! Kalau Mas Fikri tetap bersikeras Kartika tinggal di sini, aku yang akan pergi dari rumah in!" bentakku geram.Mataku nanar menatap perempuan muda berjilbab yang menggendong bayi perempuan dan menggandeng 2 balita laki-laki. Dia tampak menunduk ketakutan di belakang Mas Fikri."Tiara, dengar penjelasanku dulu. Sebelumnya aku minta maaf tidak minta ijin kamu dulu. Aku mohon kamu bisa ngerti, Ra. Semoga masih ada belas kasihanmu pada mereka. Kasihan Kartika, ditinggal suaminya di saat anaknya masih kecil-kecil." "Kita bisa menolongnya tanpa menampungnya di sini, kan?!" protesku."Anak anaknya bukan hanya butuh materi tapi juga butuh kasih sayang seorang ayah," sanggah Mas Fikri yang menurutku mengada ada dan tidak masuk akal "Jangan mengada ada, M
    Read more
    2. Cemburu
    "Itu buat ... Maksudku itu titipan orang, Ra.""Titipan siapa, Mas?!""Sudahlah, Ra. Lupakan. Nggak penting buat kita." "Titipan Kartika kan, Mas? Iya, kan?!" "Kok kamu tahu, Ra?" "Siapa lagi perempuan yang selalu ngrepotin Mas Fikri kalau bukan Kartika!""Ibu, Ra, yang nitip susu itu buat Kartika.""Ibu lagi! Ibu lagi! Ibumu itu maunya apa sih, Mas! Jelas-jelas Kartika itu sudah punya suami, masih saja melibatkan kamu di kehidupan Kartika!" "Kan tadi sudah kuceritakan, suami Kartika nggak ada di rumah, Ra." "Alah, itu bukan alasan, Mas! Kalau cuma beli susu mereka juga bisa pergi sendiri, kok. Nyatanya aku kemarin ketemu mereka belanja kebutuhan sehari-hari. Kenapa nggak beli susu sekalian!" "Istri Fikri kalau lagi marah-marah gini tambah cantik dan ngegemesin." Sambil mengemudikan kemudi mobil keluar dari POM bensin, tangan kiri Mas Fikri nyolek-nyolek daguku sambil senyum-senyum menyeb
    Read more
    3. Mertua yang menyebalkan
    "Memangnya saya, Bu, yang berkehendak tidak mau hamil? Perlu Ibu tahu, saya belum hamil ini bukan hanya karena faktor dari saya tapi juga faktor dari Mas Fikri." Kuberanikan untuk membela diri."Terus maksudmu yang mandul Fikri begitu? Perlu kamu tahu ya, Ra. Fikri sudah terbukti tidak mandul.""Darimana ibu membuktikan?""Aku ini ibunya. Aku bisa jamin Fikri sehat.""Saya nggak bilang Mas Fikri mandul, Bu. Cuma Mas Fikri saja nggak pernah di rumah. Sering keluar kota bagaimana saya bisa hamil.""Kamu lihat itu Kartika. Suaminya juga nggak pernah di rumah tapi nyatanya sekali tancap langsung jadi. Sebulan setelah pernikahannya, dia langsung isi, Ra."Rasanya sakit dibanding bandingin tapi tak ada guna membela diri. Aku akan selalu di posisi yang salah. Lebih baik pulang saja daripada semakin sakit hati."Bu, Tiara pulang dulu ya. Sudah sore," pamitku sambil mencium tangan Ibu. Tetapi baru saja mau beranjak, tiba-tiba huj
    Read more
    4. Suami yang mencurigakan
    Mobil Mas Fikri cepat sekali. Dan aku akhirnya kehilangan jejak. Tapi aku yakin tujuannya adalah rumah Ibu karena ini arah jalan rumah Ibu. Akhirnya sampai juga motorku di dekat rumah Ibu. Sengaja aku tidak parkir tepat di depan rumah. Aku tidak ingin mereka tahu keberadaanku. Dan benar saja dugaanku, mobil Mas Fikri sudah terparkir di halaman. Tanpa ada raut capek, tampak Mas Fikri terlihat begitu bahagia menemani Randi dan Dimas bermain mainan baru di teras. Pasti mainan itu juga Mas Fikri yang membelikan. Begitu pun dengan anak-anak. Dimas yang dipangku Mas Fikri juga terlihat begitu bahagia. Pemandangan yang sangat menyakitkan bagai disayat sembilu.Sebegitu pentingnya anak-anak Kartika buatmu, Mas, sampai istri kau nomor duakan. Aku putuskan meninggalkan tempat ini sebelum hatiku semakin hancur tercabik cabik. Sampai rumah, aku putuskan tidak akan menghubunginya. Aku pengin tahu sampai kapan dia di rumah ibunya. Dengan perasaan gundah aku
    Read more
    5. Kenyataan yang menyakitkan
    Ditipu mertua dan suami.Part 5Dengan kaki gemetar dan berderai airmata kukuatkan hati menyaksikan mereka dari kejauhan. Mas Fikri yang berdiri di samping Kartika dengan tangan kanan membelai mesra pucuk kepala Kartika yang tertutup jilbab. Lalu tangan kirinya ... Mas Fikri menggenggam erat tangan Kartika seolah begitu takut kehilangan Kartika.Kupalingkan wajah. Ya Alloh, aku tak sanggup. Pemandangan itu sangat menyakitiku. Dadaku seperti diremas remas. Tangisku semakin tak terkendali. Tapi rasa ingin tahuku membuat aku berusaha kuat menyaksikan adegan mereka lagi.Mataku terbelalak. Serasa tidak percaya, aku melihat dengan mata sendiri Mas Fikri berkali kali mencium kening Kartika yang sedang mengejan sambil terus membelainya. Bahkan kali ini Mas Fikri menempelkan kepalanya pada kepala Kartika seolah ingin ikut merasakan kesakitan Kartika. Dan mata Mas Fikri ... kenapa matanya terlihat sembab seperti menangis.Darahku mendidih dengan jantung yang berpacu cepat. Kupegang dada yang
    Read more
    6. Kebahagiaan dibalik duka
    #Ditipu_mertua_dan_suami.#Part_6Baru saja jari ini akan menekan icon galery di layar handphone, tiba-tiba Dokter dan suster datang. Akhirnya kumasukkan handphone ke tas lagi."Ibu Tiara, bagaimana keadaannya? Sudah lebih baik?""Sudah, Dok. Cuma ini mualnya kadang masih muncul.""O iya, kalau soal mualnya, Ibu Tiara kemungkinan akan tetap merasakan sampai 3 bulan ke depan.""Apa, Dok? 3 bulan? Memang nggak ada obatnya, Dok?" "Untuk mual jenis yang satu itu nggak ada obatnya, Bu. Itu bawaan janin yang ada di perut Ibu.""Janin, Dok? Maksudnya?" Aku tercengang sedikit bingung."Iya, Bu. Selamat ya, Ibu positif hamil. Janin Ibu baru berumur sekitar 5 Minggu jadi dijaga ya, Bu. Nanti saya kasih vitamin." Aku ternganga mendengar penuturan Dokter antara tidak percaya, bahagia tapi juga sedih."Saya hamil, Dok? Di perut saya ada calon bayi?!" tanyaku masih sulit untuk mempercayai keajaiban ini setelah 10 tahun entah berapa testpack yang aku habiskan.Setiap telat datang bulan walaupun ba
    Read more
    7. Mengenang Masa Lalu
    Tertipu mertua dan suamiPart 7"Aku ingin melihat wujud suamimu sekarang, Kartika! Tidak mungkin kan kamu tidak punya fotonya kalau memang dia itu ada?!" kutantang Kartika."Iya, Mbak, ada. Sebentar. Ini Mbak Tiara lihat sendiri foto-foto waktu acara ijab qobul," Kartika menyerahkan handphonenya padaku.Dan memang benar. Terlihat foto-foto Kartika bersama suaminya yang wajahnya tak kalah ganteng dengan Mas Fikri bahkan terlihat lebih muda. Ada juga foto saat suami Kartika menjabat tangan laki-laki yang sepertinya sedang mengikrarkan ijab qobul.Lega rasanya. Apa yang kutakutkan ternyata salah. Tapi aku masih penasaran. Aku lalu membuka galeri di HP Kartika yang masih kupegang dan ternyata isinya hanyalah foto-foto anak Kartika. Kukembalikan handphone Kartika dengan rasa malu karena sudah menuduh Kartika yang tidak-tidak.Tapi kenapa hati kecilku seolah tidak mau menerima kebenaran yang sudah dipaparkan Kartika."Sudah puas, Ra?! Ayo sekarang kita pulang!" Mas Fikri menggandeng tangan
    Read more
    8. Suami yang hilang dari ranjang
    Aku yang menangis terpaku di depan tubuh Mas Fikri sambil menutup wajahku dengan telapak tangan tidak menyadari kalau Mas Fikri sudah terbangun.Sebuah pelukan erat membuatku tak berkutik, "Ra, maafkan aku, ya, kalau aku sudah menyakitimu. Tolong, Ra, jangan menolakku begini. Aku membutuhkuanmu." Dia mengiba, bibirnya menyapu lembut pipi dan keningku.Sedangkan batinku terus berperang antara mempercayainya dan meragukannya. Dengan menahan perut yang mual dan rasa jijik ini, aku membiarkan Mas Fikri semakin beringas menciumiku lalu menggiring paksa tubuhku ke sofa. Aku pun hanyut dengan permainan Mas Fikri yang begitu memabukkan.Dan pertahananku jebol. Di sofa panjang, akhirnya hasrat Mas Fikri terlampiaskan. Kupukul pukul dadanya, "Aku benci kamu, Mas!" Teriakku berontak tapi Mas Fikri justru memelukku semakin erat."Benci tapi suka, kan? Makasih ya, sayang. Perlu kamu tahu, aku sangat mencintaimu, Ra. Jangan pernah kamu meragukan itu." ucap Mas Fikri sambil berkali kali menciumiku
    Read more
    9. Suara mencurigakan di kamar Kartika
    Tertipu mertua dan suami"Anu, Mbak, kegerahan." "Bukannya pakai AC kok kegerahan.""Maksud saya kegerahan nahan sesuatu karena istri lagi nifas nggak bisa dicolek.""Oalah, ada-ada saja kamu. Lihat Mas Fikri?""Nggak lihat, Mbak, kan saya tidur baru bangun.""Rafli, mumpung cuma ada kita berdua, ada yang pengin aku omongin," ucapku pelan takut membangunkan yang lainnya."Tentang apa, ya, Mbak?""Sst ... Jangan keras-keras, nanti yang lain bangun." Kami pun ngobrol dengan suara pelan sekali."Tentang suamiku dan istrimu." bisikku."Maksudnya?""Kamu nggak cemburu istrimu dekat-dekat dengan suamiku?""Kan mereka kakak adik, Mbak. Wajarlah kalau deket," jawab Rafli polos."Tapi perlakuan Mas Fikri pada Kartika itu melebihi batas dari seorang kakak pada adiknya. Nggak wajar!""Masak, sih, Mbak. Saya ngelihatnya biasa saja.""Iya, karena kamu tidak pernah di rumah!" Aku terdiam mendengar sebuah suara dari suatu tempat. Kuhampiri arah suara itu yang ternyata dari dalam kamar Kartika yang
    Read more
    10. Membuktikan kebenaran
    Di depan kamar Kartika, kuketuk pintu kamar dan kupanggil pelan Rafli yang ternyata masih tiduran di sofa ruang tengah."Mbak Tiara, ada apa lagi?" tanya Kartika setelah pintu terbuka."Mas Fikri, Rafli, Ayo kita masuk!" ajakku."Tiara, jangan lancang kamu! Ini kamar Kartika!" teriak Mas Fikri sambil berusaha mencekalku, tak kupedulikan, kuhempaskan saja tangannya, kakiku tetap melangkah masuk ke kamar Kartika."Ada apa, Mbak? Kenapa masuk ke kamar Kartika?" tanya Kartika dengan muka sok polos."Rafli, tutup pintunya!" Perintahku pada Rafli setelah semua masuk ke kamar."Kartika, sekarang tunjukkan surat nikah kamu dan Rafli!" "Maaf, Mbak. Kami belum punya surat nikah. Kami baru nikah siri. Tapi secepatnya kami akan menikah secara hukum.""O, jadi baru nikah siri?! Atau malah nikah pura-pura?!""Tiara! Jaga mulutmu! Jangan mempermalukanku!" teriak Mas Fikri tapi tak kugubris."Kami nggak nikah pura-pura, Mbak. Kami memang baru nikah siri. Dan kami punya alasan sendiri kenapa kami nik
    Read more
    DMCA.com Protection Status