Catalog
107 chapters
Prolog
 “Apa ini?” tanya Anna tak mengerti, begitu Luxander. Pria yang resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu, tiba-tiba melemparkan sebuah map berisi lembaran kertas ke wajahnya. “Poin-poin penting dalam pernikahan kita,” jawab Luke seadanya. “itu adalah tugas dan posisi mu dalam rumah ini” tegas Luke. “kamu tau sendiri, apa akibat yang akan kamu dapat, jika kamu berani menentangnya!” lanjut Luke dengan gaya angkuh seperti biasa. Anna membuka surat perjanjian yang mau tidak mau harus dia pahami isinya. Pernikahan ini terjadi karena sebuah kesepakatan. Kesepakatan tetaplah kesepakatan. Anna tidak mau Luke melemparnya ke dalam penjara, jika sampai tak mematuhi peraturan pria gila itu.“Kamu menjadikan aku pembantu?” tanya Anna tak percaya begitu membaca poin pertama dalam surat perjanjian itu. Luke memang benar-benar gila. Masak iya, dia haru
Read more
Bagian 1 - Status
Annastasia Thomas, wanita cantik yang terpaksa menikah dengan seorang pria bernama Luxander Mitchael karena sebuah ancaman juga kesepakatan. Kejahatan Anna di masa lalu, membuat Anna harus pasrah menerima apa pun jalan hidup yang di berikan oleh takdir padanya. Anna tau, setiap kejahatan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dan mungkin, inilah karma akan perbuatan jahatnya. Anna sendirian setelah kematian orang tuanya, kehilangan sahabat terbaiknya, ter asingkan dan terpaksa menikah dengan pria—mantan orang gila. Sreett! “Aduh!” Anna yang baru saja turun dari mobil, memekik kaget begitu Luke, suaminya itu mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke dalam rumah secara kasar. “Luke, berhenti! Ini sa—kit!” rintih  Anna sambil mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Luke yang kasar. Tulangnya sampai terasa nyeri. Tapi Luke tetap tak peduli. Luke seolah menulikan penden
Read more
Bagian 2 - Dispensasi
Anna mengusap wajahnya kasar. Luke sudah tidak ada di sana. Dia tidak boleh menangis, hanya karena gertakan saja. Luke tidak boleh melihat kelemahannya. Kegilaan Luke pasti akan lebih menakutkan jika melihatnya cengeng seperti ini. Lalu kenapa dirinya harus lemah? Pertarungan yang sebenarnya, belumlah dimulai. Anna melangkah perlahan menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering karena menangis dan berteriak-teriak tadi. Setelah ini, dia harus belajar mengendalikan diri sebelum mengalami gejala penyakit darah tinggi di usia muda. Itu sangat tidak baik untuk kesehatannya. Bisa-bisa, rencana Luke untuk membuatnya gila sukses besar. Tidak! Dia tidak akan membiarkan Luke berhasil. Setelah meneguk segelas air dingin untuk meredakan tubuhnya yang memanas, Anna lantas bangkit kemudian melangkah menuju tangga. Tap! Langkah Anna sontak saja berhenti ketika melihat ketukan sepatu mengkilap di depannya. Kepalanya mendongak, dan di depannya sudah
Read more
Bagian 3 - Gugup
Anna terdiam di muka pintu. Kenapa harus Peter yang berdiri di depannya? Dia menjadi serba salah sekarang. Perasaan bersalah dan cinta yang masih terselip rapat di dalam hatinya, berontak bersamaan ingin mencuat ke permukaan. “Kamu tidak ingin mempersilahkan aku masuk ke dalam?” Anna salah tingkah. Kenapa pesona Peter harus se kuat ini pada dirinya? Tidak. Ini tidak boleh lagi terjadi. Peter tidak mungkin dia impikan kembali untuk menjadi miliknya. Dia harus bisa merelakan Peter bahagia bersama Jasmine dan keluarga kecilnya. Yang artinya, Peter adalah adik iparnya sekarang. “I-iya. Silakan masuk,” jawab Anna kemudian mundur memberikan Peter ruang untuk masuk ke dalam. Setelah masuk. Peter lantas duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya. “Luke di mana? Katakan, aku ingin bertemu dengannya.”Anna kembali di landa perasaan gugup. Sungguh, dia tidak menyangka. Peter masih akan sudi berbicara
Read more
Bagian 4 - Luka Baru
“Mana kemejaku yang putih!?” Anna yang saat itu sedang mencuci piring, nyaris saja menjatuhkan piring di tangannya karena terkejut mendengar suara Luke yang tiba-tiba sudah menggelegar bagai petir menyambar.“Sudah aku letakkan di lemari pakaianmu!” jawab Anna dan Luke pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.Anna menghela nafasnya pelan. Tetesan demi tetesan air mata, tiba-tiba berjatuhan dari ujung hidungnya yang memerah karena terlalu lama menangis tadi malam. Baru dua hari dia tinggal bersama dan menjadi istri seorang Luxander. Luke sudah menyakitinya luar dan dalam seperti ini. Entah, sampai kapan dia bisa bertahan dan terus menghirup udara? Rasanya, tidak lama lagi, dia akan lebih memilih meng akhiri hidupnya saja. Anna memilih duduk dan menelungkupkan wajahnya di meja makan. Tubuhnya yang masih terasa sakit dan nyeri di mana-mana, membuatnya tak kuat lama-lama berdiri. Bagaimana dia akan menjalani hari-harinya j
Read more
Bagian 5 - Pelacur Baru
Anna menutup dadanya yang  terbuka dengan bantal. Piama tidurnya yang berpotongan dada rendah dengan serat kain yang agak transparan, tentu saja akan membuat hasrat kelelakian pria mana pun termasuk Luke tergoda. “Luke. Ini tidak benar.” Suara Anna bergetar. Sungguh, dia sangat ketakutan sekarang. Apa yang akan Luke lakukan, dia belum siap. Hubungannya dengan Luke hanya sebatas status saja. Demi menutupi niat Luke untuk membalas dendam. Jadi, untuk memberikan Luke hak sebagai suaminya, dia tidak mungkin bisa memberikan. Luke menyeringai—kejam. Tak peduli dengan teriakan Anna, Luke malah melepaskan kaos putihnya dan bertelanjang dada. Dengan beringas, Luke menarik kaki Anna sampai-sampai Anna jatuh telentang di bawah kungkungan tubuh Luke yang besar dan kekar.“Luke! Apa yang kamu inginkan?” ucap Anna sambil memberi sekat pembatas antara tubuhnya dan Luke  dengan mendorong dada Luke dengan ke dua tangannya. 
Read more
Bagian 6 - Pergi
Anna meneliti wanita, ahh—tepatnya, Pelacur suaminya yang saat ini sedang duduk manis di depannya.. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, penampilan wanita itu, memang menunjukkan siapa dirinya, dan apa statusnya. Jadi tidak mungkin, jika Luke hanya berniat membohonginya. Wanita bernama Selena itu, benar-benar pelacur yang Luke sewa untuk menggantikan tugas yang seharusnya dilakukan olehnya sebagai seorang istri. Anna menarik nafasnya pelan. Boleh saja Luke menganggapnya sebagai pembantu, budak atau apa. Luke membencinya, juga tidak masalah. Tapi, membawa seorang wanita bayaran ke dalam rumah, saat dirinya masih sah sebagai istri dan nyonya penguasa rumah, tentu sangat tidak sopan dan tidak adil untuknya. “Sebaiknya kamu pergi. Tuan rumah yang ingin kamu kunjungi, sedang tidak ada di rumah,” ucap Anna dengan ramah, meskipun saat ini, dia sangat ingin mencakar wajah wanita yang sok cantik di depannya kini. Bagaimana tidak? Sejak datang beber
Read more
Bagian 7 - Kejamnya Luke
Sepanjang perjalanan, Anna membuang muka sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang memadati kota. Di sampingnya, Luke sedang fokus menyetir dengan tampang sangarnya. Jangan tanya, bagaimana takutnya Anna sekarang. Gerak-gerik Luke, menandakan jika sebentar lagi dia akan mendapatkan hukuman. Sungguh Anna tak menyangka, Luke akan berada di mansion utama. Dia kira, Luke sedang di kantor atau di club bersenang-senang dengan makhluk jadi-jadian seperti Selena. Anna melirik Luke kilas. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara dari kubunya maupun dari pihak si menakutkan. Sehingga, suasana di dalam mobil semakin terasa mencekam. Menyadari, jika Anna menatapnya, secara mendadak,  Luke menginjak rem dan ....  dug! Anna yang tidak siap, harus terantuk ke dashboard mobil. “Aduh! Kamu sudah gila ya?” sungut Anna sambil mengusap keningnya yang merah. Luke menoleh dengan matanya yang tajam. Seringaian t
Read more
Bagian 8 - Anna Menghilang?
Luke sudah sampai di rumah. Dalam hatinya, sama sekali tak terbesit keinginan untuk menunggu atau memutar arah untuk menjemput Anna. Biarlah wanita itu mendapatkan hukuman atas kelancangannya. Anna sudah melewati batas, hanya gara-gara perhatiannya tadi pagi. Anna kira, dia akan luluh begitu saja? Cuih!  Mimpi! Luke  membuka pintu. Dan pemandangan di depannya, membuat bibirnya sedikit tertarik membuat senyuman tipis. Rasa kesal dan kepenatannya menghilang seketika. Selena, pelacur sexi yang dia booking untuk memuaskan sekaligus tinggal di rumahnya, sudah menunggunya dengan pose sexi. Wajah Selena yang cantik dengan gaun tidur merahnya yang berpotongan dada rendah dengan panjang sampai paha, membuat Luke bangga pada dirinya sendiri. Dia tidak salah memilih jalang, untuk membalas penolakan Anna. Selena tak kalah cantik dari Anna, walaupun sisi memesona Anna—sangat alamiah. Luke menutup pintu dan Selena sudah memeluknya dari belakang. Tubuhnya
Read more
Bagian 9 - Kecurigaan Alex
Beberapa jam sebelumnya ... Alex yang tadi sempat melihat kedatangan Anna, bergegas untuk masuk ke dalam mansion. Entah bagaimana reaksi Queen atau  Katherine melihat Anna berada di sana. Yang pastinya, istrinya Rose lah yang akan menjadi penengah di antara mereka. “Sweety, di mana Anna? Tadi, aku melihatnya datang?” tanya Alex begitu mendapati ruang tamu mansion nya, sudah sepi. Hanya ada Rose yang sedang merapikan mainan Davio yang tercecer di sofa.Rose duduk di sofa, lalu menepuk-nepuk sofa di sampingnya.  Mengisyaratkan agar Alex  duduk bersamanya.Alex tersenyum geli, kemudian mengikuti  perintah wanita yang sudah menjadi ibu dari anaknya itu. “Kau semakin manis, Sweety,” Cup! ucap Alex sambil mengecup pipi kiri Rose.Rose sedikit tersentak, lalu memukul dada Alex dan celingak-celinguk tak jelas. “Alex! Ingat umur. Jangan bertingkah sep
Read more
DMCA.com Protection Status