Catalog
14 chapters
Cemburu
“Permainan ini, bagaimanapun menyakitkannya, bagaimanapun aku pedih terbakar olehnya, aku hanya perlu mengingat satu hal cinta ini tidak boleh kalah." Suasana pagi di kota Bandung begitu dingin, membuat siapa saja mengurungkan niat untuk menanggalkan selimut, termasuk aku.  Rasanya tak ada yang lebih nikmat daripada berselimut memeluk guling dan bermimpi di pulau kapuk. Hanya saja kenikmatan itu segera lenyap begitu Nina masuk ke kamar dan merebut paksa selimut yang menutupi hampir ke seluruhan tubuhku. “Rian bangun...!!! Sudah siang, kamu tidak kerja ya?” Ucapnya setengah berteriak. Nina memang memanggilku dengan nama pendek “Rian” seperti laki-laki, tapi sungguh aku seorang perempuan. Hehe. “Kar... Kare!!! Kamu ganggu tahu, sini balikin selimutnya.” Seruku dengan mata masih mengatup. “Gak ada selimut, kamu pokoknya harus bangun.”&nb
Read more
Hanya Perlu Mencintainya
Sudah seharusnya aku bersyukur atas semua waktu yang aku dan Tefan lewati. Berjalan-jalan, menghabiskan waktu bersama. Melupakan status diantara kami dan hanya ada hati yang dipernuhi rasa cinta. Definisi cinta bagi kami selalulah sederhana, seperti moment nonton atau makan ice cream mengenang masa kecil dulu. Waktu-waktu seperti itu sangatlah berharga buat aku dan Tefan.Baru saja mau masuk ke dalam kamar, Nina muncul dengan wajahnya yang membuat aku hampir kena serangan jantung karena kaget. Suasananya remang-remang, sebagian besar lampu sudah dimatikan lalu tiba-tiba muncul sosok hitam dengan wajah putih rambut panjang seperti anaknya kuntil. Eh kunitilanak. Aku merasa saat itu juga aku akan pingsan, untung saja sosok hitam berwajah putih itu lekas ketawa yang khas sekali kukenal sebagai ketawanya Nina. Nina nyengir ke arahku memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan teratur. Puas karena tidak sengaja mengerjaiku dengan wajahnya.“Oh My God Kare
Read more
Papa Tefan
“Jalani seperti air mengalir, kadang kala ada benturan tapi air itu akan terus mengalir menuju muara seharusnya.”Hari kedua menikmati jadi pengangguran. Pagi-pagi sudah ditelpon mama, menanyakan apakah pekerjaanku lancar atau tidak. Dengan berbohong lantas kujawab iya saja, biar buntutnya tidak panjang ke mana-mana. Mama juga mengingatkan aku soal Tefan, mengingatkan untuk kesekian kalinya kalau Tefan sudah menjadi milik Karenina. “Iyah Mama, aku tahu.”“Riana sayang, Mama tidak mau kamu sampai mengorbankan banyak hal hanya karena Tefan. Kamu harus sadar posisi kamu. Orang tuanya membenci keluarga kita sayang.”“Iyah Ma.” Jawabku lemah. Dan aku mulai jengah kalau harus mendengar ini berulang kali, meski maksud mama itu baik tapi tidak juga harus dijelaskan seribu kali. “Ma, sudah dulu ya, aku mau mandi mau berangkat kerja.” Jawabku berkilah, m
Read more
Menyimpan Cinta
Lupakan soal wawancara kerja, aku kira ini sudah direncanakan oleh Papa Tefan sejak awal. Cukup mengejutkan bahwa Papa Tefan kini sukses dengan usaha periklanannya, namun disayangkan bahwa dia tidak pernah lupa pada kebenciannya terhadap Papa dan keluargaku. Saat keluar dari kantor tersebut, tak sengaja aku bersirobok dengan Tefan yang hendak masuk ke dalam kantor. Aku tak sengaja menabraknya karena sejak keluar dari ruangan papa Tefan, aku masih menundukkan kepala. Menyembunyikan sesuatu yang sudah meluncur bebas dari mataku sejak keluar dari ruangan Papa Tefan. Tefan kaget melihatku berada di kantor papanya, aku sendiri sangat terkejut melihat kehadirannya yang begitu tiba-tiba. “Riana ...” serunya kaget.“Tefan ...” Jawabku berusaha menghapus titik-titik air yang masih tersisa. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Tefan yang pasti akan memancing amarahnya.“Kok bisa kamu ada di sini?” Tanyanya“
Read more
Bukan Aku
“Andai perasaan seperti angin, akan dengan mudah terbang begitu saja. Tanpa harus membekas atau meninggalkan jejak sakit.” “Gimana interview-nya?” Tanya Nina saat kita berdua sedang makan malam bersama di rumah. “Berjalan dengan baik. Tapi aku memutuskan untuk tidak bekerja di sana.” “Loh kenapa?” “Yah biasalah, mengenai salary.” Jawabku berbohong. “Bukannya itu bukan jadi salah satu pertimbangan kamu kerja ya?” “Dulu emang enggak, tapi sekarang iya.” Jawabku sekenanya. “Apa jangan-jangan kamu sudah bangkrut? Haha...” Tanyanya berseloroh. “Bukan. Ini gara - gara koleksi fashion di toko kamu lagi banyak yang aku incar makanya kudu punya budget yang memadai. Hehe...” “Huuu dasar... alasa
Read more
Rindu
"Adakah hal yang lebih membuatmu nyaman selain berada di peluk kekasihmu?”Tefan langsung dipindahkan ke salah satu rumah sakit umum di Bandung, keadaannya tidak begitu parah begitupun dengan Reno. Reno mendapatkan tulang betisnya sedikit bergeser tapi menurut dokter tidak begitu serius dan bisa diatasi dengan penanganan yang cepat. Tefan mengalami luka di bagian kepala, terbentur namun tidak ada luka dalam yang serius. Aku belum bisa menjenguk Tefan di rumah sakit. Waktunya belum pas, orang tuanya kerap menunggui Tefan 24 jam. Nina sering mengajak pergi bersama, tapi aku menolak dengan halus. Meski aku tahu dia pasti bertanya - tanya mengapa aku belum menemui Tefan padahal Tefan adalah sahabat baikku.Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berbuat banyak. Aku harus menunggu sampai Tefan tidak dijaga ketat oleh orang tuanya. Mungkin besok atau lusa baru aku bisa menemuinya, sebab menurut info dari Nina orang tua Tefan akan kedatangan kolega bisnis dari
Read more
Kabar Menikah
“Aku tahu semua akan baik-baik saja, selama ada kamu di sisiku, aku tak perlu takut apapun. Yang kutakutkan hanyalah kepergianmu.” ---Beberapa hari berikutnya Tefan telah keluar dari rumah sakit namun masih perlu istirahat sehingga belum diperbolehkan untuk bekerja ataupun kemana-mana. Orang tuanya sangat protektif untuk satu hal itu. Maklum anak tunggal dan pewaris kekayaan satu-satunya jadi wajar kalau mereka sangat menjaga Tefan. Bagi orang tua Tefan kecelakaan yang hampir menewaskan anaknya itu cukup terjadi hanya sekali dan tidak ada lagi kecelakaan-kecelakaan yang lain. Padahal harta, nyawa dan kekayaan itu sudah diatur sama Tuhan. Yah begitulah. Atas kecelakaan yang terjadi pada Tefan itu, mencuat kabar yang cukup membuat aku kaget dan diam sejenak. Diam dan mencoba mencerna kabar tersebut. Pernikahan Tefan akan dipercepat, padahal seharusnya ada acara pertunangan terlebih dahulu. Aku yakin yang merencanakan ini se
Read more
Kuserahkan Hanya Untukmu
 Malamnya aku dan Tefan berdiri di balkon sembari menatap kejauhan, udara dingin membuat kami berdua tak pernah lepas untuk saling memeluk. Dengan begitu, rasa hangat akan mudah masuk begitu saja ke dalam aliran darah kami. Kami berdua hanya berdiri di sana, tak perlu berbicara, langit malam tampak bersih. Akhirnya aku bisa melihat bintang yang bahkan jumlahnya takkan bisa dihitung. Di kota mana bisa menikmati pemandang malam seperti ini, hanya ada asap, polusi suara, dan semua hal yang takkan bisa membawa ketenangan. “Fan, aku ingin begini selamanya.” Ucapku pelan, kepalaku telah rebah di dadanya. “Aku juga sama Riana. Hal yang paling menggangguku selama ini adalah bila kelak aku tak bisa bersamamu lagi.” “Terimakasih sudah hadir dalam hidupku.” “Aku juga berterimakasih karena kamu masih mau menerimaku meski keadaan akan membawamu sampai ke titi
Read more
Cinta Saja Tak Cukup
 “Aku harus pergi sekarang," Tefan berbicara dengan kepala menunduk, seakan ada perasaan bersalah. Hal itu dapat aku lihat dari ekspresi wajahnya. “Ada apa?” Aku mendekat padanya dan mencari jawaban. “Papa tahu kita sedang bersama sekarang," Tefan menggenggam tanganku. "Aku harus pulang Riana, Papa mengancam akan membocorkan hubungan kita pada Nina jika aku tak segera pulang sekarang."  Raut wajah itu semakin jelas, aku tak bisa berbuat apa-apa.  “Bagaimana Papamu bisa tahu, Fan?" Aku berusaha untuk tenang, meskipun di dalam hati aku juga sama khawatirnya dengan Tefan. Bagaimana jika Nina tahu hubungan kami? “Papa sudah menyelidiki banyak hal tentang hubungan kita, Riana.”  Aku tidak pernah memikirkan hal sejauh itu, orang tua Tefan apalagi Papanya sangat serius dengan ucapannya. Bahkan ia
Read more
Ini Seperti Bunuh Diri
“Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah mau temani aku makan malam keluarga, maka siang nanti kita habiskan di salon dan aku akan memberi gaun yang tak kalah indah dengan yang kupunya. Semua gratis tis tis....!”   Nina bercerita dengan semangat, sementara aku belum pulih dari kebimbanganku. Suaranya mengambang atau seperti dengungan lalat yang berkisar di sekitarku. Tidak peduli.   “Yan... Rian... are you okay?”   Nina melambaikan satu tangannya tepat di depan wajahku. Aku terkesiap.   “Eh gimana tadi?” jawabku secepat mungkin.   “Pikiran kamu ke mana, Yan? Kamu sakit? Kamu mau aku batalin aja makan malamnya?”   “Eh jangan, jangan dibatalin. Aku tidak apa-apa kok. Jadi, tunggu apalagi ayo kita ke salon. Pastikan aku juga tak kalah cantik dan anggun daripada calon pengantinnya. Hehe...”  Kusingkirkan segala kebimbangan itu untuk sementara, d
Read more
DMCA.com Protection Status